<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Seoul Story</title>
    <link>https://seoul-story.writeas.com/</link>
    <description>Deluna</description>
    <pubDate>Wed, 27 May 2026 20:07:34 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>CHAPTER 1.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-1-kq93?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;CHAPTER 1.&#xA;&#xA;“Hyaaah akhirnya beres juga!”&#xA;&#xA;Luna berseru lega sambil mengangkat tangannya tinggi ke udara sekalian stretching ringan. Matanya menyapu apartemen barunya dengan puas— perjuangan selama satu minggu dari mulai unpack barang-barang dari apartemen lama, bersih-bersih sekaligus menata segala perabotan akhirnya selesai hari ini.&#xA;&#xA;Dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, Luna berjalan mendekati dua sahabatnya yang setia ikut membantu kepindahan Luna ke apartemen ini. Dirangkulnya satu-satu kedua sahabatnya yang lagi asyik nyeruput lemon tea dingin sambil bersandar di konter dapur.&#xA;&#xA;“Makasih yaa, para lelakiku! Nggak tau gimana jadinya hidup gue tanpa lo berdua,” kata Luna senang.&#xA;&#xA;Younghoon mengangguk sambil mengacak pucuk kepala Luna pelan, “You’re welcome. Seneng ya, akhirnya apartemen lo layak huni.”&#xA;&#xA;“Kita juga seneng bisa bantu lo, Na. Udah kewajiban. Hehe,” Juyeon ikut menimpali sambil terkekeh. Dirinya ikut puas melihat hasil kerja mereka bertiga selama seminggu ini. Capek sih pasti, tapi semua terbayar.&#xA;&#xA;“Gue laper, nyemil apa ya?” Luna mengeluarkan ponsel Z-flip rose gold-nya dari saku celana dan membuka aplikasi pesan antar. “Jajan di Gansikjib bosen nggak, guys?”&#xA;&#xA;“Nggak, yuk! I’m always open for tteokbokki!” seru Younghoon semangat, diikuti anggukan setuju dari Juyeon. “Jjajangmyeonnya juga dong, Na. Takut nggak kenyang gue kalau tteokbokki doang.”&#xA;&#xA;“Oke, gue pesenin ya!”&#xA;&#xA;Selesai memesan makanan, Luna menutup ponselnya lagi dan lanjut berbincang dengan Younghoon dan Juyeon.&#xA;&#xA;Annastasia Fideluna Diyose, 27 tahun.&#xA;&#xA;Sudah tinggal di Kota Seoul dari SMA kelas 2. Anak tunggal yang dibesarkan dengan penuh keberkahan dalam hidupnya—sepasang orangtua yang luar biasa hebat, kehidupan mapan, otak pintar dan perawakan fisik yang indah serta attitude yang baik.&#xA;&#xA;Pekerjaan ayahnya sebagai salah satu anggota penting di Kedutaan Besar Republik Indonesia mengharuskan Luna dan keluarganya terbiasa tinggal berpindah-pindah tergantung di negara mana ayahnya ditugaskan. Sampai akhirnya ketika ayahnya ditugaskan di kantor KBRI di Korea Selatan, Luna seperti menemukan jati dirinya. Dia suka sekali tinggal di Korea dan akhirnya memutuskan untuk tetap lanjut tinggal di sini meski orangtuanya kini menetap di Singapore, karena tugas ayahnya di Korea Selatan sudah selesai. Ya, di umur 18 tahun ketika Luna siap masuk kuliah, ayahnya dipindahtugaskan lagi ke Singapore dan Luna menolak ikut. Setelah berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa Luna bisa menjalani hidup dengan baik walaupun sendirian di Seoul di usia semuda itu, akhirnya Luna diizinkan tidak ikut ke Singapore. Luna pun menepati janjinya kepada Mama dan Ayah, hingga kini usianya menginjak 27 tahun dia sungguh hidup dengan baik di Seoul.&#xA;&#xA;Pertemuan Luna dengan Younghoon dan Juyeon terjadi ketika ketiganya sebagai mahasiswa baru di Hanyang University jurusan Ekonomi Akuntansi ditempatkan dalam satu kelompok pada masa orientasi, bersamaan dengan dua teman lainnya. Younghoon dan Juyeon sudah berteman sejak SMP dan tempat tinggal keduanya pun berdekatan, yang ternyata juga tidak jauh dari apartemen Luna kala itu. Jadilah, mereka bertiga akhirnya berteman dekat karena hampir setiap hari berangkat kuliah berbarengan kalau kebetulan dapat jadwal yang sama, dan menjalani rutinitas di kampus berbarengan pula.&#xA;&#xA;Seperti mendapat restu dari semesta, persahabatan yang mereka bertiga jaga dengan baik ini berlanjut ketika mereka mencoba melamar ke satu perusahaan yang sama dan ketiganya diterima—walaupun Younghoon dan Juyeon pada akhirnya terpaksa meninggalkan Luna ketika keduanya dipindahkan ke kantor pusat dua tahun lebih dulu daripada Luna. Walau begitu, tetap saja, kali ini akhirnya mereka bertiga bisa kembali bersama setelah Luna akhirnya bergabung di kantor pusat.&#xA;&#xA;Ya, itu alasan Luna meninggalkan apartemen lamanya dan pindah ke apartemen baru ini karena dia baru saja mendapatkan promosi di kantornya dan naik jabatan menjadi asisten managing director, yang artinya Luna pindah dari kantor cabang yang ada di distrik Yangcheon, ke kantor pusat di distrik Gangnam.&#xA;&#xA;“Gue seneng banget akhirnya bisa ngumpul lagi sama kalian di Gangnam. Nggak nyangka juga, non-korean kayak gue bisa dapet promosi di sini hehehe.”&#xA;&#xA;“Ya itu karena performa lo emang bagus banget, Na, makanya lo dapet posisi itu. Gileee, asisten managing director loh nggak main-main banget posisi lo!” kata Juyeon.&#xA;&#xA;“Bangga gue sama lo, Na. Yang betah ya di kantor pusat. Jabatan lo naik artinya tanggung jawab lo ke perusahaan juga lebih gede. Fighting!” timpal Younghoon.&#xA;&#xA;Luna mengangguk-angguk semangat. Hari Senin besok akan menjadi hari pertamanya masuk kerja di kantor pusat, semoga semuanya berjalan dengan baik!]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>CHAPTER 1.</strong></p>

<p>“Hyaaah akhirnya beres juga!”</p>

<p>Luna berseru lega sambil mengangkat tangannya tinggi ke udara sekalian <em>stretching</em> ringan. Matanya menyapu apartemen barunya dengan puas— perjuangan selama satu minggu dari mulai <em>unpack</em> barang-barang dari apartemen lama, bersih-bersih sekaligus menata segala perabotan akhirnya selesai hari ini.</p>

<p>Dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, Luna berjalan mendekati dua sahabatnya yang setia ikut membantu kepindahan Luna ke apartemen ini. Dirangkulnya satu-satu kedua sahabatnya yang lagi asyik nyeruput <em>lemon tea</em> dingin sambil bersandar di konter dapur.</p>

<p>“Makasih yaa, para lelakiku! Nggak tau gimana jadinya hidup gue tanpa lo berdua,” kata Luna senang.</p>

<p>Younghoon mengangguk sambil mengacak pucuk kepala Luna pelan, “You’re welcome. Seneng ya, akhirnya apartemen lo layak huni.”</p>

<p>“Kita juga seneng bisa bantu lo, Na. Udah kewajiban. Hehe,” Juyeon ikut menimpali sambil terkekeh. Dirinya ikut puas melihat hasil kerja mereka bertiga selama seminggu ini. Capek sih pasti, tapi semua terbayar.</p>

<p>“Gue laper, nyemil apa ya?” Luna mengeluarkan ponsel Z-flip <em>rose gold</em>-nya dari saku celana dan membuka aplikasi pesan antar. “Jajan di Gansikjib bosen nggak, <em>guys</em>?”</p>

<p>“Nggak, yuk! <em>I’m always open for</em> tteokbokki!” seru Younghoon semangat, diikuti anggukan setuju dari Juyeon. “Jjajangmyeonnya juga dong, Na. Takut nggak kenyang gue kalau tteokbokki doang.”</p>

<p>“Oke, gue pesenin ya!”</p>

<p>Selesai memesan makanan, Luna menutup ponselnya lagi dan lanjut berbincang dengan Younghoon dan Juyeon.</p>

<p>Annastasia Fideluna Diyose, 27 tahun.</p>

<p>Sudah tinggal di Kota Seoul dari SMA kelas 2. Anak tunggal yang dibesarkan dengan penuh keberkahan dalam hidupnya—sepasang orangtua yang luar biasa hebat, kehidupan mapan, otak pintar dan perawakan fisik yang indah serta <em>attitude</em> yang baik.</p>

<p>Pekerjaan ayahnya sebagai salah satu anggota penting di Kedutaan Besar Republik Indonesia mengharuskan Luna dan keluarganya terbiasa tinggal berpindah-pindah tergantung di negara mana ayahnya ditugaskan. Sampai akhirnya ketika ayahnya ditugaskan di kantor KBRI di Korea Selatan, Luna seperti menemukan jati dirinya. Dia suka sekali tinggal di Korea dan akhirnya memutuskan untuk tetap lanjut tinggal di sini meski orangtuanya kini menetap di Singapore, karena tugas ayahnya di Korea Selatan sudah selesai. Ya, di umur 18 tahun ketika Luna siap masuk kuliah, ayahnya dipindahtugaskan lagi ke Singapore dan Luna menolak ikut. Setelah berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa Luna bisa menjalani hidup dengan baik walaupun sendirian di Seoul di usia semuda itu, akhirnya Luna diizinkan tidak ikut ke Singapore. Luna pun menepati janjinya kepada Mama dan Ayah, hingga kini usianya menginjak 27 tahun dia sungguh hidup dengan baik di Seoul.</p>

<p>Pertemuan Luna dengan Younghoon dan Juyeon terjadi ketika ketiganya sebagai mahasiswa baru di Hanyang University jurusan Ekonomi Akuntansi ditempatkan dalam satu kelompok pada masa orientasi, bersamaan dengan dua teman lainnya. Younghoon dan Juyeon sudah berteman sejak SMP dan tempat tinggal keduanya pun berdekatan, yang ternyata juga tidak jauh dari apartemen Luna kala itu. Jadilah, mereka bertiga akhirnya berteman dekat karena hampir setiap hari berangkat kuliah berbarengan kalau kebetulan dapat jadwal yang sama, dan menjalani rutinitas di kampus berbarengan pula.</p>

<p>Seperti mendapat restu dari semesta, persahabatan yang mereka bertiga jaga dengan baik ini berlanjut ketika mereka mencoba melamar ke satu perusahaan yang sama dan ketiganya diterima—walaupun Younghoon dan Juyeon pada akhirnya terpaksa meninggalkan Luna ketika keduanya dipindahkan ke kantor pusat dua tahun lebih dulu daripada Luna. Walau begitu, tetap saja, kali ini akhirnya mereka bertiga bisa kembali bersama setelah Luna akhirnya bergabung di kantor pusat.</p>

<p>Ya, itu alasan Luna meninggalkan apartemen lamanya dan pindah ke apartemen baru ini karena dia baru saja mendapatkan promosi di kantornya dan naik jabatan menjadi asisten <em>managing director</em>, yang artinya Luna pindah dari kantor cabang yang ada di distrik Yangcheon, ke kantor pusat di distrik Gangnam.</p>

<p>“Gue seneng banget akhirnya bisa ngumpul lagi sama kalian di Gangnam. Nggak nyangka juga, non-korean kayak gue bisa dapet promosi di sini hehehe.”</p>

<p>“Ya itu karena performa lo emang bagus banget, Na, makanya lo dapet posisi itu. Gileee, asisten <em>managing director</em> loh nggak main-main banget posisi lo!” kata Juyeon.</p>

<p>“Bangga gue sama lo, Na. Yang betah ya di kantor pusat. Jabatan lo naik artinya tanggung jawab lo ke perusahaan juga lebih gede. <em>Fighting!”</em> timpal Younghoon.</p>

<p>Luna mengangguk-angguk semangat. Hari Senin besok akan menjadi hari pertamanya masuk kerja di kantor pusat, semoga semuanya berjalan dengan baik!</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-1-kq93</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Nov 2021 02:35:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Character Introduction</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-1-xh2w?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Character Introduction&#xA;&#xA;—Annastasia Fideluna Diyose, 26.&#xA;&#xA;“Hyaaah akhirnya beres juga!”&#xA;&#xA;Luna berseru lega sambil mengangkat tangannya tinggi ke udara sekalian stretching ringan. Matanya menyapu apartemen barunya dengan puas—perjuangan selama satu minggu dari mulai unpack barang-barang dari apartemen lama, bersih-bersih sekaligus menata segala perabotan akhirnya selesai hari ini.&#xA;&#xA;Dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, Luna berjalan mendekati dua sahabatnya yang setia ikut membantu kepindahan Luna ke apartemen ini. Dirangkulnya satu-satu kedua sahabatnya yang lagi asyik nyeruput lemon tea dingin sambil bersandar di konter dapur.&#xA;&#xA;“Makasih yaa, para lelakiku! Nggak tau gimana jadinya hidup gue tanpa lo berdua,” kata Luna senang.&#xA;&#xA;Younghoon mengangguk sambil mengacak pucuk kepala Luna pelan, “You’re welcome. Seneng ya, akhirnya apartemen lo layak huni.”&#xA;&#xA;“Kita juga seneng bisa bantu lo, Na. Udah kewajiban. Hehe,” Juyeon ikut menimpali sambil terkekeh. Dirinya ikut puas melihat hasil kerja mereka bertiga selama seminggu ini. Capek sih pasti, tapi semua terbayar.&#xA;&#xA;“Gue laper, nyemil apa ya?” Luna mengeluarkan ponsel Z-flip rose gold-nya dari saku celana dan membuka aplikasi pesan antar. “Jajan di Gansikjib bosen nggak, guys?”&#xA;&#xA;“Nggak, yuk! I’m always open for tteokbokki!” seru Younghoon semangat, diikuti anggukan setuju dari Juyeon. “Jjajangmyeonnya juga dong, Na. Takut nggak kenyang gue kalau tteokbokki doang.”&#xA;&#xA;“Oke, gue pesenin ya!”&#xA;&#xA;Selesai memesan makanan, Luna menutup ponselnya lagi dan lanjut berbincang dengan Younghoon dan Juyeon.&#xA;&#xA;Annastasia Fideluna Diyose, 27 tahun.&#xA;&#xA;Sudah tinggal di Kota Seoul dari SMA kelas dua. Anak tunggal yang dibesarkan dengan penuh keberkahan dalam hidupnya—sepasang orangtua yang luar biasa hebat, kehidupan mapan, otak pintar dan perawakan fisik yang indah serta attitude yang baik. Terdengar sempurna? Ya, terdengar sempurna.&#xA;&#xA;Tapi sejatinya di dunia ini memang nggak ada hidup yang sempurna, kan? Begitu juga dengan hidup Luna. Satu hal yang sepertinya tidak selalu berpihak padanya—atau setidaknya sampai saat ini, belum—adalah kisah cinta yang kata orang-orang indah. Bagi Luna, perjalanan mencari belahan jiwanya sungguh melelahkan. Luna lelah harus melewati fase yang sama—perkenalan, pendekatan, jatuh cinta, putus—tanpa tahu kapan ia bisa menyandarkan hatinya di tempat yang tepat.&#xA;&#xA;Beruntung, orangtuanya tidak menuntut apa-apa di usia Luna yang bagi kebanyakan perempuan sudah merupakan usia peringatan jika belum mendapatkan pasangan. Luna pun sudah sangat kebal terhadap pertanyaan retoris “Udah umur segini lho, jangan keenakan kerja, kapan punya waktu cari pasangan?” yang dilontarkan keluarga dan kerabat di setiap kesempatan. Yang penting baginya kini, ia menjalani hidupnya sebaik mungkin tanpa merugikan orang lain, dan berbahagia serta mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan di hidupnya.&#xA;&#xA;Salah satunya, berkat pekerjaan ayahnya sebagai salah satu anggota penting di Kedutaan Besar Republik Indonesia, membuat Luna dan keluarganya terbiasa tinggal berpindah-pindah tergantung di negara mana ayahnya ditugaskan. Bagi Luna, hal ini menyenangkan karena ia bisa belajar berbagai kultur dan budaya dari beberapa negara yang pernah ditinggalinya.&#xA;&#xA;Sampai akhirnya ketika ayahnya ditugaskan di kantor KBRI di Korea Selatan, Luna seperti menemukan jati dirinya. Dia suka sekali tinggal di Korea dan akhirnya memutuskan untuk tetap lanjut tinggal di sini meski orangtuanya kini menetap di Singapura, karena tugas ayahnya di Korea Selatan sudah selesai. Ya, di umur 18 tahun ketika Luna siap masuk kuliah, ayahnya dipindahtugaskan lagi ke Singapura dan Luna menolak ikut. Setelah berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa Luna bisa menjalani hidup dengan baik walaupun sendirian di usia semuda itu, akhirnya Luna diizinkan untuk tetap tinggal di Seoul. Luna pun menepati janjinya kepada Mama dan Ayah, hingga kini usianya menginjak 27 tahun dia sungguh hidup dengan baik di Seoul.&#xA;&#xA;Pertemuan Luna dengan Younghoon dan Juyeon terjadi ketika ketiganya sebagai mahasiswa baru di Hanyang University jurusan Ekonomi Akuntansi ditempatkan dalam satu kelompok pada masa orientasi, bersamaan dengan dua teman lainnya. Younghoon dan Juyeon sudah berteman sejak SMP dan tempat tinggal keduanya pun berdekatan, yang ternyata juga tidak jauh dari apartemen Luna kala itu. Jadilah, mereka bertiga akhirnya berteman dekat karena hampir setiap hari berangkat kuliah berbarengan kalau kebetulan dapat jadwal yang sama, dan menjalani rutinitas di kampus berbarengan pula.&#xA;&#xA;Seperti mendapat restu dari semesta, persahabatan yang mereka bertiga jaga dengan baik ini berlanjut ketika mereka mencoba melamar ke satu perusahaan yang sama dan ketiganya diterima—walaupun Younghoon dan Juyeon pada akhirnya terpaksa meninggalkan Luna ketika keduanya dipindahkan ke kantor pusat dua tahun lebih dulu daripada Luna. Walau begitu, tetap saja, kali ini akhirnya mereka bertiga bisa kembali bersama setelah Luna akhirnya bergabung di kantor pusat.&#xA;&#xA;Ya, itu alasan Luna meninggalkan apartemen lamanya dan pindah ke apartemen baru ini karena dia baru saja mendapatkan promosi di kantornya dan naik jabatan menjadi asisten managing director, yang artinya Luna pindah dari kantor cabang yang ada di distrik Yangcheon, ke kantor pusat di distrik Gangnam.&#xA;&#xA;Hari Senin besok akan menjadi hari pertamanya masuk kerja di kantor pusat, dan Luna sungguh berharap semoga semuanya berjalan dengan baik!]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Character Introduction</strong></p>

<p>—Annastasia Fideluna Diyose, 26.</p>

<p>“Hyaaah akhirnya beres juga!”</p>

<p>Luna berseru lega sambil mengangkat tangannya tinggi ke udara sekalian <em>stretching</em> ringan. Matanya menyapu apartemen barunya dengan puas—perjuangan selama satu minggu dari mulai <em>unpack</em> barang-barang dari apartemen lama, bersih-bersih sekaligus menata segala perabotan akhirnya selesai hari ini.</p>

<p>Dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, Luna berjalan mendekati dua sahabatnya yang setia ikut membantu kepindahan Luna ke apartemen ini. Dirangkulnya satu-satu kedua sahabatnya yang lagi asyik nyeruput <em>lemon tea</em> dingin sambil bersandar di konter dapur.</p>

<p>“Makasih yaa, para lelakiku! Nggak tau gimana jadinya hidup gue tanpa lo berdua,” kata Luna senang.</p>

<p>Younghoon mengangguk sambil mengacak pucuk kepala Luna pelan, “You’re welcome. Seneng ya, akhirnya apartemen lo layak huni.”</p>

<p>“Kita juga seneng bisa bantu lo, Na. Udah kewajiban. Hehe,” Juyeon ikut menimpali sambil terkekeh. Dirinya ikut puas melihat hasil kerja mereka bertiga selama seminggu ini. Capek sih pasti, tapi semua terbayar.</p>

<p>“Gue laper, nyemil apa ya?” Luna mengeluarkan ponsel Z-flip <em>rose gold</em>-nya dari saku celana dan membuka aplikasi pesan antar. “Jajan di Gansikjib bosen nggak, <em>guys</em>?”</p>

<p>“Nggak, yuk! <em>I’m always open for</em> tteokbokki!” seru Younghoon semangat, diikuti anggukan setuju dari Juyeon. “Jjajangmyeonnya juga dong, Na. Takut nggak kenyang gue kalau tteokbokki doang.”</p>

<p>“Oke, gue pesenin ya!”</p>

<p>Selesai memesan makanan, Luna menutup ponselnya lagi dan lanjut berbincang dengan Younghoon dan Juyeon.</p>

<p>Annastasia Fideluna Diyose, 27 tahun.</p>

<p>Sudah tinggal di Kota Seoul dari SMA kelas dua. Anak tunggal yang dibesarkan dengan penuh keberkahan dalam hidupnya—sepasang orangtua yang luar biasa hebat, kehidupan mapan, otak pintar dan perawakan fisik yang indah serta <em>attitude</em> yang baik. Terdengar sempurna? Ya, <em>terdengar</em> sempurna.</p>

<p>Tapi sejatinya di dunia ini memang nggak ada hidup yang sempurna, kan? Begitu juga dengan hidup Luna. Satu hal yang sepertinya tidak selalu berpihak padanya—atau setidaknya sampai saat ini, belum—adalah kisah cinta yang kata orang-orang indah. Bagi Luna, perjalanan mencari belahan jiwanya sungguh melelahkan. Luna lelah harus melewati fase yang sama—perkenalan, pendekatan, jatuh cinta, putus—tanpa tahu kapan ia bisa menyandarkan hatinya di tempat yang tepat.</p>

<p>Beruntung, orangtuanya tidak menuntut apa-apa di usia Luna yang bagi kebanyakan perempuan sudah merupakan usia peringatan jika belum mendapatkan pasangan. Luna pun sudah sangat kebal terhadap pertanyaan retoris “Udah umur segini lho, jangan keenakan kerja, kapan punya waktu cari pasangan?” yang dilontarkan keluarga dan kerabat di setiap kesempatan. Yang penting baginya kini, ia menjalani hidupnya sebaik mungkin tanpa merugikan orang lain, dan berbahagia serta mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan di hidupnya.</p>

<p>Salah satunya, berkat pekerjaan ayahnya sebagai salah satu anggota penting di Kedutaan Besar Republik Indonesia, membuat Luna dan keluarganya terbiasa tinggal berpindah-pindah tergantung di negara mana ayahnya ditugaskan. Bagi Luna, hal ini menyenangkan karena ia bisa belajar berbagai kultur dan budaya dari beberapa negara yang pernah ditinggalinya.</p>

<p>Sampai akhirnya ketika ayahnya ditugaskan di kantor KBRI di Korea Selatan, Luna seperti menemukan jati dirinya. Dia suka sekali tinggal di Korea dan akhirnya memutuskan untuk tetap lanjut tinggal di sini meski orangtuanya kini menetap di Singapura, karena tugas ayahnya di Korea Selatan sudah selesai. Ya, di umur 18 tahun ketika Luna siap masuk kuliah, ayahnya dipindahtugaskan lagi ke Singapura dan Luna menolak ikut. Setelah berhasil meyakinkan orangtuanya bahwa Luna bisa menjalani hidup dengan baik walaupun sendirian di usia semuda itu, akhirnya Luna diizinkan untuk tetap tinggal di Seoul. Luna pun menepati janjinya kepada Mama dan Ayah, hingga kini usianya menginjak 27 tahun dia sungguh hidup dengan baik di Seoul.</p>

<p>Pertemuan Luna dengan Younghoon dan Juyeon terjadi ketika ketiganya sebagai mahasiswa baru di Hanyang University jurusan Ekonomi Akuntansi ditempatkan dalam satu kelompok pada masa orientasi, bersamaan dengan dua teman lainnya. Younghoon dan Juyeon sudah berteman sejak SMP dan tempat tinggal keduanya pun berdekatan, yang ternyata juga tidak jauh dari apartemen Luna kala itu. Jadilah, mereka bertiga akhirnya berteman dekat karena hampir setiap hari berangkat kuliah berbarengan kalau kebetulan dapat jadwal yang sama, dan menjalani rutinitas di kampus berbarengan pula.</p>

<p>Seperti mendapat restu dari semesta, persahabatan yang mereka bertiga jaga dengan baik ini berlanjut ketika mereka mencoba melamar ke satu perusahaan yang sama dan ketiganya diterima—walaupun Younghoon dan Juyeon pada akhirnya terpaksa meninggalkan Luna ketika keduanya dipindahkan ke kantor pusat dua tahun lebih dulu daripada Luna. Walau begitu, tetap saja, kali ini akhirnya mereka bertiga bisa kembali bersama setelah Luna akhirnya bergabung di kantor pusat.</p>

<p>Ya, itu alasan Luna meninggalkan apartemen lamanya dan pindah ke apartemen baru ini karena dia baru saja mendapatkan promosi di kantornya dan naik jabatan menjadi asisten <em>managing director</em>, yang artinya Luna pindah dari kantor cabang yang ada di distrik Yangcheon, ke kantor pusat di distrik Gangnam.</p>

<p>Hari Senin besok akan menjadi hari pertamanya masuk kerja di kantor pusat, dan Luna sungguh berharap semoga semuanya berjalan dengan baik!</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-1-xh2w</guid>
      <pubDate>Sun, 21 Nov 2021 02:31:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>“Hop on.”</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/hop-on?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Hop on.”&#xA;&#xA;Jaehyun yang sudah duduk duluan di sofa menepuk kedua pahanya sendiri dengan mata tertuju pada sepasang mata cokelat hazelnut milik Luna.&#xA;&#xA;Detik berikutnya, Luna beranjak dari posisi berdirinya dan menuruti isyarat dari Jaehyun barusan. Ia kini duduk di pangkuan Jaehyun dengan kedua kaki tertekuk ke belakang. Kedua lengannya ia lingkarkan di sekeliling leher Jaehyun.&#xA;&#xA;“Aku berat nggak? Jujur,” tanya Luna sembari menempelkan keningnya pada kening Jaehyun. Menyalurkan rindu yang sempat tertahan akibat dua minggu tidak bertemu.&#xA;&#xA;“Agak,” jawab Jaehyun sambil terkekeh yang segera dibalas dengan pukulan pelan di bahunya oleh Luna.&#xA;&#xA;“Ya udah, turunin aku kalau berat,” Luna merajuk.&#xA;&#xA;“Nggak mau,” Jaehyun menggeleng. Kening keduanya masih menempel satu sama lain. “Aku kangen kamu.”&#xA;&#xA;“Aku tadinya kangen, tapi sekarang nggak. Abisnya dikatain berat.”&#xA;&#xA;“Aku bercanda ih.”&#xA;&#xA;Gantian Luna yang terkekeh. Tentu saja ia tahu kekasihnya itu hanya bercanda. “I miss you baby,” ujar Luna lagi. “Pasangan yang LDR-an pasti ngeledekin kita, dua minggu aja udah nggak tahan. Tapi emang iya nggak tahan sih, aku tersiksa nggak ketemu kamu.”&#xA;&#xA;“Duh, segitunya.”&#xA;&#xA;“Emang kamu nggak?”&#xA;&#xA;“Ya sama lah aku juga tersiksa rasanya nggak ketemu kamu.”&#xA;&#xA;“Stop talking then, and start kissing.”&#xA;&#xA;Jaehyun tertawa tapi sebelum tawanya habis, Luna yang sudah kehilangan kesabaran keburu membungkam bibir Jaehyun dengan bibirnya. Semakin lama, keduanya semakin dalam melumat bibir satu sama lain. Ciuman yang mengandung sejuta afeksi dan juga makna yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.&#xA;&#xA;Tiba-tiba, Jaehyun merasa ada sesuatu yang basah mengenai pipinya yang sedang beradu dengan pipi Luna. Sambil mengernyitkan dahi karena bingung, Jaehyun perlahan melepaskan bibirnya untuk melihat penyebab basah di pipinya dan ia menjadi semakin bingung ketika dilihatnya Luna ternyata sedang menangis tanpa suara.&#xA;&#xA;Setengah panik, Jaehyun mengangkat dagu Luna supaya ia bisa melihat dengan jelas wajah Luna yang kini sudah semakin basah seiring dengan tetesan air mata yang mengalir dari ujung matanya.&#xA;&#xA;“Na, kenapa sayang? Did I do something wrong? Kok tiba-tiba nangis gini…,” tanya Jaehyun sambil mengusapi air mata yang nampaknya masih enggan berhenti mengalir.&#xA;&#xA;“You know I love you so much, Hyunjae.”&#xA;&#xA;“I know, and I do love you too that much. Lalu kenapa—”&#xA;&#xA;“Aku takut, Jae. I’m afraid of losing you.”&#xA;&#xA;“Luna, you are not going to lose me, I promise. Kamu kenapa tiba-tiba ngomong gini sih, Na? Aku jadi ikutan takut nih.”&#xA;&#xA;Luna menatap sepasang netra milik kekasihnya itu dalam-dalam. “Last time I loved someone this much, I ended up losing him. Aku… takut ngerasain kehilangan yang sebegitu nyakitinnya untuk kedua kali.”&#xA;&#xA;Akhirnya, Jaehyun mulai paham ke mana pembicaraan ini akan mengarah. Sepertinya ada sesuatu yang memicu trauma masa lalu Luna kembali malam ini. Jaehyun tidak tahu apa, tapi ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.&#xA;&#xA;“Sayang, hubungan kita nggak sama dengan hubungan kamu dan Seokjin dulu. Nothing stand between us—kecuali jarak yang sesekali harus mau nggak mau kita jalani karena tuntutan kerjaan.”&#xA;&#xA;Luna tidak menjawab, ia hanya terdiam dengan wajah menunduk dan bahu yang sesekali naik turun karena ia masih belum berhenti mengisakkan air matanya.&#xA;&#xA;“What happened today? Tell me,” tembak Jaehyun akhirnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di rumahku sebelum aku datang?”&#xA;&#xA;Masih membisu, Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sebuah ketidakjujuran yang ia berikan pada Jaehyun untuk pertama kalinya.&#xA;&#xA;“Lalu kenapa kamu tiba-tiba insecure begini sampai nangis? Aku bingung, Na.”&#xA;&#xA;“Sorry… Can we just… forget it?”&#xA;&#xA;“Kita lagi baik-baik aja dan bahkan lagi melepas kangen, tiba-tiba kamu nangis kejer kayak gini dan sekarang kamu bilang lupain aja? Aku beneran nggak paham.”&#xA;&#xA;“Hyunjae, maaf. Jangan marah, please.”&#xA;&#xA;“You ruined the mood. Aku lagi capek banget baru pulang dari Busan, dan aku kangen kamu. Tapi kamu mendadak nangis dan nggak mau jelasin penyebabnya. Kok tega sih, Na, kamu begitu ke aku?”&#xA;&#xA;Melihat ekspresi gusar di wajah Jaehyun, Luna semakin merasa gelisah. Ia tahu, kekesalan Jaehyun akan hilang hanya jika ia menjelaskan dengan jujur penyebab tangisnya yang tiba-tiba malam ini.&#xA;&#xA;Sambil menghela nafas, Luna memutuskan untuk merubah posisi duduknya—yang tadinya berada di pangkuan Jaehyun menjadi duduk bersebelahan di sofa.&#xA;&#xA;“Tadi sebelum kamu pulang, aku sempat ngobrol sama Nenek.” Akhirnya, Luna mulai berbicara. Jaehyun langsung merubah arah duduknya menjadi berhadapan dengan Luna.&#xA;&#xA;“Sambil nunggu giliranku fitting baju, Nenek ajak aku ngobrol berdua di teras atas. Nenek cerita soal keluarga Lee, keluargamu, yang semuanya… pure Korean. Apalagi papa kamu anak pertamanya Nenek, dan kamu cucu laki-laki pertama, paling besar. Nenek bilang besar harapannya untuk kamu bisa dapetin pasangan sesama Korean supaya keturunanmu juga nantinya pure Korean. Tapi karena kamu udah memilih aku dan mama papa kamu juga udah menerima, Nenek bilang beliau nggak bisa apa-apa selain merestui.”&#xA;&#xA;“Lalu masalahnya apa, Na?”&#xA;&#xA;“Nenek terdengar terpaksa waktu bilang merestui hubungan kamu dan aku. Nggak tau… aku ngerasa Nenek kurang sreg sama aku. Jae, aku takut hubungan kita tanpa disadari nyakitin keluargamu, terutama Nenek. I can see it clearly that you are your granny’s favorite.”&#xA;&#xA;“Na, aku paham ketakutanmu. Tapi please, kamu tau betul orangtua dan kakakku semuanya menerima kamu. Mama itu sampe bilang ke aku, dia sayang sama kamu, Na. Papa juga bilang kalau hubungan kita kenapa-kenapa, berarti yang salah aku, aku yang nggak bener jagain kamu.”&#xA;&#xA;“Tapi Jae—”&#xA;&#xA;“Nggak ada tapi. Kalau perlu, besok aku izin nggak masuk kantor, aku mau ajak ngobrol Nenek baik-baik soal ini.”&#xA;&#xA;“Jangan, Jae. Aku nggak mau ya, kamu omongin lagi masalah ini ke Nenek. Aku nggak mau disangka ngaduin Nenek ke kamu. Nggak gitu maksudku, Hyunjae.”&#xA;&#xA;“Ya terus gimana? Kecuali kamu mau hilangin perasaan insecure kamu itu dan percaya kalau Nenek ikhlas merestui hubungan kita, aku rasa nggak ada solusi selain aku harus ngobrol sama Nenek secepatnya.”&#xA;&#xA;“Ya udah lupain aja, nggak usah dibahas lagi—”&#xA;&#xA;“Lagi-lagi dengan gampangnya kamu bilang lupain aja. Kamu nggak bisa kayak gitu dong, Na, apa-apa dilupain bukannya diselesaiin.”&#xA;&#xA;“Ya udah kita selesaiin lain waktu aja bisa nggak? Tunda dulu, please. Aku capek dari pagi udah keluar rumah, kamu juga pasti lebih capek lagi habis perjalanan dari Busan. Kita bicarain lagi dengan kepala dingin nanti.”&#xA;&#xA;“Terserah kamu deh.”&#xA;&#xA;“Aku mandi dulu ya? Beneran capek banget, pengen cepet tidur.”&#xA;&#xA;“Oke, aku pamit pulang kalau gitu. Kamu istirahat, jangan banyak mikir aneh-aneh nanti kamu sakit.”&#xA;&#xA;“Aku anter kamu ke depan.”&#xA;&#xA;“Nggak usah, kamu mandi aja sana biar cepet istirahat. Aku pulang dulu, Na.”&#xA;&#xA;“Hati-hati di jalan, sayang. Kabarin kalau udah di rumah.”&#xA;&#xA;“Ya.”&#xA;&#xA;Begitu Luna mendengar pintu utama unitnya tertutup disusul dengan suara tanda pintunya sudah terkunci, Luna menyandarkan tubuhnya di sisi sofa tempat Jaehyun duduk tadi, alih-alih pergi ke kamar mandi. Luna menikmati menghirup wangi khas Jaehyun yang masih tertinggal di sofanya—ia masih sangat merindukan Jaehyun dan menyesali malamnya berakhir dengan tidak baik. Sedikit banyak Luna menyesali dirinya yang tidak bisa menahan tangis ketika sedang melepas kangen dengan Jaehyun tadi. Karena pada dasarnya Luna memang ekspresif, apapun yang ia rasakan harus diutarakan saat itu juga dan itu yang terjadi malam ini.&#xA;&#xA;Dibalik rasa rindu yang menggebu, rasa cinta yang semakin melekat kuat, terselip perasaan takut akan kehilangan yang begitu besar. Dan ketiga perasaan itu beradu dan menyatu di waktu yang tidak tepat. Membentuk sebuah emosi yang membuat Luna pada akhirnya mengalirkan air mata di saat yang bersamaan dengan dirinya yang sedang berbahagia karena akhirnya bisa beradu afeksi lagi secara langsung dengan Jaehyun, setelah dua minggu terhalang jarak.&#xA;&#xA;Dengan mata terpejam, Luna menghirup dalam-dalam sekali lagi wangi khas Jaehyun yang samar-samar memanjakan indera penciumnya. Hanya doa yang bisa ia mohonkan agar hubungannya dengan Jaehyun segera membaik.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Hop on.</em>”</p>

<p>Jaehyun yang sudah duduk duluan di sofa menepuk kedua pahanya sendiri dengan mata tertuju pada sepasang mata cokelat hazelnut milik Luna.</p>

<p>Detik berikutnya, Luna beranjak dari posisi berdirinya dan menuruti isyarat dari Jaehyun barusan. Ia kini duduk di pangkuan Jaehyun dengan kedua kaki tertekuk ke belakang. Kedua lengannya ia lingkarkan di sekeliling leher Jaehyun.</p>

<p>“Aku berat nggak? Jujur,” tanya Luna sembari menempelkan keningnya pada kening Jaehyun. Menyalurkan rindu yang sempat tertahan akibat dua minggu tidak bertemu.</p>

<p>“Agak,” jawab Jaehyun sambil terkekeh yang segera dibalas dengan pukulan pelan di bahunya oleh Luna.</p>

<p>“Ya udah, turunin aku kalau berat,” Luna merajuk.</p>

<p>“Nggak mau,” Jaehyun menggeleng. Kening keduanya masih menempel satu sama lain. “Aku kangen kamu.”</p>

<p>“Aku tadinya kangen, tapi sekarang nggak. Abisnya dikatain berat.”</p>

<p>“Aku bercanda ih.”</p>

<p>Gantian Luna yang terkekeh. Tentu saja ia tahu kekasihnya itu hanya bercanda. “<em>I miss you baby</em>,” ujar Luna lagi. “Pasangan yang LDR-an pasti ngeledekin kita, dua minggu aja udah nggak tahan. Tapi emang iya nggak tahan sih, aku tersiksa nggak ketemu kamu.”</p>

<p>“Duh, segitunya.”</p>

<p>“Emang kamu nggak?”</p>

<p>“Ya sama lah aku juga tersiksa rasanya nggak ketemu kamu.”</p>

<p>“<em>Stop talking then, and start kissing</em>.”</p>

<p>Jaehyun tertawa tapi sebelum tawanya habis, Luna yang sudah kehilangan kesabaran keburu membungkam bibir Jaehyun dengan bibirnya. Semakin lama, keduanya semakin dalam melumat bibir satu sama lain. Ciuman yang mengandung sejuta afeksi dan juga makna yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.</p>

<p>Tiba-tiba, Jaehyun merasa ada sesuatu yang basah mengenai pipinya yang sedang beradu dengan pipi Luna. Sambil mengernyitkan dahi karena bingung, Jaehyun perlahan melepaskan bibirnya untuk melihat penyebab basah di pipinya dan ia menjadi semakin bingung ketika dilihatnya Luna ternyata sedang menangis tanpa suara.</p>

<p>Setengah panik, Jaehyun mengangkat dagu Luna supaya ia bisa melihat dengan jelas wajah Luna yang kini sudah semakin basah seiring dengan tetesan air mata yang mengalir dari ujung matanya.</p>

<p>“Na, kenapa sayang? <em>Did I do something wrong</em>? Kok tiba-tiba nangis gini…,” tanya Jaehyun sambil mengusapi air mata yang nampaknya masih enggan berhenti mengalir.</p>

<p>“<em>You know I love you so much,</em> Hyunjae.”</p>

<p>“<em>I know, and I do love you too that much.</em> Lalu kenapa—”</p>

<p>“Aku takut, Jae. <em>I’m afraid of losing you</em>.”</p>

<p>“Luna, <em>you are not going to lose me, I promise</em>. Kamu kenapa tiba-tiba ngomong gini sih, Na? Aku jadi ikutan takut nih.”</p>

<p>Luna menatap sepasang netra milik kekasihnya itu dalam-dalam. “<em>Last time I loved someone this much, I ended up losing him</em>. Aku… takut ngerasain kehilangan yang sebegitu nyakitinnya untuk kedua kali.”</p>

<p>Akhirnya, Jaehyun mulai paham ke mana pembicaraan ini akan mengarah. Sepertinya ada sesuatu yang memicu trauma masa lalu Luna kembali malam ini. Jaehyun tidak tahu apa, tapi ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.</p>

<p>“Sayang, hubungan kita nggak sama dengan hubungan kamu dan Seokjin dulu. <em>Nothing stand between us</em>—kecuali jarak yang sesekali harus mau nggak mau kita jalani karena tuntutan kerjaan.”</p>

<p>Luna tidak menjawab, ia hanya terdiam dengan wajah menunduk dan bahu yang sesekali naik turun karena ia masih belum berhenti mengisakkan air matanya.</p>

<p><em>“What happened today? Tell me,</em>” tembak Jaehyun akhirnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di rumahku sebelum aku datang?”</p>

<p>Masih membisu, Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sebuah ketidakjujuran yang ia berikan pada Jaehyun untuk pertama kalinya.</p>

<p>“Lalu kenapa kamu tiba-tiba <em>insecure</em> begini sampai nangis? Aku bingung, Na.”</p>

<p>“<em>Sorry… Can we just… forget it</em>?”</p>

<p>“Kita lagi baik-baik aja dan bahkan lagi melepas kangen, tiba-tiba kamu nangis kejer kayak gini dan sekarang kamu bilang lupain aja? Aku beneran nggak paham.”</p>

<p>“Hyunjae, maaf. Jangan marah, <em>please</em>.”</p>

<p>“<em>You ruined the mood</em>. Aku lagi capek banget baru pulang dari Busan, dan aku kangen kamu. Tapi kamu mendadak nangis dan nggak mau jelasin penyebabnya. Kok tega sih, Na, kamu begitu ke aku?”</p>

<p>Melihat ekspresi gusar di wajah Jaehyun, Luna semakin merasa gelisah. Ia tahu, kekesalan Jaehyun akan hilang hanya jika ia menjelaskan dengan jujur penyebab tangisnya yang tiba-tiba malam ini.</p>

<p>Sambil menghela nafas, Luna memutuskan untuk merubah posisi duduknya—yang tadinya berada di pangkuan Jaehyun menjadi duduk bersebelahan di sofa.</p>

<p>“Tadi sebelum kamu pulang, aku sempat ngobrol sama Nenek.” Akhirnya, Luna mulai berbicara. Jaehyun langsung merubah arah duduknya menjadi berhadapan dengan Luna.</p>

<p>“Sambil nunggu giliranku <em>fitting</em> baju, Nenek ajak aku ngobrol berdua di teras atas. Nenek cerita soal keluarga Lee, keluargamu, yang semuanya… <em>pure Korean</em>. Apalagi papa kamu anak pertamanya Nenek, dan kamu cucu laki-laki pertama, paling besar. Nenek bilang besar harapannya untuk kamu bisa dapetin pasangan sesama <em>Korean</em> supaya keturunanmu juga nantinya <em>pure Korean</em>. Tapi karena kamu udah memilih aku dan mama papa kamu juga udah menerima, Nenek bilang beliau nggak bisa apa-apa selain merestui.”</p>

<p>“Lalu masalahnya apa, Na?”</p>

<p>“Nenek terdengar terpaksa waktu bilang merestui hubungan kamu dan aku. Nggak tau… aku ngerasa Nenek kurang sreg sama aku. Jae, aku takut hubungan kita tanpa disadari nyakitin keluargamu, terutama Nenek. <em>I can see it clearly that you are your granny’s favorite.</em>”</p>

<p>“Na, aku paham ketakutanmu. Tapi <em>please</em>, kamu tau betul orangtua dan kakakku semuanya menerima kamu. Mama itu sampe bilang ke aku, dia sayang sama kamu, Na. Papa juga bilang kalau hubungan kita kenapa-kenapa, berarti yang salah aku, aku yang nggak bener jagain kamu.”</p>

<p>“Tapi Jae—”</p>

<p>“Nggak ada tapi. Kalau perlu, besok aku izin nggak masuk kantor, aku mau ajak ngobrol Nenek baik-baik soal ini.”</p>

<p>“Jangan, Jae. Aku nggak mau ya, kamu omongin lagi masalah ini ke Nenek. Aku nggak mau disangka ngaduin Nenek ke kamu. Nggak gitu maksudku, Hyunjae.”</p>

<p>“Ya terus gimana? Kecuali kamu mau hilangin perasaan <em>insecure</em> kamu itu dan percaya kalau Nenek ikhlas merestui hubungan kita, aku rasa nggak ada solusi selain aku harus ngobrol sama Nenek secepatnya.”</p>

<p>“Ya udah lupain aja, nggak usah dibahas lagi—”</p>

<p>“Lagi-lagi dengan gampangnya kamu bilang lupain aja. Kamu nggak bisa kayak gitu dong, Na, apa-apa dilupain bukannya diselesaiin.”</p>

<p>“Ya udah kita selesaiin lain waktu aja bisa nggak? Tunda dulu, <em>please</em>. Aku capek dari pagi udah keluar rumah, kamu juga pasti lebih capek lagi habis perjalanan dari Busan. Kita bicarain lagi dengan kepala dingin nanti.”</p>

<p>“Terserah kamu deh.”</p>

<p>“Aku mandi dulu ya? Beneran capek banget, pengen cepet tidur.”</p>

<p>“Oke, aku pamit pulang kalau gitu. Kamu istirahat, jangan banyak mikir aneh-aneh nanti kamu sakit.”</p>

<p>“Aku anter kamu ke depan.”</p>

<p>“Nggak usah, kamu mandi aja sana biar cepet istirahat. Aku pulang dulu, Na.”</p>

<p>“Hati-hati di jalan, sayang. Kabarin kalau udah di rumah.”</p>

<p>“Ya.”</p>

<p>Begitu Luna mendengar pintu utama unitnya tertutup disusul dengan suara tanda pintunya sudah terkunci, Luna menyandarkan tubuhnya di sisi sofa tempat Jaehyun duduk tadi, alih-alih pergi ke kamar mandi. Luna menikmati menghirup wangi khas Jaehyun yang masih tertinggal di sofanya—ia masih sangat merindukan Jaehyun dan menyesali malamnya berakhir dengan tidak baik. Sedikit banyak Luna menyesali dirinya yang tidak bisa menahan tangis ketika sedang melepas kangen dengan Jaehyun tadi. Karena pada dasarnya Luna memang ekspresif, apapun yang ia rasakan harus diutarakan saat itu juga dan itu yang terjadi malam ini.</p>

<p>Dibalik rasa rindu yang menggebu, rasa cinta yang semakin melekat kuat, terselip perasaan takut akan kehilangan yang begitu besar. Dan ketiga perasaan itu beradu dan menyatu di waktu yang tidak tepat. Membentuk sebuah emosi yang membuat Luna pada akhirnya mengalirkan air mata di saat yang bersamaan dengan dirinya yang sedang berbahagia karena akhirnya bisa beradu afeksi lagi secara langsung dengan Jaehyun, setelah dua minggu terhalang jarak.</p>

<p>Dengan mata terpejam, Luna menghirup dalam-dalam sekali lagi wangi khas Jaehyun yang samar-samar memanjakan indera penciumnya. Hanya doa yang bisa ia mohonkan agar hubungannya dengan Jaehyun segera membaik.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/hop-on</guid>
      <pubDate>Fri, 05 Nov 2021 13:58:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>CHAPTER 12.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-12?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[CHAPTER 12.&#xA;&#xA;“Bro! Gimana Jepang? Kaget aja gue tiba-tiba liat postingan lo kemarin lagi di Jepang.”&#xA;&#xA;Hari Selasa pagi, Hyunjae baru saja tiba di kantornya dan Sangyeon yang selang lima menit tiba lebih dulu, langsung menyambut Hyunjae dengan cengiran lebar di wajahnya. Sambil menunggu Hyunjae memberikan jawaban, Sangyeon mendekati meja Hyunjae dengan dua cup Americano panas di masing-masing tangan kanan dan kirinya.&#xA;&#xA;“Nih, satu buat lo,” kata Sangyeon lagi, disimpannya satu cup Americano yang tadi sengaja ia beli untuk Hyunjae di coffee shop seberang kantor.&#xA;&#xA;“Wah, thanks, Sang. Tau aja gue butuh yang rada kenceng pagi ini.”&#xA;&#xA;“Udah kebayang sih. Capek pasti lo, balik dari Jepang pasti mondok dulu kan di tempat Luna?”&#xA;&#xA;“Hehe iya. Tapi nggak nginep sih, nganter dia ke unitnya sambil gue istirahat bentar. Maleman gue pulang ke unit gue.”&#xA;&#xA;“Seneng lo di Jepang? Kok nggak bilang-bilang mau kesana sih, Jae, tau gitu kan gue bisa titip ke lo.”&#xA;&#xA;“Sorry, dadakan banget soalnya. Jumat malam mendadak cari tiket, itu juga yang ngurusin anak-anak kantornya Luna.” Hyunjae berhenti sebentar. Dengan sebelah tangan bersandar pada meja kerjanya, tangan satunya mengambil cup Americano pemberian Sangyeon tadi sebelum menyesapnya. “It was fun. Liburan pertama gue bareng Luna. Ya itung-itung hiburan dulu buat Luna sebelum gue tinggal dua minggu ke Busan.”&#xA;&#xA;“Ngomong-ngomong Busan, si Kevin denger dari anak Interior katanya kita berangkat hari Minggu. Belum official sih, kayaknya hari ini bakal dibicarain pas meeting sore sama Pak Choi.”&#xA;&#xA;Hyunjae mengernyitkan dahinya. “Minggu? Minggu kapan? Tanggal berapa?”&#xA;&#xA;“Minggu weekend ini, tanggal tujuh.”&#xA;&#xA;Jawaban Sangyeon membuat Hyunjae yang tadinya akan menyesap Americano-nya lagi, terhenti. Tangannya buru-buru menyambar kalender di mejanya, berusaha mengkonfirmasi tanggal dan hari yang disebutkan Sangyeon. Hyunjae sungguh berharap Sangyeon membuat kesalahan perihal tanggal keberangkatannya ke Busan ini.&#xA;&#xA;Ketika mata Hyunjae mendapati hari Minggu weekend ini jatuh di tanggal tujuh November seperti yang Sangyeon ucap, ia mendesah kecewa sambil menyimpan kembali kalender di mejanya tanpa semangat.&#xA;&#xA;“Kenapa?” tanya Sangyeon bingung.&#xA;&#xA;“Luna ulang tahun tanggal delapan,” jawab Hyunjae.&#xA;&#xA;“Oh shit. I’m sorry, Jae. Lo udah ngerencanain apa buat dia?”&#xA;&#xA;“Birthday dinner doang sih, nggak yang heboh-heboh. Lo tau gue lah.”&#xA;&#xA;“Early birthday dinner aja, Jae, sebelum kita berangkat. Gimana?”&#xA;&#xA;“I’ll think about it. Gue berharap Kevin salah denger sih.”&#xA;&#xA;“Salah denger apa hei? Pagi-pagi nama gue udah disebut.”&#xA;&#xA;Hyunjae dan Sangyeon menoleh berbarengan ke arah Kevin yang baru memasuki ruangan. Mereka berdua tidak menyadari kedatangan Kevin karena sedang dalam posisi membelakangi pintu ruangan mereka.&#xA;&#xA;“Oleh-oleh Jepang mana ya ngomong-ngomong?” lanjut Kevin lagi setelah menyimpan tasnya di kursi, sambil melepas coat abu-abunya.&#xA;&#xA;Hyunjae terkekeh. “Sorry ya, nggak sempet belanja oleh-oleh. Dadakan dan mepet banget waktunya, Kev.”&#xA;&#xA;“Tuh, tanyain ke Kevin bener nggak soal jadwal berangkat ke Busan,” kata Sangyeon. “Gue mau ke pantry dulu ya.”&#xA;&#xA;“Kata anak Interior sih, tanggal tujuh minggu ini.”&#xA;&#xA;“Kok mereka bisa tau ya? Kita aja belum dikonfirmasi sama Pak Choi kan tanggalnya?”&#xA;&#xA;“Beberapa dari mereka ada yang ikut ke Busan ternyata, dan udah di-announce di group chat Interior soal jadwal perginya. Sore nanti kita meeting kan sama Pak Choi? Sekalian bahas jadwal sih pastinya.”&#xA;&#xA;Hyunjae menarik kursinya, meninggalkan Americano yang isinya tinggal setengah di atas meja di samping monitornya.&#xA;&#xA;“Gue mau susul Sangyeon ke pantry, ada mau titip sesuatu dari pantry?” tanya Kevin yang sudah berada di ambang pintu.&#xA;&#xA;“Nggak, Kev. Thanks.” Jawaban singkat Hyunjae dibalas anggukan oleh Kevin sebelum ia meninggalkan ruangan.&#xA;&#xA;Sambil menunggu komputernya menyala sempurna, Hyunjae mengeluarkan ponselnya. Hatinya gundah seketika, mengetahui bahwa ia tidak akan bisa melancarkan rencana birthday dinner untuk Luna. Ia menimbang-nimbang, haruskah ia majukan acaranya menjadi early birthday dinner seperti masukan Sangyeon tadi? Hyunjae meremat kepalan tangannya, kesal. Ia merasa tidak punya pilihan yang baik untuk menggantikan rencana birthday dinner-nya untuk Luna.&#xA;&#xA;    Na, lembur nggak nanti?&#xA;&#xA;    Ketemu yuk pulang kantor.&#xA;&#xA;Selesai mengetik pesan untuk Luna, Hyunjae meraih map folder yang ia simpan rapi di sisi kanan mejanya, dan mulai mempelajari ulang rincian data mengenai konsep tahap perencanaan proyek barunya. Sesekali fokusnya terbagi dua dengan aplikasi arsitektur yang ia buka di komputernya.&#xA;&#xA;Ponsel Hyunjae bergetar. Balasan dari Luna masuk.&#xA;&#xA;    Belum tau, tapi kayaknya nggak lembur.&#xA;&#xA;    Ada apa kok ngajak ketemu malam ini? Rencana kita ketemu lagi kan besok, Yang?&#xA;&#xA;    Ke tempat ahjusshi yuk, mau nggak? Pengen es krim mintchoc, udah lama nggak makan itu.&#xA;&#xA;    Mobil kamu tinggal di kantor aja malam ini, aku jemput kamu nanti.&#xA;&#xA;    Ngidam banget kamu, Yang? Tiba-tiba ajak makan es krim.&#xA;&#xA;    Aku nyetir aja sendiri biar kamu nggak bolak-balik. Kita ketemu di sana aja ya.&#xA;&#xA;    Hehe iya. Sekalian pengen ngobrol.&#xA;&#xA;    Ya udah nanti sore aku kabarin lagi ya, Na. Love you.&#xA;&#xA;    Ya sayang. Love you too.&#xA;&#xA;“Hai, Kak Jaehyun. Selamat pagi.”&#xA;&#xA;Hyunjae mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menuju arah suara yang ternyata bersumber dari Jisoo yang baru datang—diikuti dengan Sunwoo di belakangnya.&#xA;&#xA;“Pagi, Bang Jae.” Sapaan kali ini berasal dari Sunwoo.&#xA;&#xA;Hyunjae menatap Jisoo dan Sunwoo bergantian. “Kalian dateng barengan?” selidik Hyunjae. Kecurigaannya bertambah ketika Jisoo menghindari tatapannya dengan menyibukkan diri merapikan meja kerjanya—sementara Sunwoo hanya memberikan cengiran lebar di wajahnya sambil menyalakan komputer.&#xA;&#xA;“Hello, nanya loh gue ini. Butuh dijawab,” ucap Hyunjae lagi. Gemas ketika tidak satu pun dari mereka menjawab pertanyaannya. Ini aneh, pikir Hyunjae.&#xA;&#xA;“Aku ke pantry dulu,” alih-alih menjawab pertanyaan Hyunjae, Sunwoo malah berkata pada Jisoo sebelum menghilang keluar dari ruangan.&#xA;&#xA;“Ji?” tanya Hyunjae yang masih penasaran, sambil mendekati meja Jisoo yang berada di seberang mejanya. “Sejak kapan Sunwoo nyebut dirinya ‘aku’ ke kamu?”&#xA;&#xA;“Jangan kasih tau yang lain ya, Kak? Nanti aku diledekin.”&#xA;&#xA;“Eh? Maksudnya?”&#xA;&#xA;“I-iya… tadi kesini bareng Kak Sunwoo,” jelas Jisoo. Hyunjae menangkap rona merah di pipi Jisoo. “Dijemput.”&#xA;&#xA;Hyunjae membulatkan matanya dengan mulut setengah ternganga. “Kamu sama Sunwoo—”&#xA;&#xA;“Nggak, Kak, nggak ada apa-apa. Baru mulai deket aja,” sergah Jisoo buru-buru.&#xA;&#xA;Senyum tersungging di wajah Hyunjae. Ia harus segera memberitahukan ini pada Luna. Benar kan dugaannya—Jisoo sama sekali bukan naksir Hyunjae, tapi Sunwoo!&#xA;&#xA;“Kak? Kenapa?”&#xA;&#xA;“Eh, nggak apa-apa. Kaget aja saya, tiba-tiba kamu sama Sunwoo. Semoga lancar PDKT-nya ya.”&#xA;&#xA;“Beneran nggak apa-apa kan, Kak?”&#xA;&#xA;“Of course. Saya tinggal dulu ya.”&#xA;&#xA;Hyunjae melangkahkan tungkai kakinya secepat yang ia bisa ke arah pantry—ingin menemui Sunwoo. Sekaligus memberitahukan hal ini pada Sangyeon dan Kevin juga.&#xA;&#xA;Ketiga teman satu timnya itu sedang mengobrol sambil ngemil biskuit yang memang disediakan untuk staff di pantry, ketika Hyunjae membuka pintu pantry dan menyerbu masuk ke dalamnya. Beruntung, tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain mereka berempat.&#xA;&#xA;“Bocah dasar, tiba-tiba udah ngegebet Jisoo aja. Dari kapan, Woo?” tanya Hyunjae tanpa basa-basi sambil meninju pelan bahu Sunwoo.&#xA;&#xA;Sangyeon dan Kevin bertukar tatap, bingung.&#xA;&#xA;Sunwoo menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah. “Hehe, Bang. Malu ah, diumumin begini. Belum apa-apa, kok, baru coba ajak jalan aja hari Minggu kemarin iseng. Eh, taunya dia mau. Terus gue ajak pergi bareng juga pagi ini dan dianya masih mau.”&#xA;&#xA;“Wiiih, semangat, Woo! Pepet terus jangan dilepas. Tapi awas lho ya, mesti tetep profesional sama urusan kerjaan,” kata Sangyeon.&#xA;&#xA;“Iya siap. Doain lancar ya. Soalnya.. ngg, sebenernya…,” Sunwoo berhenti. Matanya menatap Hyunjae ragu-ragu.&#xA;&#xA;“Apaan? Bikin penasaran aja,” ujar Kevin. “Sebenernya kenapa?”&#xA;&#xA;“Bang Jae, sorry ya gue ngomongin ini. Tapi lo nggak usah jadi beda ke Jisoo, ya. Janji dulu.”&#xA;&#xA;“Hah apa sih gue nggak paham?”&#xA;&#xA;“Janji dulu, Bang.”&#xA;&#xA;“Iya, janji. Whatever.”&#xA;&#xA;“Jisoo tuh jujur banget anaknya, polos sih menurut gue. Dia bilang maaf karena sebelumnya nggak pernah ngeh sama gue yang emang udah suka dia dari awal-awal dia masuk sini. Soalnya… dia naksir lo, Bang.”&#xA;&#xA;Jika Hyunjae sedang minum, ia yakin dirinya akan tersedak saat ini. Untunglah Hyunjae hanya sedang bersandar pada meja konter sambil melipat tangannya di dada. “Bercanda lo,” ujarnya pendek.&#xA;&#xA;“Yeee, orang Jisoo sendiri yang bilang, ngapain gue bercanda. Dia bilang dia naksir lo banget, Bang. Ganteng katanya, terus baik. Tapi dia tau udah ada hati yang lo jaga, Kak Luna. Makanya dia pendem aja tuh perasaannya ke lo. Sampai weekend kemarin dia lihat postingan lo yang lagi di Jepang sama Kak Luna, disitu dia akhirnya bertekad mau move on dari lo.”&#xA;&#xA;“WOW!”&#xA;&#xA;Yang paling pertama bereaksi adalah Sangyeon. “WOW!” ucap Sangyeon sekali lagi. “Beneran magnetnya cewek-cewek lo ini, Jae.”&#xA;&#xA;“Gue… antara kaget nggak kaget sih. Udah pernah bahas ini sama Jacob sebenernya, kita berdua udah curiga,” kata Kevin.&#xA;&#xA;“Terus lo dijadiin alat bantu biar Jisoo bisa move on dari Jaehyun, gitu Woo?” tanya Sangyeon lagi.&#xA;&#xA;“Ya… bisa dibilang gitu sih. Nggak apa-apa gue sih, nyantai aja. Itung-itung bantuin dia biar lupain Bang Jae, biar hubungan Bang Jae sama Kak Luna juga aman dari gangguan. Hehe.”&#xA;&#xA;Hyunjae masih belum berkomentar. Ia bingung, tidak menyangka ada cerita seperti ini di balik PDKT-nya Sunwoo dan Jisoo. Di satu sisi ia jadi merasa tidak enak pada Sunwoo, di sisi lain ia mengagumi insting Luna yang ternyata benar adanya soal Jisoo yang menyimpan rasa pada dirinya.&#xA;&#xA;“Woo, sorry… Gue nggak tau. Bener-bener nggak tau,” kata Hyunjae akhirnya.&#xA;&#xA;“Ya nggak apa-apa, Bang. Kenapa juga lo jadi minta maaf. Lagian nggak aneh juga sih lo nggak sadar, mata dan hati lo beneran udah kekunci buat Kak Luna doang soalnya.”&#xA;&#xA;“Iya… Lo semangat ya, Woo? Pelan-pelan aja jangan rusuh, takutnya Jisoo kabur kalau lo rusuh. Kita dukung biar lo jadi.”&#xA;&#xA;“Thank you, abang-abang semuanya. Balik ke ruangan, yuk. Oh ya Bang Jae, janji ya lo jangan jadi beda ke Jisoo. Tetep kayak biasanya aja.”&#xA;&#xA;“Iya, don’t worry.”&#xA;&#xA;*\\\&#xA;&#xA;Tangan Luna bergerak memutar setir ke arah kiri, memasuki area parkir salah satu kafe favoritnya ini. Dari jumlah mobil yang lumayan banyak mengisi area parkir, sepertinya kafe ahjusshi sedang agak ramai pengunjung malam ini. Walau begitu, Luna masih berhasil mendapat satu spot parkir kosong tepat di sebelah mobil SUV hitam yang sangat dikenalnya. Ya, Luna memarkirkan sedan putihnya tepat di samping SUV hitam milik Hyunjae.&#xA;&#xA;Setelah memastikan mobilnya aman terkunci, Luna melangkah masuk ke dalam kafe, dan seperti biasa langsung menerima sambutan hangat dari ahjusshi yang sedang berdiri di etalase es krim.&#xA;&#xA;“Mint choco?” tawar Ahjusshi sambil tersenyum.&#xA;&#xA;“Iya, Ahjusshi. Satu cup ya,” jawab Luna.&#xA;&#xA;“Oke, siap.” Dengan cekatan, Ahjusshi langsung mengambil cup es krim berukuran sedang dan mengisinya dengan es krim mint choco sampai penuh. “Silakan, Jaehyun ada di teras ya seperti biasa.”&#xA;&#xA;“Wah, dikasih banyak banget ini es krimnya. Nanti customer yang lain bingung loh kenapa mereka nggak dapet sebanyak ini.”&#xA;&#xA;“Hehe nggak apa-apa, khusus buat pelanggan favorit aja bonus es krimnya banyak.”&#xA;&#xA;“Makasih banyak, Ahjusshi. Luna ke teras dulu ya.”&#xA;&#xA;Benar saja dugaan Luna, situasi kafe malam itu memang agak ramai dan kebanyakan pengunjungnya adalah pegawai kantoran seumuran Luna dengan pakaian kerja masih melekat. Ada yang rombongan, ada yang hanya berduaan, ada juga yang sendiri dan masih berkutat dengan laptopnya.&#xA;&#xA;Sampai di teras, Luna langsung mendekati spot favoritnya saat dilihatnya siluet tubuh jangkung kekasihnya yang sedang duduk sambil memainkan ponsel di tangannya.&#xA;&#xA;“Hai, Sayang,” sapa Luna sambil mengusap pundak Hyunjae dan mengecup pipinya dari belakang. Luna lalu berjalan memutari meja, duduk di hadapan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Sayang, kaget aku dikirain siapa main cium pipi aku. Susah parkir nggak? Agak penuh soalnya parkiran.”&#xA;&#xA;“Dapet dong, pas di sebelah mobil kamu.”&#xA;&#xA;“Oh ya? Syukurlah. Yang, duduknya sini dong sebelah aku.”&#xA;&#xA;“Enakan gini nggak sih depan-depanan daripada sebelahan?”&#xA;&#xA;“Maunya sebelahan, biar bisa sambil peluk dikit.”&#xA;&#xA;Begitu Luna menduduki kursi di sampingnya, Hyunjae langsung memberinya pelukan erat. Sambil menyibak rambut panjang Luna ke belakang, diciumnya pipi Luna. Agak lama sampai Luna bisa merasakan wajahnya memanas karena malu.&#xA;&#xA;“Sayang, malu banyak orang. Kamu lagi kenapa sih?”&#xA;&#xA;“Kangen sama pacar sendiri nggak boleh?”&#xA;&#xA;“Bukan gitu ih, malu lagi banyak orang.”&#xA;&#xA;“Yang, aku ada yang mau diomongin.”&#xA;&#xA;Luna mulai menyendokkan es krim ke mulutnya, lalu ganti menyuapkan es krimnya ke Hyunjae. “Ngomong aja, aku dengerin.”&#xA;&#xA;“Minggu depan kamu ulang tahun… Tapi aku minta maaf ya, Sayang, nggak bisa rayain ulang tahun kamu. Tanggal tujuh aku berangkat ke Busan.”&#xA;&#xA;Es krim mint chocolate yang tadinya terasa enak di lidah mendadak menjadi hambar segera setelah Luna mendengar apa yang dikatakan Hyunaje. Sebetulnya, dari awal saat Hyunjae berkata awal November ia akan berangkat ke Busan, Luna sudah mempersiapkan mental untuk kemungkinan tidak bertemu Hyunjae di hari ulang tahunnya. Luna benar-benar tidak menyangka ketakutannya menjadi kenyataan.&#xA;&#xA;“Maaf ya? Jangan marah ya, Na.”&#xA;&#xA;“Nggak mungkin aku marah, Yang. Udah, jangan jadi beban pikiran kamu ya, Jae. Kita masih bisa video call atau teleponan nanti. I’ll be okay, kan aku udah janji nggak akan rewel selama ditinggal kamu.” Berbanding terbalik dengan yang ia rasakan sesungguhnya, Luna memutuskan untuk tidak mengutarakan kesedihannya pada Hyunjae. Luna tidak ingin membuat Hyunjae berat meninggalkannya untuk urusan di Busan. Luna tahu betul, mereka sudah bukan di usianya lagi untuk ribut masalah ketidakhadiran saat ulang tahun.&#xA;&#xA;“Harusnya aku tenang dengar jawaban kamu, tapi malah semakin bersalah rasanya, Na. I’m so sorry, aku nggak bisa apa-apa soal ini.”&#xA;&#xA;“Kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Kamu kan ke Busan untuk kerja, bukan untuk main-main. Aku udah gede, masa mau ngambek cuma gara-gara ulang tahun nggak ditemenin?”&#xA;&#xA;“Iya, kamu udah gede bukan bocil lagi ya?” kata Hyunjae gemas sambil memencet hidung Luna.&#xA;&#xA;“Sakit ih, kenapa sih cubit-cubit hidung.”&#xA;&#xA;“Sakit ya? Maaf yaa.”&#xA;&#xA;Dan dikecupnya pucuk hidung mancung Luna.&#xA;&#xA;“Stop cium aku di tempat ramai. Maluuu,” Luna berbisik di telinga Hyunjae sambil meremat telapak tangan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Biarin, biar semesta tau kamu itu punyaku.”&#xA;&#xA;Luna blushing.&#xA;&#xA;Sungguh ia masih tidak terbiasa dengan sikap Hyunjae akhir-akhir ini. Sepertinya sifat tsundere-nya mulai menguap entah kemana.&#xA;&#xA;“Satu lagi yang mau aku omongin, yang ini agak lebih berat kayaknya buat kamu, Na…”&#xA;&#xA;Luna menatap Hyunjae was-was.&#xA;&#xA;Hah ada lagi?&#xA;&#xA;“Aku pulang dari Busan tanggal 22 siang baru jalan dari sana, sementara kata nuna-ku jadwal fitting bajunya dimulai dari pagi jam 10. Jadi… nggak apa-apa ya kamu ke rumahku sendiri? Pulang dari Busan aku langsung ke Songdo, kita ketemuan di rumah.”&#xA;&#xA;“Yang… serius aku mesti sendirian ke rumah kamu? Bakal ada siapa aja nanti di sana? Aku mules nih bayanginnya.”&#xA;&#xA;“Tenang aja, aku udah titipin kamu ke Nuna dan Mama buat dikenalin ke keluargaku yang nanti datang. Paling ada sepupu-sepupu sama temennya Nuna sesama bridesmaid.”&#xA;&#xA;Tangan Luna memainkan sendok es krimnya. Gugup. Tidak menyangka permintaan Hyunjae agak sedikit berat kali ini.&#xA;&#xA;“Na? Nggak apa-apa kan?”&#xA;&#xA;“Berita apa lagi yang mau kamu sampein malam ini? Aku mules, Yang, beneran.”&#xA;&#xA;“Ada satu lagi, tapi jawab dulu yang ini. Nggak apa-apa kan kamu sendirian ke rumahku?”&#xA;&#xA;Ya mau gimana lagi, Hyunjae? Memangnya aku ada pilihan?&#xA;&#xA;“Iya, nggak apa-apa, Jae. I can handle it.”&#xA;&#xA;“Good. Makasih, Sayang.”&#xA;&#xA;“Minta nomor Kak Jaesung jangan lupa, kamu masih belum kasih nomornya ke aku. Lalu, berita selanjutnya apa? Udah ya please ini yang terakhir kan?”&#xA;&#xA;“Ah ya, nomornya Nuna—wait.” Hyunjae meraih ponselnya dan mengirimkan kontak kakaknya untuk Luna simpan. “Lalu, ini yang terakhir. Soal Jisoo. Tadinya aku pikir nggak penting tapi rasanya kamu perlu tau juga.”&#xA;&#xA;“Jadi, dugaan kamu bener. She has feelings for me.”&#xA;&#xA;“NAH KAN! Apa kubilang—”&#xA;&#xA;“But—jangan emosi dulu dong, Yang. Ada tapinya.”&#xA;&#xA;“Apaan tapinya?”&#xA;&#xA;“Sekarang udah nggak. Well, at least mencoba untuk move on—lupain aku. Ya karena dia tau aku udah punya kamu. Dia sekarang lagi PDKT sama Sunwoo. Jadi please ya, mulai sekarang udah nggak usah cemburu-cemburu lagi sama Jisoo.”&#xA;&#xA;Luna merotasikan bola matanya. “Ya udah, bagus deh kalau gitu.”&#xA;&#xA;“Terus, aku mau tanya. Kamu mau kado ulang tahun apa dari aku? Kita cari bareng ya, sebelum aku pergi ke Busan.”&#xA;&#xA;Luna menggelengkan kepalanya cepat. “Aku cuma pengen kamu pulang selamat dari Busan, udah itu aja.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa mendengarnya. “Yang, aku ini arsitek bukan tentara. Aku mau ketemu vendor-vendor konstruksi disana, bukan mau ke medan perang.”&#xA;&#xA;“Tetap aja, aku khawatir. Ini pertama kalinya jauhan dari kamu untuk waktu yang lama.”&#xA;&#xA;“Makanya… cepat-cepat dihilangin ya trauma soal nikahnya? Biar aku bisa cepet nikahin kamu. Jadi kalau aku ada kerjaan di luar kota, kamu bisa ikut aku.”&#xA;&#xA;“Ya kan aku juga kerja? Tetep aja nggak bisa ngikut kamu walaupun kita udah nikah.”&#xA;&#xA;“Kamu berhenti kerja lah. Atau cari kerjaan yang bisa dari rumah, nggak mesti ke kantor apalagi dinas ke luar kota. Aku pengen kamu nanti full time di rumah. Ngurus aku, ngurus anak-anak kita.”&#xA;&#xA;“Na, aku nggak bercanda soal ingin nikahin kamu. Kamu tau? Aku ini lagi giat banget nabung karena aku nggak ingin kamu ngelewatin masa susah setelah kita nikah nanti. Satu hal yang jadi impianku setelah kita nikah, aku mau pindah ke apartemen—atau rumah—yang lebih besar dan nyaman dari yang aku tempatin sekarang.”&#xA;&#xA;“Sayang…”&#xA;&#xA;“Papaku yang bikin aku jadi ambisius gini. Maksudnya, aku pengen kelak seperti Papa yang bisa kasih kehidupan yang baik dan nyaman untuk keluarganya. Aku harus jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab nantinya.”&#xA;&#xA;“Hyunjae, kita baru kenal tiga bulan? Empat bulan? Tapi kamu udah memikirkan sampai sejauh itu untuk kita. You’re just… too good to be true.”&#xA;&#xA;“Karena kamu seberharga itu buatku, Na.”&#xA;&#xA;“Jadi, udah kepikiran mau kado apa dari aku?”&#xA;&#xA;“Hmm, aku mau…” Luna berhenti untuk meraih tangan Hyunjae dan menyematkannya dalam genggaman tangannya. Ia juga mencondongkan wajahnya mendekati wajah Hyunjae, dan berbisik di telinganya, “Kamu tetap sayangi aku seperti ini. Jangan menyerah kalau ada ujian apapun itu di hubungan kita. Aku mau kamu tetap sehat, tetap jadi Lee Jaehyun yang bahagia, penyayang, dan bijaksana. Kasih itu untuk kado ulang tahunku ya?”&#xA;&#xA;Sebelum Hyunjae sempat menjawab, Luna mengunci bibir Hyunjae dengan bibirnya. Ciuman malam ini, adalah ciuman paling penuh cinta yang Luna rasakan.&#xA;&#xA;“Tadi katanya malu dicium karena banyak orang?” Hyunjae berkata sambil mengusap bibir bawah Luna dengan ibu jarinya, membersihkan sisa ciumannya.&#xA;&#xA;“Biarin, udah nggak malu. Biar semesta dan seisinya tau kamu punyaku.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa mendengar Luna meniru ucapannya. “Kamu itu lucu. Kadang lucu gemesin, kadang ngeselin.”&#xA;&#xA;“Loh kok ada ngeselinnya? Kapan aku ngeselin?”&#xA;&#xA;“Kamu ngeselin kalau aku lagi kangen pengen ketemu, pengen anter jemput kamu ke kantor tapi kamunya maksa mau nyetir sendiri aja. Kayak hari ini nih.”&#xA;&#xA;“Ya kan aku kasian kamu jadi repot mesti berangkat lebih pagi buat jemput aku, dan pulang lebih malam karena nganter aku pulang dulu. Padahal aku bisa pulang pergi sendiri. Lagian nanti aku dicap manja sama orang-orang.”&#xA;&#xA;“Manja sama cowok kamu sendiri emangnya kenapa? Lagian aku tuh nggak repot, Na, kantor kita kan nggak begitu jauh.”&#xA;&#xA;“Iya sayang aku tau kamu nggak ngerasa kerepotan. Tapi apa ya… Mungkin karena aku anak tunggal jadi Mama sama Ayah didik aku untuk mandiri dari kecil. Dulu waktu TK, Mama pas hari pertama masuk aja nungguin aku seharian di sekolah. Hari kedua dan seterusnya Mama cuma drop aku dan jemput pas jam pulang—di saat anak-anak lain pada nangis nggak mau ditinggal mamanya. Pas SD, dari kelas satu sampai kelas enam aku ikut jemputan sekolah bareng temen-temen yang lain. Padahal Ayah ada sopir pribadi waktu itu, tapi nggak dikasih buat aku, khusus buat anter jemput Ayah ke kantor aja.”&#xA;&#xA;Hyunjae tersenyum mendengar cerita Luna. Pantas saja, Luna tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar dewasa, mandiri dan cekatan. Masih kuat dalam ingatan Hyunjae ketika Luna merawatnya dengan telaten saat ia sakit sepulang dari acara gathering kantor. Kala itu Luna selain sibuk harus membagi waktu antara kantornya, mengurus Hyunjae yang sakit, menemani orangtuanya yang sedang berkunjung ke Seoul, ditambah lagi membantu mengurusi apartemen Hyunjae. Bagi Hyunjae, Luna benar-benar paket lengkap dan ia sampai detik ini sungguh merasa bersyukur memiliki Luna di hidupnya.&#xA;&#xA;“Kamu itu perempuan hebat, Na. Didikan Mama dan Ayah juga hebat. Bisa-bisanya kamu, anak perempuan satu-satunya dari keluarga berada, hidup semandiri ini di negara orang. Kamu cantik, pinter, mandiri, baik. Kurang apalagi, ya?”&#xA;&#xA;“Hehe udah dong jangan dipuji berlebihan gitu ah. Aku tetap manusia yang punya banyak kekurangan. Semoga kamu menerima aku nggak hanya dengan kelebihanku, tapi juga kekuranganku.”&#xA;&#xA;“Aku menerima kamu—mencintai kamu—dengan segala kekurangan dan kelebihanmu, Na. Sayang banget sama kamu, Annastasia Fideluna Diyose.”&#xA;&#xA;“Hyunjae.”&#xA;&#xA;“Ya?”&#xA;&#xA;“Kamu itu akhir-akhir ini kenapa berubah? Kamu yang tadinya jarang muji aku, sekarang sering banget bikin kupingku geli karena denger pujian dari kamu. Kamu juga jadi afeksionis banget. Kenapa Jae?”&#xA;&#xA;“Don’t you like it? Kamu nggak suka aku kayak gitu?”&#xA;&#xA;“Bukan, aneh aja dan aku pengen tau kenapa.”&#xA;&#xA;“Eric kasih aku masukan untuk lebih ekspresif ke kamu, dan menurutku masukan dia ada benarnya juga.”&#xA;&#xA;“Eric si bocah tengil itu? Gaya banget dia sok-sokan kasih kamu masukan.”&#xA;&#xA;“Tega banget adek sendiri dikatain tengil kamu tuh, Na,” kata Hyunjae sambil tertawa. “Gitu-gitu juga Eric sebetulnya dewasa lho. Terbukti kan, dia bisa kasih aku masukan yang baik.”&#xA;&#xA;“Hmm, ya sih, aku setuju. Anyway sayang, kamu udah order makanannya kan? Kok masih belum datang ya? Aku lapeeer.”&#xA;&#xA;Bola mata Hyunjae kontan membulat besar mendengar perkataan Luna. Ia baru ingat, tadi sesaat setelah ia mengabari Luna kalau ia sudah tiba lebih dulu di tempat ini, Luna langsung memintanya untuk memesankan makan malam mereka. Tapi setelah Hyunjae bertemu dan mengobrol dengan ahjusshi sambil menyantap es krim mint choc yang diidamkannya, mendadak Hyunjae lupa memesankan makan malamnya.&#xA;&#xA;“Yang aku—”&#xA;&#xA;“—lupa kan pasti?”&#xA;&#xA;Hyunjae mengangguk. “Iya, maaf aku lupa.”&#xA;&#xA;Luna hanya bisa memandangi tingkah kekasihnya ini sambil menggelengkan kepala ketika Hyunjae dengan panik langsung berdiri dari duduknya dan mencari-cari waiter yang sedang tidak melayani meja lain.&#xA;&#xA;Akibat pelupanya Hyunjae ini, Luna yang sebetulnya sudah lapar merasa harus menyabarkan diri menunggu makanan yang jangankan dibuat, dipesan saja bahkan belum.&#xA;&#xA;Dasar Lee Jaehyun! ucap Luna dalam hati. Untung sayang!&#xA;&#xA;\\\***&#xA;&#xA;“Hei, jadi gimana? Bisa nggak kasih permintaan tadi jadi kado ulang tahun buat aku?”&#xA;&#xA;“Iya, bisa Sayang. Aku sayang kamu banget, Annastasia Fideluna Diyose.”&#xA;&#xA;---]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>CHAPTER 12.</strong></p>

<p>“<em>Bro!</em> Gimana Jepang? Kaget aja gue tiba-tiba liat postingan lo kemarin lagi di Jepang.”</p>

<p>Hari Selasa pagi, Hyunjae baru saja tiba di kantornya dan Sangyeon yang selang lima menit tiba lebih dulu, langsung menyambut Hyunjae dengan cengiran lebar di wajahnya. Sambil menunggu Hyunjae memberikan jawaban, Sangyeon mendekati meja Hyunjae dengan dua <em>cup</em> Americano panas di masing-masing tangan kanan dan kirinya.</p>

<p>“Nih, satu buat lo,” kata Sangyeon lagi, disimpannya satu <em>cup</em> Americano yang tadi sengaja ia beli untuk Hyunjae di <em>coffee shop</em> seberang kantor.</p>

<p>“Wah, <em>thanks,</em> Sang. Tau aja gue butuh yang rada kenceng pagi ini.”</p>

<p>“Udah kebayang sih. Capek pasti lo, balik dari Jepang pasti mondok dulu kan di tempat Luna?”</p>

<p>“Hehe iya. Tapi nggak nginep sih, nganter dia ke unitnya sambil gue istirahat bentar. Maleman gue pulang ke unit gue.”</p>

<p>“Seneng lo di Jepang? Kok nggak bilang-bilang mau kesana sih, Jae, tau gitu kan gue bisa titip ke lo.”</p>

<p>“<em>Sorry</em>, dadakan banget soalnya. Jumat malam mendadak cari tiket, itu juga yang ngurusin anak-anak kantornya Luna.” Hyunjae berhenti sebentar. Dengan sebelah tangan bersandar pada meja kerjanya, tangan satunya mengambil <em>cup</em> Americano pemberian Sangyeon tadi sebelum menyesapnya. “<em>It was fun</em>. Liburan pertama gue bareng Luna. Ya itung-itung hiburan dulu buat Luna sebelum gue tinggal dua minggu ke Busan.”</p>

<p>“Ngomong-ngomong Busan, si Kevin denger dari anak Interior katanya kita berangkat hari Minggu. Belum <em>official</em> sih, kayaknya hari ini bakal dibicarain pas <em>meeting</em> sore sama Pak Choi.”</p>

<p>Hyunjae mengernyitkan dahinya. “Minggu? Minggu kapan? Tanggal berapa?”</p>

<p>“Minggu <em>weekend</em> ini, tanggal tujuh.”</p>

<p>Jawaban Sangyeon membuat Hyunjae yang tadinya akan menyesap Americano-nya lagi, terhenti. Tangannya buru-buru menyambar kalender di mejanya, berusaha mengkonfirmasi tanggal dan hari yang disebutkan Sangyeon. Hyunjae sungguh berharap Sangyeon membuat kesalahan perihal tanggal keberangkatannya ke Busan ini.</p>

<p>Ketika mata Hyunjae mendapati hari Minggu <em>weekend</em> ini jatuh di tanggal tujuh November seperti yang Sangyeon ucap, ia mendesah kecewa sambil menyimpan kembali kalender di mejanya tanpa semangat.</p>

<p>“Kenapa?” tanya Sangyeon bingung.</p>

<p>“Luna ulang tahun tanggal delapan,” jawab Hyunjae.</p>

<p>“<em>Oh shit. I’m sorry,</em> Jae. Lo udah ngerencanain apa buat dia?”</p>

<p><em>“Birthday dinner</em> doang sih, nggak yang heboh-heboh. Lo tau gue lah.”</p>

<p>“<em>Early birthday dinner</em> aja, Jae, sebelum kita berangkat. Gimana?”</p>

<p>“<em>I’ll think about it</em>. Gue berharap Kevin salah denger sih.”</p>

<p>“Salah denger apa hei? Pagi-pagi nama gue udah disebut.”</p>

<p>Hyunjae dan Sangyeon menoleh berbarengan ke arah Kevin yang baru memasuki ruangan. Mereka berdua tidak menyadari kedatangan Kevin karena sedang dalam posisi membelakangi pintu ruangan mereka.</p>

<p>“Oleh-oleh Jepang mana ya ngomong-ngomong?” lanjut Kevin lagi setelah menyimpan tasnya di kursi, sambil melepas <em>coat</em> abu-abunya.</p>

<p>Hyunjae terkekeh. “<em>Sorry</em> ya, nggak sempet belanja oleh-oleh. Dadakan dan mepet banget waktunya, Kev.”</p>

<p>“Tuh, tanyain ke Kevin bener nggak soal jadwal berangkat ke Busan,” kata Sangyeon. “Gue mau ke <em>pantry</em> dulu ya.”</p>

<p>“Kata anak Interior sih, tanggal tujuh minggu ini.”</p>

<p>“Kok mereka bisa tau ya? Kita aja belum dikonfirmasi sama Pak Choi kan tanggalnya?”</p>

<p>“Beberapa dari mereka ada yang ikut ke Busan ternyata, dan udah di-<em>announce</em> di <em>group chat</em> Interior soal jadwal perginya. Sore nanti kita <em>meeting</em> kan sama Pak Choi? Sekalian bahas jadwal sih pastinya.”</p>

<p>Hyunjae menarik kursinya, meninggalkan Americano yang isinya tinggal setengah di atas meja di samping monitornya.</p>

<p>“Gue mau susul Sangyeon ke <em>pantry</em>, ada mau titip sesuatu dari <em>pantry</em>?” tanya Kevin yang sudah berada di ambang pintu.</p>

<p>“Nggak, Kev. <em>Thanks</em>.” Jawaban singkat Hyunjae dibalas anggukan oleh Kevin sebelum ia meninggalkan ruangan.</p>

<p>Sambil menunggu komputernya menyala sempurna, Hyunjae mengeluarkan ponselnya. Hatinya gundah seketika, mengetahui bahwa ia tidak akan bisa melancarkan rencana <em>birthday dinner</em> untuk Luna. Ia menimbang-nimbang, haruskah ia majukan acaranya menjadi <em>early birthday dinner</em> seperti masukan Sangyeon tadi? Hyunjae meremat kepalan tangannya, kesal. Ia merasa tidak punya pilihan yang baik untuk menggantikan rencana <em>birthday dinner</em>-nya untuk Luna.</p>

<blockquote><blockquote><p><em>Na, lembur nggak nanti?</em></p>

<p><em>Ketemu yuk pulang kantor.</em></p></blockquote>
</blockquote>

<p>Selesai mengetik pesan untuk Luna, Hyunjae meraih map <em>folder</em> yang ia simpan rapi di sisi kanan mejanya, dan mulai mempelajari ulang rincian data mengenai konsep tahap perencanaan proyek barunya. Sesekali fokusnya terbagi dua dengan aplikasi arsitektur yang ia buka di komputernya.</p>

<p>Ponsel Hyunjae bergetar. Balasan dari Luna masuk.</p>

<blockquote><blockquote><p>Belum tau, tapi kayaknya nggak lembur.</p>

<p>Ada apa kok ngajak ketemu malam ini? Rencana kita ketemu lagi kan besok, Yang?</p>

<p><em>Ke tempat ahjusshi yuk, mau nggak</em>? <em>Pengen es krim mintchoc, udah lama nggak makan itu</em>.</p>

<p><em>Mobil kamu tinggal di kantor aja malam ini, aku jemput kamu nanti</em>.</p>

<p>Ngidam banget kamu, Yang? Tiba-tiba ajak makan es krim.</p>

<p>Aku nyetir aja sendiri biar kamu nggak bolak-balik. Kita ketemu di sana aja ya.</p>

<p><em>Hehe iya. Sekalian pengen ngobrol.</em></p>

<p><em>Ya udah nanti sore aku kabarin lagi ya, Na. Love you.</em></p>

<p>Ya sayang. <em>Love you too</em>.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Hai, Kak Jaehyun. Selamat pagi.”</p>

<p>Hyunjae mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, menuju arah suara yang ternyata bersumber dari Jisoo yang baru datang—diikuti dengan Sunwoo di belakangnya.</p>

<p>“Pagi, Bang Jae.” Sapaan kali ini berasal dari Sunwoo.</p>

<p>Hyunjae menatap Jisoo dan Sunwoo bergantian. “Kalian dateng barengan?” selidik Hyunjae. Kecurigaannya bertambah ketika Jisoo menghindari tatapannya dengan menyibukkan diri merapikan meja kerjanya—sementara Sunwoo hanya memberikan cengiran lebar di wajahnya sambil menyalakan komputer.</p>

<p>“<em>Hello,</em> nanya loh gue ini. Butuh dijawab,” ucap Hyunjae lagi. Gemas ketika tidak satu pun dari mereka menjawab pertanyaannya. Ini aneh, pikir Hyunjae.</p>

<p>“Aku ke <em>pantry</em> dulu,” alih-alih menjawab pertanyaan Hyunjae, Sunwoo malah berkata pada Jisoo sebelum menghilang keluar dari ruangan.</p>

<p>“Ji?” tanya Hyunjae yang masih penasaran, sambil mendekati meja Jisoo yang berada di seberang mejanya. “Sejak kapan Sunwoo nyebut dirinya ‘aku’ ke kamu?”</p>

<p>“Jangan kasih tau yang lain ya, Kak? Nanti aku diledekin.”</p>

<p>“Eh? Maksudnya?”</p>

<p>“I-iya… tadi kesini bareng Kak Sunwoo,” jelas Jisoo. Hyunjae menangkap rona merah di pipi Jisoo. “Dijemput.”</p>

<p>Hyunjae membulatkan matanya dengan mulut setengah ternganga. “Kamu sama Sunwoo—”</p>

<p>“Nggak, Kak, nggak ada apa-apa. Baru mulai deket aja,” sergah Jisoo buru-buru.</p>

<p>Senyum tersungging di wajah Hyunjae. Ia harus segera memberitahukan ini pada Luna. Benar kan dugaannya—Jisoo sama sekali bukan naksir Hyunjae, tapi Sunwoo!</p>

<p>“Kak? Kenapa?”</p>

<p>“Eh, nggak apa-apa. Kaget aja saya, tiba-tiba kamu sama Sunwoo. Semoga lancar PDKT-nya ya.”</p>

<p>“Beneran nggak apa-apa kan, Kak?”</p>

<p>“<em>Of course.</em> Saya tinggal dulu ya.”</p>

<p>Hyunjae melangkahkan tungkai kakinya secepat yang ia bisa ke arah <em>pantry</em>—ingin menemui Sunwoo. Sekaligus memberitahukan hal ini pada Sangyeon dan Kevin juga.</p>

<p>Ketiga teman satu timnya itu sedang mengobrol sambil ngemil biskuit yang memang disediakan untuk staff di <em>pantry</em>, ketika Hyunjae membuka pintu <em>pantry</em> dan menyerbu masuk ke dalamnya. Beruntung, tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain mereka berempat.</p>

<p>“Bocah dasar, tiba-tiba udah ngegebet Jisoo aja. Dari kapan, Woo?” tanya Hyunjae tanpa basa-basi sambil meninju pelan bahu Sunwoo.</p>

<p>Sangyeon dan Kevin bertukar tatap, bingung.</p>

<p>Sunwoo menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah. “Hehe, Bang. Malu ah, diumumin begini. Belum apa-apa, kok, baru coba ajak jalan aja hari Minggu kemarin iseng. Eh, taunya dia mau. Terus gue ajak pergi bareng juga pagi ini dan dianya masih mau.”</p>

<p>“Wiiih, semangat, Woo! Pepet terus jangan dilepas. Tapi awas lho ya, mesti tetep profesional sama urusan kerjaan,” kata Sangyeon.</p>

<p>“Iya siap. Doain lancar ya. Soalnya.. ngg, sebenernya…,” Sunwoo berhenti. Matanya menatap Hyunjae ragu-ragu.</p>

<p>“Apaan? Bikin penasaran aja,” ujar Kevin. “Sebenernya kenapa?”</p>

<p>“Bang Jae, <em>sorry</em> ya gue ngomongin ini. Tapi lo nggak usah jadi beda ke Jisoo, ya. Janji dulu.”</p>

<p>“Hah apa sih gue nggak paham?”</p>

<p>“Janji dulu, Bang.”</p>

<p>“Iya, janji. <em>Whatever</em>.”</p>

<p>“Jisoo tuh jujur banget anaknya, polos sih menurut gue. Dia bilang maaf karena sebelumnya nggak pernah ngeh sama gue yang emang udah suka dia dari awal-awal dia masuk sini. Soalnya… dia naksir lo, Bang.”</p>

<p>Jika Hyunjae sedang minum, ia yakin dirinya akan tersedak saat ini. Untunglah Hyunjae hanya sedang bersandar pada meja konter sambil melipat tangannya di dada. “Bercanda lo,” ujarnya pendek.</p>

<p>“Yeee, orang Jisoo sendiri yang bilang, ngapain gue bercanda. Dia bilang dia naksir lo banget, Bang. Ganteng katanya, terus baik. Tapi dia tau udah ada hati yang lo jaga, Kak Luna. Makanya dia pendem aja tuh perasaannya ke lo. Sampai <em>weekend</em> kemarin dia lihat postingan lo yang lagi di Jepang sama Kak Luna, disitu dia akhirnya bertekad mau <em>move on</em> dari lo.”</p>

<p>“WOW!”</p>

<p>Yang paling pertama bereaksi adalah Sangyeon. “WOW!” ucap Sangyeon sekali lagi. “Beneran magnetnya cewek-cewek lo ini, Jae.”</p>

<p>“Gue… antara kaget nggak kaget sih. Udah pernah bahas ini sama Jacob sebenernya, kita berdua udah curiga,” kata Kevin.</p>

<p>“Terus lo dijadiin alat bantu biar Jisoo bisa <em>move on</em> dari Jaehyun, gitu Woo?” tanya Sangyeon lagi.</p>

<p>“Ya… bisa dibilang gitu sih. Nggak apa-apa gue sih, nyantai aja. Itung-itung bantuin dia biar lupain Bang Jae, biar hubungan Bang Jae sama Kak Luna juga aman dari gangguan. Hehe.”</p>

<p>Hyunjae masih belum berkomentar. Ia bingung, tidak menyangka ada cerita seperti ini di balik PDKT-nya Sunwoo dan Jisoo. Di satu sisi ia jadi merasa tidak enak pada Sunwoo, di sisi lain ia mengagumi insting Luna yang ternyata benar adanya soal Jisoo yang menyimpan rasa pada dirinya.</p>

<p>“Woo, <em>sorry…</em> Gue nggak tau. Bener-bener nggak tau,” kata Hyunjae akhirnya.</p>

<p>“Ya nggak apa-apa, Bang. Kenapa juga lo jadi minta maaf. Lagian nggak aneh juga sih lo nggak sadar, mata dan hati lo beneran udah kekunci buat Kak Luna doang soalnya.”</p>

<p>“Iya… Lo semangat ya, Woo? Pelan-pelan aja jangan rusuh, takutnya Jisoo kabur kalau lo rusuh. Kita dukung biar lo jadi.”</p>

<p>“<em>Thank you</em>, abang-abang semuanya. Balik ke ruangan, yuk. Oh ya Bang Jae, janji ya lo jangan jadi beda ke Jisoo. Tetep kayak biasanya aja.”</p>

<p>“Iya, <em>don’t worry</em>.”</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Tangan Luna bergerak memutar setir ke arah kiri, memasuki area parkir salah satu kafe favoritnya ini. Dari jumlah mobil yang lumayan banyak mengisi area parkir, sepertinya kafe <em>ahjusshi</em> sedang agak ramai pengunjung malam ini. Walau begitu, Luna masih berhasil mendapat satu <em>spot</em> parkir kosong tepat di sebelah mobil SUV hitam yang sangat dikenalnya. Ya, Luna memarkirkan sedan putihnya tepat di samping SUV hitam milik Hyunjae.</p>

<p>Setelah memastikan mobilnya aman terkunci, Luna melangkah masuk ke dalam kafe, dan seperti biasa langsung menerima sambutan hangat dari <em>ahjusshi</em> yang sedang berdiri di etalase es krim.</p>

<p>“<em>Mint choco</em>?” tawar <em>Ahjusshi</em> sambil tersenyum.</p>

<p>“Iya, <em>Ahjusshi</em>. Satu <em>cup</em> ya,” jawab Luna.</p>

<p>“Oke, siap.” Dengan cekatan, <em>Ahjusshi</em> langsung mengambil <em>cup</em> es krim berukuran sedang dan mengisinya dengan es krim <em>mint choco</em> sampai penuh. “Silakan, Jaehyun ada di teras ya seperti biasa.”</p>

<p>“Wah, dikasih banyak banget ini es krimnya. Nanti <em>customer</em> yang lain bingung loh kenapa mereka nggak dapet sebanyak ini.”</p>

<p>“Hehe nggak apa-apa, khusus buat pelanggan favorit aja bonus es krimnya banyak.”</p>

<p>“Makasih banyak, <em>Ahjusshi</em>. Luna ke teras dulu ya.”</p>

<p>Benar saja dugaan Luna, situasi kafe malam itu memang agak ramai dan kebanyakan pengunjungnya adalah pegawai kantoran seumuran Luna dengan pakaian kerja masih melekat. Ada yang rombongan, ada yang hanya berduaan, ada juga yang sendiri dan masih berkutat dengan laptopnya.</p>

<p>Sampai di teras, Luna langsung mendekati <em>spot</em> favoritnya saat dilihatnya siluet tubuh jangkung kekasihnya yang sedang duduk sambil memainkan ponsel di tangannya.</p>

<p>“Hai, Sayang,” sapa Luna sambil mengusap pundak Hyunjae dan mengecup pipinya dari belakang. Luna lalu berjalan memutari meja, duduk di hadapan Hyunjae.</p>

<p>“Sayang, kaget aku dikirain siapa main cium pipi aku. Susah parkir nggak? Agak penuh soalnya parkiran.”</p>

<p>“Dapet dong, pas di sebelah mobil kamu.”</p>

<p>“Oh ya? Syukurlah. Yang, duduknya sini dong sebelah aku.”</p>

<p>“Enakan gini nggak sih depan-depanan daripada sebelahan?”</p>

<p>“Maunya sebelahan, biar bisa sambil peluk dikit.”</p>

<p>Begitu Luna menduduki kursi di sampingnya, Hyunjae langsung memberinya pelukan erat. Sambil menyibak rambut panjang Luna ke belakang, diciumnya pipi Luna. Agak lama sampai Luna bisa merasakan wajahnya memanas karena malu.</p>

<p>“Sayang, malu banyak orang. Kamu lagi kenapa sih?”</p>

<p>“Kangen sama pacar sendiri nggak boleh?”</p>

<p>“Bukan gitu ih, malu lagi banyak orang.”</p>

<p>“Yang, aku ada yang mau diomongin.”</p>

<p>Luna mulai menyendokkan es krim ke mulutnya, lalu ganti menyuapkan es krimnya ke Hyunjae. “Ngomong aja, aku dengerin.”</p>

<p>“Minggu depan kamu ulang tahun… Tapi aku minta maaf ya, Sayang, nggak bisa rayain ulang tahun kamu. Tanggal tujuh aku berangkat ke Busan.”</p>

<p>Es krim <em>mint chocolate</em> yang tadinya terasa enak di lidah mendadak menjadi hambar segera setelah Luna mendengar apa yang dikatakan Hyunaje. Sebetulnya, dari awal saat Hyunjae berkata awal November ia akan berangkat ke Busan, Luna sudah mempersiapkan mental untuk kemungkinan tidak bertemu Hyunjae di hari ulang tahunnya. Luna benar-benar tidak menyangka ketakutannya menjadi kenyataan.</p>

<p>“Maaf ya? Jangan marah ya, Na.”</p>

<p>“Nggak mungkin aku marah, Yang. Udah, jangan jadi beban pikiran kamu ya, Jae. Kita masih bisa <em>video call</em> atau teleponan nanti. <em>I’ll be okay,</em> kan aku udah janji nggak akan rewel selama ditinggal kamu.” Berbanding terbalik dengan yang ia rasakan sesungguhnya, Luna memutuskan untuk tidak mengutarakan kesedihannya pada Hyunjae. Luna tidak ingin membuat Hyunjae berat meninggalkannya untuk urusan di Busan. Luna tahu betul, mereka sudah bukan di usianya lagi untuk ribut masalah ketidakhadiran saat ulang tahun.</p>

<p>“Harusnya aku tenang dengar jawaban kamu, tapi malah semakin bersalah rasanya, Na. <em>I’m so sorry</em>, aku nggak bisa apa-apa soal ini.”</p>

<p>“Kamu nggak perlu ngerasa bersalah. Kamu kan ke Busan untuk kerja, bukan untuk main-main. Aku udah gede, masa mau ngambek cuma gara-gara ulang tahun nggak ditemenin?”</p>

<p>“Iya, kamu udah gede bukan bocil lagi ya?” kata Hyunjae gemas sambil memencet hidung Luna.</p>

<p>“Sakit ih, kenapa sih cubit-cubit hidung.”</p>

<p>“Sakit ya? Maaf yaa.”</p>

<p>Dan dikecupnya pucuk hidung mancung Luna.</p>

<p>“Stop cium aku di tempat ramai. Maluuu,” Luna berbisik di telinga Hyunjae sambil meremat telapak tangan Hyunjae.</p>

<p>“Biarin, biar semesta tau kamu itu punyaku.”</p>

<p>Luna <em>blushing</em>.</p>

<p>Sungguh ia masih tidak terbiasa dengan sikap Hyunjae akhir-akhir ini. Sepertinya sifat <em>tsundere</em>-nya mulai menguap entah kemana.</p>

<p>“Satu lagi yang mau aku omongin, yang ini agak lebih berat kayaknya buat kamu, Na…”</p>

<p>Luna menatap Hyunjae was-was.</p>

<p><em>Hah ada lagi?</em></p>

<p>“Aku pulang dari Busan tanggal 22 siang baru jalan dari sana, sementara kata <em>nuna</em>-ku jadwal <em>fitting</em> bajunya dimulai dari pagi jam 10. Jadi… nggak apa-apa ya kamu ke rumahku sendiri? Pulang dari Busan aku langsung ke Songdo, kita ketemuan di rumah.”</p>

<p>“Yang… serius aku mesti sendirian ke rumah kamu? Bakal ada siapa aja nanti di sana? Aku mules nih bayanginnya.”</p>

<p>“Tenang aja, aku udah titipin kamu ke <em>Nuna</em> dan Mama buat dikenalin ke keluargaku yang nanti datang. Paling ada sepupu-sepupu sama temennya <em>Nuna</em> sesama <em>bridesmaid.”</em></p>

<p>Tangan Luna memainkan sendok es krimnya. Gugup. Tidak menyangka permintaan Hyunjae agak sedikit berat kali ini.</p>

<p>“Na? Nggak apa-apa kan?”</p>

<p>“Berita apa lagi yang mau kamu sampein malam ini? Aku mules, Yang, beneran.”</p>

<p>“Ada satu lagi, tapi jawab dulu yang ini. Nggak apa-apa kan kamu sendirian ke rumahku?”</p>

<p><em>Ya mau gimana lagi, Hyunjae? Memangnya aku ada pilihan?</em></p>

<p>“Iya, nggak apa-apa, Jae. <em>I can handle it</em>.”</p>

<p>“<em>Good</em>. Makasih, Sayang.”</p>

<p>“Minta nomor Kak Jaesung jangan lupa, kamu masih belum kasih nomornya ke aku. Lalu, berita selanjutnya apa? Udah ya <em>please</em> ini yang terakhir kan?”</p>

<p>“Ah ya, nomornya <em>Nuna</em>—<em>wait</em>.” Hyunjae meraih ponselnya dan mengirimkan kontak kakaknya untuk Luna simpan. “Lalu, ini yang terakhir. Soal Jisoo. Tadinya aku pikir nggak penting tapi rasanya kamu perlu tau juga.”</p>

<p>“Jadi, dugaan kamu bener. <em>She has feelings for me</em>.”</p>

<p>“NAH KAN! Apa kubilang—”</p>

<p>“<em>But—</em>jangan emosi dulu dong, Yang. Ada tapinya.”</p>

<p>“Apaan tapinya?”</p>

<p>“Sekarang udah nggak. <em>Well, at least</em> mencoba untuk <em>move on</em>—lupain aku. Ya karena dia tau aku udah punya kamu. Dia sekarang lagi PDKT sama Sunwoo. Jadi <em>please</em> ya, mulai sekarang udah nggak usah cemburu-cemburu lagi sama Jisoo.”</p>

<p>Luna merotasikan bola matanya. “Ya udah, bagus deh kalau gitu.”</p>

<p>“Terus, aku mau tanya. Kamu mau kado ulang tahun apa dari aku? Kita cari bareng ya, sebelum aku pergi ke Busan.”</p>

<p>Luna menggelengkan kepalanya cepat. “Aku cuma pengen kamu pulang selamat dari Busan, udah itu aja.”</p>

<p>Hyunjae tertawa mendengarnya. “Yang, aku ini arsitek bukan tentara. Aku mau ketemu vendor-vendor konstruksi disana, bukan mau ke medan perang.”</p>

<p>“Tetap aja, aku khawatir. Ini pertama kalinya jauhan dari kamu untuk waktu yang lama.”</p>

<p>“Makanya… cepat-cepat dihilangin ya trauma soal nikahnya? Biar aku bisa cepet nikahin kamu. Jadi kalau aku ada kerjaan di luar kota, kamu bisa ikut aku.”</p>

<p>“Ya kan aku juga kerja? Tetep aja nggak bisa ngikut kamu walaupun kita udah nikah.”</p>

<p>“Kamu berhenti kerja lah. Atau cari kerjaan yang bisa dari rumah, nggak mesti ke kantor apalagi dinas ke luar kota. Aku pengen kamu nanti <em>full time</em> di rumah. Ngurus aku, ngurus anak-anak kita.”</p>

<p>“Na, aku nggak bercanda soal ingin nikahin kamu. Kamu tau? Aku ini lagi giat banget nabung karena aku nggak ingin kamu ngelewatin masa susah setelah kita nikah nanti. Satu hal yang jadi impianku setelah kita nikah, aku mau pindah ke apartemen—atau rumah—yang lebih besar dan nyaman dari yang aku tempatin sekarang.”</p>

<p>“Sayang…”</p>

<p>“Papaku yang bikin aku jadi ambisius gini. Maksudnya, aku pengen kelak seperti Papa yang bisa kasih kehidupan yang baik dan nyaman untuk keluarganya. Aku harus jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab nantinya.”</p>

<p>“Hyunjae, kita baru kenal tiga bulan? Empat bulan? Tapi kamu udah memikirkan sampai sejauh itu untuk kita. <em>You’re just… too good to be true.”</em></p>

<p>“Karena kamu seberharga itu buatku, Na.”</p>

<p>“Jadi, udah kepikiran mau kado apa dari aku?”</p>

<p>“Hmm, aku mau…” Luna berhenti untuk meraih tangan Hyunjae dan menyematkannya dalam genggaman tangannya. Ia juga mencondongkan wajahnya mendekati wajah Hyunjae, dan berbisik di telinganya, “Kamu tetap sayangi aku seperti ini. Jangan menyerah kalau ada ujian apapun itu di hubungan kita. Aku mau kamu tetap sehat, tetap jadi Lee Jaehyun yang bahagia, penyayang, dan bijaksana. Kasih itu untuk kado ulang tahunku ya?”</p>

<p>Sebelum Hyunjae sempat menjawab, Luna mengunci bibir Hyunjae dengan bibirnya. Ciuman malam ini, adalah ciuman paling penuh cinta yang Luna rasakan.</p>

<p>“Tadi katanya malu dicium karena banyak orang?” Hyunjae berkata sambil mengusap bibir bawah Luna dengan ibu jarinya, membersihkan sisa ciumannya.</p>

<p>“Biarin, udah nggak malu. Biar semesta dan seisinya tau kamu punyaku.”</p>

<p>Hyunjae tertawa mendengar Luna meniru ucapannya. “Kamu itu lucu. Kadang lucu gemesin, kadang ngeselin.”</p>

<p>“Loh kok ada ngeselinnya? Kapan aku ngeselin?”</p>

<p>“Kamu ngeselin kalau aku lagi kangen pengen ketemu, pengen anter jemput kamu ke kantor tapi kamunya maksa mau nyetir sendiri aja. Kayak hari ini nih.”</p>

<p>“Ya kan aku kasian kamu jadi repot mesti berangkat lebih pagi buat jemput aku, dan pulang lebih malam karena nganter aku pulang dulu. Padahal aku bisa pulang pergi sendiri. Lagian nanti aku dicap manja sama orang-orang.”</p>

<p>“Manja sama cowok kamu sendiri emangnya kenapa? Lagian aku tuh nggak repot, Na, kantor kita kan nggak begitu jauh.”</p>

<p>“Iya sayang aku tau kamu nggak ngerasa kerepotan. Tapi apa ya… Mungkin karena aku anak tunggal jadi Mama sama Ayah didik aku untuk mandiri dari kecil. Dulu waktu TK, Mama pas hari pertama masuk aja nungguin aku seharian di sekolah. Hari kedua dan seterusnya Mama cuma <em>drop</em> aku dan jemput pas jam pulang—di saat anak-anak lain pada nangis nggak mau ditinggal mamanya. Pas SD, dari kelas satu sampai kelas enam aku ikut jemputan sekolah bareng temen-temen yang lain. Padahal Ayah ada sopir pribadi waktu itu, tapi nggak dikasih buat aku, khusus buat anter jemput Ayah ke kantor aja.”</p>

<p>Hyunjae tersenyum mendengar cerita Luna. Pantas saja, Luna tumbuh menjadi pribadi yang benar-benar dewasa, mandiri dan cekatan. Masih kuat dalam ingatan Hyunjae ketika Luna merawatnya dengan telaten saat ia sakit sepulang dari acara <em>gathering</em> kantor. Kala itu Luna selain sibuk harus membagi waktu antara kantornya, mengurus Hyunjae yang sakit, menemani orangtuanya yang sedang berkunjung ke Seoul, ditambah lagi membantu mengurusi apartemen Hyunjae. Bagi Hyunjae, Luna benar-benar paket lengkap dan ia sampai detik ini sungguh merasa bersyukur memiliki Luna di hidupnya.</p>

<p>“Kamu itu perempuan hebat, Na. Didikan Mama dan Ayah juga hebat. Bisa-bisanya kamu, anak perempuan satu-satunya dari keluarga berada, hidup semandiri ini di negara orang. Kamu cantik, pinter, mandiri, baik. Kurang apalagi, ya?”</p>

<p>“Hehe udah dong jangan dipuji berlebihan gitu ah. Aku tetap manusia yang punya banyak kekurangan. Semoga kamu menerima aku nggak hanya dengan kelebihanku, tapi juga kekuranganku.”</p>

<p>“Aku menerima kamu—mencintai kamu—dengan segala kekurangan dan kelebihanmu, Na. Sayang banget sama kamu, Annastasia Fideluna Diyose.”</p>

<p>“Hyunjae.”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Kamu itu akhir-akhir ini kenapa berubah? Kamu yang tadinya jarang muji aku, sekarang sering banget bikin kupingku geli karena denger pujian dari kamu. Kamu juga jadi afeksionis banget. Kenapa Jae?”</p>

<p>“<em>Don’t you like it</em>? Kamu nggak suka aku kayak gitu?”</p>

<p>“Bukan, aneh aja dan aku pengen tau kenapa.”</p>

<p>“Eric kasih aku masukan untuk lebih ekspresif ke kamu, dan menurutku masukan dia ada benarnya juga.”</p>

<p>“Eric si bocah tengil itu? Gaya banget dia sok-sokan kasih kamu masukan.”</p>

<p>“Tega banget adek sendiri dikatain tengil kamu tuh, Na,” kata Hyunjae sambil tertawa. “Gitu-gitu juga Eric sebetulnya dewasa lho. Terbukti kan, dia bisa kasih aku masukan yang baik.”</p>

<p>“Hmm, ya sih, aku setuju. <em>Anyway</em> sayang, kamu udah order makanannya kan? Kok masih belum datang ya? Aku lapeeer.”</p>

<p>Bola mata Hyunjae kontan membulat besar mendengar perkataan Luna. Ia baru ingat, tadi sesaat setelah ia mengabari Luna kalau ia sudah tiba lebih dulu di tempat ini, Luna langsung memintanya untuk memesankan makan malam mereka. Tapi setelah Hyunjae bertemu dan mengobrol dengan <em>ahjusshi</em> sambil menyantap es krim <em>mint choc</em> yang diidamkannya, mendadak Hyunjae lupa memesankan makan malamnya.</p>

<p>“Yang aku—”</p>

<p>“—lupa kan pasti?”</p>

<p>Hyunjae mengangguk. “Iya, maaf aku lupa.”</p>

<p>Luna hanya bisa memandangi tingkah kekasihnya ini sambil menggelengkan kepala ketika Hyunjae dengan panik langsung berdiri dari duduknya dan mencari-cari <em>waiter</em> yang sedang tidak melayani meja lain.</p>

<p>Akibat pelupanya Hyunjae ini, Luna yang sebetulnya sudah lapar merasa harus menyabarkan diri menunggu makanan yang jangankan dibuat, dipesan saja bahkan belum.</p>

<p><em>Dasar Lee Jaehyun!</em> ucap Luna dalam hati. <em>Untung sayang!</em></p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>“Hei, jadi gimana? Bisa nggak kasih permintaan tadi jadi kado ulang tahun buat aku?”</p>

<p>“Iya, bisa Sayang. Aku sayang kamu banget, Annastasia Fideluna Diyose.”</p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-12</guid>
      <pubDate>Sat, 23 Oct 2021 09:34:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>EPILOG.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/epilog?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[EPILOG.&#xA;&#xA;“Kalau kamu belum siap, nggak usah sekarang nggak apa-apa.”&#xA;&#xA;Kalimat tersebut pelan dan lembut terucap dari mulut Hyunjae ketika ia melihat manik netra Luna mulai basah oleh genangan air mata. Hyunjae tahu, Luna yang saat ini berada di bawah kungkungan tubuhnya, sedang menahan sakit.&#xA;&#xA;Luna berdeham. “Tapi tanggung.”&#xA;&#xA;“Ini baru setengahnya yang masuk, Na, kamu udah kesakitan. Aku nggak tega. Nanti lagi aja kita coba lagi, ya?”&#xA;&#xA;“Ya Tuhan ini baru setengahnya?”&#xA;&#xA;“Iya.”&#xA;&#xA;Luna memejamkan matanya sambil berusaha mengatur ritme nafasnya yang naik turun tidak karuan. Ia gugup luar biasa, tapi ia juga tidak ingin membuat Hyunjae menunggu lebih lama. &#xA;&#xA;Terlebih lagi, seperti yang tadi ia katakan pada Hyunjae, posisinya sudah tanggung. Tubuh mereka berdua sudah polos sejak setengah jam yang lalu, diawali dengan pagutan bibir dan foreplay selama dua puluh menit. Di tahap awal ini, tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar. Namun kendala muncul di sepuluh menit terakhir yang sudah dihabiskan dengan usaha Hyunjae untuk menembus selaput dara Luna—yang masih juga belum berhasil hingga kini—karena Luna sudah meringis kesakitan ketika milik Hyunjae bahkan belum sepenuhnya masuk.&#xA;&#xA;Hyunjae memajukan wajahnya, memagutkan bibirnya lagi pada bibir Luna. Mengecupnya lembut dan penuh sayang. Berharap dengan cara itu Luna bisa sedikit lebih rileks.&#xA;&#xA;“Oke, aku siap,” kata Luna akhirnya, setelah Hyunjae menghentikan ciumannya.&#xA;&#xA;“You sure?” Hyunjae memastikan. Manik matanya meneliti setiap jengkal wajah Luna, ia sungguh tidak ingin menyakiti Luna tapi memang tahap ini mau tidak mau harus dilalui.&#xA;&#xA;Luna mengangguk. “Pelan ya, Jae.”&#xA;&#xA;Hyunjae mengecup kening Luna. “Iya, Sayang.”&#xA;&#xA;Luna menahan nafasnya ketika ia merasakan Hyunjae mengerahkan tenaganya untuk mendorong miliknya lebih dalam.&#xA;&#xA;“Jae…,” erang Luna. Jarinya yang sedari tadi memegangi pangkal lengan Hyunjae, kini mencengkeramnya erat. Luna panik lagi.&#xA;&#xA;Tuhan, sakit banget, batin Luna dalam hati.&#xA;&#xA;“Tahan, ya? Sedikit lagi.”&#xA;&#xA;Dan genangan air mata yang susah payah Luna upayakan supaya tidak mengalir pun akhirnya meluncur turun dari kedua ujung mata Luna, ketika dirasakannya milik Hyunjae tiba-tiba terdorong masuk menembus daranya.&#xA;&#xA;Luna melingkarkan lengannya di sekeliling leher Hyunjae sambil membenamkan wajahnya di bahu polos Hyunjae. Ia tidak ingin suaminya itu melihatnya menangis.&#xA;&#xA;“Sayang, you okay? It’s in. Maaf, sakit ya?”&#xA;&#xA;“Perih, Yang.”&#xA;&#xA;“Maaf sayang ya. Kamu rileks dulu ya, aku nggak akan bergerak dulu.”&#xA;&#xA;Luna mengatur nafasnya lagi. Setidaknya bagian tersulit sudah terlewati akhirnya. Matanya terpejam ketika jari-jari Hyunjae menghapus air mata yang mengalir di ujung kelopaknya.&#xA;&#xA;“I-I think you can try to move now. Pelan ya.”&#xA;&#xA;Hyunjae tersenyum.&#xA;&#xA;Akhirnya ia mencoba menggerakkan pinggulnya, maju dan mundur. Pelan, seperti yang Luna minta.&#xA;&#xA;Ketika dilihatnya Luna sudah tidak bereaksi kesakitan lagi, Hyunjae sedikit-sedikit menambah kecepatan gerakan pinggulnya sampai mulut Luna mengeluarkan erangan lagi.&#xA;&#xA;“Aah—”&#xA;&#xA;Refleks, Hyunjae berhenti. “Sakit lagi, Yang?”&#xA;&#xA;Wajah Luna memerah. “Sedikit, tapi bukan itu.”&#xA;&#xA;“Kenapa? Mulai kerasa enaknya?”&#xA;&#xA;Plak!&#xA;&#xA;Luna memukul bahu Hyunjae dengan rona merah di seluruh wajah. “Diem, udah terusin aja geraknya. Cepet.”&#xA;&#xA;“Jadi diem apa terusin?”&#xA;&#xA;“Jae, ih!”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa kecil. Ia menciumi wajah Luna sambil melanjutkan gerakannya lagi. Semakin cepat dan cepat karena Luna benar-benar sudah bisa beradaptasi sepertinya. Sudah tidak ada keluhan sakit lagi terucap dari bibirnya kini.&#xA;&#xA;“Aaah—AAH, JAE!”&#xA;&#xA;“Keluar?”&#xA;&#xA;“Belum—”&#xA;&#xA;“Tahan, keluar bareng ya.”&#xA;&#xA;Hyunjae kini sudah berada di kecepatan maksimal yang ia bisa. Sesekali ia menciumi wajah atau leher Luna. Membuat bibir Luna memekikkan erangan-erangan kecil sebagai respon dari perbuatan sang suami.&#xA;&#xA;“Nnggh.. Mmmh, Hyunjae.” Kepala Luna refleks mengadah ke atas dengan mata terpejam ketika dirasakannya bibir Hyunjae mengulum payudara kirinya. Lidah Hyunjae yang bermain di puting payudaranya membuat Luna mengencangkan erangannya.&#xA;&#xA;“Yang,” Luna susah payah berusaha memanggil Hyunjae di sela-sela erangannya. “Nggh, Yang..”&#xA;&#xA;“Ya?” akhirnya Hyunjae mengangkat wajahnya, menatap wajah Luna yang sudah amat sangat memerah.&#xA;&#xA;“Bentar lagi kayanya.. nggh.. keluar.”&#xA;&#xA;“Tahan, please.”&#xA;&#xA;Hyunjae menambah kecepatan gerakan pinggulnya sedikit lagi. Ia sungguh ingin pengalaman orgasme pertamanya dicapai bersamaan dengan orgasme Luna. Ia banyak mendengar cerita dari pengalaman teman-temannya bahwa orgasme yang dicapai bersamaan menghasilkan rasa nikmat yang berkali lipat dibandingkan dengan orgasme sendiri-sendiri.&#xA;&#xA;Di bawahnya, Luna setengah mati berusaha menahan agar ia tidak keluar duluan. Ia kemudian mengerang lagi ketika merasakan ada sedikit cairan yang merembes keluar dari bagian bawahnya.&#xA;&#xA;“Yang, aku sebentar lagi. Kamu tahan ya, Sayang,” Hyunjae berkata lagi pada Luna ketika ia pun merasakan ada cairan hangat yang keluar dari milik Luna.&#xA;&#xA;Ketika dirasakan miliknya benar-benar akan segera keluar, Hyunjae memutuskan untuk mengulum lagi payudara Luna, kali ini sebelah kanan, yang belum sempat ia sentuh sama sekali dari tadi.&#xA;&#xA;“Yaaang.. aaahhh, ngghh aku—”&#xA;&#xA;Luna merasakan cairan miliknya mengalir tanpa henti di bawah sana bertepatan dengan Hyunjae yang menyentak kuat dan mendorong miliknya dalam-dalam. Keduanya berhasil mencapai orgasme bersamaan.&#xA;&#xA;Hyunjae menyelesaikan permainan lidahnya di payudara Luna dan kini memutuskan untuk memagut bibir Luna lagi selama miliknya di bawah sana menembakkan spermanya di dalam milik Luna. Setelah dirasanya semua cairannya selesai keluar, Hyunjae melepas ciumannya.&#xA;&#xA;Nafasnya kini terengah, Hyunjae lelah. Tidak disangkanya berhubungan intim bisa membuatnya selelah ini.&#xA;&#xA;Luna di bawahnya, menatapi wajah Hyunjae yang penuh keringat. Di mata Luna kini wajah tampan suami tercintanya terlihat sepuluh kali lebih tampan dan… seksi—dengan nafas terengah dan rambut setengah basah akibat peluh yang membanjir.&#xA;&#xA;Dengan miliknya masih sepenuhnya berada di dalam milik Luna, Hyunjae ambruk. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Luna.&#xA;&#xA;“Sayang,” bisik Luna di telinga Hyunjae. “Kamu berat.”&#xA;&#xA;Seketika Hyunjae langsung mengangkat lagi wajahnya yang tadinya terbenam di pundak Luna. “Na, seriously? After all I did, that was your only respond?”&#xA;&#xA;Luna tertawa cengengesan. Ia mengeratkan pelukannya di leher Hyunjae, membuat Hyunjae kembali membenamkan wajahnya di pundak Luna. “That was amazing,” bisik Luna lagi. “Maaf tadi agak lama karena aku kesakitan.”&#xA;&#xA;Kali ini Hyunjae menarik tubuhnya dan sebelum merebahkannya di samping Luna, Hyunjae membenahi selimut agar bisa menutupi tubuh polos Luna. “Aku yang harusnya minta maaf karena udah bikin kamu sakit awalnya. Tapi… ending-nya enak kan?” Mata Hyunjae mengerling jenaka ke arah Luna.&#xA;&#xA;Luna menarik selimut agar menutupi wajahnya yang memanas.&#xA;&#xA;“Hei, jangan ditutup dong muka cantiknya. Belum puas nih aku.”&#xA;&#xA;“Hah belum puas? Mau lagi? Kamunya aja masih ngos-ngosan gitu. Kamu gimana sih, rajin nge-gym tapi baru sekali aja udah tepar gini.”&#xA;&#xA;“Maksudnya aku belum puas lihatin muka kamu. You should see your face when you cum.”&#xA;&#xA;“Shut up, Jae!”&#xA;&#xA;“Seksi banget muka kamu pas keluar tadi.”&#xA;&#xA;“Diam, Lee Jaehyun!!!”&#xA;&#xA;“Nanti mau lagi ya?”&#xA;&#xA;“Kenapa nunggu nanti? Nggak mau sekarang aja gitu 2nd round?”&#xA;&#xA;“Capek akunya.”&#xA;&#xA;“Dih, payah.”&#xA;&#xA;“Capek tau jadi yang di atas, kamu sih enak diem aja di bawah nggak banyak gerak tau-tau keluar.”&#xA;&#xA;“Masa sih secapek itu?”&#xA;&#xA;“I dare you to be on top when we do it again later.”&#xA;&#xA;“Nggak usah nunggu nanti, ayo deh sekarang aku jabanin. Aku di atas ya.”&#xA;&#xA;Mata Hyunjae terbelalak kaget mendengar tantangan istrinya. Dirinya tidak salah dengar kan? Bahkan tadi mereka hampir menghentikan percobaan pertamanya ini karena Luna yang terlalu kesakitan—sekarang Luna malah menantangi untuk melakukannya lagi?&#xA;&#xA;“Sayang jangan nekat, kamu nggak bisa jalan nanti,” kata Hyunjae. “Aku yakin itu vagina kamu sebetulnya masih sakit.”&#xA;&#xA;Luna tidak ingin terlihat lemah di mata Hyunjae sekaligus ingin membuktikan bahwa ia bisa kuat walaupun berada di posisi atas. Tanpa pikir panjang, Luna menyingkap selimutnya, membiarkan tubuh polosnya kembali terekspos yang langsung membuat Hyunjae menelan ludahnya susah payah. Setiap jengkal tubuh Luna terlihat indah sekali di matanya.&#xA;&#xA;Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Luna menaiki tubuh atletis suaminya itu dan tersenyum mengejek ke arah Hyunjae ketika dilihatnya milik Hyunjae sudah kembali mengeras.&#xA;&#xA;“Cepet amat turned on-nya,” kata Luna.&#xA;&#xA;“Nggak usah banyak omong, Yang, finish it.”&#xA;&#xA;Masih dengan level percaya diri yang belum surut, Luna mengambil posisi bersiap untuk memasukkan milik Hyunjae ke dalam miliknya—dalam sekali hentak, tidak pelan-pelan seperti yang tadi Hyunjae lakukan padanya.&#xA;&#xA;Ketika akhirnya milik Hyunjae sudah kembali berada dalam miliknya hanya dengan satu hentakan keras, Luna tiba-tiba menjerit. Kepercayaan dirinya kini luntur seutuhnya berganti dengan rasa sesal akibat gegabah dalam bertindak. Air matanya kembali menggenang, berebutan ingin mengalir keluar meninggalkan sumbernya.&#xA;&#xA;“Nah kan, sakit lagi kan?” ujar Hyunjae lembut sambil mengusap-usap punggung Luna yang kini gantian ambruk di atas tubuhnya. “Makanya jangan nantangin,” kata Hyunjae lagi.&#xA;&#xA;“T-ternyata… masih sakit…,” kata Luna sambil terisak di pundak Hyunjae.&#xA;&#xA;Hyunjae yang tidak tega mendengar isak tangis Luna akhirnya memutuskan untuk membalikan posisi dengan merebahkan tubuh Luna di kasur. “Udah nanti lagi aja mainnya. Kamu istirahat dulu.” Lagi, Hyunjae menyelimuti tubuh Luna.&#xA;&#xA;Kali ini Luna menurut, ia menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam, menahan sakit dan ngilu di bagian bawahnya. “Aku tidur sebentar ya? Biar hilang dulu ini sakitnya.”&#xA;&#xA;“Iya tidur dulu aja kamunya. Aku mandi duluan ya, sayang.”&#xA;&#xA;Setelah memastikan Luna sudah dalam posisi nyaman, Hyunjae meninggalkan ciuman-ciuman kecil di pucuk kepala dan dahi Luna. Lalu diambilnya kemejanya yang tercecer di lantai dan dipakainya dengan asal. Sekalian ia berjalan menuju kamar mandi, Hyunjae juga memunguti sisa-sisa pakaiannya dan pakaian Luna yang masih berserakan di lantai lalu disimpannya di keranjang cucian.&#xA;&#xA;Walaupun tidak berjalan selancar yang diharapkan, setidaknya sore ini ia dan Luna akhirnya berhasil melewati “malam pertama” mereka—tiga hari setelah mereka dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri. Ya, butuh waktu tiga hari bagi Luna untuk akhirnya berani melakukan hal yang sebenarnya agak menakutkan baginya itu.&#xA;&#xA;Sebelum memasuki shower box, sambil melepaskan kancing kemeja yang tadi dengan asal dikenakannya Hyunjae jadi tersenyum lagi mengingat raut wajah Luna saat mendapatkan pelepasan pertamanya. Tentu saja Hyunjae ingin melihat raut wajah itu lagi, tapi ia berjanji untuk sabar dan menunggu sampai Luna sudah benar-benar tidak kesakitan dan siap untuk melakukannya lagi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>EPILOG.</strong></p>

<p>“Kalau kamu belum siap, nggak usah sekarang nggak apa-apa.”</p>

<p>Kalimat tersebut pelan dan lembut terucap dari mulut Hyunjae ketika ia melihat manik netra Luna mulai basah oleh genangan air mata. Hyunjae tahu, Luna yang saat ini berada di bawah kungkungan tubuhnya, sedang menahan sakit.</p>

<p>Luna berdeham. “Tapi tanggung.”</p>

<p>“Ini baru setengahnya yang masuk, Na, kamu udah kesakitan. Aku nggak tega. Nanti lagi aja kita coba lagi, ya?”</p>

<p>“Ya Tuhan ini baru setengahnya?”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>Luna memejamkan matanya sambil berusaha mengatur ritme nafasnya yang naik turun tidak karuan. Ia gugup luar biasa, tapi ia juga tidak ingin membuat Hyunjae menunggu lebih lama.</p>

<p>Terlebih lagi, seperti yang tadi ia katakan pada Hyunjae, posisinya sudah tanggung. Tubuh mereka berdua sudah polos sejak setengah jam yang lalu, diawali dengan pagutan bibir dan <em>foreplay</em> selama dua puluh menit. Di tahap awal ini, tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar. Namun kendala muncul di sepuluh menit terakhir yang sudah dihabiskan dengan usaha Hyunjae untuk menembus selaput dara Luna—yang masih juga belum berhasil hingga kini—karena Luna sudah meringis kesakitan ketika milik Hyunjae bahkan belum sepenuhnya masuk.</p>

<p>Hyunjae memajukan wajahnya, memagutkan bibirnya lagi pada bibir Luna. Mengecupnya lembut dan penuh sayang. Berharap dengan cara itu Luna bisa sedikit lebih rileks.</p>

<p>“Oke, aku siap,” kata Luna akhirnya, setelah Hyunjae menghentikan ciumannya.</p>

<p>“<em>You sure</em>?” Hyunjae memastikan. Manik matanya meneliti setiap jengkal wajah Luna, ia sungguh tidak ingin menyakiti Luna tapi memang tahap ini mau tidak mau harus dilalui.</p>

<p>Luna mengangguk. “Pelan ya, Jae.”</p>

<p>Hyunjae mengecup kening Luna. “Iya, Sayang.”</p>

<p>Luna menahan nafasnya ketika ia merasakan Hyunjae mengerahkan tenaganya untuk mendorong miliknya lebih dalam.</p>

<p>“Jae…,” erang Luna. Jarinya yang sedari tadi memegangi pangkal lengan Hyunjae, kini mencengkeramnya erat. Luna panik lagi.</p>

<p><em>Tuhan, sakit banget,</em> batin Luna dalam hati.</p>

<p>“Tahan, ya? Sedikit lagi.”</p>

<p>Dan genangan air mata yang susah payah Luna upayakan supaya tidak mengalir pun akhirnya meluncur turun dari kedua ujung mata Luna, ketika dirasakannya milik Hyunjae tiba-tiba terdorong masuk menembus daranya.</p>

<p>Luna melingkarkan lengannya di sekeliling leher Hyunjae sambil membenamkan wajahnya di bahu polos Hyunjae. Ia tidak ingin suaminya itu melihatnya menangis.</p>

<p>“Sayang, <em>you okay</em>? <em>It’s in</em>. Maaf, sakit ya?”</p>

<p>“Perih, Yang.”</p>

<p>“Maaf sayang ya. Kamu rileks dulu ya, aku nggak akan bergerak dulu.”</p>

<p>Luna mengatur nafasnya lagi. Setidaknya bagian tersulit sudah terlewati akhirnya. Matanya terpejam ketika jari-jari Hyunjae menghapus air mata yang mengalir di ujung kelopaknya.</p>

<p>“<em>I-I think you can try to move now.</em> Pelan ya.”</p>

<p>Hyunjae tersenyum.</p>

<p>Akhirnya ia mencoba menggerakkan pinggulnya, maju dan mundur. Pelan, seperti yang Luna minta.</p>

<p>Ketika dilihatnya Luna sudah tidak bereaksi kesakitan lagi, Hyunjae sedikit-sedikit menambah kecepatan gerakan pinggulnya sampai mulut Luna mengeluarkan erangan lagi.</p>

<p>“Aah—”</p>

<p>Refleks, Hyunjae berhenti. “Sakit lagi, Yang?”</p>

<p>Wajah Luna memerah. “Sedikit, tapi bukan itu.”</p>

<p>“Kenapa? Mulai kerasa enaknya?”</p>

<p><em>Plak!</em></p>

<p>Luna memukul bahu Hyunjae dengan rona merah di seluruh wajah. “Diem, udah terusin aja geraknya. Cepet.”</p>

<p>“Jadi diem apa terusin?”</p>

<p>“Jae, ih!”</p>

<p>Hyunjae tertawa kecil. Ia menciumi wajah Luna sambil melanjutkan gerakannya lagi. Semakin cepat dan cepat karena Luna benar-benar sudah bisa beradaptasi sepertinya. Sudah tidak ada keluhan sakit lagi terucap dari bibirnya kini.</p>

<p>“Aaah—AAH, JAE!”</p>

<p>“Keluar?”</p>

<p>“Belum—”</p>

<p>“Tahan, keluar bareng ya.”</p>

<p>Hyunjae kini sudah berada di kecepatan maksimal yang ia bisa. Sesekali ia menciumi wajah atau leher Luna. Membuat bibir Luna memekikkan erangan-erangan kecil sebagai respon dari perbuatan sang suami.</p>

<p>“Nnggh.. Mmmh, Hyunjae.” Kepala Luna refleks mengadah ke atas dengan mata terpejam ketika dirasakannya bibir Hyunjae mengulum payudara kirinya. Lidah Hyunjae yang bermain di puting payudaranya membuat Luna mengencangkan erangannya.</p>

<p>“Yang,” Luna susah payah berusaha memanggil Hyunjae di sela-sela erangannya. “Nggh, Yang..”</p>

<p>“Ya?” akhirnya Hyunjae mengangkat wajahnya, menatap wajah Luna yang sudah amat sangat memerah.</p>

<p>“Bentar lagi kayanya.. nggh.. keluar.”</p>

<p>“Tahan, <em>please</em>.”</p>

<p>Hyunjae menambah kecepatan gerakan pinggulnya sedikit lagi. Ia sungguh ingin pengalaman orgasme pertamanya dicapai bersamaan dengan orgasme Luna. Ia banyak mendengar cerita dari pengalaman teman-temannya bahwa orgasme yang dicapai bersamaan menghasilkan rasa nikmat yang berkali lipat dibandingkan dengan orgasme sendiri-sendiri.</p>

<p>Di bawahnya, Luna setengah mati berusaha menahan agar ia tidak keluar duluan. Ia kemudian mengerang lagi ketika merasakan ada sedikit cairan yang merembes keluar dari bagian bawahnya.</p>

<p>“Yang, aku sebentar lagi. Kamu tahan ya, Sayang,” Hyunjae berkata lagi pada Luna ketika ia pun merasakan ada cairan hangat yang keluar dari milik Luna.</p>

<p>Ketika dirasakan miliknya benar-benar akan segera keluar, Hyunjae memutuskan untuk mengulum lagi payudara Luna, kali ini sebelah kanan, yang belum sempat ia sentuh sama sekali dari tadi.</p>

<p>“Yaaang.. aaahhh, ngghh aku—”</p>

<p>Luna merasakan cairan miliknya mengalir tanpa henti di bawah sana bertepatan dengan Hyunjae yang menyentak kuat dan mendorong miliknya dalam-dalam. Keduanya berhasil mencapai orgasme bersamaan.</p>

<p>Hyunjae menyelesaikan permainan lidahnya di payudara Luna dan kini memutuskan untuk memagut bibir Luna lagi selama miliknya di bawah sana menembakkan spermanya di dalam milik Luna. Setelah dirasanya semua cairannya selesai keluar, Hyunjae melepas ciumannya.</p>

<p>Nafasnya kini terengah, Hyunjae lelah. Tidak disangkanya berhubungan intim bisa membuatnya selelah ini.</p>

<p>Luna di bawahnya, menatapi wajah Hyunjae yang penuh keringat. Di mata Luna kini wajah tampan suami tercintanya terlihat sepuluh kali lebih tampan dan… seksi—dengan nafas terengah dan rambut setengah basah akibat peluh yang membanjir.</p>

<p>Dengan miliknya masih sepenuhnya berada di dalam milik Luna, Hyunjae ambruk. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Luna.</p>

<p>“Sayang,” bisik Luna di telinga Hyunjae. “Kamu berat.”</p>

<p>Seketika Hyunjae langsung mengangkat lagi wajahnya yang tadinya terbenam di pundak Luna. “Na, <em>seriously</em>? <em>After all I did, that was your only respond</em>?”</p>

<p>Luna tertawa cengengesan. Ia mengeratkan pelukannya di leher Hyunjae, membuat Hyunjae kembali membenamkan wajahnya di pundak Luna. “<em>That was amazing</em>,” bisik Luna lagi. “Maaf tadi agak lama karena aku kesakitan.”</p>

<p>Kali ini Hyunjae menarik tubuhnya dan sebelum merebahkannya di samping Luna, Hyunjae membenahi selimut agar bisa menutupi tubuh polos Luna. “Aku yang harusnya minta maaf karena udah bikin kamu sakit awalnya. Tapi… <em>ending</em>-nya enak kan?” Mata Hyunjae mengerling jenaka ke arah Luna.</p>

<p>Luna menarik selimut agar menutupi wajahnya yang memanas.</p>

<p>“Hei, jangan ditutup dong muka cantiknya. Belum puas nih aku.”</p>

<p>“Hah belum puas? Mau lagi? Kamunya aja masih ngos-ngosan gitu. Kamu gimana sih, rajin nge-gym tapi baru sekali aja udah tepar gini.”</p>

<p>“Maksudnya aku belum puas lihatin muka kamu. <em>You should see your face when you cum</em>.”</p>

<p>“<em>Shut up,</em> Jae!”</p>

<p>“Seksi banget muka kamu pas keluar tadi.”</p>

<p>“Diam, Lee Jaehyun!!!”</p>

<p>“Nanti mau lagi ya?”</p>

<p>“Kenapa nunggu nanti? Nggak mau sekarang aja gitu <em>2nd round</em>?”</p>

<p>“Capek akunya.”</p>

<p>“Dih, payah.”</p>

<p>“Capek tau jadi yang di atas, kamu sih enak diem aja di bawah nggak banyak gerak tau-tau keluar.”</p>

<p>“Masa sih secapek itu?”</p>

<p>“<em>I dare you to be on top when we do it again later</em>.”</p>

<p>“Nggak usah nunggu nanti, ayo deh sekarang aku jabanin. Aku di atas ya.”</p>

<p>Mata Hyunjae terbelalak kaget mendengar tantangan istrinya. Dirinya tidak salah dengar kan? Bahkan tadi mereka hampir menghentikan percobaan pertamanya ini karena Luna yang terlalu kesakitan—sekarang Luna malah menantangi untuk melakukannya <em>lagi</em>?</p>

<p>“Sayang jangan nekat, kamu nggak bisa jalan nanti,” kata Hyunjae. “Aku yakin itu vagina kamu sebetulnya masih sakit.”</p>

<p>Luna tidak ingin terlihat lemah di mata Hyunjae sekaligus ingin membuktikan bahwa ia bisa kuat walaupun berada di posisi atas. Tanpa pikir panjang, Luna menyingkap selimutnya, membiarkan tubuh polosnya kembali terekspos yang langsung membuat Hyunjae menelan ludahnya susah payah. Setiap jengkal tubuh Luna terlihat indah sekali di matanya.</p>

<p>Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Luna menaiki tubuh atletis suaminya itu dan tersenyum mengejek ke arah Hyunjae ketika dilihatnya milik Hyunjae sudah kembali mengeras.</p>

<p>“Cepet amat <em>turned on</em>-nya,” kata Luna.</p>

<p>“Nggak usah banyak omong, Yang, <em>finish it</em>.”</p>

<p>Masih dengan level percaya diri yang belum surut, Luna mengambil posisi bersiap untuk memasukkan milik Hyunjae ke dalam miliknya—dalam sekali hentak, tidak pelan-pelan seperti yang tadi Hyunjae lakukan padanya.</p>

<p>Ketika akhirnya milik Hyunjae sudah kembali berada dalam miliknya hanya dengan satu hentakan keras, Luna tiba-tiba menjerit. Kepercayaan dirinya kini luntur seutuhnya berganti dengan rasa sesal akibat gegabah dalam bertindak. Air matanya kembali menggenang, berebutan ingin mengalir keluar meninggalkan sumbernya.</p>

<p>“Nah kan, sakit lagi kan?” ujar Hyunjae lembut sambil mengusap-usap punggung Luna yang kini gantian ambruk di atas tubuhnya. “Makanya jangan nantangin,” kata Hyunjae lagi.</p>

<p>“T-ternyata… masih sakit…,” kata Luna sambil terisak di pundak Hyunjae.</p>

<p>Hyunjae yang tidak tega mendengar isak tangis Luna akhirnya memutuskan untuk membalikan posisi dengan merebahkan tubuh Luna di kasur. “Udah nanti lagi aja mainnya. Kamu istirahat dulu.” Lagi, Hyunjae menyelimuti tubuh Luna.</p>

<p>Kali ini Luna menurut, ia menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam, menahan sakit dan ngilu di bagian bawahnya. “Aku tidur sebentar ya? Biar hilang dulu ini sakitnya.”</p>

<p>“Iya tidur dulu aja kamunya. Aku mandi duluan ya, sayang.”</p>

<p>Setelah memastikan Luna sudah dalam posisi nyaman, Hyunjae meninggalkan ciuman-ciuman kecil di pucuk kepala dan dahi Luna. Lalu diambilnya kemejanya yang tercecer di lantai dan dipakainya dengan asal. Sekalian ia berjalan menuju kamar mandi, Hyunjae juga memunguti sisa-sisa pakaiannya dan pakaian Luna yang masih berserakan di lantai lalu disimpannya di keranjang cucian.</p>

<p>Walaupun tidak berjalan selancar yang diharapkan, setidaknya sore ini ia dan Luna akhirnya berhasil melewati “malam pertama” mereka—tiga hari setelah mereka dinyatakan sah sebagai sepasang suami istri. Ya, butuh waktu tiga hari bagi Luna untuk akhirnya berani melakukan hal yang sebenarnya agak menakutkan baginya itu.</p>

<p>Sebelum memasuki <em>shower box</em>, sambil melepaskan kancing kemeja yang tadi dengan asal dikenakannya Hyunjae jadi tersenyum lagi mengingat raut wajah Luna saat mendapatkan pelepasan pertamanya. Tentu saja Hyunjae ingin melihat raut wajah itu lagi, tapi ia berjanji untuk sabar dan menunggu sampai Luna sudah benar-benar tidak kesakitan dan siap untuk melakukannya lagi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/epilog</guid>
      <pubDate>Sun, 17 Oct 2021 08:59:49 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>CHAPTER 11.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-11?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[CHAPTER 11.&#xA;&#xA;Beruntung sekali diantara rombongan delapan orang ini ada Juyeon dan Hyunjae yang lumayan fasih bahasa Jepang. Jadilah mereka berdua yang diutus untuk berkomunikasi dengan pemilik penthouse yang mereka sewa. Sebetulnya pemilik penthouse ini adalah sepasang suami-istri paruh baya, dan yang dua hari lalu berkomunikasi dengan Nara via e-mail untuk masalah booking adalah sang suami—yang fasih berbahasa Inggris. Tapi ketika mereka berdelapan sampai di penthouse sore ini, hanya istrinya yang tidak terlalu fasih berbahasa Inggris ini yang menyambut mereka—suaminya kebetulan ada urusan mendadak di luar yang tidak bisa ditinggal katanya.&#xA;&#xA;Setelah proses serah terima kunci dan penjelasan rinci mengenai segala peraturan yang harus ditaati di penthouse ini selesai, istri pemilik penthouse ini pamit pulang.&#xA;&#xA;“Tantenya ramah banget,” kata Juyeon sambil memastikan pintu utama sudah terkunci kembali. “Kata beliau kita nggak usah sungkan selama disini, yang penting jangan terlalu berisik kalau udah malam, jangan lupa kunci-kunci kalau mau pergi dan jaga kebersihan.”&#xA;&#xA;“Kamar semuanya ada di atas, master bedroom di tengah. Habis tangga sebelah kiri itu kamar pertama, yang tengah master bedroom, sebelah kanannya kamar ketiga,” Hyunjae menambahkan. “Ke atas, yuk. Kita lihat dulu kamarnya sekalian beres-beres barang.”&#xA;&#xA;Yeonjun dan Eric mendului yang lain langsung menenteng travel bag masing-masing, berjalan menapaki tangga menuju lantai dua. Disusul oleh Juyeon dan Sarah, lalu Younghoon dan Nara.&#xA;&#xA;Luna baru akan mengambil koper cabin size-nya—koper andalan yang selalu ia pakai juga kalau lagi dinas ke luar kota—ketika dilihatnya koper itu sudah dalam tentengan tangan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Berat, kamu nggak akan kuat,” kata Hyunjae seakan tahu apa yang ada di pikiran Luna.&#xA;&#xA;“Aku kuat, kok. Nggak seberapa berat itu isinya,” sahut Luna, gengsi. Karena ia melihat Nara dan Sarah tadi menenteng sendiri bawaannya. Luna takut dicap manja kalau teman-temannya melihat kopernya ditenteng Hyunjae.&#xA;&#xA;“Nggak usah sok kuat,” kata Hyunjae lagi jahil, sambil berjalan menuju tangga melewati Luna yang masih memandangi kopernya—kekeuh ingin membawanya sendiri ke atas.&#xA;&#xA;Akhirnya Luna mengikuti langkah Hyunjae menapaki anak tangga satu-satu, menuju lantai dua, dengan tangan kosong. Hanya tote bag-nya saja yang tersampir di bahu kanannya.&#xA;&#xA;Sampai di lantai dua, ternyata sudah diputuskan bahwa master bedroom yang terletak di tengah koridor akan ditempati oleh para cewek. Kamar pertama yang paling dekat tangga, ditempati Younghoon, Juyeon dan Yeonjun. Kamar ketiga di ujung sana otomatis menjadi jatah Eric dan Hyunjae.&#xA;&#xA;Ukuran kamar pertama dan ketiga sama persis. Tersedia dua single bed dan satu sofa bed yang empuknya tidak kalah dengan kasur. Alhasil di kamar pertama, Yeonjun yang kalah dalam gunting-batu-kertas kebagian sofa bed  sebagai alas tidurnya selama dua malam nanti.&#xA;&#xA;Di master bedroom alias kamar utama, ada satu kasur king size yang cukup luas menampung tubuh-tubuh ramping Nara, Sarah dan Luna.&#xA;&#xA;Setelah saling mengecek keadaan kamar masing-masing, mereka sepakat untuk membersihkan tubuh sekaligus mandi dan membereskan barang bawaan mereka dulu, sebelum nantinya berkumpul lagi di ruang TV di bawah untuk menentukan akan kemana mereka malam nanti.&#xA;&#xA;Di master bedroom:&#xA;&#xA;“Lo pergi dua malam aja bawa koper segala sih, Na. Travel bag doang nggak cukup emangnya? Bawa apa aja coba sih gue lihat.” Nara yang sedang duduk bersila berdampingan dengan Luna yang sedang membuka kopernya, berkata penasaran sambil melongokkan kepalanya mengintip isi koper Luna.&#xA;&#xA;“Ini barang gue berdua Jaehyun,” jawab Luna. Dikeluarkannya satu kotak travel organizer pouch berukuran besar berisi pakaian, dan satu lagi berukuran kecil berisi toiletries milik Hyunjae.&#xA;&#xA;“Gile bener-bener kalian tuh ya, barang bawaan aja disatuin. Udah kayak suami istri. Gue aja yang udah tunangan sama Juyeon barangnya bawa sendiri-sendiri, Na,” Sarah ikut berkomentar.&#xA;&#xA;“Bukan sok romantis ih, biar simpel aja gitu nggak banyak tentengan. Jadi nanti balik dari sini bawaannya cuma koper satu sama belanjaan kalau ada. Ini idenya Jaehyun, gue sih nggak kepikiran.”&#xA;&#xA;“Iya juga ya, gue juga nggak kepikiran gitu sama Younghoon. Ah tapi si Hoon emang paling nggak bisa packing dia tuh, mana ada dia mikirin soal barang bawaan. Punya dia aja gue yang beresin.”&#xA;&#xA;“Jaehyun juga suka males packing, kalau dia mau keluar kota suka minta tolong gue beresin. Gue sih seneng aja, milihin baju buat dia pake.”&#xA;&#xA;“Lah gue malah kebalik, Juyeon yang rapiin baju gue kalau kita mau traveling hahaha. Kadang gue dinas keluar juga dia yang aturin baju gue. Aneh ya?”&#xA;&#xA;Luna dan Nara terkekeh menanggapi cerita Sarah. Sudah hafal dengan kebiasaan slengean sahabatnya itu. Cantik tapi slengean, itu Sarah.&#xA;&#xA;“Bentar ya, gue ke kamar sebelah dulu ngasiin barangnya Jaehyun.”&#xA;&#xA;Nara dan Sarah mengangguk.&#xA;&#xA;Sepeninggal Luna, Nara bertanya pada Sarah perihal rencana pernikahannya dengan Juyeon.&#xA;&#xA;“Kayanya awal tahun depan, habis tahun baruan deh. Rencananya bulan Januari pas hari ulang tahun Juyeon, tanggal dua puluh empat.”&#xA;&#xA;“Udah mulai cari vendor dong lo?”&#xA;&#xA;“Udah, dibantuin istrinya kakaknya Juyeon, dia punya temen wedding organizer gitu. Dulu waktu kakaknya Juyeon nikah juga pakai WO temen istrinya itu. Gue sama Juyeon ngikut aja. Kita berdua nggak pengen nikah ribet, pengen yang simpel aja yang penting sah dulu.”&#xA;&#xA;“Apa rasanya, Sar? Bahagia banget pasti lo ya? Gue iriii, si Hoon masih belum ada tanda-tanda ngelamar gue.”&#xA;&#xA;“Sabar ya, Sayang. Sooner or later lo bakal jadi the happiest bride di altar bareng Hoon. Sebelumnya, latihan jadi manten dengan jadi bridesmaid gue dulu ya. Gue mau lo, Luna dan Hyuna yang jadi bridesmaid gue.”&#xA;&#xA;“Wuaaa, I’d love to! Biar cepet ketular nikah juga gue.”&#xA;&#xA;Sarah tertawa, menampilkan lesung pipinya yang hanya ada sebelah—di pipi kirinya. “Biar lo sama Luna ketular nikah, dan Hyuna cepet-cepet dijadiin sama Eric. Kasian itu anak berdua, nggak capek apa ya jalanin hubungan tanpa status gitu.”&#xA;&#xA;Kini giliran Nara yang terkekeh. “Tega banget emang si Eric. Kasian banget gue lihat muka Hyuna memelas kayak pengen diajak kesini, tapi sama Eric nggak diajak. Nggak peka apa gimana sih bocah satu itu hadeh.”&#xA;&#xA;“Eh, Nar, gosip dong. Mumpung nggak ada Luna, nggak enak gue kalau ada dia.”&#xA;&#xA;“Dih apaan sih lo, ngomongin Luna?”&#xA;&#xA;“Bukan Lunanya.”&#xA;&#xA;“Lah terus?”&#xA;&#xA;Sarah terdiam, ia yang tadinya semangat ingin bercerita pada Nara, mendadak ragu. Sudah cukup lama ia memendam cerita ini sendirian dan ingin sekali bisa ia bagi dengan Nara—ya, hanya dengan Nara. Sarah paham hal ini tidak baik untuk diketahui oleh Luna.&#xA;&#xA;“Janji lo ya, jangan cerita lagi ke Luna. Setitik pun nggak boleh.” Sarah lalu mengangkat jari kelingkingnya, menyodorkan di hadapan muka Nara. “Pinky swear dulu.”&#xA;&#xA;Kelingking Nara bertaut dengan kelingking Sarah. “Janji. Cepetan, cerita apa?”&#xA;&#xA;“Hyuna cerita ke gue, dia dicurhatin sama Eric katanya. Soal Yeonjun.”&#xA;&#xA;“Ha? Yeonjun kenapa?”&#xA;&#xA;“Ini lo pasti kaget sih. Gue juga kaget soalnya waktu Hyuna cerita. Gue udah dari kapan pengen banget cerita ke lo tapi susah, kita bareng-bareng mulu sama Luna soalnya.”&#xA;&#xA;“Duh apaan sih gila, gue penasaran banget.”&#xA;&#xA;“Yeonjun itu suka sama Luna.”&#xA;&#xA;“HAH?!”&#xA;&#xA;“Kaget kan? Sama gue juga. Dan lo tau? Udah lama, sebelum Luna kenal Jaehyun. Pas Luna baru banget pindah ke kantor kita dari Yongsan, lebih tepatnya. Si Yeonjun udah langsung naksir begitu lihat Luna di hari pertama dia masuk kantor kita.”&#xA;&#xA;Nara masih tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya dari Sarah. Matanya masih membulat terpana, telapak tangannya menutupi mulutnya yang setengah menganga karena kaget. “Tapi gue nggak lihat gelagat Yeonjun naksir Luna sama sekali. Apa gue yang nggak peka sih?”&#xA;&#xA;“Emang iya, kita semua nggak ada yang sadar soalnya emang Yeonjun nutupin hal itu. Cuma Eric satu-satunya yang tau soal ini. Jangankan ke kita, ke Lunanya pun Yeonjun nggak nunjukin dia suka.”&#xA;&#xA;“Wah parah nih si Eric, pengen gue tebas lehernya anak pecicilan satu itu. Kenapa dia nggak cerita-cerita sih.”&#xA;&#xA;“Ya nggak mungkinlah, Eric pasti ngejaga privasi Yeonjun. Hyuna juga awalnya nggak tau, tapi akhirnya Eric cerita ke Hyuna sekarang karena dia gerah banget dicurhatin Yeonjun soal Luna mulu akhir-akhir ini. Padahal dulu Eric udah mau bantuin Yeonjun biar deket sama Luna, eh Yeonjunnya maju mundur terus sampe akhirnya malah Eric kan yang deket sama Luna.”&#xA;&#xA;“Lah sekarang Luna udah sama Jaehyun terus gimana?”&#xA;&#xA;“Nah itu, si Yeonjun baru kerasa nyesel banget dia sekarang. Jadinya dia sering galau gitu deh ke si Eric, ya Eric males sih lama-lama, dia kesel dulu pas Luna masih sendiri kenapa nggak ada action banget Yeonjunnya. Sekarang udah gini nyesel. Dan kemarin Yeonjun cerita ke Eric dia habis ngajak Luna makan malam pulang kantor, terus nganterin pulang. Eric cuma takut Yeonjun kebablasan dan jadi ngerusak hubungan Luna sama Jaehyun.”&#xA;&#xA;“Duh, nggak nyangka banget gue. Kok jadi rumit gini ya? Tapi si Yeonjun kuat juga ya, dia tetep ikut liburan padahal ada Jaehyun.”&#xA;&#xA;“Kata Eric tadinya Yeonjun mau cancel tapi akhirnya dia berubah pikiran. Nggak papa ada Jaehyun yang penting dia bisa tetep lihat Luna.”&#xA;&#xA;“Aaarghh this is crazy! Beneran kita harus cariin cewek ini sih buat Yeonjun. Horor gue, Sar, serem si Yeonjun nekat.”&#xA;&#xA;“Ya makanya, ngerti kan kenapa gue gatel banget pengen cerita ini ke lo? Tapi please berhenti di kita aja ya cerita ini. Hoon jangan tau, gue juga nggak ngomong apa-apa ke Juyeon. Lo kebayang nggak sih, apa nggak dilabrak itu Yeonjun kalau Juy dan Hoon tau. Mereka berdua kan protektif ke si Luna.”&#xA;&#xA;“Iya juga ya. Si Luna beruntung banget, dia dikelilingi empat cowok ganteng-ganteng yang care sama dia. Ya nggak sih?”&#xA;&#xA;“Hahaha iya. Tapi anehnya gue nggak pernah cemburu dengan kenyataan kalau Juyeon sama Luna itu deket banget.”&#xA;&#xA;“Ya sama gue juga, nggak pernah jealous. Nggak fair juga sih lagian kalau kita cemburuin mereka, Sar. Jelas-jelas mereka bertiga udah sahabatan dari jaman kuliah, jauh sebelum kenal kita. Lagian yang gue respek dari Luna tuh, dia bener-bener tau betul boundaries ketika Younghoon udah jadian sama gue. Dia nggak pernah ngusik hubungan gue sama Younghoon.”&#xA;&#xA;Cklek!&#xA;&#xA;Pintu kamar mendadak terbuka tepat setelah Nara menyelesaikan kalimat terakhirnya.&#xA;&#xA;“Ya ampun masih belum selesai juga? Kirain udah ada yang mandi kalian tuh. Gue aja duluan mandi boleh ya.”&#xA;&#xA;Luna yang kini sudah kembali bergabung di dalam kamar, hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat kondisi travel bag Sarah dan Nara yang sepertinya tidak ada perubahan seperti saat ia tinggal tadi.&#xA;&#xA;“Ya udah lo mandi duluan, abis itu gue ya,” Nara menyahuti.&#xA;&#xA;Sesaat setelah pintu kamar mandi tertutup dengan Luna di dalamnya, Nara dan Sarah hanya saling pandang sambil bernafas lega karena episode cerita mereka selesai tepat waktu.&#xA;&#xA;*\\\&#xA;&#xA;Jam tujuh malam, mereka berdelapan sudah berkumpul lagi di ruang TV lantai satu—dengan wajah segar karena semuanya sudah selesai beres-beres, mandi dan istirahat di kamar masing-masing tadi.&#xA;&#xA;TV yang menyala hanya bertugas sebagai peramai suasana namun layarnya terabaikan, tidak ada yang fokus dengan tayangannya.&#xA;&#xA;Karpet bulu halus dan tebal berwarna cokelat muda yang tergelar menjadi alas duduk bagi Eric, Hyunjae dan Luna. Sofa empuk yang menghadap TV diduduki Younghoon, Juyeon dan Yeonjun, sementara itu Nara dan Sarah masing-masing menduduki dua single sofa yang ditata berhadapan dengan coffee table sebagai perantara di tengah.&#xA;&#xA;“Jadi, mau makan apa kita? Delivery atau mau keluar?” tanya Juyeon.&#xA;&#xA;“Keluar, yuk! Gue pengen jajan street food,” Nara yang pertama kali menjawab dengan antusias. “Yang, jadi kan kita ke Dotonbori?” tanyanya lagi, kini matanya tertuju pada sepasang mata milik sang kekasih, Younghoon, yang langsung membalasnya dengan anggukan.&#xA;&#xA;“Gue sama Jaehyun juga mau ke Dotonbori sih, tapi kita mau makan mentai sushi, udah nyari tempatnya ada di sekitaran Dotonbori street,” kata Luna.&#xA;&#xA;“Ikuuut, gue juga mau mentai sushi!” Eric setengah berteriak saking excited, sambil mengacungkan tangannya ke atas. Tingkahnya ini membuat Eric mendapat geplakan pelan di pahanya dari Hyunjae. “Kaget oi,” kata Hyunjae. Luna menertawai Hyunjae yang tadi sempat agak terlonjak kaget akibat teriakan Eric. Yang pahanya digeplak cuma bisa cengengesan.&#xA;&#xA;“Ya udah, ke Dotonbori aja semuanya ya, gimana? Nanti disananya mau mencar lagi sih nggak apa-apa. Tinggal janjian ketemuan lagi aja di depan Glico,” putus Juyeon akhirnya. “Giliran siapa aja mau nyetir nih? Gue sama Jaehyun udah kebagian tadi nyetir dari bandara. Gantian heh.”&#xA;&#xA;“Yaudah, CR-V gue yang nyetir deh,” kali ini Yeonjun yang bersuara.&#xA;&#xA;“Oke, gue nyetir HR-V kalau gitu,” tambah Younghoon.&#xA;&#xA;Lima belas menit setelah mereka selesai bersiap-siap, dua mobil yang sama-sama berwarna putih yang mereka sewa itu akhirnya meluncur meninggalkan penthouse. Di dalam CR-V, diisi Yeonjun, Juyeon, Sarah dan Eric. Di mobil satunya, diisi Younghoon, Hyunjae, Luna dan Nara. Juyeon dan Hyunjae yang kebagian tugas memantau GPS diharuskan duduk di depan menemani Yeonjun dan Younghoon.&#xA;&#xA;Semoga mereka tidak kesasar dan acara jalan-jalan malamnya lancar!&#xA;&#xA;\\\&#xA;&#xA;“Tuhaaan, enak bangeeet!”&#xA;&#xA;Ini sudah sushi ketiga yang masuk mulut dan Luna masih tetap mengerangkan kalimat yang sama. Sushi mentai yang diidamkannya akhirnya kesampaian untuk dinikmati.&#xA;&#xA;“Belepotan tuh mentainya,” Hyunjae berkata sambil menyeka sisa-sisa saus mentai di ujung bibir Luna dengan ibu jarinya. “Yang rapi makannya.”&#xA;&#xA;Luna tersipu, malu. “Hehe, iya…”&#xA;&#xA;“Mimpi apa ya, gue, makan bertiga di Osaka sama kakak-kakak kesayangan gue yang tadinya strangers, sekarang pacaran mesra banget gini.”&#xA;&#xA;“Mesra apanya, Ric?”&#xA;&#xA;“Ya itu tadi lo nyekain bibirnya nuna. Mesra kali itu, Kak.”&#xA;&#xA;“Bukan mesra, gemes aja gue liatnya. Luna kalau nemu makanan enak emang suka mendadak celamitan.”&#xA;&#xA;“Yang, bongkar aja terus aib aku.”&#xA;&#xA;“Nuna, nggak usah dibongkar Kak Jae juga gue udah paham banget jenis aib lo apa aja.”&#xA;&#xA;“Ngeselin ih Eric!”&#xA;&#xA;Refleks, Eric menghindarkan kepalanya ke kiri ketika dilihatnya Luna melemparkan gulungan tisu ke arahnya. Luna baru akan melemparkan gulungan tisu kedua ketika tangannya buru-buru ditahan oleh Hyunjae.&#xA;&#xA;“Udah dong, Na, aduh. Malu ntar diliatin.”&#xA;&#xA;“Iya ih, Nuna gimana sih. Bocah banget.”&#xA;&#xA;Luna mencebikkan bibirnya—hanya bercanda. Dalam hati ia sungguh menikmati momen makan malam bertiga ini dengan Hyunjae pacarnya, dan juga Eric yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.&#xA;&#xA;“Nuna, udah ngabarin Kak Jae belum? Soal bridesmaid?” celetuk Eric tiba-tiba.&#xA;&#xA;Ah iya, Luna jadi ingat.&#xA;&#xA;Tadi sore Sarah mengabarinya soal dirinya yang dipilih menjadi salah satu bridesmaid di hari pernikahan Sarah nanti.&#xA;&#xA;“Eh iya, Yang. Tadi Sarah bilang aku, Nara sama Hyuna jadi bridesmaid di nikahannya nanti. Otomatis kamu jadi groomsman-nya Juyeon ya.”&#xA;&#xA;“Juyeon tadi juga udah sempet ngomong ke aku, tapi sekilas doang dia belum bilang siapa aja. Jadinya bertiga ya? Aku sih nggak apa-apa, tapi jadi nggak enak sama Yeonjun, malah aku yang diajak bukannya Yeonjun.”&#xA;&#xA;“Kak Yeon soalnya nggak ada pasangannya, jadi dia mundur dari jajaran groomsmen. Nggak tau deh kalau tiba-tiba nanti dia nemu pacar menjelang nikahannya Kak Juyo. Si jomblo, dasar.”&#xA;&#xA;“Heh bocah, lo juga jomblo ya. Itu si Hyuna kapan mau dikasih status gue tanya? Keburu diambil orang nyesel lo nanti.”&#xA;&#xA;“Kagak, dia bucin ke gue.”&#xA;&#xA;“Dih, pede. Jangan gitu, Ric. Beneran deh cepetan jadiin, kasian anak orang lo gantungin kelamaan. Jangan kayak Yeonjun, keburu nyesel gebetannya diambil orang.”&#xA;&#xA;Eric terbatuk. Kaget. “Tau dari mana lo, Kak, soal itu?”&#xA;&#xA;“Yeonjun? Lah dia yang cerita. Ih lo gimana sih, kan ada lo juga pas kita lagi dinner di resto hotel di Gwangju. Dia kan cerita kecolongan gebetannya keburu dipepet orang.”&#xA;&#xA;“Eeh—Oh yang pas itu. Iya iya, inget gue sekarang.” Setengah mati Eric berusaha menghilangkan perasaan kaget dan gugupnya, terlebih ketika Eric menyadari ada sepasang tatapan curiga menghujamnya. Tatapan mata dari Hyunjae.&#xA;&#xA;“Emang siapa gebetannya Yeonjun?” tanya Hyunjae kalem, kontras dengan tatapan matanya yang menyipit tajam ke arah Eric.&#xA;&#xA;“Nggak tau gue, Kak. Nggak bilang dia.”&#xA;&#xA;Duh mampus! Eric merutuki dirinya dalam hati. Ia sungguh merasa tidak enak harus terpaksa berbohong pada Hyunjae yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri itu. Tapi untuk berkata yang sebenarnya juga sangat tidak mungkin. Eric horor sendiri membayangkan reaksi Hyunjae jika tahu perempuan yang disukai Yeonjun adalah Luna.&#xA;&#xA;“Tuh, orangnya dateng. Panjang umur,” celetuk Luna tiba-tiba. Tangannya otomatis terangkat ke atas, mengisyaratkan keberadaannya pada sosok jangkung yang baru tiba di kedai sushi ini.&#xA;&#xA;Mata Eric melotot melihat Yeonjun—manusia terakhir yang ia inginkan berada di tempat ini bersama mereka—berjalan santai dengan satu tangan terselip di saku celananya dan tangan satunya menenteng paper bag berwarna oranye. Ke arah mereka.&#xA;&#xA;“Hai,” sapa Yeonjun. Lalu ia mendudukkan dirinya di kursi kosong di samping Hyunjae. Posisi duduk mereka sebelumnya adalah Eric dan Luna duduk bersebelahan menghadap ke arah pintu masuk kedai, dan Hyunjae membelakangi pintu masuk, duduk di hadapan Luna. Dengan kini Yeonjun bergabung di sebelah Hyunjae, maka Yeonjun duduk berhadapan dengan Eric—yang sedang berusaha keras menetralkan raut wajahnya yang sedang panik.&#xA;&#xA;“Kok tau kita disini?” akhirnya setelah berdeham pelan, Eric mencoba menyelamatkan suasana.&#xA;&#xA;“Nanya Luna.” Jawaban enteng Yeonjun membuat Eric tercengang—lagi dan lagi. “HP lo kemana? Gue chat nggak dibalas-balas akhirnya gue tanya Luna. Nggak apa-apa kan gue gabung sini?”&#xA;&#xA;“Nyantai aja, nggak apa-apa lah.” Yang menjawab kali ini adalah Hyunjae, bukan Eric. “Abis dari mana lo, Yeon? Yang lain pada kemana?”&#xA;&#xA;“Sarah-Juyeon sama Nara-Younghoon pada mencar sih, nggak tau kemana. Gue sih jalan-jalan aja tadi sendirian, eh tau-tau nemu Takomasa yang katanya jual takoyaki terenak se-Osaka. Beneran seenak itu banget ternyata. Nih cobain deh.”&#xA;&#xA;Yeonjun mengeluarkan satu kotak persegi dari paper bag-nya yang ternyata berisi takoyaki. Dibukanya kotak itu dan tampilan enam buah takoyaki bertabur katsuboshi sungguh menggugah selera seakan meminta untuk dicicip. Aroma harum khas takoyaki langsung memanjakan hidung mereka.&#xA;&#xA;“Makasih, Yeon. Udah nggak usah, kita juga ini baru makan kok—”&#xA;&#xA;“Mau cobain, boleh ya?” Luna menyela ucapan Hyunjae yang tadinya akan menolak tawaran takoyaki dari Yeonjun.&#xA;&#xA;“Cobain aja, abisin juga boleh kalau mau. Doyanan lo kan ini takoyaki. Enak banget deh, Na, nggak bohong gue.” Yeonjun mendekatkan kotak takoyakinya ke arah Luna. “Hati-hati panas.”&#xA;&#xA;Astaga, Kak Yeon bener-bener! Biasa aja kek nada ngomongnya nggak usah sok dilembutin gitu. Eric bermonolog dengan dirinya sendiri melihat adegan yang ia harap tidak nyata ini di hadapannya. Serem banget Kak Jae natapnya udah kayak mau nerkam orang. Tuhaaan, gue pengen kabur!&#xA;&#xA;Setelah menghabiskan bulatan takoyaki pertamanya, Luna mengangguk setuju ke arah Yeonjun. “Iya enaaak,” ucapnya setengah merengek.&#xA;&#xA;“Ya kan? Ambil lagi, abisin aja.”&#xA;&#xA;“Satu lagi boleh ya? Nggak mau abisin, kenyang.”&#xA;&#xA;“Iya boleh, terserah lo mau ambil berapa biji juga.”&#xA;&#xA;Suasana yang terasa biasa saja bagi Luna, tapi sungguh amat menegangkan bagi Eric ini terinterupsi oleh dering ponsel Luna yang disimpan di atas meja. Nama Nara tertera di layar ponsel Luna.&#xA;&#xA;Eric diam-diam menghela nafas lega, berharap telepon dari Nara bisa menyelamatkannya dari situasi mencekam ini. Eric yang sudah lama mengenal Hyunjae paham betul pasti ada gemuruh emosi yang sedang ditahan Hyunjae di balik raut wajahnya yang tetap tenang dan kalem saat ini. Sebelum pertahanan emosi Hyunjae runtuh, Eric sungguh ingin mereka berempat segera keluar dari kedai—entah itu untuk kemudian berpencar atau segera berkumpul lagi dengan Younghoon-Nara dan Sarah-Juyeon.&#xA;&#xA;“Mereka berempat lagi di Don Quijote, tadi habis naik ferris wheel dan sekarang lagi lanjut belanja disana,” kata Luna setelah teleponnya dengan Nara selesai. “Yang, aku mau kesana. Mau naik ferris wheel. Temenin.”&#xA;&#xA;“Iya aku temenin. Habisin dulu sushinya baru kita kesana. Tinggal kamu yang belum selesai nih makannya.”&#xA;&#xA;Eric yang melihat celah ini langsung beraksi tanpa menyiakan kesempatan. Ya, kesempatannya untuk kabur dari situasi ini. “Kak Yeon, kita duluan aja, yuk? Gue masih pengen jajan street food, abis itu nyusul ke Don Quijote. Yuk.”&#xA;&#xA;“Nanti aja sih barengan.”&#xA;&#xA;Ingin rasanya Eric menghantam batu bata ke kepala Yeonjun kalau ia tidak ingat situasi dan kondisi. “Sekarang ah. Nuna makannya lama, gue pengen jajan nanti kemaleman keburu habis.”&#xA;&#xA;Akhirnya Yeonjun mengiyakan. Sebetulnya ia tidak rela meninggalkan kedai ini duluan hanya berdua Eric, tapi ada sebagian dalam dari Yeonjun yang menyuruhnya untuk mengikuti kemauan Eric. Yeonjun paham, ajakan Eric pergi duluan bukan semata karena Eric sebegitu inginnya menikmati street food.&#xA;&#xA;“Duluan ya. Nanti ketemu di Don Quijote, oke?” pamit Eric.&#xA;&#xA;“Oke, nanti teleponan aja,” kata Hyunjae.&#xA;&#xA;“Thank you, Yeon takoyakinya!”&#xA;&#xA;\\\&#xA;&#xA;Tidak sampai setengah jam setelah Eric dan Yeonjun meninggalkan kedai sushi, Luna dan Hyunjae menyusul. Tetapi alih-alih terburu-buru, mereka berdua memilih untuk melangkahkan kaki dengan santai, menikmati kesibukan tengah kota Dotonbori di malam minggu. Mereka berjalan menyusuri Tombori River—kanal sungai buatan yang membentang vertikal sepanjang arah timur ke barat distrik Dotonbori. Don Quijote tempat mereka janjian bertemu dengan yang lain, terletak di seberang kanan sungai, berlawanan dengan mereka yang saat ini sedang berada di sisi kiri sungai.&#xA;&#xA;Hyunjae melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luna, menimbulkan tanda tanya spontan yang langsung Luna utarakan.&#xA;&#xA;“Kok dilepas?” tanya Luna bingung.&#xA;&#xA;“Tanganmu dingin banget, Na. Kamu kedinginan? Masuk saku coat aja tangannya ya, sambil pegang hot pack. Mana hot pack-nya?”&#xA;&#xA;“Ini.” Tangan kanan Luna yang memang sedari tadi berada di dalam saku coat-nya mengangkat hot pack yang ia genggam. “Tanganku yang ini dari tadi hangat kok, kan pegang hot pack.”&#xA;&#xA;“Iya tapi yang kiri dingin banget. Nggak usah pegangan lagi ya, tangan kamu masuk saku aja.”&#xA;&#xA;“Tapi aku nggak kedinginan. Tangan kirinya nggak mau masuk saku, mau pegangan tangan kamu aja.”&#xA;&#xA;Setelah berkata begitu Luna menarik tangan Hyunjae, kali ini tidak menggenggamnya seperti tadi tapi menautkan jari-jari mereka. Erat.&#xA;&#xA;“Lebih anget begini daripada pegang hot pack,” kata Luna lagi.&#xA;&#xA;“Dasar,” balas Hyunjae dengan bergumam. Ia mengeratkan tautan jarinya di jari Luna sedikit lagi. Berusaha membuat jari-jari Luna terlindung dari suhu musim gugur yang semakin rendah di malam hari.&#xA;&#xA;“Yang,” panggil Luna.&#xA;&#xA;“Hm?” Hyunjae menoleh ke samping kanannya, mendapati Luna sedang menatapnya dengan kerlingan mata berbinar. Kedua pipi Luna bersemu merah sebagai reaksi atas udara dingin—membuat Hyunjae menjadi agak terpana melihatnya. Sudah berjam-jam ia habiskan bersama Luna, tapi bagaimana bisa Hyunjae baru menyadari bahwa Luna sungguh terlihat cantik sekali malam ini. Tanpa riasan wajah berlebihan, hanya sapuan lipstik berwarna pink muda saja satu-satunya riasan di wajah Luna.&#xA;&#xA;“Apa, Cantik?” tanya Hyunjae lagi ketika Luna tidak kunjung berbicara, hanya terus menatapinya saja.&#xA;&#xA;“Aku seneng banget malam ini. Jalan-jalan sama anak-anak, makan enak bareng kamu dan Eric. Dan sekarang kita jalan berduaan di sini. Kamu tau aku suka banget suasana malam. Kamu dan malam, aku bahagia karena itu.”&#xA;&#xA;Langkah mereka berdua terhenti. Keduanya menepi, memberi jarak agar tidak mengganggu lalu lalang orang lain.&#xA;&#xA;“Makasih buat liburannya,” Luna mengakhiri kalimatnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hyunjae—sambil setengah berjinjit— memberinya kecupan singkat di pipi kanan Hyunjae. “I love you. So much.”&#xA;&#xA;“You deserve it.” Hyunjae memutar tubuhnya, membuatnya yang tadinya berdampingan dengan Luna, kini menjadi berhadapan. Tangan kirinya yang bebas, mengelus pucuk kepala Luna. Lalu turun ke pipi, dan kini ibu jarinya sedang mengusap bibir ranum Luna. “Kalau nggak inget lagi di tempat umum, udah aku cium.”&#xA;&#xA;“Nanti aja di ferris wheel.”&#xA;&#xA;“Hahaha kamu pengen juga ternyata dicium.”&#xA;&#xA;Mereka melanjutkan berjalannya lagi.&#xA;&#xA;“Na, sebetulnya aku mau ngomong soal proyek di Busan.”&#xA;&#xA;“Kenapa sayang? Ngomong aja.”&#xA;&#xA;“Yang pas aku ada late meeting itu, Mr. Choi CEO-ku bilang kayanya soon timku harus mulai kunjungan ke Busan. Kemungkinan awal November, yang artinya sekitaran minggu depan.”&#xA;&#xA;“Berapa lama di sana?”&#xA;&#xA;“Mungkin dua mingguan.”&#xA;&#xA;Langkah Luna terhenti lagi, kali ini mendadak. Hyunjae yang sudah selangkah lebih maju, memundurkan lagi langkahnya demi bisa sejajar kembali dengan Luna.&#xA;&#xA;“Dua minggu aku nggak bisa ketemu kamu?”&#xA;&#xA;“Iya sayang, maaf ya? Gimana lagi…”&#xA;&#xA;“Nggak usah minta maaf, Yang. Nggak apa-apa, aku tentu bakal dukung karir kamu. Dengan cara, aku janji nggak akan rewel selama ditinggal kamu ke Busan. I’ll be a good girl, biar kamu bisa kerja tenang dan nggak kepikiran.”&#xA;&#xA;“Jangan rewel, dan jangan genit juga. Nggak usah minta dianterin pulang sama cowok lain kalau nggak kepepet dan nggak darurat—inget, kecuali Juyeon, Younghoon, Eric.”&#xA;&#xA;“Sayaaang, aku nggak pernah genit ih. Nggak pernah juga aku minta-minta dianterin pulang kalau bukan mereka yang maksa mau nganterin.”&#xA;&#xA;“Selama aku nggak ada, kamu ke kantor bawa mobil tiap hari ya. Nggak usah naik kereta atau bis, udah menjelang musim dingin soalnya.”&#xA;&#xA;“Iya, sayangku. Ini aku masih di depan mata aja kamu udah cerewet, gimana nanti kalau beneran kamu udah disana.”&#xA;&#xA;“Ya kan aku harus mastiin kamu baik-baik aja nggak ada aku. Aku udah janji sama Ayah dan Mama buat bantu jagain kamu. Kamu itu tanggung jawabku, Na.”&#xA;&#xA;“Yang…”&#xA;&#xA;“Udah jangan nangis. Cengeng ih.”&#xA;&#xA;Luna melepaskan tautan jarinya sontak. Tangan kirinya yang kini terbebas, melayangkan pukulan pelan di bahu Hyunjae. “Bukan cengeng, aku terharu tau. Bedain cengeng sama terharu.”&#xA;&#xA;“Hehe iya maaf. Kamu terharu bukan cengeng. Maaf yaa?” Hyunjae menggamit pinggang Luna, mendekapnya erat. “Jaehyun sayang Luna banyak-banyak.”&#xA;&#xA;“Stop, geli banget dengernya. Kamu tuh udah tsundere aja, nggak cocok ngomong kayak gitu.”&#xA;&#xA;Hyunjae terkekeh sambil mendekap Luna makin erat. Ditautkannya kembali jari mereka. “Oh ya, satu lagi. Setelah aku pulang dari Busan, kita ke Songdo ya? Tanggal nikahnya nuna-ku dimajuin, jadinya sebelas Desember. Nggak jadi Januari. Nuna minta kamu datang ke rumah buat fitting gaun. Kamu jadi salah satu bridesmaid bareng sama dua sepupuku dan satu lagi sahabatnya Nuna.”&#xA;&#xA;“Berita sepenting ini kamu baru ngomong ke aku sekarang? Ya ampun, Yaaang. Dari kapan kamu tau soal ini?”&#xA;&#xA;“Baru-baru, kok. Tapi nggak inget tepatnya kapan hehehe. Maaf ya, lupa terus mau diomongin ke kamunya.”&#xA;&#xA;“Nanti kasih aku nomor Kak Jaesung, ya, aku mau ngobrol langsung sekalian bilang terima kasih karena udah dipilih jadi bridesmaid. It really is an honor buatku.”&#xA;&#xA;“Iya nanti aku kasih. Yang, nggak apa-apa kamu jadi bridesmaid-nya kakakku? Maaf ya, dia main nentuin aja nggak minta persetujuan kamu dulu. Kalau kamu mau nolak bilang aja, Yang. Aku nggak enak ke kamu.”&#xA;&#xA;“Kenapa aku harus nolak? Justru aku seneng banget dilibatkan di acara besar keluarga inti kamu, Yang. Walaupun nggak enak karena baru sekali ketemu, tapi aku udah dianggap sebegininya sama keluarga kamu.”&#xA;&#xA;“Makasih ya. Aku nggak sabar lihat kamu pakai gaun, pasti cantik banget.”&#xA;&#xA;“Aku juga nggak sabar lihat kamu pakai setelan jas formal. Kamu bangun tidur rambut acak-acakan aja bisa bikin aku deg-degan lihatnya. Apalagi kamu pakai jas atau tuxedo gitu. Aku bisa pingsan kali.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa.&#xA;&#xA;Dia sadar, Luna ini gampang sekali mengalirkan pujian terhadapnya—terutama tentang penampilan fisiknya yang menurut Luna, Tuhan pasti sedang dalam mood yang luar biasa bagus ketika sedang menciptakan Hyunjae. Berbeda sekali dengan Hyunjae yang tidak peduli seterpesona apapun ia dengan penampilan Luna, jarang sekali ia melisankan pujian pada Luna. Hyunjae berpikir, mungkin ke depannya ia harus sedikit lebih luwes dalam mengekspresikan rasa sukanya terhadap penampilan Luna.&#xA;&#xA;Mungkin bisa dicoba malam ini.&#xA;&#xA;“Na, Sayang.”&#xA;&#xA;“Ya?”&#xA;&#xA;“Have I told you how beautiful you are tonight? Kamu selalu cantik, tapi malam ini entah kenapa aku ngerasa kamu cantik sekali. Rambut kamu mau digerai, diikat, digelung—apapun itu—and with or without make-up, kamu cantik.”&#xA;&#xA;“Ha? Kok tiba-tiba—”&#xA;&#xA;“I’m grateful to have you,” sela Hyunjae. Lalu ia mengangkat telapak tangan Luna yang masih berada dalam tautannya, mendekatkannya ke bibirnya. Dikecupnya dua kali—kecupan kedua agak lebih lama dari kecupan pertama, lalu berujar, “I love you so much too.”&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Luna mengikat rambut panjangnya menjadi satu, dengan beberapa helai tipis dibiarkan terjuntai di sisi kanan dan kirinya. Wajahnya masih bersemu merah seperti semalam, dan lagi, hanya sedikit polesan lip balm yang dilapisi lipstik yang menghiasi wajahnya pagi ini.&#xA;&#xA;Sekali lagi ia merapikan sweater rajut berwarna nude pink—warna favoritnya—dengan model turtle-neck yang hari ini ia pakai untuk melindunginya dari udara dingin. Bawahannya, seperti biasa celana jeans slim fit berwarna biru cerah. Di tangan kirinya tersampir coat cokelat muda yang semalam ia kenakan saat mengunjungi Dotonbori.&#xA;&#xA;Pagi ini matahari bersinar cukup cerah walaupun udara dingin khas musim gugur tetap menghembus. Sungguh cuaca yang nyaman sekali untuk menghabiskan waktu di amusement park—ya, rombongan berisi delapan orang ini baru saja tiba di Universal Studios, tujuan utama mereka mendatangi Osaka dadakan sehari lalu.&#xA;&#xA;Setelah semuanya turun dari mobil, mereka berjalan menuju main entrance USJ.&#xA;&#xA;“Na, gue baru sadar, lo nggak bawa tas ya?” Nara yang berjalan di belakang Luna, menepuk pundaknya saat ia menyadari tangan Luna yang bebas dari tentengan apapun. Hanya ponselnya yang terlihat menggantung di leher Luna berkat bantuan phone strap.&#xA;&#xA;“Iya nggak bawa. Kan Jaehyun bawa ransel, barang gue titip dia,” jawab Luna santai sambil menunjuk ke arah Hyunjae yang berjalan di sampingnya.&#xA;&#xA;“Ih enak banget sih lo nggak rempong sama bawaan jadinya. Si Younghoon nih males banget gue suruh bawa ransel, malah dia yang nitipin barangnya di tas gue,” omel Nara, tidak bisa menyembunyikan rasa irinya pada Luna yang bisa berjalan santai tanpa dibebani barang bawaan.&#xA;&#xA;“Sama aja Juyeon juga, gue yang direpotin bawa barang.” Sarah yang tadinya tertinggal beberapa langkah di belakang Nara, tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Ikut menimpali obrolan Nara dengan Luna.&#xA;&#xA;Luna hanya bisa terkekeh, dalam hati sedikit banyak ia merasa bangga pada Hyunjae yang memang berniat membawa ransel sendiri demi tidak merepotkan Luna. “Udah jangan protes, terima aja kelebihan dan kekurangan pacar masing-masing,” sahutnya. “Tapi yang kayak gini emang jarang sih, guenya aja yang beruntung.” Dan Luna pun bergelayut manja di lengan Hyunjae, membuatnya mendapat sorakan kesal dari Nara dan Sarah.&#xA;&#xA;Sebelum memasuki area utama, mereka sempat berfoto dulu di depan globe raksasa ikonik khas Universal Studios. Berkat tripod yang dibawa Hyunjae, mereka bisa berfoto berdelapan tanpa repot meminta bantuan turis lain yang juga ramai berfoto di area globe. Setelah foto berdelapan, yang berpasangan juga tidak lupa mengambil foto berdua. Terakhir, Nara, Sarah, dan Luna berfoto bertiga dengan posisi Luna di tengah.&#xA;&#xA;Puas dengan foto di area globe, mereka pun mulai memasuki area utama Universal Studios.&#xA;&#xA;\\\&#xA;&#xA;Berkat tiket express ride yang mereka beli demi menghindari antrian panjang di tiap wahana apalagi wahana high demand, akhirnya selama satu setengah jam pertama mereka sudah berhasil menikmati 3 wahana salah satunya Space Fantasy—semacam roller coaster indoor dengan suasana outer space atau luar angkasa. Tidak terlalu ekstrim, masih cukup aman dinaiki oleh Hyunjae, Eric dan Juyeon sebagai tiga orang yang sudah declare dari awal bahwa mereka tidak akan menaiki wahana-wahana yang bisa mengaduk isi perut mereka.&#xA;&#xA;Setelah Space Fantasy, yang sudah mereka nikmati adalah Terminator dan Amazing Adventures of Spiderman—keduanya wahana yang serupa, menikmati tontonan dalam visual 3D. Lagi-lagi, masih bisa dinikmati dengan aman oleh Hyunjae, Eric dan Juyeon.&#xA;&#xA;Ketika akhirnya mereka memasuki area Jurassic Park—area yang paling ditunggu oleh Luna sebagai fans berat film dinosaurus besutan sutradara tersukses sepanjang masa, Steven Spielberg—Hyunjae, Eric dan Juyeon dengan sukarela memutuskan untuk duduk menunggu saat lima yang lainnya kompak ingin menaiki The Flying Dinosaur.&#xA;&#xA;“Ju, ayolaaah. Temenin aku naik, dong.” Sarah merengek sembari menarik-narik tangan Juyeon supaya bangkit dari duduknya dan ikut naik wahana roller coaster super ekstrim tersebut.&#xA;&#xA;“Nggak mau, Sayang. Kamu aja. Aku tau diri daripada pingsan di atas sana. Liat track-nya yang sepanjang itu aja udah merinding aku,” tolak Juyeon mentah-mentah.&#xA;&#xA;Memang benar yang Juyeon bilang. The Flying Dinosaur ini diklaim sebagai  coaster dengan track terpanjang di dunia. Belum lagi posisi duduknya yang unik, bukan duduk di kereta biasa namun para rider akan dibuat duduk menggantung dalam posisi menukik menghadap bawah selama kereta berjalan. Track yang panjang meliuk ditambah dengan posisi duduk menukik—hanya yang betul-betul yang bernyali tinggi yang berani menaiki wahana ini.&#xA;&#xA;“Tapi kan cuma satu menit doang di atasnya. Ayolah yukkk.” Sarah masih dengan gigih membujuk Juyeon supaya mau ikut naik. “Kamu tega aku sendirian disana?”&#xA;&#xA;“Sendirian gimana, kamu kan berlima.”&#xA;&#xA;“Yaaa tapi kan nggak ada kamu.”&#xA;&#xA;“Nggak mau, Sayang. Jangan dipaksa, please.”&#xA;&#xA;Juyeon tetap dengan pendiriannya, tidak mau naik wahana itu. Sarah akhirnya menyerah, ia berjalan meninggalkan Juyeon mengikuti Nara dan Younghoon yang sudah lebih dulu memasuki line antrian.&#xA;&#xA;“Kamu yakin nggak mau coba?” kali ini Luna yang bertanya pada Hyunjae—dan seperti Juyeon, gelengan kepala Hyunjae diterima Luna sebagai jawaban. Luna tertawa kecil. “Kalian bertiga ini lucu banget, badan aja pada gede atletis tapi naik coaster gini nggak mau.”&#xA;&#xA;“Heh, nggak ada hubungannya ya badan atletis sama nggak suka naik mainan ekstrim,” elak Juyeon. “We wanna have fun, and that coaster, is gonna bring us fear instead of fun.”&#xA;&#xA;Luna terkekeh lagi. “Ya udah aku mau naik dulu ya. Sayang, aku titip HP.”&#xA;&#xA;“Hati-hati ya, Na. Beneran kamu kuat nggak akan pingsan?” Hyunjae terlihat khawatir begitu mendengar rel coaster yang bergemuruh cepat dan teriakan para riders di atasnya.&#xA;&#xA;“Beneran lah, aku kuat. Tapi kalau pingsan tenang aja ada Yeonjun, minta dia gendong aja hahaha.”&#xA;&#xA;“Enak aja, ogah dong. Lo berat.”&#xA;&#xA;“Sialan.”&#xA;&#xA;Yeonjun mengacak kepala Luna yang langsung mendapat tepisan di lengannya. “Rambut gueee, berantakan nanti.”&#xA;&#xA;“Yuk ah, guys, kita naik dulu yaa. Tungguin di sini.”&#xA;&#xA;Luna dan Yeonjun akhirnya menjadi yang terakhir memasuki line antrian untuk dapat menaiki kereta yang sama dengan Sarah, Nara dan Younghoon.&#xA;&#xA;\\\&#xA;&#xA;Sambil menanti kelima yang lain mengantri dan menaiki wahana, Hyunjae, Eric dan Juyeon memutuskan untuk beranjak dari kursi dan mencari stand popcorn di dekat area itu. Menjelang waktu makan siang membuat perut mereka butuh ganjalan sebelum diisi makanan berat.&#xA;&#xA;Di sela-sela saat mengantri di stand popcorn, ponsel Juyeon berdering yang ternyata ada panggilan masuk dari kakaknya. Ada hal penting mengenai salah satu vendor untuk acara pernikahannya dengan Sarah nanti, yang ingin dibicarakan kakak Juyeon. Akhirnya Juyeon keluar dari antrian demi dapat mengobrol lebih leluasa dengan kakaknya, dan menitipkan popcornnya pada Hyunjae.&#xA;&#xA;“Kak,” panggil Eric pada Hyunjae, ketika dilihatnya Juyeon sudah berada di luar jangkauan mata.&#xA;&#xA;Hyunjae yang sedang memainkan ponselnya, mengalihkan pandangan menatap Eric. “Ya, Ric?”&#xA;&#xA;“Semalem, pas di kedai sushi. Lo bete nggak Kak Yeon tiba-tiba gabung?”&#xA;&#xA;“Why should I?” Hyunjae balik bertanya.&#xA;&#xA;“Don’t lie,” kata Eric. “Gue bisa baca lo nggak suka Kak Yeonjun deket-deket sama Nuna. Gue kenal lo bukan kemarin sore, Kak.”&#xA;&#xA;Hyunjae menarik nafas dan menghelanya sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. “Jujur, iya,” aku Hyunjae akhirnya. “Nggak tau kenapa, Ric, gue ngerasa ada yang beda dari Yeonjun ke Luna. Tapi lo nggak usah ngomongin ini lagi ke Yeonjun ya. Kali aja gue salah.”&#xA;&#xA;Nggak, Kak, lo nggak salah. Perasaan lo kali ini bener, jawab Eric dalam hati. Tapi tentu saja ia tidak melisankan jawabannya barusan pada Hyunjae. Eric masih ingin hidup dalam damai.&#xA;&#xA;“Lo tenang aja nggak usah insecure ya, Kak.”&#xA;&#xA;“Iya sih, akhirnya semalem sebelum tidur gue merenungi. Belum tentu juga Yeonjun seperti yang gue pikirkan. Lebih baik gue bersyukur Yeonjun baik ke Luna. Toh gue harusnya lebih seneng dan tenang lihat cewek gue diperlakukan baik daripada dikurangajarin sama cowok lain, ya nggak sih? Lagian gue percaya sama Luna. Mau apapun itu maksud Yeonjun baik ke Luna—memang dia hanya baik atau ada maksud tertentu—selama Luna-nya biasa aja ya gue nggak usah takut.”&#xA;&#xA;“Salut gue sama lo, emang bener-bener kakak panutan gue deh lo tuh, Kak. Baguslah lo punya pemikiran begitu. Semalem gue agak serem sebenernya, gue bisa ngerasain ketidaknyamanan lo pas Yeonjun dateng.”&#xA;&#xA;“Kelihatan ya emang? Tapi Luna nggak sadar kayaknya sih. Dia sepertinya udah terbiasa dengan gue yang terkesan dingin dan cuek-cuek aja tiap dia izin mau jalan sama temen cowoknya. Luarnya doang gue kelihatan cuek, padahal hati gue tuh nggak gitu sebenernya, Ric. Selama Luna jalannya sama lo, Younghoon atau Juyeon sih gue tenang. Selain kalian, gue nggak tenang. Tapi kalau gue lihatin ke Luna gue nggak tenang, takutnya dia nyangka gue nggak percaya ke dia.”&#xA;&#xA;“Gue ngerti sih lo nggak tenang, wajar. Ini gue ceritain ya kejadian dulu, sebelum Nuna pindah ke Yongsan. Hampir tiap jalan bareng Nuna pasti ada aja cowok yang nyamperin dia. Pernah kita berempat—gue, Nuna, Kak Hoon sama Kak Juyo habis kunjungan kantor klien kita baliknya mampir ke bar.”&#xA;&#xA;“Luna minum?”&#xA;&#xA;“Nggak, dia kan paling intoleran sama alkohol. Gue juga waktu itu nggak minum karena nyetir. Kita cuma nemenin Kak Hoon sama Kak Juyo aja mereka pengen minum. Itu ya, ada kali tiga-apa empat-cowok yang nyamperin Nuna, mau traktir minum. Sampe kesel sendiri dia, capek nolakinnya katanya. Akhirnya kita terpaksa pulang lebih cepet padahal Kak Hoon dan Kak Juyo masih pada pengen minum.”&#xA;&#xA;“Belum selesai nih ceritanya. Pernah juga diceritain sama Kak Juyo, mereka lagi makan berlima—double date tuh plus Nuna—dan meja mereka sebelahan sama meja isinya cowok-cowok seumuran kita lah. Pas Kak Juyo mau bayar, dia bingung ternyata udah dibayarin sama meja sebelah yang isinya cowok-cowok itu. Mereka nekat banget ngebayarin demi barter sama nomor HP Nuna, coba.”&#xA;&#xA;“Hah segitunya? Terus, dikasih nomornya sama Luna?”&#xA;&#xA;“Ya nggaklah! Marah yang ada dia. Nuna langsung keluarin duit cash dari dompetnya sesuai totalan mereka makan malam itu, dan dilemparin ke meja cowok-cowok itu.”&#xA;&#xA;“Buset, galak bener pacar gue ternyata.”&#xA;&#xA;“Ih emang iya tau, Kak. Nuna itu nggak terlalu ramah sebetulnya ke orang asing—yang bener-bener asing nggak kenal ya. Nggak gampang dapat kepercayaan dari Nuna tuh. Tapi ketika lo udah dipercaya Nuna, udah disayangin sama Nuna, dia bakal melakukan segalanya buat lo. Dia kalau udah sayang sama orang nggak main-main.”&#xA;&#xA;“Makanya Kak Jae, menurut gue lo nggak usah insecure, nggak usah setakut itu. Nuna gue satu itu bucin banget ke lo, Kak. Kalian berdua saling bucin ke satu sama lain sih kata gue. Tapi bedanya, Nuna apa adanya, dia cemburu lihat lo sama Jisoo misalnya, ya dia langsung omongin. Kalau lo kan nggak, dipendem aja sendirian, sok cool padahal cemburu.”&#xA;&#xA;“Tapi ya, sekali-kalinya tuh gue pernah utarain ke Luna gue cemburu lihat dia diajak dinner dan dianter pulang sama Yeonjun.”&#xA;&#xA;“Kasih tau aja ke Nuna kalau lo lagi nggak pengen dia jalan sama cowok lain—sekalipun itu temen doang ya. Dia bakal ngerti. Dan lagi kayaknya dia bakal suka lo cemburuin daripada lo terlalu nyantai. Belajar lebih ekspresif sih, Kak, ke Nuna. Gue tau lo bukan cowok romantis, tapi gue rasa nggak ada salahnya tiba-tiba lo lakuin apa kek ke dia, yang nggak biasanya lo lakuin.”&#xA;&#xA;“Thanks ya, Ric, buat masukannya. Buat ceritanya juga, gue nggak tau soal kejadian cowok-cowok tadi kalau bukan dari lo. Gue merasa semakin bersyukur gue punya Luna.”&#xA;&#xA;“Anytime, Kak. Gue juga tenang sih pas tau kalian akhirnya resmi jadian. Gue tenang Nuna dijagain sama lo, Kak. Lo orang baik.”&#xA;&#xA;Obrolan mereka terhenti ketika akhirnya tiba giliran mereka untuk memesan popcorn yang dari tadi diincar. Bersamaan dengan itu, Juyeon yang juga baru menyelesaikan teleponnya dengan sang kakak, kembali bergabung dengan Eric dan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Sorry lama,” kata Juyeon sambil mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. “Dari gue aja ya, on me.”&#xA;&#xA;“Dih, tiba-tiba dateng langsung maen bayar,” kata Eric sambil menunggu popcornnya disiapkan.&#xA;&#xA;“Makasih kek, malah protes,” balas Juyeon gemas.&#xA;&#xA;“Hehehe makasih banyak yaaa kakak Juyo traktiran popcornnya. Sekalian sama minum boleh nggak?”&#xA;&#xA;“Yeee, ngelunjak.”&#xA;&#xA;Seiring dengan cengiran lebar di wajah Eric yang diikuti ucapan terima kasih dari Hyunjae, Juyeon membayar semua jajanan popcorn dan minuman mereka sebelum kembali ke area tunggu wahana yang tadi ditinggalkan.&#xA;&#xA;\\\***&#xA;&#xA;Hari sudah semakin gelap dan dingin ketika akhirnya rombongan berdelapan ini keluar dari wahana terakhirnya. Dengan muka letih dan langkah kaki yang sudah mulai melunglai, mereka berjalan mengikuti arus lautan manusia yang memiliki tujuan yang sama—melihat closing parade dan kembang api yang akan dimulai tepat pukul delapan malam, lima belas menit dari sekarang.&#xA;&#xA;Orang-orang tampak rusuh dan berjalan buru-buru demi memburu spot terbaik untuk menikmati parade dan kembang api. Begitu pun dengan rombongan berdelapan ini, mengerahkan sisa tenaga yang ada mereka berusaha mencapai area parade secepatnya.&#xA;&#xA;Namun berbanding terbalik dengan langkah teman-temannya yang masih dengan kecepatan stabil, Luna memperlambat langkahnya ketika ia merasakan kedua telapak kakinya semakin tidak bisa diajak kompromi—pegal luar biasa, sedikit sakit ketika dipaksakan menapaki jalanan yang beraspal. Luna juga merasakan perih di bagian belakang pergelangan kaki di atas tumit, dan juga sekeliling jari-jari kakinya.&#xA;&#xA;Ketika mata Luna tidak sengaja melirik bangku kosong beberapa meter darinya, refleks tangannya mencengkeram tangan Hyunjae yang berjalan di sampingnya. Hyunjae menoleh kaget ke arah Luna yang mendadak berhenti berjalan dan menariknya ke sisi, keluar dari rombongan.&#xA;&#xA;“Kenapa, Na?” tanya Hyunjae bingung setengah panik melihat ekspresi tidak nyaman Luna.&#xA;&#xA;“Kakiku sakit,” jawab Luna. “Mau duduk dulu disitu, temenin ya?”&#xA;&#xA;“Ya udah ayo duduk dulu,” kata Hyunjae lagi sambil menggandeng Luna menuju bangku kosong di dekat mereka.&#xA;&#xA;Yeonjun dan Eric yang menyadari Luna dan Hyunjae keluar dari rombongan, segera menghampiri. Keduanya terlihat panik.&#xA;&#xA;“Kenapa kalian?” tanya Eric.&#xA;&#xA;“Kaki gue sakit,” Luna menjawab sambil berusaha melepas tali sepatunya. “Kalian jangan nungguin, duluan aja. Nanti ketinggalan parade loh.”&#xA;&#xA;Hyunjae yang sadar Luna kesulitan melepas sepatunya, memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Luna. Ditariknya pelan sebelah kaki Luna untuk diletakkan di atas pahanya, dan tangannya melepas tali sepatu Luna. Segera setelah sepatunya berhasil diloloskan, mata Hyunjae membesar melihat kaki putih mulus Luna dipenuhi bercak kemerahan karena lecet. Tidak heran Luna merasakan perih yang tidak tertahan.&#xA;&#xA;“Sayang, lecet semua kaki kamu ini,” Hyunjae bergumam sambil memijat lembut telapak kaki Luna. “Sakit nggak aku giniin?”&#xA;&#xA;Luna menggeleng. “Malah agak enakan kamu pijit telapaknya. Tapi jangan kena belakang tumit ya, perih.”&#xA;&#xA;“Kan tadi pagi aku udah minta kamu pakai kaus kaki, kamunya nggak nurut. Lecet kan jadinya.”&#xA;&#xA;“Iya aku nyesel, lain kali nurut pakai kaus kaki.”&#xA;&#xA;Masih sambil memijat telapak kaki Luna, Hyunjae beralih menatap Eric dan Yeonjun bergantian. “Nggak apa-apa tinggal aja, nanti kalau Luna udah baikan kita nyusul. Kalian duluan aja susulin mereka berempat.”&#xA;&#xA;“Serius nggak apa-apa kita tinggal?” Yeonjun memastikan. Ia pun meniru posisi berlutut Hyunjae dan kini ikut meneliti kaki Luna yang sedang dalam pijatan tangan Hyunjae. Sungguh ia sebetulnya masih khawatir dengan kondisi Luna tapi Yeonjun sadar, Luna sudah ditangani oleh Hyunjae. Kehadirannya tidak dibutuhkan di sini.&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa. Nanti kabarin aja kalian duduk di sebelah mana, kita samperin ke situ. Maaf ya, bikin repot,” kata Luna dengan wajah tidak enak.&#xA;&#xA;“Ya udah kalau gitu, kita tinggal ya,” kata Eric akhirnya. “Kasih tau secepatnya kalau butuh bantuan kita.”&#xA;&#xA;“Na, baik-baik ya?” Yeonjun berkata sambil mengusap bahu Luna. “Jaehyun… Maaf gue ngomong gini, tapi tolong titip Luna ya? She doesn’t look fine at all.”&#xA;&#xA;Tidak hanya Hyunjae, tapi Eric juga ikut terkejut mendengar kalimat Yeonjun barusan.&#xA;&#xA;Hyunjae tidak dapat menyembunyikan kesalnya kali ini. Ia mendengus sinis kelewat keras hingga bisa terdengar oleh mereka bertiga yang ada disana. “Nggak usah lo ngomong juga gue tau kondisi Luna nggak baik. Thank you anyway udah peduli sama cewek gue.”&#xA;&#xA;Sebelum situasi bertambah panas, Eric buru-buru menyeret Yeonjun meninggalkan Hyunjae dan Luna. “Guys, cabut ya kita. Nuna cepet baikan yaa.”&#xA;&#xA;Sepeninggal Eric dan Yeonjun, Hyunjae masih melanjutkan memijat telapak kaki Luna dengan ibu jari tangannya. Keningnya berkerut, hampir menautkan kedua alisnya.&#xA;&#xA;“Dia pikir dia siapa? Nitipin kamu ke aku… Nggak salah?” Hyunjae tahu, ia gagal menahan emosinya. Kalimat tadi meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum ia bisa cegah.&#xA;&#xA;Luna merunduk, disentuhnya bahu Hyunjae dan diusapnya. Berharap dengan begitu bisa meredakan emosi kekasihnya ini. “Sayang, jangan dimasukin hati ya? Mungkin dia ngomong gitu karena nggak enak mesti ninggalin kita di sini.”&#xA;&#xA;“Dia pikir aku nggak bisa jaga kamu dengan baik, makanya dia ngomong gitu.”&#xA;&#xA;“Hus, nggak, Yang. Nggak ada yang mikir begitu. Semua juga tau kamu yang terbaik soal jagain aku. Udah ya, jangan ngambek.”&#xA;&#xA;“Kamu ngebela dia?” Pijatan di kaki Luna terhenti. Hyunjae mengadahkan wajahnya, menatap Luna lurus dan tajam.&#xA;&#xA;Luna terhenyak, tidak siap ditatap tajam seperti itu oleh Hyunjae—untuk pertama kali dalam hidupnya. “Bagian mana dari kalimatku barusan yang terdengar seperti ngebela Yeonjun?”&#xA;&#xA;“Udah, stop mijitnya. Kakiku udah enakan,” Luna berkata lagi, ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari Hyunjae. Ditepisnya pelan tangan Hyunjae yang masih memegangi kakinya. “Maaf jadi ngerepotin kamu. Maaf juga gara-gara aku, kamu jadi ngerasa disalahin orang lain.”&#xA;&#xA;“Kamu kenapa jadi marah?” tanya Hyunjae bingung.&#xA;&#xA;“Kamu kesel sama Yeonjun tapi kamu marah-marahnya ke aku. Kamu nuduh aku ngebela dia, padahal maksudku bukan gitu sama sekali. Aku hanya nggak pengen kamu bad mood gara-gara kalimat Yeonjun yang terdengar sangat konyol buatku.”&#xA;&#xA;“I think he likes you.”&#xA;&#xA;“So what? Kalau ya dia suka sama aku lalu kenapa? Aku sayangnya sama kamu.”&#xA;&#xA;Hyunjae terdiam.&#xA;&#xA;Dalam hati ia agak menyesal tidak berpikir panjang sebelum melontarkan kalimat tadi pada Luna. Benar ia kesal pada Yeonjun, tapi tidak seharusnya dia melampiaskan pada Luna—yang bahkan sedang dalam kondisi fisik yang tidak begitu baik.&#xA;&#xA;“Yang kamu rasain ke Yeonjun, itu hal yang sama yang aku rasain ke Jisoo.”&#xA;&#xA;“Na, Jisoo nggak ada hubungannya ya sama masalah ini.”&#xA;&#xA;“Kamu nggak suka kan, aku ribut cemburuin Jisoo? Sama, aku juga nggak suka kamu ngeributin Yeonjun.”&#xA;&#xA;“Jangan disamain!” Hyunjae masih bertahan untuk tidak meninggikan suaranya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan kegusaran pada kalimatnya barusan. Rasa menyesal yang tadi sempat menyesap, mendadak hilang terganti dengan emosi yang kembali memuncak. “Aku nggak pernah ya, makan berduaan sama Jisoo. Sekali-kalinya aku anter dia pulang pun karena terpaksa, aku udah pernah jelasin.”&#xA;&#xA;“Tapi pas acara gathering kemarin, dia nempel terus ke kamu. Sekalinya aku protes, kamu malah balik marahin aku, kamu bilang aku cemburu nggak berdasar. Ya sekarang sama aku juga mau bilang, cemburu kamu ke Yeonjun itu nggak berdasar. Yeonjun baik dan care ke semua temennya, nggak hanya ke aku. Aku nggak paham kenapa kamu bisa terima Younghoon, Juyeon dan Eric deket sama aku, tapi nggak dengan Yeonjun.”&#xA;&#xA;“Don’t you hear yourself? You just defended him. Again.”&#xA;&#xA;Luna tidak percaya ini.&#xA;&#xA;Sepanjang hari ini ia dan Hyunjae baik-baik saja. Tidak pernah terbesit sedikit pun di benaknya, kebahagiaan hari ini akan tercoreng dengan pertengkaran tiba-tiba dengan Hyunjae. Dan ini bukan pertengkaran kecil pula.&#xA;&#xA;Sial! Luna mengumpat dalam hati. Kenapa pertengkarannya terjadi di malam yang seharusnya menjadi salah satu malam paling menyenangkan dalam hidupnya?&#xA;&#xA;“Aku akan buktiin omongan kamu soal Yeonjun salah,” kata Luna akhirnya. “Soon, aku bakal tanya langsung ke Yeonjun soal perasaan dia ke aku yang sebenarnya.”&#xA;&#xA;“Oke. Aku juga bakal tanya ke Jisoo—”&#xA;&#xA;“Nggak perlu,” Luna memotong ucapan Hyunjae sambil menggelengkan kepalanya. “Sebetulnya aku udah nggak kepikiran lagi soal Jisoo, karena aku percaya sama kamu. Maaf aku libatin dia malam ini, aku cuma kepancing aja.”&#xA;&#xA;Lalu keduanya berbarengan menghela nafas. Baik Luna dan Hyunjae sama-sama ingin segera mengakhiri perdebatan malam ini. Keduanya tidak nyaman karena merasa sudah saling menyakiti satu sama lain.&#xA;&#xA;“Can we… end this fight now? Paradenya sebentar lagi mulai. I don’t wanna miss it,” kata Luna lagi. Ia kemudian membungkuk untuk mengambil sepatunya. “Damn it!” Luna mengumpat lalu meringis kesakitan ketika rasa perih menjalar saat ia mencoba memasukkan kakinya ke dalam sepatu.&#xA;&#xA;Hyunjae bangkit dari posisi berlututnya. Ia merogoh tas ransel hitamnya, mencoba menemukan kotak obat travel size berwarna putih yang memang ia siapkan untuk keadaan darurat seperti ini. Seingatnya, ia sempat memasukkan salep anti iritasi dan band aid di dalam kotak itu.&#xA;&#xA;“Aku olesin salep dulu kakinya, mungkin agak perih sedikit. Tahan ya, Na.”&#xA;&#xA;“Nggak usa—”&#xA;&#xA;“Diem. Tahan.”&#xA;&#xA;Luna tidak berkutik ketika Hyunjae kembali dalam posisi berlututnya, meraih kaki Luna lagi dan mengoleskan salep iritasi di beberapa titik lecetnya. Rasa dingin dan perih menyatu ketika salep yang dioles Hyunjae menyentuh kulit Luna.&#xA;&#xA;“Jae, sshh perih—”&#xA;&#xA;“Maaf ya, tahan ya, biar cepet kering lecetnya.”&#xA;&#xA;Selesai mengoleskan salepnya, Hyunjae memutuskan untuk menutup luka lecet di tumit belakang Luna dengan band aid supaya tidak terlalu perih saat harus bergesekan dengan sepatu. Setelah dirasa cukup, Hyunjae sekali lagi bergantian memijiti telapak kaki kiri dan kanan Luna, sebelum akhirnya memakaikan kembali sepatu Luna di kakinya. Kali ini dilonggarkannya ikatan tali sepatunya untuk mengurangi himpitan di kaki Luna.&#xA;&#xA;“Masih perih?”&#xA;&#xA;“Mendingan.”&#xA;&#xA;“Coba berdiri.”&#xA;&#xA;Tepat ketika Luna mencoba untuk berdiri dari duduknya untuk memastikan apakah kakinya sudah kuat untuk dibawa berjalan lagi atau belum, tiba-tiba terdengar alunan musik parade dari kejauhan, disusul riuh sorak dari para pengunjung yang menyambutnya.&#xA;&#xA;“Udah mulai paradenya, aku pengen lihat.”&#xA;&#xA;“Cobain dulu kamu udah kuat jalan belum? Kalau belum jangan dipaksa. Anak-anak pasti pada ngerekam paradenya kok.”&#xA;&#xA;Luna sudah sepenuhnya berdiri dan dicobanya berjalan perlahan. Masih terasa sedikit perih tapi sudah tidak semenyiksa tadi.&#xA;&#xA;“Masih agak perih, tapi bisa jalan pelan-pelan.”&#xA;&#xA;“Mau nyusul anak-anak atau di sini aja?”&#xA;&#xA;“Mau nyusul, tapi kalau susah ketemunya ya udah sedapetnya tempat aja yang penting pengen lihat parade.”&#xA;&#xA;&#34;Bener kuat? Atau mau aku gendong? Piggy back?”&#xA;&#xA;“Nggak mau gendong, malu.”&#xA;&#xA;Hyunjae berdiri sambil menyampirkan kembali ranselnya. “Ya udah, ayo jalan pelan-pelan.”&#xA;&#xA;Dengan tangan melingkar di pinggang Hyunjae, Luna mengusahakan sisa tenaganya untuk berjalan perlahan mendekati area parade. Parade malam—sekaligus parade terakhir yang disuguhkan hari itu adalah parade yang sungguh Luna incar untuk dinikmati. Semakin Luna berjalan mendekati area parade, ingar bingar musik semakin jelas terdengar, membuat Luna semakin bersemangat ingin segera melihatnya.&#xA;&#xA;Luna merasa wajahnya memanas ketika ia sadar Hyunjae sedang mengecup pipinya—tiba-tiba. Ia mengeratkan pegangannya di pinggang Hyunjae, merapatkan tubuhnya hingga tidak ada celah sama sekali antara tubuhnya dan tubuh Hyunjae kini.&#xA;&#xA;“Aku minta maaf,” bisik Hyunjae lirih di telinga Luna. “Maaf ya, nggak seharusnya aku tadi marah ke kamu dan nuduh sembarangan. I didn’t mean to hurt you. I never meant to.”&#xA;&#xA;“I know,” jawab Luna. Ia terpaksa sedikit mengencangkan volume suaranya ketika alun musik parade semakin jelas terdengar. “Kamu dimaafin, jangan gitu lagi ya? Aku takut ditatap tajam kayak tadi sama kamu. Kalau nggak inget lagi di tempat umum kayaknya aku bisa nangis.”&#xA;&#xA;“Aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri kalau sampai bikin kamu nangis. I really am sorry, Luna.”&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga minta maaf ya, out of nowhere nyebut-nyebut Jisoo tadi.”&#xA;&#xA;“Udah ya, jangan dibahas lagi. Kita baik-baik aja kan sekarang?”&#xA;&#xA;“Baik-baik, dan aku tambah sayang sama kamu.”&#xA;&#xA;Hyunjae tahu ini tempat publik, tapi ia sudah tidak pedulikan lagi hal itu. Masa bodoh, pikirnya. Toh tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang di sekelilingnya ini.&#xA;&#xA;“Eeh, ngapain—” Luna tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya ketika bibir Hyunjae membungkam bibirnya. Lembut. Hyunjae tidak ingin melepaskannya buru-buru.&#xA;&#xA;Luna yang malu-malu dan kikuk karena mendapatkan ciuman tiba-tiba di tengah keramaian seperti ini, hanya terdiam saat bibirnya dipagut oleh bibir Hyunjae. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak membalas pagutannya.&#xA;&#xA;“You didn’t kiss me back?” tanya Hyunjae sesaat setelah melepaskan ciumannya.&#xA;&#xA;“Malu…”&#xA;&#xA;Hyunjae memagutkan bibirnya lagi di bibir Luna. Ketika dirasakannya kali ini Luna membalas pagutannya—pelan dan malu-malu—Hyunjae tersenyum dalam ciumannya.&#xA;&#xA;Tidak lama kemudian terdengar suara letusan kembang api tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Membuat langit malam yang menaungi mereka mendadak bersinar terang oleh cahaya kembang api. Hyunjae melepaskan lagi ciumannya, hanya untuk memandangi langit yang ramai dengan kiasan kembang api warna warni. Indah.&#xA;&#xA;Ditatapnya Luna yang juga sedang menikmati euforia kembang api yang masih juga belum kelihatan akan berhenti.&#xA;&#xA;“Cantik…” gumam Hyunjae.&#xA;&#xA;“Iya, cantik banget kembang apinya.”&#xA;&#xA;“No, I mean you. Kamu cantik.”&#xA;&#xA;Pipi Luna blushing. Kenapa Hyunjae jadi sering memujinya begini sih? Luna masih belum terbiasa mendengar pujian dari Hyunjae, jadi tiap kali Hyunjae memujinya hanya akan terdengar menggelikan di telingannya.&#xA;&#xA;“Geli ah. Kalau mau muji aku dalam hati aja nggak usah diomongin.”&#xA;&#xA;“Aneh, dipuji malah protes,” Hyunjae berkata dengan gemas. Sesaat sebelum kembang api berakhir, Hyunjae memutuskan untuk mencium Luna lagi.&#xA;&#xA;“And, here they are. Kissing.”&#xA;&#xA;Luna dan Hyunjae melepaskan ciumannya dan menoleh kaget ke arah sumber suara—yang ternyata adalah suara Younghoon yang berdiri sekitar sepuluh meter dari mereka. Dengan tangan terlipat di dada, Younghoon memperhatikan keduanya sambil menggelengkan kepala. Nara berada di sisinya, tersenyum cengengesan. Begitu juga Juyeon dan Sarah yang melemparkan senyum mengejek pada Luna dan Hyunjae.&#xA;&#xA;Eric terlihat menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah. Dan Yeonjun menunduk menatap lantai sambil menyunggingkan senyum sinis dengan hanya sebelah bibir terangkat.&#xA;&#xA;“Dapet kabar dari Eric, Luna kakinya sakit. Kita khawatir kalian nggak nongol-nongol dikirain Luna sama sekali nggak bisa jalan. Taunya asik ciuman,” protes Younghoon.&#xA;&#xA;Luna melingkarkan lagi tangannya di pinggang Hyunjae sambil berjalan mendekati teman-temannya. “Diem lo, kayak yang nggak pernah ciuman aja sama Nara,” ejek Luna.&#xA;&#xA;Younghoon mengacak rambut Luna. “Dih, nyebelin. Gimana kakinya? Gue denger tadi pagi Jaehyun nyuruh lo pakai kaus kaki tapi lo nggak mau.”&#xA;&#xA;“Iya, gue juga denger,” timpal Juyeon. “Bandel banget emang cewek lo ini, Jae. Udah bandel, ujungnya ngerepotin orang.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa melihat Luna yang cemberut karena diomeli Younghoon dan Juyeon.&#xA;&#xA;“Yang gue repotin itu Jaehyun ya, cowok gue sendiri. Bukan kalian. Jaehyunnya aja nggak protes, kok.”&#xA;&#xA;“Emang Jaehyun itu terlalu baik buat lo, Na.” Kali ini ejekan datang dari Nara. “Banyak-banyak sabar ya, Jae? Sorry temen gue satu ini ngerepotin lo terus.”&#xA;&#xA;“Udah dong, pada tega nih sama gue. Udah minta maaf kok guenya juga ke Jaehyun. Udah ah yuk, pulang. Tapi sambil cari makan ya? Gue kok laper banget.”&#xA;&#xA;Yang lain serempak setuju dengan ajakan Luna untuk pulang dan cari makan. Seharian bermain di USJ walaupun sudah dua kali makan berat dan banyak jajan snack, tetap membuat delapan orang ini lapar rupanya.&#xA;&#xA;Kali ini, kedai ramen menjadi tujuan mereka setelah meninggalkan USJ.&#xA;&#xA;---]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>CHAPTER 11.</strong></p>

<p>Beruntung sekali diantara rombongan delapan orang ini ada Juyeon dan Hyunjae yang lumayan fasih bahasa Jepang. Jadilah mereka berdua yang diutus untuk berkomunikasi dengan pemilik <em>penthouse</em> yang mereka sewa. Sebetulnya pemilik <em>penthouse</em> ini adalah sepasang suami-istri paruh baya, dan yang dua hari lalu berkomunikasi dengan Nara via e-mail untuk masalah <em>booking</em> adalah sang suami—yang fasih berbahasa Inggris. Tapi ketika mereka berdelapan sampai di <em>penthouse</em> sore ini, hanya istrinya yang tidak terlalu fasih berbahasa Inggris ini yang menyambut mereka—suaminya kebetulan ada urusan mendadak di luar yang tidak bisa ditinggal katanya.</p>

<p>Setelah proses serah terima kunci dan penjelasan rinci mengenai segala peraturan yang harus ditaati di <em>penthouse</em> ini selesai, istri pemilik <em>penthouse</em> ini pamit pulang.</p>

<p>“Tantenya ramah banget,” kata Juyeon sambil memastikan pintu utama sudah terkunci kembali. “Kata beliau kita nggak usah sungkan selama disini, yang penting jangan terlalu berisik kalau udah malam, jangan lupa kunci-kunci kalau mau pergi dan jaga kebersihan.”</p>

<p>“Kamar semuanya ada di atas, <em>master bedroom</em> di tengah. Habis tangga sebelah kiri itu kamar pertama, yang tengah <em>master bedroom</em>, sebelah kanannya kamar ketiga,” Hyunjae menambahkan. “Ke atas, yuk. Kita lihat dulu kamarnya sekalian beres-beres barang.”</p>

<p>Yeonjun dan Eric mendului yang lain langsung menenteng <em>travel bag</em> masing-masing, berjalan menapaki tangga menuju lantai dua. Disusul oleh Juyeon dan Sarah, lalu Younghoon dan Nara.</p>

<p>Luna baru akan mengambil koper <em>cabin size</em>-nya—koper andalan yang selalu ia pakai juga kalau lagi dinas ke luar kota—ketika dilihatnya koper itu sudah dalam tentengan tangan Hyunjae.</p>

<p>“Berat, kamu nggak akan kuat,” kata Hyunjae seakan tahu apa yang ada di pikiran Luna.</p>

<p>“Aku kuat, kok. Nggak seberapa berat itu isinya,” sahut Luna, gengsi. Karena ia melihat Nara dan Sarah tadi menenteng sendiri bawaannya. Luna takut dicap manja kalau teman-temannya melihat kopernya ditenteng Hyunjae.</p>

<p>“Nggak usah sok kuat,” kata Hyunjae lagi jahil, sambil berjalan menuju tangga melewati Luna yang masih memandangi kopernya—kekeuh ingin membawanya sendiri ke atas.</p>

<p>Akhirnya Luna mengikuti langkah Hyunjae menapaki anak tangga satu-satu, menuju lantai dua, dengan tangan kosong. Hanya <em>tote bag</em>-nya saja yang tersampir di bahu kanannya.</p>

<p>Sampai di lantai dua, ternyata sudah diputuskan bahwa <em>master bedroom</em> yang terletak di tengah koridor akan ditempati oleh para cewek. Kamar pertama yang paling dekat tangga, ditempati Younghoon, Juyeon dan Yeonjun. Kamar ketiga di ujung sana otomatis menjadi jatah Eric dan Hyunjae.</p>

<p>Ukuran kamar pertama dan ketiga sama persis. Tersedia dua <em>single bed</em> dan satu <em>sofa bed</em> yang empuknya tidak kalah dengan kasur. Alhasil di kamar pertama, Yeonjun yang kalah dalam gunting-batu-kertas kebagian <em>sofa bed</em>  sebagai alas tidurnya selama dua malam nanti.</p>

<p>Di <em>master bedroom</em> alias kamar utama, ada satu kasur <em>king size</em> yang cukup luas menampung tubuh-tubuh ramping Nara, Sarah dan Luna.</p>

<p>Setelah saling mengecek keadaan kamar masing-masing, mereka sepakat untuk membersihkan tubuh sekaligus mandi dan membereskan barang bawaan mereka dulu, sebelum nantinya berkumpul lagi di ruang TV di bawah untuk menentukan akan kemana mereka malam nanti.</p>

<p>Di <em>master bedroom</em>:</p>

<p>“Lo pergi dua malam aja bawa koper segala sih, Na. <em>Travel bag</em> doang nggak cukup emangnya? Bawa apa aja coba sih gue lihat.” Nara yang sedang duduk bersila berdampingan dengan Luna yang sedang membuka kopernya, berkata penasaran sambil melongokkan kepalanya mengintip isi koper Luna.</p>

<p>“Ini barang gue berdua Jaehyun,” jawab Luna. Dikeluarkannya satu kotak <em>travel organizer pouch</em> berukuran besar berisi pakaian, dan satu lagi berukuran kecil berisi <em>toiletries</em> milik Hyunjae.</p>

<p>“Gile bener-bener kalian tuh ya, barang bawaan aja disatuin. Udah kayak suami istri. Gue aja yang udah tunangan sama Juyeon barangnya bawa sendiri-sendiri, Na,” Sarah ikut berkomentar.</p>

<p>“Bukan sok romantis ih, biar simpel aja gitu nggak banyak tentengan. Jadi nanti balik dari sini bawaannya cuma koper satu sama belanjaan kalau ada. Ini idenya Jaehyun, gue sih nggak kepikiran.”</p>

<p>“Iya juga ya, gue juga nggak kepikiran gitu sama Younghoon. Ah tapi si Hoon emang paling nggak bisa <em>packing</em> dia tuh, mana ada dia mikirin soal barang bawaan. Punya dia aja gue yang beresin.”</p>

<p>“Jaehyun juga suka males <em>packing</em>, kalau dia mau keluar kota suka minta tolong gue beresin. Gue sih seneng aja, milihin baju buat dia pake.”</p>

<p>“Lah gue malah kebalik, Juyeon yang rapiin baju gue kalau kita mau <em>traveling</em> hahaha. Kadang gue dinas keluar juga dia yang aturin baju gue. Aneh ya?”</p>

<p>Luna dan Nara terkekeh menanggapi cerita Sarah. Sudah hafal dengan kebiasaan slengean sahabatnya itu. Cantik tapi slengean, itu Sarah.</p>

<p>“Bentar ya, gue ke kamar sebelah dulu ngasiin barangnya Jaehyun.”</p>

<p>Nara dan Sarah mengangguk.</p>

<p>Sepeninggal Luna, Nara bertanya pada Sarah perihal rencana pernikahannya dengan Juyeon.</p>

<p>“Kayanya awal tahun depan, habis tahun baruan deh. Rencananya bulan Januari pas hari ulang tahun Juyeon, tanggal dua puluh empat.”</p>

<p>“Udah mulai cari vendor dong lo?”</p>

<p>“Udah, dibantuin istrinya kakaknya Juyeon, dia punya temen <em>wedding organizer</em> gitu. Dulu waktu kakaknya Juyeon nikah juga pakai WO temen istrinya itu. Gue sama Juyeon ngikut aja. Kita berdua nggak pengen nikah ribet, pengen yang simpel aja yang penting sah dulu.”</p>

<p>“Apa rasanya, Sar? Bahagia banget pasti lo ya? Gue iriii, si Hoon masih belum ada tanda-tanda ngelamar gue.”</p>

<p>“Sabar ya, Sayang. <em>Sooner or later</em> lo bakal jadi <em>the happiest bride</em> di altar bareng Hoon. Sebelumnya, latihan jadi manten dengan jadi <em>bridesmaid</em> gue dulu ya. Gue mau lo, Luna dan Hyuna yang jadi <em>bridesmaid</em> gue.”</p>

<p>“Wuaaa, <em>I’d love to</em>! Biar cepet ketular nikah juga gue.”</p>

<p>Sarah tertawa, menampilkan lesung pipinya yang hanya ada sebelah—di pipi kirinya. “Biar lo sama Luna ketular nikah, dan Hyuna cepet-cepet dijadiin sama Eric. Kasian itu anak berdua, nggak capek apa ya jalanin hubungan tanpa status gitu.”</p>

<p>Kini giliran Nara yang terkekeh. “Tega banget emang si Eric. Kasian banget gue lihat muka Hyuna memelas kayak pengen diajak kesini, tapi sama Eric nggak diajak. Nggak peka apa gimana sih bocah satu itu hadeh.”</p>

<p>“Eh, Nar, gosip dong. Mumpung nggak ada Luna, nggak enak gue kalau ada dia.”</p>

<p>“Dih apaan sih lo, ngomongin Luna?”</p>

<p>“Bukan Lunanya.”</p>

<p>“Lah terus?”</p>

<p>Sarah terdiam, ia yang tadinya semangat ingin bercerita pada Nara, mendadak ragu. Sudah cukup lama ia memendam cerita ini sendirian dan ingin sekali bisa ia bagi dengan Nara—ya, hanya dengan Nara. Sarah paham hal ini tidak baik untuk diketahui oleh Luna.</p>

<p>“Janji lo ya, jangan cerita lagi ke Luna. Setitik pun nggak boleh.” Sarah lalu mengangkat jari kelingkingnya, menyodorkan di hadapan muka Nara. “<em>Pinky swear</em> dulu.”</p>

<p>Kelingking Nara bertaut dengan kelingking Sarah. “Janji. Cepetan, cerita apa?”</p>

<p>“Hyuna cerita ke gue, dia dicurhatin sama Eric katanya. Soal Yeonjun.”</p>

<p>“Ha? Yeonjun kenapa?”</p>

<p>“Ini lo pasti kaget sih. Gue juga kaget soalnya waktu Hyuna cerita. Gue udah dari kapan pengen banget cerita ke lo tapi susah, kita bareng-bareng mulu sama Luna soalnya.”</p>

<p>“Duh apaan sih gila, gue penasaran banget.”</p>

<p>“Yeonjun itu suka sama Luna.”</p>

<p>“HAH?!”</p>

<p>“Kaget kan? Sama gue juga. Dan lo tau? Udah lama, sebelum Luna kenal Jaehyun. Pas Luna baru banget pindah ke kantor kita dari Yongsan, lebih tepatnya. Si Yeonjun udah langsung naksir begitu lihat Luna di hari pertama dia masuk kantor kita.”</p>

<p>Nara masih tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya dari Sarah. Matanya masih membulat terpana, telapak tangannya menutupi mulutnya yang setengah menganga karena kaget. “Tapi gue nggak lihat gelagat Yeonjun naksir Luna sama sekali. Apa gue yang nggak peka sih?”</p>

<p>“Emang iya, kita semua nggak ada yang sadar soalnya emang Yeonjun nutupin hal itu. Cuma Eric satu-satunya yang tau soal ini. Jangankan ke kita, ke Lunanya pun Yeonjun nggak nunjukin dia suka.”</p>

<p>“Wah parah nih si Eric, pengen gue tebas lehernya anak pecicilan satu itu. Kenapa dia nggak cerita-cerita sih.”</p>

<p>“Ya nggak mungkinlah, Eric pasti ngejaga privasi Yeonjun. Hyuna juga awalnya nggak tau, tapi akhirnya Eric cerita ke Hyuna sekarang karena dia gerah banget dicurhatin Yeonjun soal Luna mulu akhir-akhir ini. Padahal dulu Eric udah mau bantuin Yeonjun biar deket sama Luna, eh Yeonjunnya maju mundur terus sampe akhirnya malah Eric kan yang deket sama Luna.”</p>

<p>“Lah sekarang Luna udah sama Jaehyun terus gimana?”</p>

<p>“Nah itu, si Yeonjun baru kerasa nyesel banget dia sekarang. Jadinya dia sering galau gitu deh ke si Eric, ya Eric males sih lama-lama, dia kesel dulu pas Luna masih sendiri kenapa nggak ada <em>action</em> banget Yeonjunnya. Sekarang udah gini nyesel. Dan kemarin Yeonjun cerita ke Eric dia habis ngajak Luna makan malam pulang kantor, terus nganterin pulang. Eric cuma takut Yeonjun kebablasan dan jadi ngerusak hubungan Luna sama Jaehyun.”</p>

<p>“Duh, nggak nyangka banget gue. Kok jadi rumit gini ya? Tapi si Yeonjun kuat juga ya, dia tetep ikut liburan padahal ada Jaehyun.”</p>

<p>“Kata Eric tadinya Yeonjun mau <em>cancel</em> tapi akhirnya dia berubah pikiran. Nggak papa ada Jaehyun yang penting dia bisa tetep lihat Luna.”</p>

<p>“Aaarghh <em>this is crazy</em>! Beneran kita harus cariin cewek ini sih buat Yeonjun. Horor gue, Sar, serem si Yeonjun nekat.”</p>

<p>“Ya makanya, ngerti kan kenapa gue gatel banget pengen cerita ini ke lo? Tapi <em>please</em> berhenti di kita aja ya cerita ini. Hoon jangan tau, gue juga nggak ngomong apa-apa ke Juyeon. Lo kebayang nggak sih, apa nggak dilabrak itu Yeonjun kalau Juy dan Hoon tau. Mereka berdua kan protektif ke si Luna.”</p>

<p>“Iya juga ya. Si Luna beruntung banget, dia dikelilingi empat cowok ganteng-ganteng yang <em>care</em> sama dia. Ya nggak sih?”</p>

<p>“Hahaha iya. Tapi anehnya gue nggak pernah cemburu dengan kenyataan kalau Juyeon sama Luna itu deket banget.”</p>

<p>“Ya sama gue juga, nggak pernah <em>jealous</em>. Nggak <em>fair</em> juga sih lagian kalau kita cemburuin mereka, Sar. Jelas-jelas mereka bertiga udah sahabatan dari jaman kuliah, jauh sebelum kenal kita. Lagian yang gue respek dari Luna tuh, dia bener-bener tau betul <em>boundaries</em> ketika Younghoon udah jadian sama gue. Dia nggak pernah ngusik hubungan gue sama Younghoon.”</p>

<p><em>Cklek!</em></p>

<p>Pintu kamar mendadak terbuka tepat setelah Nara menyelesaikan kalimat terakhirnya.</p>

<p>“Ya ampun masih belum selesai juga? Kirain udah ada yang mandi kalian tuh. Gue aja duluan mandi boleh ya.”</p>

<p>Luna yang kini sudah kembali bergabung di dalam kamar, hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat kondisi <em>travel bag</em> Sarah dan Nara yang sepertinya tidak ada perubahan seperti saat ia tinggal tadi.</p>

<p>“Ya udah lo mandi duluan, abis itu gue ya,” Nara menyahuti.</p>

<p>Sesaat setelah pintu kamar mandi tertutup dengan Luna di dalamnya, Nara dan Sarah hanya saling pandang sambil bernafas lega karena episode cerita mereka selesai tepat waktu.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Jam tujuh malam, mereka berdelapan sudah berkumpul lagi di ruang TV lantai satu—dengan wajah segar karena semuanya sudah selesai beres-beres, mandi dan istirahat di kamar masing-masing tadi.</p>

<p>TV yang menyala hanya bertugas sebagai peramai suasana namun layarnya terabaikan, tidak ada yang fokus dengan tayangannya.</p>

<p>Karpet bulu halus dan tebal berwarna cokelat muda yang tergelar menjadi alas duduk bagi Eric, Hyunjae dan Luna. Sofa empuk yang menghadap TV diduduki Younghoon, Juyeon dan Yeonjun, sementara itu Nara dan Sarah masing-masing menduduki dua <em>single sofa</em> yang ditata berhadapan dengan <em>coffee table</em> sebagai perantara di tengah.</p>

<p>“Jadi, mau makan apa kita? <em>Delivery</em> atau mau keluar?” tanya Juyeon.</p>

<p>“Keluar, yuk! Gue pengen jajan <em>street food</em>,” Nara yang pertama kali menjawab dengan antusias. “Yang, jadi kan kita ke Dotonbori?” tanyanya lagi, kini matanya tertuju pada sepasang mata milik sang kekasih, Younghoon, yang langsung membalasnya dengan anggukan.</p>

<p>“Gue sama Jaehyun juga mau ke Dotonbori sih, tapi kita mau makan mentai sushi, udah nyari tempatnya ada di sekitaran Dotonbori <em>street</em>,” kata Luna.</p>

<p>“Ikuuut, gue juga mau mentai sushi!” Eric setengah berteriak saking <em>excited</em>, sambil mengacungkan tangannya ke atas. Tingkahnya ini membuat Eric mendapat geplakan pelan di pahanya dari Hyunjae. “Kaget oi,” kata Hyunjae. Luna menertawai Hyunjae yang tadi sempat agak terlonjak kaget akibat teriakan Eric. Yang pahanya digeplak cuma bisa cengengesan.</p>

<p>“Ya udah, ke Dotonbori aja semuanya ya, gimana? Nanti disananya mau mencar lagi sih nggak apa-apa. Tinggal janjian ketemuan lagi aja di depan Glico,” putus Juyeon akhirnya. “Giliran siapa aja mau nyetir nih? Gue sama Jaehyun udah kebagian tadi nyetir dari bandara. Gantian heh.”</p>

<p>“Yaudah, CR-V gue yang nyetir deh,” kali ini Yeonjun yang bersuara.</p>

<p>“Oke, gue nyetir HR-V kalau gitu,” tambah Younghoon.</p>

<p>Lima belas menit setelah mereka selesai bersiap-siap, dua mobil yang sama-sama berwarna putih yang mereka sewa itu akhirnya meluncur meninggalkan <em>penthouse</em>. Di dalam CR-V, diisi Yeonjun, Juyeon, Sarah dan Eric. Di mobil satunya, diisi Younghoon, Hyunjae, Luna dan Nara. Juyeon dan Hyunjae yang kebagian tugas memantau GPS diharuskan duduk di depan menemani Yeonjun dan Younghoon.</p>

<p>Semoga mereka tidak kesasar dan acara jalan-jalan malamnya lancar!</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>“Tuhaaan, enak bangeeet!”</p>

<p>Ini sudah sushi ketiga yang masuk mulut dan Luna masih tetap mengerangkan kalimat yang sama. Sushi mentai yang diidamkannya akhirnya kesampaian untuk dinikmati.</p>

<p>“Belepotan tuh mentainya,” Hyunjae berkata sambil menyeka sisa-sisa saus mentai di ujung bibir Luna dengan ibu jarinya. “Yang rapi makannya.”</p>

<p>Luna tersipu, malu. “Hehe, iya…”</p>

<p>“Mimpi apa ya, gue, makan bertiga di Osaka sama kakak-kakak kesayangan gue yang tadinya <em>strangers</em>, sekarang pacaran mesra banget gini.”</p>

<p>“Mesra apanya, Ric?”</p>

<p>“Ya itu tadi lo nyekain bibirnya <em>nuna</em>. Mesra kali itu, Kak.”</p>

<p>“Bukan mesra, gemes aja gue liatnya. Luna kalau nemu makanan enak emang suka mendadak celamitan.”</p>

<p>“Yang, bongkar aja terus aib aku.”</p>

<p>“<em>Nuna</em>, nggak usah dibongkar Kak Jae juga gue udah paham banget jenis aib lo apa aja.”</p>

<p>“Ngeselin ih Eric!”</p>

<p>Refleks, Eric menghindarkan kepalanya ke kiri ketika dilihatnya Luna melemparkan gulungan tisu ke arahnya. Luna baru akan melemparkan gulungan tisu kedua ketika tangannya buru-buru ditahan oleh Hyunjae.</p>

<p>“Udah dong, Na, aduh. Malu ntar diliatin.”</p>

<p>“Iya ih, <em>Nuna</em> gimana sih. Bocah banget.”</p>

<p>Luna mencebikkan bibirnya—hanya bercanda. Dalam hati ia sungguh menikmati momen makan malam bertiga ini dengan Hyunjae pacarnya, dan juga Eric yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.</p>

<p>“<em>Nuna,</em> udah ngabarin Kak Jae belum? Soal <em>bridesmaid</em>?” celetuk Eric tiba-tiba.</p>

<p>Ah iya, Luna jadi ingat.</p>

<p>Tadi sore Sarah mengabarinya soal dirinya yang dipilih menjadi salah satu <em>bridesmaid</em> di hari pernikahan Sarah nanti.</p>

<p>“Eh iya, Yang. Tadi Sarah bilang aku, Nara sama Hyuna jadi <em>bridesmaid</em> di nikahannya nanti. Otomatis kamu jadi <em>groomsman</em>-nya Juyeon ya.”</p>

<p>“Juyeon tadi juga udah sempet ngomong ke aku, tapi sekilas doang dia belum bilang siapa aja. Jadinya bertiga ya? Aku sih nggak apa-apa, tapi jadi nggak enak sama Yeonjun, malah aku yang diajak bukannya Yeonjun.”</p>

<p>“Kak Yeon soalnya nggak ada pasangannya, jadi dia mundur dari jajaran <em>groomsmen</em>. Nggak tau deh kalau tiba-tiba nanti dia nemu pacar menjelang nikahannya Kak Juyo. Si jomblo, dasar.”</p>

<p>“Heh bocah, lo juga jomblo ya. Itu si Hyuna kapan mau dikasih status gue tanya? Keburu diambil orang nyesel lo nanti.”</p>

<p>“Kagak, dia bucin ke gue.”</p>

<p>“Dih, pede. Jangan gitu, Ric. Beneran deh cepetan jadiin, kasian anak orang lo gantungin kelamaan. Jangan kayak Yeonjun, keburu nyesel gebetannya diambil orang.”</p>

<p>Eric terbatuk. Kaget. “Tau dari mana lo, Kak, soal itu?”</p>

<p>“Yeonjun? Lah dia yang cerita. Ih lo gimana sih, kan ada lo juga pas kita lagi <em>dinner</em> di resto hotel di Gwangju. Dia kan cerita kecolongan gebetannya keburu dipepet orang.”</p>

<p>“Eeh—Oh yang pas itu. Iya iya, inget gue sekarang.” Setengah mati Eric berusaha menghilangkan perasaan kaget dan gugupnya, terlebih ketika Eric menyadari ada sepasang tatapan curiga menghujamnya. Tatapan mata dari Hyunjae.</p>

<p>“Emang siapa gebetannya Yeonjun?” tanya Hyunjae kalem, kontras dengan tatapan matanya yang menyipit tajam ke arah Eric.</p>

<p>“Nggak tau gue, Kak. Nggak bilang dia.”</p>

<p><em>Duh mampus!</em> Eric merutuki dirinya dalam hati. Ia sungguh merasa tidak enak harus terpaksa berbohong pada Hyunjae yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri itu. Tapi untuk berkata yang sebenarnya juga sangat tidak mungkin. Eric horor sendiri membayangkan reaksi Hyunjae jika tahu perempuan yang disukai Yeonjun adalah Luna.</p>

<p>“Tuh, orangnya dateng. Panjang umur,” celetuk Luna tiba-tiba. Tangannya otomatis terangkat ke atas, mengisyaratkan keberadaannya pada sosok jangkung yang baru tiba di kedai sushi ini.</p>

<p>Mata Eric melotot melihat Yeonjun—manusia terakhir yang ia inginkan berada di tempat ini bersama mereka—berjalan santai dengan satu tangan terselip di saku celananya dan tangan satunya menenteng <em>paper bag</em> berwarna oranye. Ke arah mereka.</p>

<p>“Hai,” sapa Yeonjun. Lalu ia mendudukkan dirinya di kursi kosong di samping Hyunjae. Posisi duduk mereka sebelumnya adalah Eric dan Luna duduk bersebelahan menghadap ke arah pintu masuk kedai, dan Hyunjae membelakangi pintu masuk, duduk di hadapan Luna. Dengan kini Yeonjun bergabung di sebelah Hyunjae, maka Yeonjun duduk berhadapan dengan Eric—yang sedang berusaha keras menetralkan raut wajahnya yang sedang panik.</p>

<p>“Kok tau kita disini?” akhirnya setelah berdeham pelan, Eric mencoba menyelamatkan suasana.</p>

<p>“Nanya Luna.” Jawaban enteng Yeonjun membuat Eric tercengang—lagi dan lagi. “HP lo kemana? Gue <em>chat</em> nggak dibalas-balas akhirnya gue tanya Luna. Nggak apa-apa kan gue gabung sini?”</p>

<p>“Nyantai aja, nggak apa-apa lah.” Yang menjawab kali ini adalah Hyunjae, bukan Eric. “Abis dari mana lo, Yeon? Yang lain pada kemana?”</p>

<p>“Sarah-Juyeon sama Nara-Younghoon pada mencar sih, nggak tau kemana. Gue sih jalan-jalan aja tadi sendirian, eh tau-tau nemu Takomasa yang katanya jual takoyaki terenak se-Osaka. Beneran seenak itu banget ternyata. Nih cobain deh.”</p>

<p>Yeonjun mengeluarkan satu kotak persegi dari <em>paper bag</em>-nya yang ternyata berisi takoyaki. Dibukanya kotak itu dan tampilan enam buah takoyaki bertabur <em>katsuboshi</em> sungguh menggugah selera seakan meminta untuk dicicip. Aroma harum khas takoyaki langsung memanjakan hidung mereka.</p>

<p>“Makasih, Yeon. Udah nggak usah, kita juga ini baru makan kok—”</p>

<p>“Mau cobain, boleh ya?” Luna menyela ucapan Hyunjae yang tadinya akan menolak tawaran takoyaki dari Yeonjun.</p>

<p>“Cobain aja, abisin juga boleh kalau mau. Doyanan lo kan ini takoyaki. Enak banget deh, Na, nggak bohong gue.” Yeonjun mendekatkan kotak takoyakinya ke arah Luna. “Hati-hati panas.”</p>

<p><em>Astaga, Kak Yeon bener-bener! Biasa aja kek nada ngomongnya nggak usah sok dilembutin gitu</em>. Eric bermonolog dengan dirinya sendiri melihat adegan yang ia harap tidak nyata ini di hadapannya. <em>Serem banget Kak Jae natapnya udah kayak mau nerkam orang</em>. <em>Tuhaaan, gue pengen kabur!</em></p>

<p>Setelah menghabiskan bulatan takoyaki pertamanya, Luna mengangguk setuju ke arah Yeonjun. “Iya enaaak,” ucapnya setengah merengek.</p>

<p>“Ya kan? Ambil lagi, abisin aja.”</p>

<p>“Satu lagi boleh ya? Nggak mau abisin, kenyang.”</p>

<p>“Iya boleh, terserah lo mau ambil berapa biji juga.”</p>

<p>Suasana yang terasa biasa saja bagi Luna, tapi sungguh amat menegangkan bagi Eric ini terinterupsi oleh dering ponsel Luna yang disimpan di atas meja. Nama Nara tertera di layar ponsel Luna.</p>

<p>Eric diam-diam menghela nafas lega, berharap telepon dari Nara bisa menyelamatkannya dari situasi mencekam ini. Eric yang sudah lama mengenal Hyunjae paham betul pasti ada gemuruh emosi yang sedang ditahan Hyunjae di balik raut wajahnya yang tetap tenang dan kalem saat ini. Sebelum pertahanan emosi Hyunjae runtuh, Eric sungguh ingin mereka berempat segera keluar dari kedai—entah itu untuk kemudian berpencar atau segera berkumpul lagi dengan Younghoon-Nara dan Sarah-Juyeon.</p>

<p>“Mereka berempat lagi di Don Quijote, tadi habis naik <em>ferris wheel</em> dan sekarang lagi lanjut belanja disana,” kata Luna setelah teleponnya dengan Nara selesai. “Yang, aku mau kesana. Mau naik <em>ferris wheel</em>. Temenin.”</p>

<p>“Iya aku temenin. Habisin dulu sushinya baru kita kesana. Tinggal kamu yang belum selesai nih makannya.”</p>

<p>Eric yang melihat celah ini langsung beraksi tanpa menyiakan kesempatan. Ya, kesempatannya untuk kabur dari situasi ini. “Kak Yeon, kita duluan aja, yuk? Gue masih pengen jajan <em>street food</em>, abis itu nyusul ke Don Quijote. Yuk.”</p>

<p>“Nanti aja sih barengan.”</p>

<p>Ingin rasanya Eric menghantam batu bata ke kepala Yeonjun kalau ia tidak ingat situasi dan kondisi. “Sekarang ah. <em>Nuna</em> makannya lama, gue pengen jajan nanti kemaleman keburu habis.”</p>

<p>Akhirnya Yeonjun mengiyakan. Sebetulnya ia tidak rela meninggalkan kedai ini duluan hanya berdua Eric, tapi ada sebagian dalam dari Yeonjun yang menyuruhnya untuk mengikuti kemauan Eric. Yeonjun paham, ajakan Eric pergi duluan bukan semata karena Eric sebegitu inginnya menikmati <em>street food</em>.</p>

<p>“Duluan ya. Nanti ketemu di Don Quijote, oke?” pamit Eric.</p>

<p>“Oke, nanti teleponan aja,” kata Hyunjae.</p>

<p>“<em>Thank you</em>, Yeon takoyakinya!”</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Tidak sampai setengah jam setelah Eric dan Yeonjun meninggalkan kedai sushi, Luna dan Hyunjae menyusul. Tetapi alih-alih terburu-buru, mereka berdua memilih untuk melangkahkan kaki dengan santai, menikmati kesibukan tengah kota Dotonbori di malam minggu. Mereka berjalan menyusuri Tombori River—kanal sungai buatan yang membentang vertikal sepanjang arah timur ke barat distrik Dotonbori. Don Quijote tempat mereka janjian bertemu dengan yang lain, terletak di seberang kanan sungai, berlawanan dengan mereka yang saat ini sedang berada di sisi kiri sungai.</p>

<p>Hyunjae melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luna, menimbulkan tanda tanya spontan yang langsung Luna utarakan.</p>

<p>“Kok dilepas?” tanya Luna bingung.</p>

<p>“Tanganmu dingin banget, Na. Kamu kedinginan? Masuk saku <em>coat</em> aja tangannya ya, sambil pegang <em>hot pack</em>. Mana <em>hot pack</em>-nya?”</p>

<p>“Ini.” Tangan kanan Luna yang memang sedari tadi berada di dalam saku <em>coat</em>-nya mengangkat <em>hot pack</em> yang ia genggam. “Tanganku yang ini dari tadi hangat kok, kan pegang <em>hot pack</em>.”</p>

<p>“Iya tapi yang kiri dingin banget. Nggak usah pegangan lagi ya, tangan kamu masuk saku aja.”</p>

<p>“Tapi aku nggak kedinginan. Tangan kirinya nggak mau masuk saku, mau pegangan tangan kamu aja.”</p>

<p>Setelah berkata begitu Luna menarik tangan Hyunjae, kali ini tidak menggenggamnya seperti tadi tapi menautkan jari-jari mereka. Erat.</p>

<p>“Lebih anget begini daripada pegang <em>hot pack</em>,” kata Luna lagi.</p>

<p>“Dasar,” balas Hyunjae dengan bergumam. Ia mengeratkan tautan jarinya di jari Luna sedikit lagi. Berusaha membuat jari-jari Luna terlindung dari suhu musim gugur yang semakin rendah di malam hari.</p>

<p>“Yang,” panggil Luna.</p>

<p>“Hm?” Hyunjae menoleh ke samping kanannya, mendapati Luna sedang menatapnya dengan kerlingan mata berbinar. Kedua pipi Luna bersemu merah sebagai reaksi atas udara dingin—membuat Hyunjae menjadi agak terpana melihatnya. Sudah berjam-jam ia habiskan bersama Luna, tapi bagaimana bisa Hyunjae baru menyadari bahwa Luna sungguh terlihat cantik sekali malam ini. Tanpa riasan wajah berlebihan, hanya sapuan lipstik berwarna pink muda saja satu-satunya riasan di wajah Luna.</p>

<p>“Apa, Cantik?” tanya Hyunjae lagi ketika Luna tidak kunjung berbicara, hanya terus menatapinya saja.</p>

<p>“Aku seneng banget malam ini. Jalan-jalan sama anak-anak, makan enak bareng kamu dan Eric. Dan sekarang kita jalan berduaan di sini. Kamu tau aku suka banget suasana malam. Kamu dan malam, aku bahagia karena itu.”</p>

<p>Langkah mereka berdua terhenti. Keduanya menepi, memberi jarak agar tidak mengganggu lalu lalang orang lain.</p>

<p>“Makasih buat liburannya,” Luna mengakhiri kalimatnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hyunjae—sambil setengah berjinjit— memberinya kecupan singkat di pipi kanan Hyunjae. “<em>I love you. So much.</em>”</p>

<p>“<em>You deserve it</em>.” Hyunjae memutar tubuhnya, membuatnya yang tadinya berdampingan dengan Luna, kini menjadi berhadapan. Tangan kirinya yang bebas, mengelus pucuk kepala Luna. Lalu turun ke pipi, dan kini ibu jarinya sedang mengusap bibir ranum Luna. “Kalau nggak inget lagi di tempat umum, udah aku cium.”</p>

<p>“Nanti aja di <em>ferris wheel</em>.”</p>

<p>“Hahaha kamu pengen juga ternyata dicium.”</p>

<p>Mereka melanjutkan berjalannya lagi.</p>

<p>“Na, sebetulnya aku mau ngomong soal proyek di Busan.”</p>

<p>“Kenapa sayang? Ngomong aja.”</p>

<p>“Yang pas aku ada <em>late meeting</em> itu, Mr. Choi CEO-ku bilang kayanya <em>soon</em> timku harus mulai kunjungan ke Busan. Kemungkinan awal November, yang artinya sekitaran minggu depan.”</p>

<p>“Berapa lama di sana?”</p>

<p>“Mungkin dua mingguan.”</p>

<p>Langkah Luna terhenti lagi, kali ini mendadak. Hyunjae yang sudah selangkah lebih maju, memundurkan lagi langkahnya demi bisa sejajar kembali dengan Luna.</p>

<p>“Dua minggu aku nggak bisa ketemu kamu?”</p>

<p>“Iya sayang, maaf ya? Gimana lagi…”</p>

<p>“Nggak usah minta maaf, Yang. Nggak apa-apa, aku tentu bakal dukung karir kamu. Dengan cara, aku janji nggak akan rewel selama ditinggal kamu ke Busan. <em>I’ll be a good girl</em>, biar kamu bisa kerja tenang dan nggak kepikiran.”</p>

<p>“Jangan rewel, dan jangan genit juga. Nggak usah minta dianterin pulang sama cowok lain kalau nggak kepepet dan nggak darurat—inget, kecuali Juyeon, Younghoon, Eric.”</p>

<p>“Sayaaang, aku nggak pernah genit ih. Nggak pernah juga aku minta-minta dianterin pulang kalau bukan mereka yang maksa mau nganterin.”</p>

<p>“Selama aku nggak ada, kamu ke kantor bawa mobil tiap hari ya. Nggak usah naik kereta atau bis, udah menjelang musim dingin soalnya.”</p>

<p>“Iya, sayangku. Ini aku masih di depan mata aja kamu udah cerewet, gimana nanti kalau beneran kamu udah disana.”</p>

<p>“Ya kan aku harus mastiin kamu baik-baik aja nggak ada aku. Aku udah janji sama Ayah dan Mama buat bantu jagain kamu. Kamu itu tanggung jawabku, Na.”</p>

<p>“Yang…”</p>

<p>“Udah jangan nangis. Cengeng ih.”</p>

<p>Luna melepaskan tautan jarinya sontak. Tangan kirinya yang kini terbebas, melayangkan pukulan pelan di bahu Hyunjae. “Bukan cengeng, aku terharu tau. Bedain cengeng sama terharu.”</p>

<p>“Hehe iya maaf. Kamu terharu bukan cengeng. Maaf yaa?” Hyunjae menggamit pinggang Luna, mendekapnya erat. “Jaehyun sayang Luna banyak-banyak.”</p>

<p>“Stop, geli banget dengernya. Kamu tuh udah <em>tsundere</em> aja, nggak cocok ngomong kayak gitu.”</p>

<p>Hyunjae terkekeh sambil mendekap Luna makin erat. Ditautkannya kembali jari mereka. “Oh ya, satu lagi. Setelah aku pulang dari Busan, kita ke Songdo ya? Tanggal nikahnya <em>nuna</em>-ku dimajuin, jadinya sebelas Desember. Nggak jadi Januari. <em>Nuna</em> minta kamu datang ke rumah buat <em>fitting</em> gaun. Kamu jadi salah satu <em>bridesmaid</em> bareng sama dua sepupuku dan satu lagi sahabatnya <em>Nuna</em>.”</p>

<p>“Berita sepenting ini kamu baru ngomong ke aku sekarang? Ya ampun, Yaaang. Dari kapan kamu tau soal ini?”</p>

<p>“Baru-baru, kok. Tapi nggak inget tepatnya kapan hehehe. Maaf ya, lupa terus mau diomongin ke kamunya.”</p>

<p>“Nanti kasih aku nomor Kak Jaesung, ya, aku mau ngobrol langsung sekalian bilang terima kasih karena udah dipilih jadi <em>bridesmaid</em>. <em>It really is an honor</em> buatku.”</p>

<p>“Iya nanti aku kasih. Yang, nggak apa-apa kamu jadi <em>bridesmaid</em>-nya kakakku? Maaf ya, dia main nentuin aja nggak minta persetujuan kamu dulu. Kalau kamu mau nolak bilang aja, Yang. Aku nggak enak ke kamu.”</p>

<p>“Kenapa aku harus nolak? Justru aku seneng banget dilibatkan di acara besar keluarga inti kamu, Yang. Walaupun nggak enak karena baru sekali ketemu, tapi aku udah dianggap sebegininya sama keluarga kamu.”</p>

<p>“Makasih ya. Aku nggak sabar lihat kamu pakai gaun, pasti cantik banget.”</p>

<p>“Aku juga nggak sabar lihat kamu pakai setelan jas formal. Kamu bangun tidur rambut acak-acakan aja bisa bikin aku deg-degan lihatnya. Apalagi kamu pakai jas atau tuxedo gitu. Aku bisa pingsan kali.”</p>

<p>Hyunjae tertawa.</p>

<p>Dia sadar, Luna ini gampang sekali mengalirkan pujian terhadapnya—terutama tentang penampilan fisiknya yang menurut Luna, Tuhan pasti sedang dalam <em>mood</em> yang luar biasa bagus ketika sedang menciptakan Hyunjae. Berbeda sekali dengan Hyunjae yang tidak peduli seterpesona apapun ia dengan penampilan Luna, jarang sekali ia melisankan pujian pada Luna. Hyunjae berpikir, mungkin ke depannya ia harus sedikit lebih luwes dalam mengekspresikan rasa sukanya terhadap penampilan Luna.</p>

<p>Mungkin bisa dicoba malam ini.</p>

<p>“Na, Sayang.”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“<em>Have I told you how beautiful you are tonight</em>? Kamu selalu cantik, tapi malam ini entah kenapa aku ngerasa kamu cantik sekali. Rambut kamu mau digerai, diikat, digelung—apapun itu—<em>and with or without make-up,</em> kamu cantik.”</p>

<p>“Ha? Kok tiba-tiba—”</p>

<p>“<em>I’m grateful to have you</em>,” sela Hyunjae. Lalu ia mengangkat telapak tangan Luna yang masih berada dalam tautannya, mendekatkannya ke bibirnya. Dikecupnya dua kali—kecupan kedua agak lebih lama dari kecupan pertama, lalu berujar, “<em>I love you so much too</em>.”</p>

<hr/>

<p>Luna mengikat rambut panjangnya menjadi satu, dengan beberapa helai tipis dibiarkan terjuntai di sisi kanan dan kirinya. Wajahnya masih bersemu merah seperti semalam, dan lagi, hanya sedikit polesan <em>lip balm</em> yang dilapisi lipstik yang menghiasi wajahnya pagi ini.</p>

<p>Sekali lagi ia merapikan sweater rajut berwarna <em>nude pink</em>—warna favoritnya—dengan model <em>turtle</em>-<em>neck</em> yang hari ini ia pakai untuk melindunginya dari udara dingin. Bawahannya, seperti biasa celana jeans <em>slim fit</em> berwarna biru cerah. Di tangan kirinya tersampir <em>coat</em> cokelat muda yang semalam ia kenakan saat mengunjungi Dotonbori.</p>

<p>Pagi ini matahari bersinar cukup cerah walaupun udara dingin khas musim gugur tetap menghembus. Sungguh cuaca yang nyaman sekali untuk menghabiskan waktu di <em>amusement park</em>—ya, rombongan berisi delapan orang ini baru saja tiba di Universal Studios, tujuan utama mereka mendatangi Osaka dadakan sehari lalu.</p>

<p>Setelah semuanya turun dari mobil, mereka berjalan menuju <em>main entrance</em> USJ.</p>

<p>“Na, gue baru sadar, lo nggak bawa tas ya?” Nara yang berjalan di belakang Luna, menepuk pundaknya saat ia menyadari tangan Luna yang bebas dari tentengan apapun. Hanya ponselnya yang terlihat menggantung di leher Luna berkat bantuan <em>phone strap</em>.</p>

<p>“Iya nggak bawa. Kan Jaehyun bawa ransel, barang gue titip dia,” jawab Luna santai sambil menunjuk ke arah Hyunjae yang berjalan di sampingnya.</p>

<p>“Ih enak banget sih lo nggak rempong sama bawaan jadinya. Si Younghoon nih males banget gue suruh bawa ransel, malah dia yang nitipin barangnya di tas gue,” omel Nara, tidak bisa menyembunyikan rasa irinya pada Luna yang bisa berjalan santai tanpa dibebani barang bawaan.</p>

<p>“Sama aja Juyeon juga, gue yang direpotin bawa barang.” Sarah yang tadinya tertinggal beberapa langkah di belakang Nara, tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Ikut menimpali obrolan Nara dengan Luna.</p>

<p>Luna hanya bisa terkekeh, dalam hati sedikit banyak ia merasa bangga pada Hyunjae yang memang berniat membawa ransel sendiri demi tidak merepotkan Luna. “Udah jangan protes, terima aja kelebihan dan kekurangan pacar masing-masing,” sahutnya. “Tapi yang kayak gini emang jarang sih, guenya aja yang beruntung.” Dan Luna pun bergelayut manja di lengan Hyunjae, membuatnya mendapat sorakan kesal dari Nara dan Sarah.</p>

<p>Sebelum memasuki area utama, mereka sempat berfoto dulu di depan <em>globe</em> raksasa ikonik khas Universal Studios. Berkat <em>tripod</em> yang dibawa Hyunjae, mereka bisa berfoto berdelapan tanpa repot meminta bantuan turis lain yang juga ramai berfoto di area <em>globe</em>. Setelah foto berdelapan, yang berpasangan juga tidak lupa mengambil foto berdua. Terakhir, Nara, Sarah, dan Luna berfoto bertiga dengan posisi Luna di tengah.</p>

<p>Puas dengan foto di area <em>globe</em>, mereka pun mulai memasuki area utama Universal Studios.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Berkat tiket <em>express ride</em> yang mereka beli demi menghindari antrian panjang di tiap wahana apalagi wahana <em>high demand</em>, akhirnya selama satu setengah jam pertama mereka sudah berhasil menikmati 3 wahana salah satunya Space Fantasy—semacam <em>roller coaster indoor</em> dengan suasana <em>outer space</em> atau luar angkasa. Tidak terlalu ekstrim, masih cukup aman dinaiki oleh Hyunjae, Eric dan Juyeon sebagai tiga orang yang sudah <em>declare</em> dari awal bahwa mereka tidak akan menaiki wahana-wahana yang bisa mengaduk isi perut mereka.</p>

<p>Setelah Space Fantasy, yang sudah mereka nikmati adalah Terminator dan Amazing Adventures of Spiderman—keduanya wahana yang serupa, menikmati tontonan dalam visual 3D. Lagi-lagi, masih bisa dinikmati dengan aman oleh Hyunjae, Eric dan Juyeon.</p>

<p>Ketika akhirnya mereka memasuki area Jurassic Park—area yang paling ditunggu oleh Luna sebagai fans berat film dinosaurus besutan sutradara tersukses sepanjang masa, Steven Spielberg—Hyunjae, Eric dan Juyeon dengan sukarela memutuskan untuk duduk menunggu saat lima yang lainnya kompak ingin menaiki The Flying Dinosaur.</p>

<p>“Ju, ayolaaah. Temenin aku naik, dong.” Sarah merengek sembari menarik-narik tangan Juyeon supaya bangkit dari duduknya dan ikut naik wahana <em>roller coaster</em> super ekstrim tersebut.</p>

<p>“Nggak mau, Sayang. Kamu aja. Aku tau diri daripada pingsan di atas sana. Liat <em>track</em>-nya yang sepanjang itu aja udah merinding aku,” tolak Juyeon mentah-mentah.</p>

<p>Memang benar yang Juyeon bilang. The Flying Dinosaur ini diklaim sebagai  <em>coaster</em> dengan <em>track</em> terpanjang di dunia. Belum lagi posisi duduknya yang unik, bukan duduk di kereta biasa namun para <em>rider</em> akan dibuat duduk menggantung dalam posisi menukik menghadap bawah selama kereta berjalan. <em>Track</em> yang panjang meliuk ditambah dengan posisi duduk menukik—hanya yang betul-betul yang bernyali tinggi yang berani menaiki wahana ini.</p>

<p>“Tapi kan cuma satu menit doang di atasnya. Ayolah yukkk.” Sarah masih dengan gigih membujuk Juyeon supaya mau ikut naik. “Kamu tega aku sendirian disana?”</p>

<p>“Sendirian gimana, kamu kan berlima.”</p>

<p>“Yaaa tapi kan nggak ada kamu.”</p>

<p>“Nggak mau, Sayang. Jangan dipaksa, <em>please</em>.”</p>

<p>Juyeon tetap dengan pendiriannya, tidak mau naik wahana itu. Sarah akhirnya menyerah, ia berjalan meninggalkan Juyeon mengikuti Nara dan Younghoon yang sudah lebih dulu memasuki <em>line</em> antrian.</p>

<p>“Kamu yakin nggak mau coba?” kali ini Luna yang bertanya pada Hyunjae—dan seperti Juyeon, gelengan kepala Hyunjae diterima Luna sebagai jawaban. Luna tertawa kecil. “Kalian bertiga ini lucu banget, badan aja pada gede atletis tapi naik <em>coaster</em> gini nggak mau.”</p>

<p>“Heh, nggak ada hubungannya ya badan atletis sama nggak suka naik mainan ekstrim,” elak Juyeon. “<em>We wanna have fun</em>, <em>and that coaster, is gonna bring us fear instead of fun</em>.”</p>

<p>Luna terkekeh lagi. “Ya udah aku mau naik dulu ya. Sayang, aku titip HP.”</p>

<p>“Hati-hati ya, Na. Beneran kamu kuat nggak akan pingsan?” Hyunjae terlihat khawatir begitu mendengar rel <em>coaster</em> yang bergemuruh cepat dan teriakan para <em>riders</em> di atasnya.</p>

<p>“Beneran lah, aku kuat. Tapi kalau pingsan tenang aja ada Yeonjun, minta dia gendong aja hahaha.”</p>

<p>“Enak aja, ogah dong. Lo berat.”</p>

<p>“Sialan.”</p>

<p>Yeonjun mengacak kepala Luna yang langsung mendapat tepisan di lengannya. “Rambut gueee, berantakan nanti.”</p>

<p>“Yuk ah, <em>guys</em>, kita naik dulu yaa. Tungguin di sini.”</p>

<p>Luna dan Yeonjun akhirnya menjadi yang terakhir memasuki <em>line</em> antrian untuk dapat menaiki kereta yang sama dengan Sarah, Nara dan Younghoon.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Sambil menanti kelima yang lain mengantri dan menaiki wahana, Hyunjae, Eric dan Juyeon memutuskan untuk beranjak dari kursi dan mencari <em>stand</em> popcorn di dekat area itu. Menjelang waktu makan siang membuat perut mereka butuh ganjalan sebelum diisi makanan berat.</p>

<p>Di sela-sela saat mengantri di <em>stand</em> popcorn, ponsel Juyeon berdering yang ternyata ada panggilan masuk dari kakaknya. Ada hal penting mengenai salah satu vendor untuk acara pernikahannya dengan Sarah nanti, yang ingin dibicarakan kakak Juyeon. Akhirnya Juyeon keluar dari antrian demi dapat mengobrol lebih leluasa dengan kakaknya, dan menitipkan popcornnya pada Hyunjae.</p>

<p>“Kak,” panggil Eric pada Hyunjae, ketika dilihatnya Juyeon sudah berada di luar jangkauan mata.</p>

<p>Hyunjae yang sedang memainkan ponselnya, mengalihkan pandangan menatap Eric. “Ya, Ric?”</p>

<p>“Semalem, pas di kedai sushi. Lo bete nggak Kak Yeon tiba-tiba gabung?”</p>

<p>“<em>Why should I</em>?” Hyunjae balik bertanya.</p>

<p>“<em>Don’t lie</em>,” kata Eric. “Gue bisa baca lo nggak suka Kak Yeonjun deket-deket sama <em>Nuna</em>. Gue kenal lo bukan kemarin sore, Kak.”</p>

<p>Hyunjae menarik nafas dan menghelanya sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. “Jujur, iya,” aku Hyunjae akhirnya. “Nggak tau kenapa, Ric, gue ngerasa ada yang beda dari Yeonjun ke Luna. Tapi lo nggak usah ngomongin ini lagi ke Yeonjun ya. Kali aja gue salah.”</p>

<p><em>Nggak, Kak, lo nggak salah. Perasaan lo kali ini bener,</em> jawab Eric dalam hati. Tapi tentu saja ia tidak melisankan jawabannya barusan pada Hyunjae. Eric masih ingin hidup dalam damai.</p>

<p>“Lo tenang aja nggak usah <em>insecure</em> ya, Kak.”</p>

<p>“Iya sih, akhirnya semalem sebelum tidur gue merenungi. Belum tentu juga Yeonjun seperti yang gue pikirkan. Lebih baik gue bersyukur Yeonjun baik ke Luna. Toh gue harusnya lebih seneng dan tenang lihat cewek gue diperlakukan baik daripada dikurangajarin sama cowok lain, ya nggak sih? Lagian gue percaya sama Luna. Mau apapun itu maksud Yeonjun baik ke Luna—memang dia hanya baik atau ada maksud tertentu—selama Luna-nya biasa aja ya gue nggak usah takut.”</p>

<p>“Salut gue sama lo, emang bener-bener kakak panutan gue deh lo tuh, Kak. Baguslah lo punya pemikiran begitu. Semalem gue agak serem sebenernya, gue bisa ngerasain ketidaknyamanan lo pas Yeonjun dateng.”</p>

<p>“Kelihatan ya emang? Tapi Luna nggak sadar kayaknya sih. Dia sepertinya udah terbiasa dengan gue yang terkesan dingin dan cuek-cuek aja tiap dia izin mau jalan sama temen cowoknya. Luarnya doang gue kelihatan cuek, padahal hati gue tuh nggak gitu sebenernya, Ric. Selama Luna jalannya sama lo, Younghoon atau Juyeon sih gue tenang. Selain kalian, gue nggak tenang. Tapi kalau gue lihatin ke Luna gue nggak tenang, takutnya dia nyangka gue nggak percaya ke dia.”</p>

<p>“Gue ngerti sih lo nggak tenang, wajar. Ini gue ceritain ya kejadian dulu, sebelum <em>Nuna</em> pindah ke Yongsan. Hampir tiap jalan bareng <em>Nuna</em> pasti ada aja cowok yang nyamperin dia. Pernah kita berempat—gue, <em>Nuna</em>, Kak Hoon sama Kak Juyo habis kunjungan kantor klien kita baliknya mampir ke bar.”</p>

<p>“Luna minum?”</p>

<p>“Nggak, dia kan paling intoleran sama alkohol. Gue juga waktu itu nggak minum karena nyetir. Kita cuma nemenin Kak Hoon sama Kak Juyo aja mereka pengen minum. Itu ya, ada kali tiga-apa empat-cowok yang nyamperin <em>Nuna</em>, mau traktir minum. Sampe kesel sendiri dia, capek nolakinnya katanya. Akhirnya kita terpaksa pulang lebih cepet padahal Kak Hoon dan Kak Juyo masih pada pengen minum.”</p>

<p>“Belum selesai nih ceritanya. Pernah juga diceritain sama Kak Juyo, mereka lagi makan berlima—<em>double date</em> tuh plus <em>Nuna</em>—dan meja mereka sebelahan sama meja isinya cowok-cowok seumuran kita lah. Pas Kak Juyo mau bayar, dia bingung ternyata udah dibayarin sama meja sebelah yang isinya cowok-cowok itu. Mereka nekat banget ngebayarin demi barter sama nomor HP <em>Nuna</em>, coba.”</p>

<p>“Hah segitunya? Terus, dikasih nomornya sama Luna?”</p>

<p>“Ya nggaklah! Marah yang ada dia. <em>Nuna</em> langsung keluarin duit <em>cash</em> dari dompetnya sesuai totalan mereka makan malam itu, dan dilemparin ke meja cowok-cowok itu.”</p>

<p>“Buset, galak bener pacar gue ternyata.”</p>

<p>“Ih emang iya tau, Kak. <em>Nuna</em> itu nggak terlalu ramah sebetulnya ke orang asing—yang bener-bener asing nggak kenal ya. Nggak gampang dapat kepercayaan dari <em>Nuna</em> tuh. Tapi ketika lo udah dipercaya <em>Nuna</em>, udah disayangin sama <em>Nuna</em>, dia bakal melakukan segalanya buat lo. Dia kalau udah sayang sama orang nggak main-main.”</p>

<p>“Makanya Kak Jae, menurut gue lo nggak usah <em>insecure</em>, nggak usah setakut itu. <em>Nuna</em> gue satu itu bucin banget ke lo, Kak. Kalian berdua saling bucin ke satu sama lain sih kata gue. Tapi bedanya, <em>Nuna</em> apa adanya, dia cemburu lihat lo sama Jisoo misalnya, ya dia langsung omongin. Kalau lo kan nggak, dipendem aja sendirian, sok <em>cool</em> padahal cemburu.”</p>

<p>“Tapi ya, sekali-kalinya tuh gue pernah utarain ke Luna gue cemburu lihat dia diajak <em>dinner</em> dan dianter pulang sama Yeonjun.”</p>

<p>“Kasih tau aja ke <em>Nuna</em> kalau lo lagi nggak pengen dia jalan sama cowok lain—sekalipun itu temen doang ya. Dia bakal ngerti. Dan lagi kayaknya dia bakal suka lo cemburuin daripada lo terlalu nyantai. Belajar lebih ekspresif sih, Kak, ke <em>Nuna</em>. Gue tau lo bukan cowok romantis, tapi gue rasa nggak ada salahnya tiba-tiba lo lakuin apa kek ke dia, yang nggak biasanya lo lakuin.”</p>

<p>“<em>Thanks</em> ya, Ric, buat masukannya. Buat ceritanya juga, gue nggak tau soal kejadian cowok-cowok tadi kalau bukan dari lo. Gue merasa semakin bersyukur gue punya Luna.”</p>

<p>“<em>Anytime</em>, Kak. Gue juga tenang sih pas tau kalian akhirnya resmi jadian. Gue tenang <em>Nuna</em> dijagain sama lo, Kak. Lo orang baik.”</p>

<p>Obrolan mereka terhenti ketika akhirnya tiba giliran mereka untuk memesan popcorn yang dari tadi diincar. Bersamaan dengan itu, Juyeon yang juga baru menyelesaikan teleponnya dengan sang kakak, kembali bergabung dengan Eric dan Hyunjae.</p>

<p>“<em>Sorry</em> lama,” kata Juyeon sambil mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. “Dari gue aja ya, <em>on me</em>.”</p>

<p>“Dih, tiba-tiba dateng langsung maen bayar,” kata Eric sambil menunggu popcornnya disiapkan.</p>

<p>“Makasih kek, malah protes,” balas Juyeon gemas.</p>

<p>“Hehehe makasih banyak yaaa kakak Juyo traktiran popcornnya. Sekalian sama minum boleh nggak?”</p>

<p>“Yeee, ngelunjak.”</p>

<p>Seiring dengan cengiran lebar di wajah Eric yang diikuti ucapan terima kasih dari Hyunjae, Juyeon membayar semua jajanan popcorn dan minuman mereka sebelum kembali ke area tunggu wahana yang tadi ditinggalkan.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Hari sudah semakin gelap dan dingin ketika akhirnya rombongan berdelapan ini keluar dari wahana terakhirnya. Dengan muka letih dan langkah kaki yang sudah mulai melunglai, mereka berjalan mengikuti arus lautan manusia yang memiliki tujuan yang sama—melihat <em>closing parade</em> dan kembang api yang akan dimulai tepat pukul delapan malam, lima belas menit dari sekarang.</p>

<p>Orang-orang tampak rusuh dan berjalan buru-buru demi memburu <em>spot</em> terbaik untuk menikmati parade dan kembang api. Begitu pun dengan rombongan berdelapan ini, mengerahkan sisa tenaga yang ada mereka berusaha mencapai area parade secepatnya.</p>

<p>Namun berbanding terbalik dengan langkah teman-temannya yang masih dengan kecepatan stabil, Luna memperlambat langkahnya ketika ia merasakan kedua telapak kakinya semakin tidak bisa diajak kompromi—pegal luar biasa, sedikit sakit ketika dipaksakan menapaki jalanan yang beraspal. Luna juga merasakan perih di bagian belakang pergelangan kaki di atas tumit, dan juga sekeliling jari-jari kakinya.</p>

<p>Ketika mata Luna tidak sengaja melirik bangku kosong beberapa meter darinya, refleks tangannya mencengkeram tangan Hyunjae yang berjalan di sampingnya. Hyunjae menoleh kaget ke arah Luna yang mendadak berhenti berjalan dan menariknya ke sisi, keluar dari rombongan.</p>

<p>“Kenapa, Na?” tanya Hyunjae bingung setengah panik melihat ekspresi tidak nyaman Luna.</p>

<p>“Kakiku sakit,” jawab Luna. “Mau duduk dulu disitu, temenin ya?”</p>

<p>“Ya udah ayo duduk dulu,” kata Hyunjae lagi sambil menggandeng Luna menuju bangku kosong di dekat mereka.</p>

<p>Yeonjun dan Eric yang menyadari Luna dan Hyunjae keluar dari rombongan, segera menghampiri. Keduanya terlihat panik.</p>

<p>“Kenapa kalian?” tanya Eric.</p>

<p>“Kaki gue sakit,” Luna menjawab sambil berusaha melepas tali sepatunya. “Kalian jangan nungguin, duluan aja. Nanti ketinggalan parade loh.”</p>

<p>Hyunjae yang sadar Luna kesulitan melepas sepatunya, memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Luna. Ditariknya pelan sebelah kaki Luna untuk diletakkan di atas pahanya, dan tangannya melepas tali sepatu Luna. Segera setelah sepatunya berhasil diloloskan, mata Hyunjae membesar melihat kaki putih mulus Luna dipenuhi bercak kemerahan karena lecet. Tidak heran Luna merasakan perih yang tidak tertahan.</p>

<p>“Sayang, lecet semua kaki kamu ini,” Hyunjae bergumam sambil memijat lembut telapak kaki Luna. “Sakit nggak aku giniin?”</p>

<p>Luna menggeleng. “Malah agak enakan kamu pijit telapaknya. Tapi jangan kena belakang tumit ya, perih.”</p>

<p>“Kan tadi pagi aku udah minta kamu pakai kaus kaki, kamunya nggak nurut. Lecet kan jadinya.”</p>

<p>“Iya aku nyesel, lain kali nurut pakai kaus kaki.”</p>

<p>Masih sambil memijat telapak kaki Luna, Hyunjae beralih menatap Eric dan Yeonjun bergantian. “Nggak apa-apa tinggal aja, nanti kalau Luna udah baikan kita nyusul. Kalian duluan aja susulin mereka berempat.”</p>

<p>“Serius nggak apa-apa kita tinggal?” Yeonjun memastikan. Ia pun meniru posisi berlutut Hyunjae dan kini ikut meneliti kaki Luna yang sedang dalam pijatan tangan Hyunjae. Sungguh ia sebetulnya masih khawatir dengan kondisi Luna tapi Yeonjun sadar, Luna sudah ditangani oleh Hyunjae. Kehadirannya tidak dibutuhkan di sini.</p>

<p>“Nggak apa-apa. Nanti kabarin aja kalian duduk di sebelah mana, kita samperin ke situ. Maaf ya, bikin repot,” kata Luna dengan wajah tidak enak.</p>

<p>“Ya udah kalau gitu, kita tinggal ya,” kata Eric akhirnya. “Kasih tau secepatnya kalau butuh bantuan kita.”</p>

<p>“Na, baik-baik ya?” Yeonjun berkata sambil mengusap bahu Luna. “Jaehyun… Maaf gue ngomong gini, tapi tolong titip Luna ya? <em>She doesn’t look fine at all.</em>”</p>

<p>Tidak hanya Hyunjae, tapi Eric juga ikut terkejut mendengar kalimat Yeonjun barusan.</p>

<p>Hyunjae tidak dapat menyembunyikan kesalnya kali ini. Ia mendengus sinis kelewat keras hingga bisa terdengar oleh mereka bertiga yang ada disana. “Nggak usah lo ngomong juga gue tau kondisi Luna nggak baik. <em>Thank you anyway</em> udah peduli sama cewek gue.”</p>

<p>Sebelum situasi bertambah panas, Eric buru-buru menyeret Yeonjun meninggalkan Hyunjae dan Luna. “<em>Guys,</em> cabut ya kita. <em>Nuna</em> cepet baikan yaa.”</p>

<p>Sepeninggal Eric dan Yeonjun, Hyunjae masih melanjutkan memijat telapak kaki Luna dengan ibu jari tangannya. Keningnya berkerut, hampir menautkan kedua alisnya.</p>

<p>“Dia pikir dia siapa? Nitipin kamu ke aku… Nggak salah?” Hyunjae tahu, ia gagal menahan emosinya. Kalimat tadi meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum ia bisa cegah.</p>

<p>Luna merunduk, disentuhnya bahu Hyunjae dan diusapnya. Berharap dengan begitu bisa meredakan emosi kekasihnya ini. “Sayang, jangan dimasukin hati ya? Mungkin dia ngomong gitu karena nggak enak mesti ninggalin kita di sini.”</p>

<p>“Dia pikir aku nggak bisa jaga kamu dengan baik, makanya dia ngomong gitu.”</p>

<p>“Hus, nggak, Yang. Nggak ada yang mikir begitu. Semua juga tau kamu yang terbaik soal jagain aku. Udah ya, jangan ngambek.”</p>

<p>“Kamu ngebela dia?” Pijatan di kaki Luna terhenti. Hyunjae mengadahkan wajahnya, menatap Luna lurus dan tajam.</p>

<p>Luna terhenyak, tidak siap ditatap tajam seperti itu oleh Hyunjae—untuk pertama kali dalam hidupnya. “Bagian mana dari kalimatku barusan yang terdengar seperti ngebela Yeonjun?”</p>

<p>“Udah, stop mijitnya. Kakiku udah enakan,” Luna berkata lagi, ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari Hyunjae. Ditepisnya pelan tangan Hyunjae yang masih memegangi kakinya. “Maaf jadi ngerepotin kamu. Maaf juga gara-gara aku, kamu jadi ngerasa disalahin orang lain.”</p>

<p>“Kamu kenapa jadi marah?” tanya Hyunjae bingung.</p>

<p>“Kamu kesel sama Yeonjun tapi kamu marah-marahnya ke aku. Kamu nuduh aku ngebela dia, padahal maksudku bukan gitu sama sekali. Aku hanya nggak pengen kamu <em>bad mood</em> gara-gara kalimat Yeonjun yang terdengar sangat konyol buatku.”</p>

<p>“<em>I think he likes you</em>.”</p>

<p>“<em>So what</em>? Kalau ya dia suka sama aku lalu kenapa? Aku sayangnya sama kamu.”</p>

<p>Hyunjae terdiam.</p>

<p>Dalam hati ia agak menyesal tidak berpikir panjang sebelum melontarkan kalimat tadi pada Luna. Benar ia kesal pada Yeonjun, tapi tidak seharusnya dia melampiaskan pada Luna—yang bahkan sedang dalam kondisi fisik yang tidak begitu baik.</p>

<p>“Yang kamu rasain ke Yeonjun, itu hal yang sama yang aku rasain ke Jisoo.”</p>

<p>“Na, Jisoo nggak ada hubungannya ya sama masalah ini.”</p>

<p>“Kamu nggak suka kan, aku ribut cemburuin Jisoo? Sama, aku juga nggak suka kamu ngeributin Yeonjun.”</p>

<p>“Jangan disamain!” Hyunjae masih bertahan untuk tidak meninggikan suaranya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan kegusaran pada kalimatnya barusan. Rasa menyesal yang tadi sempat menyesap, mendadak hilang terganti dengan emosi yang kembali memuncak. “Aku nggak pernah ya, makan berduaan sama Jisoo. Sekali-kalinya aku anter dia pulang pun karena terpaksa, aku udah pernah jelasin.”</p>

<p>“Tapi pas acara <em>gathering</em> kemarin, dia nempel terus ke kamu. Sekalinya aku protes, kamu malah balik marahin aku, kamu bilang aku cemburu nggak berdasar. Ya sekarang sama aku juga mau bilang, cemburu kamu ke Yeonjun itu nggak berdasar. Yeonjun baik dan <em>care</em> ke semua temennya, nggak hanya ke aku. Aku nggak paham kenapa kamu bisa terima Younghoon, Juyeon dan Eric deket sama aku, tapi nggak dengan Yeonjun.”</p>

<p>“<em>Don’t you hear yourself? You just defended him. Again</em>.”</p>

<p>Luna tidak percaya ini.</p>

<p>Sepanjang hari ini ia dan Hyunjae baik-baik saja. Tidak pernah terbesit sedikit pun di benaknya, kebahagiaan hari ini akan tercoreng dengan pertengkaran tiba-tiba dengan Hyunjae. Dan ini bukan pertengkaran kecil pula.</p>

<p><em>Sial!</em> Luna mengumpat dalam hati. Kenapa pertengkarannya terjadi di malam yang seharusnya menjadi salah satu malam paling menyenangkan dalam hidupnya?</p>

<p>“Aku akan buktiin omongan kamu soal Yeonjun salah,” kata Luna akhirnya. “<em>Soon</em>, aku bakal tanya langsung ke Yeonjun soal perasaan dia ke aku yang sebenarnya.”</p>

<p>“Oke. Aku juga bakal tanya ke Jisoo—”</p>

<p>“Nggak perlu,” Luna memotong ucapan Hyunjae sambil menggelengkan kepalanya. “Sebetulnya aku udah nggak kepikiran lagi soal Jisoo, karena aku percaya sama kamu. Maaf aku libatin dia malam ini, aku cuma kepancing aja.”</p>

<p>Lalu keduanya berbarengan menghela nafas. Baik Luna dan Hyunjae sama-sama ingin segera mengakhiri perdebatan malam ini. Keduanya tidak nyaman karena merasa sudah saling menyakiti satu sama lain.</p>

<p>“<em>Can we… end this fight now</em>? Paradenya sebentar lagi mulai. <em>I don’t wanna miss it</em>,” kata Luna lagi. Ia kemudian membungkuk untuk mengambil sepatunya. <em>“Damn it!</em>” Luna mengumpat lalu meringis kesakitan ketika rasa perih menjalar saat ia mencoba memasukkan kakinya ke dalam sepatu.</p>

<p>Hyunjae bangkit dari posisi berlututnya. Ia merogoh tas ransel hitamnya, mencoba menemukan kotak obat <em>travel size</em> berwarna putih yang memang ia siapkan untuk keadaan darurat seperti ini. Seingatnya, ia sempat memasukkan salep anti iritasi dan <em>band aid</em> di dalam kotak itu.</p>

<p>“Aku olesin salep dulu kakinya, mungkin agak perih sedikit. Tahan ya, Na.”</p>

<p>“Nggak usa—”</p>

<p>“Diem. Tahan.”</p>

<p>Luna tidak berkutik ketika Hyunjae kembali dalam posisi berlututnya, meraih kaki Luna lagi dan mengoleskan salep iritasi di beberapa titik lecetnya. Rasa dingin dan perih menyatu ketika salep yang dioles Hyunjae menyentuh kulit Luna.</p>

<p>“Jae, sshh perih—”</p>

<p>“Maaf ya, tahan ya, biar cepet kering lecetnya.”</p>

<p>Selesai mengoleskan salepnya, Hyunjae memutuskan untuk menutup luka lecet di tumit belakang Luna dengan <em>band aid</em> supaya tidak terlalu perih saat harus bergesekan dengan sepatu. Setelah dirasa cukup, Hyunjae sekali lagi bergantian memijiti telapak kaki kiri dan kanan Luna, sebelum akhirnya memakaikan kembali sepatu Luna di kakinya. Kali ini dilonggarkannya ikatan tali sepatunya untuk mengurangi himpitan di kaki Luna.</p>

<p>“Masih perih?”</p>

<p>“Mendingan.”</p>

<p>“Coba berdiri.”</p>

<p>Tepat ketika Luna mencoba untuk berdiri dari duduknya untuk memastikan apakah kakinya sudah kuat untuk dibawa berjalan lagi atau belum, tiba-tiba terdengar alunan musik parade dari kejauhan, disusul riuh sorak dari para pengunjung yang menyambutnya.</p>

<p>“Udah mulai paradenya, aku pengen lihat.”</p>

<p>“Cobain dulu kamu udah kuat jalan belum? Kalau belum jangan dipaksa. Anak-anak pasti pada ngerekam paradenya kok.”</p>

<p>Luna sudah sepenuhnya berdiri dan dicobanya berjalan perlahan. Masih terasa sedikit perih tapi sudah tidak semenyiksa tadi.</p>

<p>“Masih agak perih, tapi bisa jalan pelan-pelan.”</p>

<p>“Mau nyusul anak-anak atau di sini aja?”</p>

<p>“Mau nyusul, tapi kalau susah ketemunya ya udah sedapetnya tempat aja yang penting pengen lihat parade.”</p>

<p>“Bener kuat? Atau mau aku gendong? <em>Piggy back</em>?”</p>

<p>“Nggak mau gendong, malu.”</p>

<p>Hyunjae berdiri sambil menyampirkan kembali ranselnya. “Ya udah, ayo jalan pelan-pelan.”</p>

<p>Dengan tangan melingkar di pinggang Hyunjae, Luna mengusahakan sisa tenaganya untuk berjalan perlahan mendekati area parade. Parade malam—sekaligus parade terakhir yang disuguhkan hari itu adalah parade yang sungguh Luna incar untuk dinikmati. Semakin Luna berjalan mendekati area parade, ingar bingar musik semakin jelas terdengar, membuat Luna semakin bersemangat ingin segera melihatnya.</p>

<p>Luna merasa wajahnya memanas ketika ia sadar Hyunjae sedang mengecup pipinya—tiba-tiba. Ia mengeratkan pegangannya di pinggang Hyunjae, merapatkan tubuhnya hingga tidak ada celah sama sekali antara tubuhnya dan tubuh Hyunjae kini.</p>

<p>“Aku minta maaf,” bisik Hyunjae lirih di telinga Luna. “Maaf ya, nggak seharusnya aku tadi marah ke kamu dan nuduh sembarangan. <em>I didn’t mean to hurt you</em>. <em>I never meant to</em>.”</p>

<p>“<em>I know</em>,” jawab Luna. Ia terpaksa sedikit mengencangkan volume suaranya ketika alun musik parade semakin jelas terdengar. “Kamu dimaafin, jangan gitu lagi ya? Aku takut ditatap tajam kayak tadi sama kamu. Kalau nggak inget lagi di tempat umum kayaknya aku bisa nangis.”</p>

<p>“Aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri kalau sampai bikin kamu nangis. <em>I really am sorry,</em> Luna.”</p>

<p>“Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga minta maaf ya, <em>out of nowhere</em> nyebut-nyebut Jisoo tadi.”</p>

<p>“Udah ya, jangan dibahas lagi. Kita baik-baik aja kan sekarang?”</p>

<p>“Baik-baik, dan aku tambah sayang sama kamu.”</p>

<p>Hyunjae tahu ini tempat publik, tapi ia sudah tidak pedulikan lagi hal itu. Masa bodoh, pikirnya. Toh tidak akan bertemu lagi dengan orang-orang di sekelilingnya ini.</p>

<p>“Eeh, ngapain—” Luna tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya ketika bibir Hyunjae membungkam bibirnya. Lembut. Hyunjae tidak ingin melepaskannya buru-buru.</p>

<p>Luna yang malu-malu dan kikuk karena mendapatkan ciuman tiba-tiba di tengah keramaian seperti ini, hanya terdiam saat bibirnya dipagut oleh bibir Hyunjae. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak membalas pagutannya.</p>

<p>“<em>You didn’t kiss me back</em>?” tanya Hyunjae sesaat setelah melepaskan ciumannya.</p>

<p>“Malu…”</p>

<p>Hyunjae memagutkan bibirnya lagi di bibir Luna. Ketika dirasakannya kali ini Luna membalas pagutannya—pelan dan malu-malu—Hyunjae tersenyum dalam ciumannya.</p>

<p>Tidak lama kemudian terdengar suara letusan kembang api tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Membuat langit malam yang menaungi mereka mendadak bersinar terang oleh cahaya kembang api. Hyunjae melepaskan lagi ciumannya, hanya untuk memandangi langit yang ramai dengan kiasan kembang api warna warni. Indah.</p>

<p>Ditatapnya Luna yang juga sedang menikmati euforia kembang api yang masih juga belum kelihatan akan berhenti.</p>

<p>“Cantik…” gumam Hyunjae.</p>

<p>“Iya, cantik banget kembang apinya.”</p>

<p>“<em>No, I mean you.</em> Kamu cantik.”</p>

<p>Pipi Luna <em>blushing</em>. Kenapa Hyunjae jadi sering memujinya begini sih? Luna masih belum terbiasa mendengar pujian dari Hyunjae, jadi tiap kali Hyunjae memujinya hanya akan terdengar menggelikan di telingannya.</p>

<p>“Geli ah. Kalau mau muji aku dalam hati aja nggak usah diomongin.”</p>

<p>“Aneh, dipuji malah protes,” Hyunjae berkata dengan gemas. Sesaat sebelum kembang api berakhir, Hyunjae memutuskan untuk mencium Luna lagi.</p>

<p>“<em>And, here they are. Kissing.</em>”</p>

<p>Luna dan Hyunjae melepaskan ciumannya dan menoleh kaget ke arah sumber suara—yang ternyata adalah suara Younghoon yang berdiri sekitar sepuluh meter dari mereka. Dengan tangan terlipat di dada, Younghoon memperhatikan keduanya sambil menggelengkan kepala. Nara berada di sisinya, tersenyum cengengesan. Begitu juga Juyeon dan Sarah yang melemparkan senyum mengejek pada Luna dan Hyunjae.</p>

<p>Eric terlihat menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah. Dan Yeonjun menunduk menatap lantai sambil menyunggingkan senyum sinis dengan hanya sebelah bibir terangkat.</p>

<p>“Dapet kabar dari Eric, Luna kakinya sakit. Kita khawatir kalian nggak nongol-nongol dikirain Luna sama sekali nggak bisa jalan. Taunya asik ciuman,” protes Younghoon.</p>

<p>Luna melingkarkan lagi tangannya di pinggang Hyunjae sambil berjalan mendekati teman-temannya. “Diem lo, kayak yang nggak pernah ciuman aja sama Nara,” ejek Luna.</p>

<p>Younghoon mengacak rambut Luna. “Dih, nyebelin. Gimana kakinya? Gue denger tadi pagi Jaehyun nyuruh lo pakai kaus kaki tapi lo nggak mau.”</p>

<p>“Iya, gue juga denger,” timpal Juyeon. “Bandel banget emang cewek lo ini, Jae. Udah bandel, ujungnya ngerepotin orang.”</p>

<p>Hyunjae tertawa melihat Luna yang cemberut karena diomeli Younghoon dan Juyeon.</p>

<p>“Yang gue repotin itu Jaehyun ya, cowok gue sendiri. Bukan kalian. Jaehyunnya aja nggak protes, kok.”</p>

<p>“Emang Jaehyun itu terlalu baik buat lo, Na.” Kali ini ejekan datang dari Nara. “Banyak-banyak sabar ya, Jae? <em>Sorry</em> temen gue satu ini ngerepotin lo terus.”</p>

<p>“Udah dong, pada tega nih sama gue. Udah minta maaf kok guenya juga ke Jaehyun. Udah ah yuk, pulang. Tapi sambil cari makan ya? Gue kok laper banget.”</p>

<p>Yang lain serempak setuju dengan ajakan Luna untuk pulang dan cari makan. Seharian bermain di USJ walaupun sudah dua kali makan berat dan banyak jajan <em>snack</em>, tetap membuat delapan orang ini lapar rupanya.</p>

<p>Kali ini, kedai ramen menjadi tujuan mereka setelah meninggalkan USJ.</p>

<hr/>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-11</guid>
      <pubDate>Tue, 12 Oct 2021 14:28:14 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chapter 10.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-10?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Chapter 10.&#xA;&#xA;“Oke, Mama. Aku sama Jaehyun udah sampe. Kita di teras ya, nanti bilang aja atas nama Jaehyun Lee. Telepon aku kalau susah nemu tempatnya.”&#xA;&#xA;Klik!&#xA;&#xA;Luna melipat kembali ponsel flip-nya setelah teleponnya dengan Mama selesai. Ia merapatkan outer-nya sambil mengalihkan pandangan menatap hamparan kota Seoul—distrik Gangnam lebih tepatnya—dari teras atas steak house bernama Outback di mall COEX.&#xA;&#xA;Hyunjae duduk di sebelahnya dengan mata terfokus pada ponselnya. Keduanya sama-sama masih mengenakan setelan kerja karena memang habis dari kantor langsung menuju ke restoran ini. Hyunjae dari kantornya menjemput Luna dulu tadi, sedangkan orangtua Luna dari hotel langsung menuju kesini. Hyunjae yang beberapa hari lalu sempat sakit, kini sudah sehat lagi dan akhirnya siap untuk bertemu orangtua Luna.&#xA;&#xA;“Main HP aja, aku dianggurin,” protes Luna ketika menit demi menit berlalu dan Hyunjae masih terlihat fokus pada ponselnya. Tidak ada tanda-tanda Hyunjae akan beralih dari ponselnya.&#xA;&#xA;“Sebentar, Yang. Ini ada email dari vendor, aku balas dulu bentar ya.” Hyunjae menjawab, namun matanya tidak lepas dari layar ponsel. Jari-jarinya sibuk mengetik.&#xA;&#xA;“Ini udah lewat office hour, besok lagi bisa nggak sih?”&#xA;&#xA;Kali ini Hyunjae tidak menjawab. Keningnya sesekali berkerut dengan jari yang masih sibuk mengetik.&#xA;&#xA;Luna menunggu.&#xA;&#xA;Detik ke detik, hingga akhirnya berubah menjadi menit.&#xA;&#xA;“Lee Jaehyun! Aku ngambek nih ya.”&#xA;&#xA;Tepat setelah email-nya terkirim, Hyunjae menekan tombol back hingga ponselnya kembali menampilkan home screen, membuatnya berada dalam silent mode, lalu mengunci ponselnya. Disimpannya ponselnya di saku celananya.&#xA;&#xA;“Iya ini udah, maaf ya? Dua hari absen kerja bikin to-do list-ku kacau, banyak yang kelewat.”&#xA;&#xA;“Apa gunanya di tim kamu banyak orang gitu kalau kamu nggak masuk dua hari aja langsung jadi kacau?”&#xA;&#xA;“Sayang jangan gitu ngomongnya, timku kan masing-masing ada kerjaannya sendiri. Tanpa ditambahin kerjaanku, kerjaan mereka juga udah ribet. Maaf ya, nggak maksud anggurin kamu tadi.”&#xA;&#xA;Wajah Luna melunak. Dia jadi merasa bersalah atas ucapannya tadi. Ini hari pertama Hyunjae kerja setelah dua hari absen karena sakit, seharusnya Luna mengerti hal itu pasti membuat Hyunjae yang perfeksionis menjadi terganggu karena banyak kerjaannya yang menjadi agak keteteran.&#xA;&#xA;“Maafin aku, Yang. Nggak seharusnya aku ngomong gitu soal tim kamu.”&#xA;&#xA;Hyunjae tersenyum lembut sambil mengelus rambut panjang Luna yang tergerai. Diselipkannya beberapa helai rambut Luna di balik telinga. “Iya, nggak apa-apa. Mama udah sampe mana?”&#xA;&#xA;“Sebentar lagi sih harusnya, tadi di telepon bilangnya udah deket.”&#xA;&#xA;“Aku tegang nih.”&#xA;&#xA;“Nggak usah tegang, kata Mama kamu calon menantu idaman.”&#xA;&#xA;“Hahaha masa? Padahal belum juga ketemu Mama.”&#xA;&#xA;“Muka kamu tipe-tipe muka yang bakal disukain sama para mama-mama kayanya sih, Yang. Muka ganteng anak baik-baik gitu.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa lagi mendengarnya. “Ada-ada aja sih kamu, Na.”&#xA;&#xA;“Ih, aku serius. Ayah juga komentar kok, kamu gagah katanya. Aku kasih tau ya, Ayah itu jarang hampir nggak pernah muji penampilan pacar-pacar aku. Lempeng aja dia biasanya.”&#xA;&#xA;“Berarti emang mantan kamu dulu nggak gagah kali, makanya nggak dipuji sama Ayah.”&#xA;&#xA;“Hei sembarangan. Kamu meragukan selera aku ya?”&#xA;&#xA;“Hehehe bercanda.”&#xA;&#xA;Obrolan ringan Luna dan Hyunjae terus mengalir hingga akhirnya dari kejauhan, Luna mengenali orangtuanya yang sedang berjalan menghampiri meja mereka ditemani seorang pelayan restoran.&#xA;&#xA;Ketika akhirnya orangtua Luna sampai di meja, Hyunjae berdiri dari duduknya, memasang wajah ramah sambil tersenyum—mati-matian berusaha menghilangkan rasa gugupnya—lalu membungkukkan setengah badannya.&#xA;&#xA;“Selamat malam, Om dan Tante. Saya Jaehyun.” Hyunjae memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan orangtua Luna satu-satu.&#xA;&#xA;“Malam, Jaehyun. Yuk, duduk lagi. Jangan tegang ya, santai aja.” Ayah berkata ramah sambil menepuk pelan pundak Hyunjae. “Ini bukan acara lamaran lho, kamu udah tegang begitu.”&#xA;&#xA;Hyunjae tersipu. Tidak menyangka ketegangannya terbaca dengan mudah oleh ayahnya Luna.&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, Om ngerti kok. Om juga dulu tegang waktu pertama kali ketemu sama orang tua mamanya Luna,” lanjut Ayah lagi sambil tertawa.&#xA;&#xA;“Om, Tante, Jaehyun minta maaf ya sebelumnya karena kemarin nggak jadi ikut jemput di bandara.”&#xA;&#xA;“Oh ya, Luna cerita kamu kemarin sempat sakit ya? Sekarang udah sehat lagi kan, Nak? Kalian berdua ini tinggal sendiri nggak sama orangtua, mesti pinter-pinter jaga kesehatan ya.”&#xA;&#xA;“Sekarang udah sehat lagi kok, Tante. Makasih udah diingetin ya, Tante. Kemarin kayanya terlalu capek karena kerjaan lagi sibuk dilanjut ada acara gathering kantor di Jeju.”&#xA;&#xA;“Jaehyun, kamu kok tante lihat nggak seperti di foto ya.”&#xA;&#xA;“Eh—maksudnya gimana, Tante?”&#xA;&#xA;“Kalau di foto kamu ganteng, aslinya kamu ganteng banget. Kenapa mau sama Luna?”&#xA;&#xA;“Mamaaa ih!”&#xA;&#xA;Mamanya Luna tertawa melihat anak semata wayangnya mencebikkan bibir karena kesal. Sementara Hyunjae hanya bisa tersenyum sambil meraih tangan Luna di bawah meja, mengelus telapak tangannya.&#xA;&#xA;“Malahan saya yang takut nggak pantas untuk Luna, apalagi Luna anak satu-satunya. Om dan Tante tentu mau yang terbaik yang jadi pendamping Luna. Mungkin saat ini saya belum jadi yang terbaik, tapi saya nggak akan lelah berusaha untuk jadi yang terbaik buat Luna.”&#xA;&#xA;Jawaban Hyunjae membuat orangtua Luna agak kaget, tidak menyangka pemuda tampan dan santun di hadapan mereka ini bisa mengalirkan jawaban yang jujur tidak dibuat-buat, namun juga tulus. Luna, sama kagetnya seperti orangtuanya. Dia tahu Hyunjae serius dengan perasaannya, tapi tidak menyangka Hyunjae seserius itu dengannya.&#xA;&#xA;“Jaehyun, terima kasih ya? Tolong bantu Om dan Tante untuk jagain Luna. Om percayakan kebahagiaan Luna sama kamu.”&#xA;&#xA;Mata Luna terasa panas, dia sungguh terharu ayahnya bisa sepercaya itu pada Hyunjae dalam hitungan menit di pertemuan pertama mereka. Tangan kanan Luna menggenggam erat tangan Hyunjae—meremasnya kuat-kuat—sambil menahan airmatanya supaya tidak menetes. Hyunjae yang paham situasi, menoleh ke arah Luna dan menggelengkan kepalanya sekilas. Mengisyaratkan supaya Luna jangan menangis.&#xA;&#xA;“Udahan ah sesi wawancaranya. Ayo kita pesen makan, aku laper banget nih.” Akhirnya Luna berusaha mencairkan suasana haru dengan mengangkat tangannya memanggil pelayan.&#xA;&#xA;Setelah menghabiskan beberapa menit meneliti menu yang disajikan, akhirnya Luna melisankan makanan pilihan mereka pada pelayan yang dengan sigap mencatatnya—roasted prime rib untuk Luna dan Ayah, garlic butter grilled shrimp untuk Mama dan classic Australian beef tenderloin untuk Hyunjae. Setelah pelayan meninggalkan meja, Mama melanjutkan obrolan dengan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Jaehyun, gimana kerjaannya? Lagi ngerjain proyek apa?” tanya Mama. Ayah ikut menyimak tentu saja, sementara Luna hanya ikut mendengarkan sambil menumpu dagunya dengan telapak tangan. Ia sudah diceritakan duluan oleh Hyunjae di mobil saat perjalanan dari kantor tadi, mengenai proyek baru yang didapat timnya hari ini.&#xA;&#xA;“Kemarin ini ada satu proyek yang baru selesai, Tan. Hari ini kebetulan dapet proyek baru lagi dan lumayan besar. Minta doanya supaya lancar ya, Om, Tante.”&#xA;&#xA;“Wah, proyek apa, Jae?” kali ini Ayah yang bertanya antusias. “Tentu akan Om dan Tante doakan.”&#xA;&#xA;“Perumahan, Om. Di Busan. Jadi lagi ada proyek pembangunan semacam kota mandiri di Jung-gu, saat ini udah ada empat kompleks perumahan siap huni, dan mau dibuat yang kelima. Proyek kelima ini yang saya dan tim bakal kerjain, Om. Akan ada sekitar 60 rumah yang mau dibangun di kompleks kelima ini.”&#xA;&#xA;“Jae, itu proyek luar biasa lho bukan proyek kecil-kecilan. Berarti tim kamu dinilai baik sampe dikasih proyek besar seperti itu. Ada berapa orang di tim kamu, Jae?”&#xA;&#xA;“Lima orang termasuk saya, ditambah satu anak magang. Kasian juga sih sebetulnya Om, anak magangnya belum ada satu bulan tapi tiba-tiba udah dikasih proyek besar.”&#xA;&#xA;“Tapi sejauh ini dia bisa beradaptasi kan? Harus banyak-banyak sabar ya, Jae, kalau ngajarin anak magang.”&#xA;&#xA;“Iya saya setuju, Om, memang butuh kesabaran ekstra ngajarin anak magang. Tapi sejauh ini dia kerjanya baik, adaptasinya juga baik.”&#xA;&#xA;“Udah sih kenapa jadi bahas anak magang deh? Kan intinya lagi bahas proyeknya Jaehyun kenapa jadi ke anak magang?” Luna yang dari tadi hanya mendengarkan, mendadak berceloteh gusar.&#xA;&#xA;Hyunjae tersenyum geli menahan tawa melihat Luna yang langsung bereaksi seperti itu. Mama dan Ayah bingung. “Kenapa sih, Na? Kok sewot sama anak magang? Kamu juga kan dulu sempet magang sebelum jadi staff tetap di kantor kamu,” kata Mama.&#xA;&#xA;Luna tidak menjawab, hanya memutarkan bola matanya sambil melengos. Akhirnya Hyunjae yang memutuskan menjawab pertanyaan Mama, “Soalnya anak magangnya perempuan, Tante. Satu-satunya perempuan di tim saya. Luna suka cemburu padahal saya nggak macem-macem, saya bersikap profesional selayaknya hubungan antara senior dan anak magang.”&#xA;&#xA;Mama dan Ayah langsung tertawa terbahak mendengar penjelasan Hyunjae. Sementara Luna, hanya terdiam sambil memanyunkan bibirnya.&#xA;&#xA;“Sayang, jangan cemburuan gitu dong ah. Mama nggak pernah ajarin kamu untuk jadi cemburuan ke pasangan ya. Kasian Jaehyun kalau kamu cemburuin gitu padahal nggak ada apa-apa.”&#xA;&#xA;“Abisnya anak itu kayanya naksir sama Jaehyun, Ma. Cantik juga lagi anaknya, jadi aku insecure.”&#xA;&#xA;“Naksir aku kata siapa? Kamu gosip darimana coba, ngarang banget,” Hyunjae berkata gemas sambil mengacak pelan rambut Luna.&#xA;&#xA;“Lagian kalau iya dia naksir Jaehyun ya biarin aja, orang kamu pacarnya Jaehyun kenapa kamu yang mesti insecure,” balas Mama.&#xA;&#xA;“Iya nih, Tante. Jaehyun udah berkali-kali bilang gitu tapi Luna nggak percaya.”&#xA;&#xA;“Udah ya udah, jangan bahas itu lagi, please…,” setengah merajuk, Luna menatap ayahnya seperti meminta bantuan.&#xA;&#xA;Ayah hanya berbalik menatap anak satu-satunya itu sambil menahan senyum. Dalam hati Ayah merasa tenang karena Luna sudah berhasil sembuh dari sakit hatinya atas kandasnya hubungan sekaligus pertunangannya dengan Seokjin dulu. Ayah hanya bisa berharap semoga hubungan putri kesayangannya kali ini bisa berjalan lancar dan langgeng.&#xA;&#xA;Ayah berdeham. Sebentar lagi akan melontarkan pertanyaan yang memang menjadi inti dari alasan ingin bertemunya Ayah dengan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Nak Jaehyun, kamu benar serius sama Luna ya?” tanya Ayah.&#xA;&#xA;Hyunjae menjawab mantap tanpa ragu, sambil menganggukan kepalanya. “Iya, Om. Saya serius menjalani ini dengan Luna. Walaupun proses dari awal kenal sampai akhirnya resmi pacaran terhitung cepat, tapi hati saya sudah yakin memilih Luna… untuk jadi pendamping hidup saya.”&#xA;&#xA;“Kamu kapan berencana melamar Luna?”&#xA;&#xA;Hyunjae baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Luna lebih dulu menyela dengan nada sedikit panik. “Masih nanti, Yah. Nggak buru-buru yang jelas. Aku sama Jaehyun masih sibuk banget kerja, apalagi Jae baru dapet proyek baru. Dan sekarang keluarga Jae juga lagi fokus ngurus pernikahan kakaknya dulu. Jadi, Jaehyun nggak dalam waktu dekat ini ngelamar aku.” Luna lalu beralih menatap Hyunjae, “Ya kan, Jae?”&#xA;&#xA;Hyunjae mengerjapkan matanya, “Ya sebetulnya aku—”&#xA;&#xA;“Aku belum siap.” Tiga kata yang barusan meluncur dari bibir Luna sukses membuat pacar dan orangtuanya kaget. Luna memutuskan mengulangi lagi kalimatnya, “Aku belum siap. Bukan nggak mau, tapi belum siap.”&#xA;&#xA;Luna menunduk. Jarinya sibuk memainkan sedotan di gelas orange juice-nya. Yang ditakutkan Luna ternyata kejadian, ayahnya betulan menanyakan hal itu pada Hyunjae.&#xA;&#xA;Untuk menenangkan Luna, Hyunjae memberanikan diri menyentuh tangan Luna, menjauhkannya dari sedotan. Digenggamnya telapak tangan Luna sambil berkata pada Ayah dan Mama, “Jaehyun akan melamar kalau Luna udah siap, Om, Tante. Nggak apa-apa, Jaehyun ngerti Luna pasti butuh waktu buat yakinin dirinya.”&#xA;&#xA;“Nggak, bukan itu. Bukan aku nggak yakin sama kamu,” kata Luna.&#xA;&#xA;Sejujurnya, Luna bingung bagaimana menyampaikannya pada Hyunjae karena memang ia nggak pernah bercerita soal trauma dan sakit hati atas hubungannya dengan Seokjin dulu. Luna nggak pernah sekali pun menyinggung soal Seokjin di hadapan Hyunjae. Luna paham, Hyunjae pasti akan menyangka alasan Luna tidak ingin buru-buru bicara masalah nikah adalah karena Luna belum yakin dengan dirinya, padahal bukan itu. Luna takut. Takut mengalami kegagalan seperti yang dialaminya dengan Seokjin.&#xA;&#xA;“Luna sebetulnya udah yakin sama kamu, Jae,” kata Mama, mencoba menjelaskan. “Tapi memang ada trauma agak dalam soal nikah. Luna belum pernah cerita ke kamu, ya?”&#xA;&#xA;Hyunjae kaget—ada terbesit rasa kesal juga yang timbul tiba-tiba—karena merasa tidak pernah tahu sama sekali soal Luna yang pernah punya trauma soal pernikahan. Banyak pertanyaan mendadak muncul di otak Hyunjae, termasuk mengapa Luna sampai detik ini masih tidak memberitahukannya perihal trauma itu—yang sepertinya terdengar serius.&#xA;&#xA;Luna mendekatkan bibirnya ke telinga Hyunjae dan berbisik, “Maaf ya, nanti aku cerita.”&#xA;&#xA;Hyunjae yang tahu dirinya tidak punya banyak pilihan saat ini, hanya mengangguk mengiyakan tanpa suara.&#xA;&#xA;*\\\*&#xA;&#xA;“Om, Tante, terima kasih banyak untuk makan malamnya hari ini. Lain kali, izinin Jaehyun yang traktir ya, Om.”&#xA;&#xA;Saat ini Mama, Ayah, Luna dan Hyunjae sudah berada di tempat parkir yang terletak di basement mall. Kebetulan parkir mobil Hyunjae dan orangtua Luna ternyata tidak terlalu jauh, jadi setelah keluar restoran tadi mereka berempat bisa berjalan bersama menuju tempat parkir.&#xA;&#xA;Karena Ayah ada acara lanjutan bertemu dengan koleganya semasa masih menjabat di kedutaan Korea dulu, Luna yang tadinya mau ikut orangtuanya pulang ke hotel, tidak jadi. Akhirnya Luna tetap pulang bersama Hyunjae.&#xA;&#xA;“Sama-sama, Om titip Luna ya, Nak. Kalau dia nakal marahin aja nggak apa-apa. Makasih udah meluangkan waktu ketemu Om dan Tante.”&#xA;&#xA;“Kalian berdua harus akur ya, saling sayang saling jaga. Ingat, komunikasi itu penting. Kalau ada apa-apa sebaiknya diselesaikan secepatnya jangan ditunda.”&#xA;&#xA;“Iya Mama, Ayah. Makasih udah diingetin. Kita berdua bakal baik-baik aja, kok.”&#xA;&#xA;“Terima kasih juga untuk kepercayaan Om dan Tante. Saya akan bertanggung jawab atas hidup Luna.”&#xA;&#xA;Luna memeluk erat Mama dan Ayah bergantian sebelum berpamitan. Setelahnya, giliran Hyunjae yang dipeluk oleh Mama, dan berjabat tangan dengan Ayah sambil bahunya ditepuk-tepuk oleh Ayah.&#xA;&#xA;“Besok pulang kerja aku nginep di hotel ya,” Luna berkata sambil merunduk setelah Mama masuk mobil dan membuka kaca jendelanya.&#xA;&#xA;Tidak lama kemudian, mobil sedan hitam yang disewa Ayah menderu meninggalkan lahan parkir. Luna menarik nafas dan menghembuskannya, lega akhirnya pertemuan antara orangtuanya dan Hyunjae selesai dan berjalan lancar. Hanya tinggal satu urusan lagi yang harus Luna selesaikan dengan Hyunjae.&#xA;&#xA;Di mobil setelah mengencangkan sabuk pengaman, Luna baru akan memulai bicara namun sudah didului oleh Hyunjae.&#xA;&#xA;“Kenapa, Na? Kenapa nggak pernah cerita soal trauma?”&#xA;&#xA;Mendengar nada bicara Hyunjae yang walaupun tidak meninggi tapi menyiratkan kegusaran, membuat Luna jadi sedikit gugup. “Maaf, aku salah nggak cerita ke kamu. Aku takut kamu nggak nyaman untuk dengar cerita soal hubunganku sama mantanku dulu.”&#xA;&#xA;“Soal trauma ini… memang nggak ada yang tau atau cuma aku aja yang nggak tau?”&#xA;&#xA;Entah karena AC mobil atau memang dirinya yang semakin gugup, Luna bisa merasakan jari-jarinya mendadak terasa dingin.&#xA;&#xA;“K-kamu yang nggak tau,” Luna menjawab lirih. “Teman-temanku tau karena Seokjin—mantanku itu—temen kakaknya Juyeon. Juyeon yang ngenalin aku ke Seokjin. Otomatis dia dan Younghoon tau ceritaku sama Seokjin bahkan dari awal kenal sampai kita udahan. Nara, Sarah, Yeonjun dan Eric juga tau.”&#xA;&#xA;Hyunjae mendesah berat. Dia tidak suka dengan kenyataan bahwa dia satu-satunya yang tidak tahu masalah ini. “Aku kecewa kamu nutupin hal ini dari aku. Kamu tau nggak, malu banget aku rasanya pas tadi Mama bilang kamu ada trauma soal nikah. Aku malu karena nggak tau apa-apa soal itu. Tega banget kamu, Na.”&#xA;&#xA;“Yang, maafin aku…”&#xA;&#xA;“Sebetulnya apa yang terjadi antara kamu dan Seokjin?”&#xA;&#xA;“Proses pacarannya aku dan Seokjin mirip sama kita, nggak lama setelah kenal langsung jadian. Bedanya, setelah hampir 5 bulan pacaran aku baru dikenalin ke orangtuanya yang tinggal di Daegu. Ayah dan adik-adiknya baik, tapi mamanya nggak suka sama aku… karena aku bukan orang Korea.”&#xA;&#xA;“Aku tau harusnya dari pertemuan pertama dan udah ditolak sama mamanya, udah jelas hubunganku sama Seokjin nggak akan berhasil. Tapi dia minta kita untuk ngejalanin dulu dan berjuang untuk dapetin restu mamanya. Nggak kerasa, udah jalan dua tahun tapi restu mamanya masih nggak turun juga. Akhirnya Seokjin nekat lamar aku tanpa sepengetahuan orangtuanya dan begonya aku iyain. Berharap dengan cara itu mamanya bisa luluh.”&#xA;&#xA;“Tapi ternyata aku dan Seokjin terlalu naif. Mamanya tetap nggak setuju. Akhirnya nggak ada pilihan selain aku dan Seokjin harus pisah dan batalin pertunangan kita.”&#xA;&#xA;“Itulah kenapa aku sempet takut banget pas diajak ketemu orangtua kamu, Yang. Aku takut ditolak lagi. Walaupun sekarang aku tenang karena orangtua kamu menerima aku dengan baik, tapi tetap ada rasa khawatir. Aku masih inget betapa terpuruknya hidup aku ketika harus pisah dari Seokjin. Rasanya menyakitkan banget.”&#xA;&#xA;“Sekarang Seokjin udah nikah akhirnya, sama perempuan pilihan mamanya. Cepet banget, jarak setahun aja setelah putus dari aku. Dan nggak lama itu pula kamu datang di hidupku, Jae. Lukaku pelan-pelan sembuh berkat kehadiran kamu. Tapi aku nggak bisa bohong, rasa traumanya masih ada.”&#xA;&#xA;Hyunjae menggigiti bibir bawahnya menahan emosi mendengar cerita Luna. Tangannya mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Rahangnya mengeras. Hyunjae sadar ia sedang dalam keadaan marah.&#xA;&#xA;“Hyunjae… say something. Please?” Luna menatap Hyunjae takut-takut. Pertengkaran pertamanya dengan Hyunjae akhirnya terjadi juga.&#xA;&#xA;Hyunjae masih belum mengeluarkan kata-kata. Dirinya masih sibuk berkonsentrasi menyetir sambil mengatur emosinya supaya tidak semakin naik. Walaupun sedang marah tapi Hyunjae tidak ingin sembarangan bicara. Ia tidak ingin membuat situasi semakin runyam.&#xA;&#xA;“Aku tau kamu marah. Tapi please kamu harus percaya aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi ke Seokjin. Aku udah sepenuhnya move o—”&#xA;&#xA;“Bukan itu, Deluna.”&#xA;&#xA;Luna tertunduk, tidak berani menatap ke arah Hyunjae lagi setelah didengarnya Hyunjae memanggilnya dengan sebutan lengkap. Ia paham, marahnya Hyunjae serius.&#xA;&#xA;“Aku nggak marah karena kamu pernah mencintai laki-laki lain. Salah kalau aku marah karena itu. Nggak cuma kamu, aku juga pernah punya masa lalu, pernah mencintai perempuan lain sebelum kamu.”&#xA;&#xA;“Aku marah karena menurutku, masalah trauma kamu ini hal serius yang kuharap kamu cerita ke aku dari awal. Aku marah karena teman-teman kamu tau, sementara aku yang katanya pacar kamu, nggak tau apa-apa soal itu.”&#xA;&#xA;“Kalau aku tau, Na, aku nggak akan terus-terusan ngebahas soal lamaran lah, nikah lah. Karena aku nggak tau soal trauma kamu, aku salah paham, aku kira kamu selalu menghindar bahas lamaran atau nikah karena kamu belum yakin sama aku.”&#xA;&#xA;“Kamu tau, nggak jarang aku overthinking tengah malam mikirin gimana caranya aku bisa bikin kamu yakin sama aku. Aku sering juga kepikiran, apa semua ini terlalu cepat buat kamu, apa harusnya aku nggak secepat itu ngajak kamu pacaran.”&#xA;&#xA;Hyunjae menghentikan bicaranya bersamaan dengan melambatnya laju mobilnya karena bangunan apartemen Luna sudah mulai terlihat. Setelah memasuki area apartemen, Hyunjae yang biasanya langsung menuju parkiran di basement, kini melewatinya dan menghentikan mobilnya di lobi apartemen.&#xA;&#xA;“Kita lanjut besok ya, Na?”&#xA;&#xA;Luna menatap Hyunjae dengan sedih. “Kamu nggak mau turun dulu? Kita beresin malam ini, biar besok udah nggak ada pikiran lagi. Ya?”&#xA;&#xA;Gelengan kepala Hyunjae membuat Luna semakin sedih. “Aku capek. Besok lagi aja, oke?”&#xA;&#xA;“Aku maunya selesai malam ini. Aku nggak akan bisa tidur sebelum yakin kita baik-baik aja.”&#xA;&#xA;Hyunjae menghela nafas beratnya. Sebetulnya ia sungguh ingin menyudahi obrolan malam ini karena dirinya sudah terlalu lelah. Ia butuh segera istirahat dan menenangkan diri di apartemennya sendiri. Tapi mungkin Luna ada benarnya, semakin cepat diselesaikan, semakin baik.&#xA;&#xA;Akhirnya Hyunjae memajukan mobilnya, beruntung ada satu space kosong untuk memarkir mobilnya di halaman lobi apartemen.&#xA;&#xA;“Di lobi aja ngobrolnya ya,” sahut Hyunjae sambil melepas sabuk pengamannya setelah selesai memarkir mobil.&#xA;&#xA;Karena sudah agak malam, lobi apartemen Luna saat itu kosong. Hanya ada dua security yang berjaga di depan pintu masuk. Luna dan Hyunjae memilih duduk di sofa tidak jauh dari pintu masuk. Mereka duduk berhadapan.&#xA;&#xA;Hyunjae menautkan kesepuluh jari tangannya sambil menatap Luna. “Ngerti kan sekarang, alasan kenapa aku marah?”&#xA;&#xA;“Iya, aku ngerti dan wajar kamu marah karena hal itu. Maafin aku ya, Jae? Aku menyepelekan trauma ini karena aku merasa udah bahagia sama kamu, aku cuma nggak ingin trauma ini ngerusak semua yang udah kita bangun. Aku minta maaf sekali lagi, aku salah, nggak seharusnya aku sembunyiin hal ini dari kamu.”&#xA;&#xA;Hyunjae bangkit dari duduknya, tangannya terulur ke arah Luna, mengajaknya berdiri juga. “Yuk, aku anter kamu sampai depan unit.”&#xA;&#xA;Luna menyambut uluran tangan Hyunjae dan mengikutinya berjalan mendekati lift.&#xA;&#xA;“Jadi, aku dimaafin nggak?” tanya Luna lagi ketika mereka sudah berada di dalam lift. Hanya mereka berdua, tidak ada siapa-siapa lagi.&#xA;&#xA;Hyunjae tidak menjawab.&#xA;&#xA;Luna menatap pantulan dirinya dan Hyunjae yang sedang berpegangan tangan, dari pintu lift di depannya. Dari pantulan itu ia bisa melihat raut wajah Hyunjae yang kelelahan. Dialihkannya pandangan dari pintu lift, ke arah Hyunjae yang berdiri di samping kanannya.&#xA;&#xA;“Hyunjae, I love you,” Luna berbisik. Tinggi badannya yang “hanya” 168 cm—lebih pendek 13 cm dari tinggi badan Hyunjae—membuat kepala Luna hanya sejajar dengan bahu Hyunjae dan ia tidak bisa menjangkau pipi Hyunjae yang tadinya ingin ia kecup. Akhirnya Luna hanya bisa mendaratkan kecupannya di tepi bahu Hyunjae.&#xA;&#xA;Pintu lift terbuka. Mereka berdua berjalan menuju unit apartemen Luna masih dengan bergandengan tangan, namun Hyunjae masih belum juga berkata apa-apa.&#xA;&#xA;Sesampainya di depan unit, Hyunjae melepaskan genggaman tangannya. Ia menyandarkan tubuh Luna hingga menempel pada pintu unit.&#xA;&#xA;Tangan kirinya menangkup pipi kiri Luna, tangan kanannya mendekap pinggang Luna.&#xA;&#xA;“Jangan diulangi lagi, ya? Jangan nggak cerita ke aku untuk hal sepenting itu. Aku menghargai privasi, nggak semua tentang hidup kamu harus diceritain ke aku. Tapi untuk segala sesuatu yang menyangkut hubungan kita, aku harap kamu terbuka untuk cerita ke aku. I’ll do the same.”&#xA;&#xA;“Makasih udah maafin aku. Janji, aku nggak akan gitu lagi. I’ll share everything with you.”&#xA;&#xA;“Now, say it again.”&#xA;&#xA;“Say… what?”&#xA;&#xA;“What you said to me in the elevator earlier.”&#xA;&#xA;Luna tersipu, wajahnya memerah tapi ia tidak begitu pedulikan. “Hyunjae, I love you.”&#xA;&#xA;Hyunjae mengeratkan dekapan tangannya di pinggang Luna. “I love you too.”&#xA;&#xA;Mata Luna terpejam ketika Hyunjae mencium kening, hidung, dan kemudian bibirnya. Seperti biasanya, ciuman bibir Hyunjae selalu lembut dan penuh sayang. Bukan ciuman terburu-buru dan bernafsu.&#xA;&#xA;“Tumben nggak ijin,” kata Luna setelah Hyunjae melepaskan bibirnya.&#xA;&#xA;“Kan kata kamu waktu itu nggak usah ijin lagi. Ya udah aku nggak ijin.”&#xA;&#xA;“Iya sayang iya…”&#xA;&#xA;“Aku pamit ya?”&#xA;&#xA;“Nggak mau nginep aja? Udah malam.”&#xA;&#xA;“Nanti aja hari Sabtu aku nginep, ya. Setelah nganterin Mama sama Ayah ke bandara.”&#xA;&#xA;“Kamu harus sering nginep, pasti bentar lagi kamu bakal sibuk sering ke Busan ngurusin proyek baru. Sebelum kamu sibuk dan susah diajak ketemu, sering-sering bareng aku ya?”&#xA;&#xA;“Iya, kan nanti Sabtu nginep. Kita jalan-jalan habis dari bandara, ya? Mau kemana?”&#xA;&#xA;“Main yuk, Lotte World. How? Kemarin-kemarin Nara sempet ngajakin kita main bareng, triple date gitu ceritanya. Kita, Nara sama Hoon, Sarah sama Juyeon. Kamu mau?”&#xA;&#xA;“Boleh, yuk. Kabarin aja mereka bisa atau nggak.”&#xA;&#xA;“Oke sayang. Kamu hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabarin aku kalau udah di rumah.”&#xA;&#xA;“Kamu masuk dulu. Jangan main HP, langsung mandi, tidur. Nggak usah nungguin aku kalau kamu keburu ngantuk. Aku pulang ya?”&#xA;&#xA;Setelah mengecup pucuk kepala Luna dan membiarkan Luna masuk, Hyunjae berjalan meninggalkan unit apartemen Luna.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Tok tok!&#xA;&#xA;Luna mendongak ke arah pintu ruang kerjanya yang setengah dibiarkan terbuka. Jari-jarinya yang sedang mengetik di atas wireless keyboard terhenti sejenak. Senyum mengembang di wajahnya menyambut Yeonjun yang melangkah masuk ke ruangannya.&#xA;&#xA;“Ya, Yeon?” tanya Luna.&#xA;&#xA;“Tinggal kita berdua sekarang. Jake dan Eric barusan banget pulang. Lo mau sampe jam berapa?”&#xA;&#xA;Luna menghela nafasnya saat melihat angka 18.30 tertera di bagian pojok kanan bawah layar komputernya.&#xA;&#xA;“Lo udah beres? Kalau mau duluan pulang nggak papa. Gue juga sebetulnya udah beres tapi biarin deh sambilan nyiapin draft laporan buat lusa.”&#xA;&#xA;“Ya udah sih besok lagi aja kalau nggak urgent. Pulang yuk? Kayak yang berani aja lo sendirian di kantor.”&#xA;&#xA;“Jaehyun baru bisa jemput jam delapanan soalnya. Ada late meeting dadakan dia, penting nggak bisa ditinggal. Nggak papa gue sendiri, nyalain lagu aja paling.”&#xA;&#xA;“Minta izin aja ke Jaehyun lo pulang bareng gue. Jam delapan masih lama lho, Na. Belum lagi di jalan dari kantor dia kesini. Inget ini Jumat malem, jalanan macet.”&#xA;&#xA;Luna meraih ponselnya sambil memikirkan usulan Yeonjun. Sebetulnya takut juga dia kalau harus sendirian di kantornya terlalu larut.&#xA;&#xA;Hari ini memang sudah direncanakan Luna akan dijemput Hyunjae sepulang kantor karena Hyunjae akan menginap di tempat Luna. Besok pagi mereka sudah harus berangkat ke hotel menjemput orangtua Luna untuk diantarkan ke bandara.&#xA;&#xA;Memang manusia hanya bisa berencana, tiba-tiba menjelang jam 5 sore tadi mendadak banyak hal urgent di kantor Hyunjae sehubungan dengan proyek barunya di Busan. Hal ini membuat Hyunjae dan timnya harus lembur demi mengurusi proyeknya itu. Bahkan sampai CEO kantornya Hyunjae pun ikut lembur.&#xA;&#xA;    Sayang, aku udah beres.&#xA;&#xA;    Boleh kalau aku pulang duluan dianter Yeonjun?&#xA;&#xA;    Aku takut sendirian di kantor kalau terlalu malam.&#xA;&#xA;Di ujung sana, Hyunjae yang sedang berdiskusi dengan atasannya merasakan ponselnya yang disimpan di saku celananya bergetar, tapi ia tidak mungkin mengecek ponselnya dalam posisi itu. Akhirnya Hyunjae memilih untuk mengabaikan dulu ponselnya.&#xA;&#xA;Hampir sepuluh menit tidak ada balasan, Luna memutuskan untuk mematikan komputernya dan merapikan mejanya. Ia tidak enak membuat Yeonjun menunggu lebih lama lagi. Ia juga jelas-jelas tidak ingin di kantor sendirian selarut ini. Luna pernah pulang kantor jauh lebih malam dari ini tapi ia tidak sendirian kala itu. Luna tidak pernah lembur terlalu malam sendirian.&#xA;&#xA;“Jaehyunnya nggak balas-balas.”&#xA;&#xA;“Jadi gimana? Nggak papa lo bareng gue?”&#xA;&#xA;“Justru gue yang nggak enak sama lo jadi mesti nganterin gue dulu. Beneran nggak papa, Yeon? Maaf ya ngerepotin.”&#xA;&#xA;“Dih, repot apanya. Nggak apa-apa lah. Eh, mampir makan dulu yuk. Lagi pengen makan burger nih gue. Zorka, how?”&#xA;&#xA;“Yuuuk! Laper gue juga.”&#xA;&#xA;Sambil menunggu pintu lift terbuka, Luna mengecek ponselnya sekali lagi dan memasukkannya kembali ke dalam tas ketika dilihatnya masih belum ada balasan dari Hyunjae.&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Setelah menghabiskan empat puluh lima menit menerjang kemacetan Ibu Kota di hari Jumat malam, akhirnya Luna dan Yeonjun tiba di Zorka—burger diner bergaya food truck dengan meja dan kursi minimalis berjajaran di lahan terbuka—yang menyediakan hand-crafted burger dengan beragam isian. Awalnya Eric yang merekomendasikan burger diner ini setelah sebelumnya ia diajak kesini oleh sepupunya yang memang doyan berburu makanan enak.&#xA;&#xA;Jadilah Zorka ini salah satu tempat makan andalan anak-anak kantor Luna kalau sedang lapar tapi malas makan makanan berat.&#xA;&#xA;“Lo mau apa?” tanya Yeonjun ketika antrian di depan mereka semakin menipis, hanya menyisakan tiga orang lagi.&#xA;&#xA;“Hmm apa ya.. Pengen burger tapi gue pengen ngemil ayam juga. Berdua yuk ayamnya, mau nggak?”&#xA;&#xA;“Buttermilk chicken drumsticks?”&#xA;&#xA;“Iya… berdua yuk? Burgernya gue mau lamb kofta burger.”&#xA;&#xA;“Oke, yukberdua. Buat Jaehyun nggak sekalian dibungkusin?”&#xA;&#xA;“Nanti aja, takutnya dia udah makan. Biasanya kalau lembur sampe malam gini dia suka pesen delivery ke kantornya.”&#xA;&#xA;Akhirnya, tiba giliran Luna dan Yeonjun.&#xA;&#xA;“Lamb kofta burger, buttermilk chicken drumsticks medium, sama sloppy burger. Minumnya coke dua kaleng.” Yeonjun menyebutkan pesanan mereka sambil mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar semuanya, Yeonjun dan Luna meninggalkan konter dan berkeliling mencari tempat duduk yang masih kosong.&#xA;&#xA;Akhirnya mereka menemukan satu meja dan dua kursi kosong dengan posisi saling berhadapan—agak di sudut.&#xA;&#xA;“Yang gue berapa jadinya?” Luna bertanya sambil merogoh tasnya, mencari dompet.&#xA;&#xA;“Apaan sih, Na. Udah nggak usah, dinner’s on me tonight.”&#xA;&#xA;“Jangan gitu dong, Yeon, nggak enak nih gue.”&#xA;&#xA;“Ih gue marah nih ya. Lo kayak ke siapa aja.”&#xA;&#xA;“Hehe, ya udah iya, makasih ya traktirannya. Nanti lagi gantian gue yang traktir. Harus mau.”&#xA;&#xA;“Iya, gampang.”&#xA;&#xA;Angin malam yang berhembus malam itu tidak kencang, tapi cukup untuk membuat helaian rambut Yeonjun tersibak, mengekspos keningnya sesaat. Tangan Yeonjun menyisiri rambutnya ke belakang dengan asal, membuat helaian rambut miliknya menjadi sedikit teracak—namun terlihat natural, tidak berantakan.&#xA;&#xA;Tanpa sadar Luna tersenyum sendiri melihat Yeonjun. Mati-matian ia berusaha menghentikan eksplorasinya terhadap wajah Yeonjun yang duduk berhadapan dengannya.&#xA;&#xA;“Kenapa ngeliatin?” Ternyata Yeonjun sadar sedang diperhatikan Luna.&#xA;&#xA;“Nggak, nggak papa,” Luna menyahuti dan langsung membuka ponselnya demi menyembunyikan raut wajahnya yang memerah karena malu ketahuan sedang memperhatikan Yeonjun.&#xA;&#xA;Kebetulan, ternyata ada pesan masuk dari Hyunjae beberapa menit lalu.&#xA;&#xA;“Aku sebentar lagi pulang, kalau nggak jadi nginep nggak papa? Capek banget.”&#xA;&#xA;Begitu isi pesan Hyunjae yang diterima Luna.&#xA;&#xA;Luna mencelos, ia sungguh ingin Hyunjae jadi menginap di apartemennya tapi ia juga tidak mau memaksa jika Hyunjae tidak mau. Diketikkannya balasan untuk Hyunjae.&#xA;&#xA;    Ya udah nggak papa.&#xA;&#xA;    Hati-hati di jalan pulang, kabarin kalau udah di rumah.&#xA;&#xA;Ketika Luna akan melanjutkan obrolan dengan Yeonjun, ponselnya berdering. Menampilkan foto Jaehyun di layarnya.&#xA;&#xA;“Ya sayang?” jawab Luna setelah menekan tombol hijau ponselnya.&#xA;&#xA;“Beneran nggak papa? Maaf ya, Na,” sahut Hyunjae disana. Luna bisa mendengar suara debam pintu mobil yang ditutup yang disusul suara starter mesin mobil.&#xA;&#xA;“Nggak papa. Besok aja ketemunya ya, sekalian di hotel? Atau kamu mau jemput aku dulu?”&#xA;&#xA;“Jemput kamu dulu lah, baru ke hotel bareng.”&#xA;&#xA;“Oke, Yang.”&#xA;&#xA;“Kamu lagi apa? Udah mandi?”&#xA;&#xA;“Mandi? Nyampe apartemen juga belum. Lagi mau makan, di Zorka.”&#xA;&#xA;“Zorka?”&#xA;&#xA;“Iya, dijajanin Yeonjun disini.”&#xA;&#xA;Lalu hening.&#xA;&#xA;Hyunjae disana, tanpa sadar meremas setir mobilnya kuat-kuat. Geram dengan jawaban yang meluncur ringan dari mulut kekasihnya. Seingat Hyunjae, Luna hanya meminta izin untuk diantar pulang oleh Yeonjun. Kenapa sekarang jadi acara makan berdua?&#xA;&#xA;“Dikirain kamu udah di apartemen dari tadi, taunya masih di luar. Tadi izinnya apa? Dianter pulang kan? Kenapa jadi di Zorka sekarang?”&#xA;&#xA;“Aku laper, Yang. Dan kenapa masih disini soalnya tadi macet, jadinya telat nyampe sininya juga. Aku makan dulu sebentar ya, habis itu langsung pulang.”&#xA;&#xA;“Ya udah, cepetan jangan lama-lama.”&#xA;&#xA;“Iyaaa. Udah dulu, ya? Mau makan, biar cepet pulang.”&#xA;&#xA;“Oke. Selamat makan.”&#xA;&#xA;“Bye!”&#xA;&#xA;“Eh—Yang. Aku jadi deh.”&#xA;&#xA;“Ha? Jadi apa?”&#xA;&#xA;“Nginep. Aku jadi nginep.”&#xA;&#xA;“Loh katanya capek?”&#xA;&#xA;“Ih, kok kamu kayak yang nggak suka aku jadi nginep?”&#xA;&#xA;“Bukan gitu, Sayang. Boleh banget ayo kalau jadi mau nginep. Mau aku bungkusin burger?”&#xA;&#xA;“Nggak usah, aku udah makan.”&#xA;&#xA;“Ya udah, hati-hati nyetirnya. Tungguin aku kalau kamu nyampe duluan.”&#xA;&#xA;“Oke.”&#xA;&#xA;Pesanan dua porsi burger dan satu porsi ayam buttermilk ukuran medium sudah tersaji di meja mereka sekarang. Yeonjun mulai membuka kertas pembungkus burgernya pelan-pelan. Aroma daging sapi burger segar dan juicy seketika memanjakan hidung Yeonjun dan Luna.&#xA;&#xA;“Jaehyun marah lo makan sama gue?” Setelah gigitan pertamanya pada burger, Yeonjun bertanya pada Luna.&#xA;&#xA;“Nggak sih, cuma protes aja dia karena dikiranya gue udah di apartemen padahal masih makan disini.”&#xA;&#xA;“Tumben protes dia, dulu waktu kita makan berdua di Gwangju nyantei aja perasaan.”&#xA;&#xA;“Iya, nggak tau tuh lagi sensitif kayaknya.” Tangan Luna mencomot ayam drumstick yang diidamkannya dari tadi. “Lucu deh pacaran sama Jaehyun tuh. Baru kali ini gue pacaran sama cowok tsundere. Rasanya kayak pacaran tapi nggak pacaran.”&#xA;&#xA;“And you okay with that? Pacar-pacar lo sebelumnya pasti kebanyakan tipe-tipe romantis gitu ya?”&#xA;&#xA;“I’m perfectly okay with that. Dari awal Jaehyun udah bilang dia nggak bisa romantis sama sekali. Awal-awal gue juga agak kaget sih, bener kata lo, pacar-pacar gue sebelumnya pada romantis banget. Jadi pas jadian sama Jaehyun gue kaget gitu. Tapi lama-lama gue sadar, Jae itu tipe penyayang banget sebetulnya, cuma caranya beda. Dia sayangin gue dengan caranya sendiri.”&#xA;&#xA;“Gimana sih emangnya, tipe pacarannya orang tsundere?”&#xA;&#xA;“Pacaran sama tsundere, lo jangan harap dihujani kata-kata manis. Cara Jaehyun ngomong ke temennya, sama ngomong ke gue itu sama. Cuma yaa occasionally suka manggil ‘sayang’ ke gue. They don’t talk much, their action speaks louder.”&#xA;&#xA;“Misalnya?”&#xA;&#xA;“Hmm.. Dia bukan tipe yang selalu ngecek gue udah makan apa belum, tapi kalau kita lagi nggak bisa ketemu, suka tiba-tiba dia pesenin food delivery buat gue, sering banget. Pernah juga tuh gue malem-malem lagi kesakitan banget karena haid hari pertama, gue chat dia cuma bilang nggak bisa tidur karena terlalu sakit perutnya. Chat gue nggak dia bales, tapi tiba-tiba dia nongol di apartemen gue, bawain obat dan bantal listrik buat kompresin perut gue. Lucu banget dia sampe sibuk cek Naver sama YouTube nyari cara-cara buat hilangin sakit haid. Terus yang waktu kita pulang dari Gwangju, dia belain izin pulang setengah hari dari kantornya cuma buat jemput gue di stasiun.”&#xA;&#xA;“Wow, salut sih gue sama Jaehyun. Kebanyakan cowok kalau tau ceweknya lagi haid yang ada malah pada kabur takut kena omel. Dan belain izin setengah hari dari kantor buat jemput lo, that sounds romantic.”&#xA;&#xA;“Iya, romantisnya Jaehyun itu beda dari cowok lain. Lo sendiri tipe yang gimana? Dari tadi bahas Jae mulu perasaan.”&#xA;&#xA;“Gue penasaran abisnya, lo bisa singkat banget gitu proses kenal sampai akhirnya jadian. Jadi pengen tau, emangnya Jaehyun gimana ke lo sampai lo-nya bucin banget gini hahaha.”&#xA;&#xA;“Dianya duluan yang bucin ke gue, please note. Sekarang gue yang pengen tau, lo tipe gimana? Dari tadi nanya nggak dijawab ih.”&#xA;&#xA;“Hehehe sorry. Agak canggung gue bahas diri gue sendiri ke orang lain.”&#xA;&#xA;“Jadi gue orang lain buat lo?”&#xA;&#xA;“Nggak gitu, Na. Maksudnya, yaa lo kan jauh lebih deket sama Hoon, Juyeon, Eric ketimbang sama gue.”&#xA;&#xA;“Ya makanya sekarang kita ngobrol biar bisa lebih deket juga. Gue seneng punya banyak temen deket. Ayo dong, cerita soal lo juga. Sambil makan nih gue dengerin.”&#xA;&#xA;“Umm.. yang jelas gue bukan tipe tsundere sih, tapi romantis banget juga nggak. Biasa aja sih gue rasa. Yang pasti, gue tipe pengalah, males ribut sama pasangan. Jadi hampir selalu gue yang maju duluan buat minta maaf kalau lagi ada masalah sama cewek gue dulu. Nggak peduli siapa yang sebetulnya salah, gue pasti minta maaf duluan.”&#xA;&#xA;“Lo nggak capek selalu yang minta maaf duluan? It doesn’t sound fair to me. Positifnya, lo sama cewek lo akan jarang ribut. Minusnya, cewek lo keenakan nantinya, nggak terlatih untuk tanggung jawab sama kesalahan karena tau pasti lo yang bakal minta maaf duluan. Jangan kayak gitu kalau kata gue sih.”&#xA;&#xA;“Abisnya gue males berantem, Na. Buang waktu.”&#xA;&#xA;“Namanya juga dua insan, dua perasaan, dua logika, dua pemikiran. Nggak mungkin kalian sejalan terus, pasti ada beda pendapat, ada berantemnya. Nikmatin aja proses itu, dengan begitu lo jadi bisa paham sifat asli pasangan lo kayak gimana. Kalau terus-terusan lo yang ngalah, capek sendiri nggak sih? Nggak sehat buat hubungan lo.”&#xA;&#xA;“Ya sih, lo ada benernya. Akibatnya gue jadi gampang hilang spark sama cewek gue, cepet banget hambarnya tiap pacaran. Makanya gue nggak pernah pacaran lama.”&#xA;&#xA;“Berapa lama paling tahan?”&#xA;&#xA;“Delapan bulan, mantan yang kemarin.”&#xA;&#xA;“Putus karena?”&#xA;&#xA;“Ya itu, hilang spark guenya ke dia. Bosen. Dianya ninggalin gue deh.”&#xA;&#xA;“Tuh kan, makanya jangan selalu ngalah gitu, nggak baik. Lo tuh kayanya tipe yang males berantem, tapi sekalinya berantem langsung putus.”&#xA;&#xA;“Kind of, hahaha. Abisnya malesin gue ngadepin cewek moody kalau lagi berantem. Nggak paham harus digimanain.”&#xA;&#xA;“Dasar. Nanti lagi jangan gitu ya, yang namanya berantem selama tanpa kekerasan verbal dan fisik itu masih wajar kok. Lo belajar gih sama Hoon atau Juyeon, jagonya urusan cewek tuh mereka. Cewek itu unik. Kadang gue juga suka heran sama diri gue sendiri, bisa-bisanya mood berubah secepet itu. Untung aja Jaehyun sabar banget ngadepin gue.”&#xA;&#xA;“Hehehe iya. Thank you ya, Na, udah mau dengerin cerita gue. Hebat lo, bisa bikin gue mau cerita, jarang-jarang gue bisa gini ke orang bahkan ke temen sendiri.”&#xA;&#xA;“Salah satu kelebihan gue kayaknya. Gue itu ekstrovert sejati, tapi hidup gue selalu dikelilingi orang-orang introvert. Ayah gue introvert, sepupu deket gue Freiya namanya, introvert juga. Juyeon, Sarah, Nara, Younghoon, semua introvert. Jadi gue udah semacam terbiasa ngatasin orang-orang introvert, sekarang ditambahin lo juga.”&#xA;&#xA;“Gue tuh suka takut deket sama orang ekstrovert. Kayak si Eric tuh, ekstrovert super berisik dia kan. Gue suka kehabisan energi kalau lagi deket-deket Eric. Tapi gue anehnya nggak gitu ke lo, Na. Lo ekstrovert yang bisa bikin introvert nyaman di dekat lo.”&#xA;&#xA;“As I said, it’s my specialty.”&#xA;&#xA;“Agree.”&#xA;&#xA;“Oh ya, Na. Bahas Jaehyun lagi boleh, ya? Pengen tau aja sih, lo sayang banget sama dia ya?”&#xA;&#xA;“Lo suka sama cowok gue apa gimana sih? Nanya-nanya Jae mulu.”&#xA;&#xA;“Hahaha sialan, gue normal ya doyan cewek. Dibilangin cuma pengen tau aja.”&#xA;&#xA;“Iya, Yeon, jelaslah gue sayang banget sama Jae. Doain gue langgeng sama dia ya. Lo juga, gue doain banget biar cepet dapet gebetan baru, pacar baru. Buat dibawa ke nikahan Sarah-Juyeon nanti. Lo tuh ya, kalau suka sama cewek mesti ditunjukkin dong. Kalau lo ga nunjukkin gimana bisa sadar itu ceweknya kalau lo suka. Lo tuh nggak jelek lagi, Yeon. Lo oke kok. Cuma perlu lebih pede lagi aja urusan deketin cewek. Jangan sampe kecolongan lagi kayak gebetan lo kemarin ini.”&#xA;&#xA;“Gue nggak jelek, tapi tetep bukan kategori ganteng sih ya? Nggak kayak Jaehyun yang gue aja cowok tapi mengakui dia ganteng.”&#xA;&#xA;“Hahaha apa sih, Yeon. Ganteng kok lo tuh, seriusan deh nggak bohong. Lo tuh ganteng. Lo harus percaya diri, kalau lo aja nggak percaya diri, gimana caranya orang lain bisa percaya sama lo?”&#xA;&#xA;“Na, nanya nih ya gue ke lo sebagai cewek. Misalnya lo belum sama Jaehyun, kira-kira lo bakal mau nggak sama gue?”&#xA;&#xA;“Eh—gimana?”&#xA;&#xA;Obrolan panjang mereka terinterupsi oleh notifikasi KakaoTalk ponsel Luna.&#xA;&#xA;    Aku udah di apt kamu.&#xA;&#xA;    Pulang, cepet.&#xA;&#xA;    Nggak pulang dalam setengah jam, aku pergi lagi nggak jadi nginep.&#xA;&#xA;“Duh, Jaehyun udah di tempat gue. Kok cepet banget ya dia? Yeon, makannya cepetan, yuk. Eh atau gue pulang duluan deh ya pake taksi, kalau lo masih mau nyantai disini.”&#xA;&#xA;“Yaah, lagi asyik ngobrol padahal nih. Nggak, nggak—pake taksi apaan. Ya udah habisin dulu itu ayamnya, baru kita cabut ke apartemen lo. Oke? Makannya jangan buru-buru banget, nanti malah keselek.”&#xA;&#xA;“Hehe, oke. Maaf ya jadi ngeburu-buru. Lain kali kita ceritaan lagi.”&#xA;&#xA;Tidak sampai sepuluh menit kemudian, makanan di meja mereka berdua sudah habis, hanya menyisakan tulang belulang ayam yang sudah tak berdaging. Setelah menghabiskan coke-nya, Luna dan Yeonjun membersihkan meja, membuang sisa sampah ke tempat pembuangan sampah yang tersedia di sudut seberang meja mereka.&#xA;&#xA;Dengan perasaan senang karena perut sudah kenyang dan puas bertukar cerita, Luna dan Yeonjun melangkahkan kaki menjauhi area food truck.&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Sesampainya di apartemen, Luna tersenyum melihat sepasang sepatu formal hitam mengkilat milik Hyunjae tersimpan rapi di deretan paling atas rak sepatunya. Luna melepas sepasang heels lima senti-nya, dan menyimpannya di sebelah sepatu Hyunjae.&#xA;&#xA;Dilihatnya ruang TV dan dapurnya sepi. Berarti Hyunjae ada di kamar Luna.&#xA;&#xA;Setelah cuci tangan dan meminum secangkir teh chamomile hangat favoritnya, Luna berjalan mendekati pintu kamarnya yang tertutup.&#xA;&#xA;Benar saja, Luna mendapati Hyunjae sedang menonton tayangan dari Netflix di sofa dusty pink miliknya—masih lengkap dengan setelan kerjanya.&#xA;&#xA;“Hai, Cintaku.”&#xA;&#xA;Luna menyapa sambil berjalan mendekati Jaehyun. Setelah Hyunjae berada dalam jangkauannya, Luna melungsurkan tas laptop yang tersampir di bahunya, begitu saja ke lantai yang beralaskan karpet bulu halus berwarna senada dengan sofanya.&#xA;&#xA;Yang disapa masih diam, matanya menatap lurus ke arah layar TV.&#xA;&#xA;Luna mendudukkan diri di samping Jaehyun, menciumi pucuk kepala dan pipinya. “Disapa kok diem aja? Gimana kerjaan hari ini? Capek ya?”&#xA;&#xA;“Seneng kamu, ditraktir makan sama Yeonjun?” Hyunjae membalas sapaan lembut Luna dengan dingin.&#xA;&#xA;Luna tahu pacarnya ini lagi ngambek. Alih-alih menghiburnya, Luna memutuskan untuk menggoda Jaehyun sedikit.&#xA;&#xA;“Yang, kamu nyium bau sesuatu nggak, sih?”&#xA;&#xA;“Bau apa? Nggak.”&#xA;&#xA;“Bau api. Kentara banget.”&#xA;&#xA;“Api? Apa sih, Na, ngaco banget. Nggak kecium apa-apa.”&#xA;&#xA;“Kentara banget nih bau apinya.”&#xA;&#xA;“Na—”&#xA;&#xA;“Api cemburu.”&#xA;&#xA;Hyunjae terdiam, bibirnya semakin mencebik. Luna tertawa terbahak-bahak melihat raut kesal Hyunjae.&#xA;&#xA;“Sayang tsundere-ku bisa cemburu juga ternyata.”&#xA;&#xA;“I’m not jealous. Why would I?”&#xA;&#xA;Luna akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan Hyunjae. Ia paham, kekasihnya ini selain sedang cemburu, mood-nya juga sepertinya sedang tidak bagus. Mungkin karena terlalu lelah dengan ritme kerjanya hari ini.&#xA;&#xA;Luna mengusap rambut halus Hyunjae. Ia lalu memindahkan tubuhnya, menaiki Hyunjae dan duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Kedua kaki Luna terlipat di sisi kanan dan kirinya, membuat rok span-nya menjadi sedikit terangkat.&#xA;&#xA;Ditatapnya wajah Hyunjae lekat-lekat, tangannya mengusapi helaian rambut yang menutupi kening Hyunjae. Disibakkannya helaian rambut yang menutupi keningnya, dan Luna memberikan ciuman-ciuman kecil di kening Hyunjae.&#xA;&#xA;“Maaf ya, aku nggak izin dulu mau makan sama Yeonjun. Kukira kamu bakal santai aja kayak biasa.”&#xA;&#xA;“Nggak bisa santai kalau sama Yeonjun. Beda ya, kalau kamu sama Hoon atau Juyeon atau Eric, aku santai.”&#xA;&#xA;“Yeonjun sama aja kayak mereka, nggak beda.”&#xA;&#xA;Hyunjae menggeleng. “Nggak, Na. Yeonjun beda, I can feel it. Insting sesama cowok.”&#xA;&#xA;“Waktu aku makan berdua Yeonjun di Gwangju, kamu nggak papa tuh.”&#xA;&#xA;“Instingku belum jalan waktu itu. Lama-lama, kerasa.”&#xA;&#xA;“Ngaku dulu coba, aku pengen denger.”&#xA;&#xA;“Ngaku apa?”&#xA;&#xA;“Kamu cemburu sama Yeonjun?”&#xA;&#xA;“Iya, aku cemburu sama Yeonjun.”&#xA;&#xA;Wow.&#xA;&#xA;Luna terkejut dalam hati. Nggak disangka Hyunjae melisankan pengakuannya dengan gamblang.&#xA;&#xA;“Kenapa kok diem? Kaget aku bilang cemburu?”&#xA;&#xA;“Iya, aku nggak sangka. Aku pikir kamu akan selalu santai mau aku jalan sama siapa pun juga. Karena yang udah-udah, kamu santai, nggak pernah protes. Aku yang sering ngeluh cemburuin kamu.”&#xA;&#xA;“Dibilangin, kalau sama Hoon, Juyeon, Eric, aku nggak akan pernah cemburu. Kukira ke Yeonjun juga bakal sama, tapi pas aku lihat dia nyuapin kamu roti di stasiun waktu itu, aku sadar, Yeonjun beda dari Hoon, Juyeon dan Eric. Aku nggak bisa lengah dan santai ke Yeonjun. Maaf.”&#xA;&#xA;Perasaan bersalah menjalari tiap sel dalam tubuh Luna. Sungguh ia tidak sadar Hyunjae ada perasaan seperti itu pada Yeonjun.&#xA;&#xA;“Maaf ya sayang. Nggak maksud bikin kamu cemburu dengan sengaja.”&#xA;&#xA;“I know, it’s OK. Now that you know, would you please stay a bit away from him? Bukan menjauhi gimana, dia teman kamu, aku nggak mau bikin kamu nggak berteman lagi sama dia. Cuma.. hindari berduaan sama dia di luar urusan kantor dan formal ya, Yang? Bisa?”&#xA;&#xA;Luna mengangguk. “Nggak ada alasan untuk nggak bisa. Maaf sekali lagi, Sayang.”&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, aku tau kamu nggak sengaja.”&#xA;&#xA;Luna tidak menjawab lagi. Dia memajukan duduknya, merapatkan tubuhnya pada tubuh Hyunjae. Dengan kedua tangan melingkari leher Hyunjae, Luna memagutkan bibirnya pada bibir Hyunjae. Duluan. Baru kali ini Luna yang memulai ciumannya.&#xA;&#xA;Detik yang berjalan Luna habiskan untuk memandangi wajah Hyunjae, ketika ia melepaskan bibirnya sesaat. Lalu, dipagutnya kembali bibir Hyunjae, kali ini lebih dalam dari yang sebelumnya. Luna memutuskan untuk melakukan hal yang belum pernah dicobanya dengan Hyunjae; memainkan lidahnya di langit-langit mulut Hyunjae.&#xA;&#xA;Terasa seperti ada yang menggelitiki perut Luna ketika Hyunjae membalas permainan lidahnya. Luna menyukai perasaan ini.&#xA;&#xA;Kali ini Hyunjae yang menghentikan ciumannya.&#xA;&#xA;Tangannya menyibak rambut panjang Luna ke belakang bahu Luna, sambil menyisipkan sejumput helai di belakang telinga. Lalu Hyunjae menangkup tubuh Luna, diangkatnya perlahan dari pangkuannya dan ia menidurkan kepala Luna di tangan sofa.&#xA;&#xA;Posisi Luna kini berada di bawah kungkungan tubuh Hyunjae yang atletis, dan jelas berukuran lebih besar dari tubuh Luna. Dengan lengan kiri dipakai untuk menumpu tubuhnya, tangan kanan Hyunjae mengelusi wajah Luna.&#xA;&#xA;“Nggh, Yang..”&#xA;&#xA;Luna mengeluarkan erangan kecil ketika bibir Hyunjae kembali menyentuhi bibirnya. Entah Luna sadar atau tidak, yang pasti erangan kedua yang kini terlontar dari mulutnya terdengar agak lebih keras dari yang pertama, karena Hyunjae sedang melanjutkan permainan lidahnya setelah tadi sempat terhenti karena Hyunjae ingin berganti posisi.&#xA;&#xA;Hyunjae tahu ia menginginkan lebih dari yang sedang mereka lakukan sekarang—mereka berdua menginginkan lebih—tapi tidak ada yang berani untuk memulai lebih jauh dari yang sudah terjadi kini. Sudah menuju sepuluh menit, keduanya masih dalam posisi seperti tadi. Lengan kiri Hyunjae sudah terlalu pegal dan nyaris mati rasa karena terlalu lama menopang beban tubuhnya pada posisi konstan seperti itu untuk waktu yang cukup lama.&#xA;&#xA;Akhirnya Hyunjae melepaskan ciumannya lagi, perlahan, dan berganti menciumi kening dan hidung Luna. Setelahnya, Hyunjae bangkit dari posisinya sambil mengibaskan lengan kirinya yang ternyata benar-benar mati rasa. Engselnya serasa kaku.&#xA;&#xA;Melihat kekasihnya berjalan mondar mandir sambil mengibaskan tangan, kini Luna yang bangkit dari posisi tidurannya.&#xA;&#xA;“Pegel ya?” tanya Luna iba. Wajah Hyunjae merautkan ekspresi tidak nyaman sambil memijiti lengan kirinya.&#xA;&#xA;Luna berdiri, ia menciumi sepanjang lengan kiri Hyunjae. “Mandi ya, rendeman aja biar berkurang pegelnya. Aku siapin air hangatnya dulu sambil aku mandi duluan ya. Sebentar kok, aku nggak akan rendeman.”&#xA;&#xA;“Luna,” panggil Hyunjae, sebelum Luna menghilang di balik pintu kamar mandi. “How was it—the kiss?”&#xA;&#xA;Luna terlalu malu rasanya untuk menjawab.&#xA;&#xA;Tapi dari kerlingan mata Luna yang berbinar dan semburat rona merah di pipinya, Hyunjae tahu Luna menyukainya.&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Hyunjae dan Luna baru saja selesai video call dengan Mama dan Ayah, membicarakan soal besok pagi dimana mereka berencana menjemput Mama dan Ayah di hotel jam tujuh untuk mengejar jadwal keberangkatan pesawat jam sepuluh pagi. Tidak terasa, delapan harinya Mama dan Ayah di Seoul sudah selesai dan kini harus kembali ke Singapore.&#xA;&#xA;“Yah, jauhan lagi deh sama Mama Ayah. Delapan hari bener-bener nggak kerasa,” keluh Luna sambil menutup layar laptopnya. Ia dan Hyunjae sedang di ruang TV, duduk selonjoran di karpet dengan laptop terletak di atas coffee table, dan TV menyala—seperti biasa, menayangkan tontonan Netflix yang berujung diabaikan karena Luna dan Hyunjae memilih untuk saling mengobrol ketimbang menonton TV.&#xA;&#xA;“Nanti kita ke Singapore, gantian kita yang kesana ya,” hibur Hyunjae. Dia masih tetap ingin mewujudkan keinginannya menemui orang tua Luna di Singapore.&#xA;&#xA;“Yang, kamu pulang Senin aja, ya? Kan Senin libur, tanggal merah. Temenin aku disini sampai Senin mau ya?”&#xA;&#xA;Hyunjae baru akan menjawab ketika notifikasi KakaoTalk Luna mendadak berbunyi terus-terusan, menandakan banyak pesan yang masuk sekaligus.&#xA;&#xA;Luna melihat ponselnya dan ternyata group chat dengan gengnya di kantor yang menimbulkan rentetan notifikasi itu.&#xA;&#xA;    Younghoon: Pasti kalian nggak ada yang cek web Lotte World besok, kan? Temporarily closed ternyata, tiga hari. Under regular maintenance.&#xA;&#xA;    Juyeon: Hah? Nggak jadi dong kita besok kesana?&#xA;&#xA;    Eric: Sukurin. Itulah akibatnya nggak ngajak-ngajak kaum jomblo alias gue dan Kak Yeonjun. Pake acara triple date segala.&#xA;&#xA;    Younghoon: Yee, Ric. Kan udah dibilang, kalau lo berdua mau ikut ya ikut aja, ajakin Hyuna juga nggak papa. Lo-nya nggak mau.&#xA;&#xA;    Eric: Serba salah gue, ajakin Hyuna, gimana ya kita belum resmi pacaran nggak kayak lo pada. Nggak ajak Hyuna, masa gue sama Kak Yeon pasangannya disana?”&#xA;&#xA;    Yeonjun: Ogah gue juga sama lo, Ric. Dikira gue demen laki ntar.&#xA;&#xA;Kini giliran Luna yang mengetikkan pesan.&#xA;&#xA;    Lah jadi gimana? Besok kita kemana? Ini Nara Sarah kemana sih oy.&#xA;&#xA;    Sarah: Hadir.&#xA;&#xA;    Nara: Abis video call gue sama Sarah. Kita ada ide, tapi agak gila sih. Tapi seru kayaknya. Yang dadakan emang suka seru, ya nggak?&#xA;&#xA;    Ngapain lo? Jangan aneh-aneh please.&#xA;&#xA;    Sarah: Kita ke Jepang, yuk? Main ke Disneyland aja gimana?&#xA;&#xA;    SARAH JANGAN GILA.&#xA;&#xA;    Juyeon: Nggak mau, Yang. Disneyland buat bocah, aku tidur nanti disana.&#xA;&#xA;    Younghoon: Nggak mau gue juga.&#xA;&#xA;    Nara: Ya udah, Disneysea?&#xA;&#xA;Luna mengerutkan keningnya melihat pembicaraan di group chat-nya. Sudah semakin ngawur akibat ide gila Sarah dan Nara. Mentang-mentang Senin libur, mereka dadakan mau liburan singkat ke Jepang.&#xA;&#xA;“Kenapa, Yang?” Hyunjae yang menyadari perubahan ekspresi wajah Luna, bertanya.&#xA;&#xA;“Lotte World tutup kata Hoon, lagi maintenance tiga hari.”&#xA;&#xA;“Besok nggak jadi dong? Atau diganti pergi ke tempat lain?”&#xA;&#xA;“Sarah sama Nara masa kasih ide ke Jepang, coba? Ke Disneyland katanya. Tapi nggak tau sih, ini Hoon sama Juyeon pada nggak mau.”&#xA;&#xA;“Hah ke Jepang? Ngapain jauh-jauh amat astaga. Lagian dadakan cari tiket pesawat emangnya dapet?”&#xA;&#xA;Luna melirik group chat-nya lagi.&#xA;&#xA;    Younghoon: Ya udah oke kalau jadinya Universal Studios sih.&#xA;&#xA;    Juyeon: Iya, ayo. Pergi besok pagi, pulang Senin sore?&#xA;&#xA;    Eric: Ikuuut. Kalau jadinya ke Osaka gue ikut, please. Kak Yeon, ayo ikut ajalah yuk ke Osaka. Biarin aja mereka pada bawa pacar.&#xA;&#xA;    Yeonjun: Let’s go!&#xA;&#xA;    Nara: Eh, beneran lo berdua ikut? Ya udah, gue coba cek tiket pesawat ya, Sarah lo cek hotel coba. Atau apartemen deh biar nggak misah-misah. Luna, lo sama Jae tetep ikut kan?&#xA;&#xA;    Bentar, gue tanya Jae. Tapi kalau pagi-pagi banget gue nggak bisa ya, mau nganter Mama Ayah ke Incheon.&#xA;        Nara: Kebeneran dong lo sekalian ke Incheon. Kita berangkat dari Incheon kok.&#xA;        Oh, bukan dari Gimpo?&#xA;        Nara: Nope, Incheon.&#xA;&#xA;“Yang, mereka jadinya ke Osaka, mau ke Universal Studios katanya. Nara lagi coba cek tiket pesawat. Mau berangkat dari Incheon jadi bisa sekalian sih nganter Mama Ayah. Kita jadi mau ikut?”&#xA;&#xA;“Terserah kamu, Yang. Kalau kamu mau ikut, aku temenin. Tapi kalau kamu nggak mau ya nggak usah berangkat.”&#xA;&#xA;“Aku bingung. Pengen sih.”&#xA;&#xA;“Tapi?”&#xA;&#xA;“Takut kamunya nggak pengen. Takut kamu kecapekan soalnya mereka berencana mau pulang Senin sore.”&#xA;&#xA;“Ya udah ayo berangkat kalau kamu mau. Deket ini ke Osaka, nggak nyampe dua jam terbangnya juga.”&#xA;&#xA;“Beneran nggak papa?”&#xA;&#xA;“Iya, lumayan juga kita liburan singkat.”&#xA;&#xA;Cup. Luna mengecup pipi Hyunjae, senang. “Makasih sayang.”&#xA;&#xA;Luna beralih pada layar ponselnya lagi yang ternyata sudah ramai karena menurut Nara, mereka masih bisa dapat tiket pesawat dari Incheon ke Kansai, Osaka besok jam 11 siang. Tinggal menunggu konfirmasi dari masing-masing yang mau ikut, Nara akan membeli tiketnya.&#xA;&#xA;    Gue sama Jae oke ya, jadi ikut.&#xA;        Sarah: YES! Nggak asik kalau pasangan fenomenal ini nggak ikutan. Akhirnyaaa.&#xA;        Fenomenal apaan coba. Berlebihan lo, Sar.&#xA;&#xA;    Nara: Emailin ke gue sekarang ya data-data lengkap lo semua termasuk nomor paspor. Gue talangin dulu ini tiket pesawat, tiket masuk USJ sama apartemennya. Nanti kalau udah beres semua kalian transfer aja ke m-banking gue.&#xA;&#xA;    Younghoon: Apartemen nih jadinya? Nggak hotel aja sekamar berdua-berdua gitu?&#xA;&#xA;    Eric: Kak, tega lo gue sekamar sama Kak Yeon. Lo semua nanti sibuk pada enak-enakan di kamar sama pacar. Udah, apartemen aja paling bener.&#xA;&#xA;    Nara: Penthouse sih lebih tepatnya bukan apartemen, kita sewa satu penthouse buat kita sendiri, kok. Gue nemu nih ada 3 kamar, dapur, ruang TV, kamar mandi di masing-masing kamar.&#xA;&#xA;    Nara: Pembagian kamarnya, kita cewek-cewek bertiga sekamar. Kamar satu lagi Younghoon Juyeon, kamar terakhir Yeonjun, Eric, Jaehyun. Gimana?&#xA;&#xA;    Eric: Boleh, yang penting gue pengen sama Kak Jae.&#xA;&#xA;    Yeonjun: Duh, gue sekamar sama orang-orang ekstrovert. Keong nanti gue. Boleh bareng sama Younghoon Juyeon aja nggak?&#xA;&#xA;    Juyeon: Wkwk dasar. Yaudah lo bareng gue sama Younghoon aja. Biar si Eric sama abang kesayangannya tuh.&#xA;&#xA;Setelah masing-masing mengumpulkan data diri untuk kepentingan book tiket pesawat dan apartemen, Nara menyembutkan nominal yang harus dibayarkan per orangnya sambil memberikan nomor rekeningnya.&#xA;&#xA;“Bayar dari m-banking aku aja, Na,” kata Hyunjae setelah Luna menyebutkan angka yang harus ditransfer ke Nara. “Bacain nomor rekeningnya Nara.”&#xA;&#xA;“Iya, yang kamu bayar dari m-banking kamu aja. Aku bayar punyaku sendiri,” kata Luna. Layar ponselnya sudah menampilkan aplikasi m-banking miliknya.&#xA;&#xA;“Ih apaan. Udah, sekalian aja punya kamu juga bayar dari aku. Ngapain dipisah-pisah gitu bayarnya,” protes Hyunjae. Diambilnya ponsel Luna dari tangannya dan buru-buru diselipkan di bawah bantal sofa.&#xA;&#xA;“Hei, HP-ku siniin. Nomor rekeningnya Nara kan ada di HP-ku, gimana sih kamu.”&#xA;&#xA;Hyunjae terkekeh. Iya juga, batinnya.&#xA;&#xA;Diambilnya lagi ponsel Luna dari bawah bantal sofa, dibukanya, dan Hyunjae mencari nomor rekening Nara yang disebutkan di group chat room barusan.&#xA;&#xA;Setelah transfernya berhasil, Hyunjae mengirimkan bukti transfernya ke ponsel Luna supaya diteruskan ke Nara.&#xA;&#xA;“Udah aku transfer ya, sekalian sama yang punya kamu juga,” kata Hyunjae lagi sambil mengembalikan ponsel Luna pada yang punya.&#xA;&#xA;“Jae, kok gitu sih? Aku jadi nggak enak nih, kenapa kamu bayarin yang aku juga? Aku transfer balik ya ke kamu.”&#xA;&#xA;“Kalau kamu transfer balik, aku marah nih. Udah sih, nggak apa-apa. Sekali-kalinya aku bayarin kita liburan, nggak pernah kan?”&#xA;&#xA;“Ya tapi kan itu nominalnya gede, Sayang.”&#xA;&#xA;“I know, but I can afford it. Don’t worry.”&#xA;&#xA;“Nyebelin ya kamu tuh.”&#xA;&#xA;“Na, it’s the least I can do. Pengen aja sih aku bayarin pacarku liburan, kenapa nggak boleh? Nominal segitu nggak sebanding sama apa yang udah kamu kasih ke aku selama ini, paham?”&#xA;&#xA;“Aku nggak pernah kasih kamu apa-apa deh perasaan.”&#xA;&#xA;“Waktu, tenaga, dan cinta kamu buat aku. Kamu pikir itu bukan apa-apa?”&#xA;&#xA;“Ya tapi kan aku nggak pamrih, aku tulus dan ikhlas ngasih itu semua buat kamu. Aku nggak ngarepin balasan apa-apa dari kamu.”&#xA;&#xA;“Duh kesel deh. Ngeyel banget sih ini pacar satu. Iya aku tau kamu tulus dan nggak pamrih, aku bayarin kamu liburan memang aku yang pengen aja. Udah ya, jangan dibahas lagi? I love you, Sayang.”&#xA;&#xA;“Geli dengernya.”&#xA;&#xA;“Biarin, emang aku cinta kok sama kamu.”&#xA;&#xA;“I love you too,* Cintaku.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Chapter 10.</strong></p>

<p>“Oke, Mama. Aku sama Jaehyun udah sampe. Kita di teras ya, nanti bilang aja atas nama Jaehyun Lee. Telepon aku kalau susah nemu tempatnya.”</p>

<p><em>Klik!</em></p>

<p>Luna melipat kembali ponsel <em>flip</em>-nya setelah teleponnya dengan Mama selesai. Ia merapatkan <em>outer</em>-nya sambil mengalihkan pandangan menatap hamparan kota Seoul—distrik Gangnam lebih tepatnya—dari teras atas <em>steak house</em> bernama Outback di mall COEX.</p>

<p>Hyunjae duduk di sebelahnya dengan mata terfokus pada ponselnya. Keduanya sama-sama masih mengenakan setelan kerja karena memang habis dari kantor langsung menuju ke restoran ini. Hyunjae dari kantornya menjemput Luna dulu tadi, sedangkan orangtua Luna dari hotel langsung menuju kesini. Hyunjae yang beberapa hari lalu sempat sakit, kini sudah sehat lagi dan akhirnya siap untuk bertemu orangtua Luna.</p>

<p>“Main HP aja, aku dianggurin,” protes Luna ketika menit demi menit berlalu dan Hyunjae masih terlihat fokus pada ponselnya. Tidak ada tanda-tanda Hyunjae akan beralih dari ponselnya.</p>

<p>“Sebentar, Yang. Ini ada <em>email</em> dari vendor, aku balas dulu bentar ya.” Hyunjae menjawab, namun matanya tidak lepas dari layar ponsel. Jari-jarinya sibuk mengetik.</p>

<p>“Ini udah lewat <em>office hour</em>, besok lagi bisa nggak sih?”</p>

<p>Kali ini Hyunjae tidak menjawab. Keningnya sesekali berkerut dengan jari yang masih sibuk mengetik.</p>

<p>Luna menunggu.</p>

<p>Detik ke detik, hingga akhirnya berubah menjadi menit.</p>

<p>“Lee Jaehyun! Aku ngambek nih ya.”</p>

<p>Tepat setelah <em>email</em>-nya terkirim, Hyunjae menekan tombol <em>back</em> hingga ponselnya kembali menampilkan <em>home screen</em>, membuatnya berada dalam <em>silent mode</em>, lalu mengunci ponselnya. Disimpannya ponselnya di saku celananya.</p>

<p>“Iya ini udah, maaf ya? Dua hari absen kerja bikin <em>to-do list</em>-ku kacau, banyak yang kelewat.”</p>

<p>“Apa gunanya di tim kamu banyak orang gitu kalau kamu nggak masuk dua hari aja langsung jadi kacau?”</p>

<p>“Sayang jangan gitu ngomongnya, timku kan masing-masing ada kerjaannya sendiri. Tanpa ditambahin kerjaanku, kerjaan mereka juga udah ribet. Maaf ya, nggak maksud anggurin kamu tadi.”</p>

<p>Wajah Luna melunak. Dia jadi merasa bersalah atas ucapannya tadi. Ini hari pertama Hyunjae kerja setelah dua hari absen karena sakit, seharusnya Luna mengerti hal itu pasti membuat Hyunjae yang perfeksionis menjadi terganggu karena banyak kerjaannya yang menjadi agak keteteran.</p>

<p>“Maafin aku, Yang. Nggak seharusnya aku ngomong gitu soal tim kamu.”</p>

<p>Hyunjae tersenyum lembut sambil mengelus rambut panjang Luna yang tergerai. Diselipkannya beberapa helai rambut Luna di balik telinga. “Iya, nggak apa-apa. Mama udah sampe mana?”</p>

<p>“Sebentar lagi sih harusnya, tadi di telepon bilangnya udah deket.”</p>

<p>“Aku tegang nih.”</p>

<p>“Nggak usah tegang, kata Mama kamu calon menantu idaman.”</p>

<p>“Hahaha masa? Padahal belum juga ketemu Mama.”</p>

<p>“Muka kamu tipe-tipe muka yang bakal disukain sama para mama-mama kayanya sih, Yang. Muka ganteng anak baik-baik gitu.”</p>

<p>Hyunjae tertawa lagi mendengarnya. “Ada-ada aja sih kamu, Na.”</p>

<p>“Ih, aku serius. Ayah juga komentar kok, kamu gagah katanya. Aku kasih tau ya, Ayah itu jarang hampir nggak pernah muji penampilan pacar-pacar aku. Lempeng aja dia biasanya.”</p>

<p>“Berarti emang mantan kamu dulu nggak gagah kali, makanya nggak dipuji sama Ayah.”</p>

<p>“Hei sembarangan. Kamu meragukan selera aku ya?”</p>

<p>“Hehehe bercanda.”</p>

<p>Obrolan ringan Luna dan Hyunjae terus mengalir hingga akhirnya dari kejauhan, Luna mengenali orangtuanya yang sedang berjalan menghampiri meja mereka ditemani seorang pelayan restoran.</p>

<p>Ketika akhirnya orangtua Luna sampai di meja, Hyunjae berdiri dari duduknya, memasang wajah ramah sambil tersenyum—mati-matian berusaha menghilangkan rasa gugupnya—lalu membungkukkan setengah badannya.</p>

<p>“Selamat malam, Om dan Tante. Saya Jaehyun.” Hyunjae memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan orangtua Luna satu-satu.</p>

<p>“Malam, Jaehyun. Yuk, duduk lagi. Jangan tegang ya, santai aja.” Ayah berkata ramah sambil menepuk pelan pundak Hyunjae. “Ini bukan acara lamaran lho, kamu udah tegang begitu.”</p>

<p>Hyunjae tersipu. Tidak menyangka ketegangannya terbaca dengan mudah oleh ayahnya Luna.</p>

<p>“Nggak apa-apa, Om ngerti kok. Om juga dulu tegang waktu pertama kali ketemu sama orang tua mamanya Luna,” lanjut Ayah lagi sambil tertawa.</p>

<p>“Om, Tante, Jaehyun minta maaf ya sebelumnya karena kemarin nggak jadi ikut jemput di bandara.”</p>

<p>“Oh ya, Luna cerita kamu kemarin sempat sakit ya? Sekarang udah sehat lagi kan, Nak? Kalian berdua ini tinggal sendiri nggak sama orangtua, mesti pinter-pinter jaga kesehatan ya.”</p>

<p>“Sekarang udah sehat lagi kok, Tante. Makasih udah diingetin ya, Tante. Kemarin kayanya terlalu capek karena kerjaan lagi sibuk dilanjut ada acara <em>gathering</em> kantor di Jeju.”</p>

<p>“Jaehyun, kamu kok tante lihat nggak seperti di foto ya.”</p>

<p>“Eh—maksudnya gimana, Tante?”</p>

<p>“Kalau di foto kamu ganteng, aslinya kamu ganteng banget. Kenapa mau sama Luna?”</p>

<p>“Mamaaa ih!”</p>

<p>Mamanya Luna tertawa melihat anak semata wayangnya mencebikkan bibir karena kesal. Sementara Hyunjae hanya bisa tersenyum sambil meraih tangan Luna di bawah meja, mengelus telapak tangannya.</p>

<p>“Malahan saya yang takut nggak pantas untuk Luna, apalagi Luna anak satu-satunya. Om dan Tante tentu mau yang terbaik yang jadi pendamping Luna. Mungkin saat ini saya belum jadi yang terbaik, tapi saya nggak akan lelah berusaha untuk jadi yang terbaik buat Luna.”</p>

<p>Jawaban Hyunjae membuat orangtua Luna agak kaget, tidak menyangka pemuda tampan dan santun di hadapan mereka ini bisa mengalirkan jawaban yang jujur tidak dibuat-buat, namun juga tulus. Luna, sama kagetnya seperti orangtuanya. Dia tahu Hyunjae serius dengan perasaannya, tapi tidak menyangka Hyunjae <em>seserius</em> itu dengannya.</p>

<p>“Jaehyun, terima kasih ya? Tolong bantu Om dan Tante untuk jagain Luna. Om percayakan kebahagiaan Luna sama kamu.”</p>

<p>Mata Luna terasa panas, dia sungguh terharu ayahnya bisa sepercaya itu pada Hyunjae dalam hitungan menit di pertemuan pertama mereka. Tangan kanan Luna menggenggam erat tangan Hyunjae—meremasnya kuat-kuat—sambil menahan airmatanya supaya tidak menetes. Hyunjae yang paham situasi, menoleh ke arah Luna dan menggelengkan kepalanya sekilas. Mengisyaratkan supaya Luna jangan menangis.</p>

<p>“Udahan ah sesi wawancaranya. Ayo kita pesen makan, aku laper banget nih.” Akhirnya Luna berusaha mencairkan suasana haru dengan mengangkat tangannya memanggil pelayan.</p>

<p>Setelah menghabiskan beberapa menit meneliti menu yang disajikan, akhirnya Luna melisankan makanan pilihan mereka pada pelayan yang dengan sigap mencatatnya—<em>roasted prime rib</em> untuk Luna dan Ayah, <em>garlic butter grilled shrimp</em> untuk Mama dan <em>classic Australian</em> <em>beef tenderloin</em> untuk Hyunjae. Setelah pelayan meninggalkan meja, Mama melanjutkan obrolan dengan Hyunjae.</p>

<p>“Jaehyun, gimana kerjaannya? Lagi ngerjain proyek apa?” tanya Mama. Ayah ikut menyimak tentu saja, sementara Luna hanya ikut mendengarkan sambil menumpu dagunya dengan telapak tangan. Ia sudah diceritakan duluan oleh Hyunjae di mobil saat perjalanan dari kantor tadi, mengenai proyek baru yang didapat timnya hari ini.</p>

<p>“Kemarin ini ada satu proyek yang baru selesai, Tan. Hari ini kebetulan dapet proyek baru lagi dan lumayan besar. Minta doanya supaya lancar ya, Om, Tante.”</p>

<p>“Wah, proyek apa, Jae?” kali ini Ayah yang bertanya antusias. “Tentu akan Om dan Tante doakan.”</p>

<p>“Perumahan, Om. Di Busan. Jadi lagi ada proyek pembangunan semacam kota mandiri di Jung-gu, saat ini udah ada empat kompleks perumahan siap huni, dan mau dibuat yang kelima. Proyek kelima ini yang saya dan tim bakal kerjain, Om. Akan ada sekitar 60 rumah yang mau dibangun di kompleks kelima ini.”</p>

<p>“Jae, itu proyek luar biasa lho bukan proyek kecil-kecilan. Berarti tim kamu dinilai baik sampe dikasih proyek besar seperti itu. Ada berapa orang di tim kamu, Jae?”</p>

<p>“Lima orang termasuk saya, ditambah satu anak magang. Kasian juga sih sebetulnya Om, anak magangnya belum ada satu bulan tapi tiba-tiba udah dikasih proyek besar.”</p>

<p>“Tapi sejauh ini dia bisa beradaptasi kan? Harus banyak-banyak sabar ya, Jae, kalau ngajarin anak magang.”</p>

<p>“Iya saya setuju, Om, memang butuh kesabaran ekstra ngajarin anak magang. Tapi sejauh ini dia kerjanya baik, adaptasinya juga baik.”</p>

<p>“Udah sih kenapa jadi bahas anak magang deh? Kan intinya lagi bahas proyeknya Jaehyun kenapa jadi ke anak magang?” Luna yang dari tadi hanya mendengarkan, mendadak berceloteh gusar.</p>

<p>Hyunjae tersenyum geli menahan tawa melihat Luna yang langsung bereaksi seperti itu. Mama dan Ayah bingung. “Kenapa sih, Na? Kok sewot sama anak magang? Kamu juga kan dulu sempet magang sebelum jadi staff tetap di kantor kamu,” kata Mama.</p>

<p>Luna tidak menjawab, hanya memutarkan bola matanya sambil melengos. Akhirnya Hyunjae yang memutuskan menjawab pertanyaan Mama, “Soalnya anak magangnya perempuan, Tante. Satu-satunya perempuan di tim saya. Luna suka cemburu padahal saya nggak macem-macem, saya bersikap profesional selayaknya hubungan antara senior dan anak magang.”</p>

<p>Mama dan Ayah langsung tertawa terbahak mendengar penjelasan Hyunjae. Sementara Luna, hanya terdiam sambil memanyunkan bibirnya.</p>

<p>“Sayang, jangan cemburuan gitu dong ah. Mama nggak pernah ajarin kamu untuk jadi cemburuan ke pasangan ya. Kasian Jaehyun kalau kamu cemburuin gitu padahal nggak ada apa-apa.”</p>

<p>“Abisnya anak itu kayanya naksir sama Jaehyun, Ma. Cantik juga lagi anaknya, jadi aku <em>insecure</em>.”</p>

<p>“Naksir aku kata siapa? Kamu gosip darimana coba, ngarang banget,” Hyunjae berkata gemas sambil mengacak pelan rambut Luna.</p>

<p>“Lagian kalau iya dia naksir Jaehyun ya biarin aja, orang kamu pacarnya Jaehyun kenapa kamu yang mesti <em>insecure</em>,” balas Mama.</p>

<p>“Iya nih, Tante. Jaehyun udah berkali-kali bilang gitu tapi Luna nggak percaya.”</p>

<p>“Udah ya udah, jangan bahas itu lagi, <em>please…,</em>” setengah merajuk, Luna menatap ayahnya seperti meminta bantuan.</p>

<p>Ayah hanya berbalik menatap anak satu-satunya itu sambil menahan senyum. Dalam hati Ayah merasa tenang karena Luna sudah berhasil sembuh dari sakit hatinya atas kandasnya hubungan sekaligus pertunangannya dengan Seokjin dulu. Ayah hanya bisa berharap semoga hubungan putri kesayangannya kali ini bisa berjalan lancar dan langgeng.</p>

<p>Ayah berdeham. Sebentar lagi akan melontarkan pertanyaan yang memang menjadi inti dari alasan ingin bertemunya Ayah dengan Hyunjae.</p>

<p>“Nak Jaehyun, kamu benar serius sama Luna ya?” tanya Ayah.</p>

<p>Hyunjae menjawab mantap tanpa ragu, sambil menganggukan kepalanya. “Iya, Om. Saya serius menjalani ini dengan Luna. Walaupun proses dari awal kenal sampai akhirnya resmi pacaran terhitung cepat, tapi hati saya sudah yakin memilih Luna… untuk jadi pendamping hidup saya.”</p>

<p>“Kamu kapan berencana melamar Luna?”</p>

<p>Hyunjae baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Luna lebih dulu menyela dengan nada sedikit panik. “Masih nanti, Yah. Nggak buru-buru yang jelas. Aku sama Jaehyun masih sibuk banget kerja, apalagi Jae baru dapet proyek baru. Dan sekarang keluarga Jae juga lagi fokus ngurus pernikahan kakaknya dulu. Jadi, Jaehyun nggak dalam waktu dekat ini ngelamar aku.” Luna lalu beralih menatap Hyunjae, “Ya kan, Jae?”</p>

<p>Hyunjae mengerjapkan matanya, “Ya sebetulnya aku—”</p>

<p>“Aku belum siap.” Tiga kata yang barusan meluncur dari bibir Luna sukses membuat pacar dan orangtuanya kaget. Luna memutuskan mengulangi lagi kalimatnya, “Aku belum siap. Bukan nggak mau, tapi belum siap.”</p>

<p>Luna menunduk. Jarinya sibuk memainkan sedotan di gelas <em>orange</em> <em>juice</em>-nya. Yang ditakutkan Luna ternyata kejadian, ayahnya betulan menanyakan hal itu pada Hyunjae.</p>

<p>Untuk menenangkan Luna, Hyunjae memberanikan diri menyentuh tangan Luna, menjauhkannya dari sedotan. Digenggamnya telapak tangan Luna sambil berkata pada Ayah dan Mama, “Jaehyun akan melamar kalau Luna udah siap, Om, Tante. Nggak apa-apa, Jaehyun ngerti Luna pasti butuh waktu buat yakinin dirinya.”</p>

<p>“Nggak, bukan itu. Bukan aku nggak yakin sama kamu,” kata Luna.</p>

<p>Sejujurnya, Luna bingung bagaimana menyampaikannya pada Hyunjae karena memang ia nggak pernah bercerita soal trauma dan sakit hati atas hubungannya dengan Seokjin dulu. Luna nggak pernah sekali pun menyinggung soal Seokjin di hadapan Hyunjae. Luna paham, Hyunjae pasti akan menyangka alasan Luna tidak ingin buru-buru bicara masalah nikah adalah karena Luna belum yakin dengan dirinya, padahal bukan itu. Luna takut. Takut mengalami kegagalan seperti yang dialaminya dengan Seokjin.</p>

<p>“Luna sebetulnya udah yakin sama kamu, Jae,” kata Mama, mencoba menjelaskan. “Tapi memang ada trauma agak dalam soal nikah. Luna belum pernah cerita ke kamu, ya?”</p>

<p>Hyunjae kaget—ada terbesit rasa kesal juga yang timbul tiba-tiba—karena merasa tidak pernah tahu sama sekali soal Luna yang pernah punya trauma soal pernikahan. Banyak pertanyaan mendadak muncul di otak Hyunjae, termasuk mengapa Luna sampai detik ini masih tidak memberitahukannya perihal trauma itu—yang sepertinya terdengar serius.</p>

<p>Luna mendekatkan bibirnya ke telinga Hyunjae dan berbisik, “Maaf ya, nanti aku cerita.”</p>

<p>Hyunjae yang tahu dirinya tidak punya banyak pilihan saat ini, hanya mengangguk mengiyakan tanpa suara.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>“Om, Tante, terima kasih banyak untuk makan malamnya hari ini. Lain kali, izinin Jaehyun yang traktir ya, Om.”</p>

<p>Saat ini Mama, Ayah, Luna dan Hyunjae sudah berada di tempat parkir yang terletak di <em>basement</em> mall. Kebetulan parkir mobil Hyunjae dan orangtua Luna ternyata tidak terlalu jauh, jadi setelah keluar restoran tadi mereka berempat bisa berjalan bersama menuju tempat parkir.</p>

<p>Karena Ayah ada acara lanjutan bertemu dengan koleganya semasa masih menjabat di kedutaan Korea dulu, Luna yang tadinya mau ikut orangtuanya pulang ke hotel, tidak jadi. Akhirnya Luna tetap pulang bersama Hyunjae.</p>

<p>“Sama-sama, Om titip Luna ya, Nak. Kalau dia nakal marahin aja nggak apa-apa. Makasih udah meluangkan waktu ketemu Om dan Tante.”</p>

<p>“Kalian berdua harus akur ya, saling sayang saling jaga. Ingat, komunikasi itu penting. Kalau ada apa-apa sebaiknya diselesaikan secepatnya jangan ditunda.”</p>

<p>“Iya Mama, Ayah. Makasih udah diingetin. Kita berdua bakal baik-baik aja, kok.”</p>

<p>“Terima kasih juga untuk kepercayaan Om dan Tante. Saya akan bertanggung jawab atas hidup Luna.”</p>

<p>Luna memeluk erat Mama dan Ayah bergantian sebelum berpamitan. Setelahnya, giliran Hyunjae yang dipeluk oleh Mama, dan berjabat tangan dengan Ayah sambil bahunya ditepuk-tepuk oleh Ayah.</p>

<p>“Besok pulang kerja aku nginep di hotel ya,” Luna berkata sambil merunduk setelah Mama masuk mobil dan membuka kaca jendelanya.</p>

<p>Tidak lama kemudian, mobil sedan hitam yang disewa Ayah menderu meninggalkan lahan parkir. Luna menarik nafas dan menghembuskannya, lega akhirnya pertemuan antara orangtuanya dan Hyunjae selesai dan berjalan lancar. Hanya tinggal satu urusan lagi yang harus Luna selesaikan dengan Hyunjae.</p>

<p>Di mobil setelah mengencangkan sabuk pengaman, Luna baru akan memulai bicara namun sudah didului oleh Hyunjae.</p>

<p>“Kenapa, Na? Kenapa nggak pernah cerita soal trauma?”</p>

<p>Mendengar nada bicara Hyunjae yang walaupun tidak meninggi tapi menyiratkan kegusaran, membuat Luna jadi sedikit gugup. “Maaf, aku salah nggak cerita ke kamu. Aku takut kamu nggak nyaman untuk dengar cerita soal hubunganku sama mantanku dulu.”</p>

<p>“Soal trauma ini… memang nggak ada yang tau atau cuma aku aja yang nggak tau?”</p>

<p>Entah karena AC mobil atau memang dirinya yang semakin gugup, Luna bisa merasakan jari-jarinya mendadak terasa dingin.</p>

<p>“K-kamu yang nggak tau,” Luna menjawab lirih. “Teman-temanku tau karena Seokjin—mantanku itu—temen kakaknya Juyeon. Juyeon yang ngenalin aku ke Seokjin. Otomatis dia dan Younghoon tau ceritaku sama Seokjin bahkan dari awal kenal sampai kita udahan. Nara, Sarah, Yeonjun dan Eric juga tau.”</p>

<p>Hyunjae mendesah berat. Dia tidak suka dengan kenyataan bahwa dia satu-satunya yang tidak tahu masalah ini. “Aku kecewa kamu nutupin hal ini dari aku. Kamu tau nggak, malu banget aku rasanya pas tadi Mama bilang kamu ada trauma soal nikah. Aku malu karena nggak tau apa-apa soal itu. Tega banget kamu, Na.”</p>

<p>“Yang, maafin aku…”</p>

<p>“Sebetulnya apa yang terjadi antara kamu dan Seokjin?”</p>

<p>“Proses pacarannya aku dan Seokjin mirip sama kita, nggak lama setelah kenal langsung jadian. Bedanya, setelah hampir 5 bulan pacaran aku baru dikenalin ke orangtuanya yang tinggal di Daegu. Ayah dan adik-adiknya baik, tapi mamanya nggak suka sama aku… karena aku bukan orang Korea.”</p>

<p>“Aku tau harusnya dari pertemuan pertama dan udah ditolak sama mamanya, udah jelas hubunganku sama Seokjin nggak akan berhasil. Tapi dia minta kita untuk ngejalanin dulu dan berjuang untuk dapetin restu mamanya. Nggak kerasa, udah jalan dua tahun tapi restu mamanya masih nggak turun juga. Akhirnya Seokjin nekat lamar aku tanpa sepengetahuan orangtuanya dan begonya aku iyain. Berharap dengan cara itu mamanya bisa luluh.”</p>

<p>“Tapi ternyata aku dan Seokjin terlalu naif. Mamanya tetap nggak setuju. Akhirnya nggak ada pilihan selain aku dan Seokjin harus pisah dan batalin pertunangan kita.”</p>

<p>“Itulah kenapa aku sempet takut banget pas diajak ketemu orangtua kamu, Yang. Aku takut ditolak lagi. Walaupun sekarang aku tenang karena orangtua kamu menerima aku dengan baik, tapi tetap ada rasa khawatir. Aku masih inget betapa terpuruknya hidup aku ketika harus pisah dari Seokjin. Rasanya menyakitkan banget.”</p>

<p>“Sekarang Seokjin udah nikah akhirnya, sama perempuan pilihan mamanya. Cepet banget, jarak setahun aja setelah putus dari aku. Dan nggak lama itu pula kamu datang di hidupku, Jae. Lukaku pelan-pelan sembuh berkat kehadiran kamu. Tapi aku nggak bisa bohong, rasa traumanya masih ada.”</p>

<p>Hyunjae menggigiti bibir bawahnya menahan emosi mendengar cerita Luna. Tangannya mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Rahangnya mengeras. Hyunjae sadar ia sedang dalam keadaan marah.</p>

<p>“Hyunjae… <em>say something. Please</em>?” Luna menatap Hyunjae takut-takut. Pertengkaran pertamanya dengan Hyunjae akhirnya terjadi juga.</p>

<p>Hyunjae masih belum mengeluarkan kata-kata. Dirinya masih sibuk berkonsentrasi menyetir sambil mengatur emosinya supaya tidak semakin naik. Walaupun sedang marah tapi Hyunjae tidak ingin sembarangan bicara. Ia tidak ingin membuat situasi semakin runyam.</p>

<p>“Aku tau kamu marah. Tapi <em>please</em> kamu harus percaya aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi ke Seokjin. Aku udah sepenuhnya <em>move o—</em>”</p>

<p>“Bukan itu, Deluna.”</p>

<p>Luna tertunduk, tidak berani menatap ke arah Hyunjae lagi setelah didengarnya Hyunjae memanggilnya dengan sebutan lengkap. Ia paham, marahnya Hyunjae serius.</p>

<p>“Aku nggak marah karena kamu pernah mencintai laki-laki lain. Salah kalau aku marah karena itu. Nggak cuma kamu, aku juga pernah punya masa lalu, pernah mencintai perempuan lain sebelum kamu.”</p>

<p>“Aku marah karena menurutku, masalah trauma kamu ini hal serius yang kuharap kamu cerita ke aku dari awal. Aku marah karena teman-teman kamu tau, sementara aku yang katanya pacar kamu, nggak tau apa-apa soal itu.”</p>

<p>“Kalau aku tau, Na, aku nggak akan terus-terusan ngebahas soal lamaran lah, nikah lah. Karena aku nggak tau soal trauma kamu, aku salah paham, aku kira kamu selalu menghindar bahas lamaran atau nikah karena kamu belum yakin sama aku.”</p>

<p>“Kamu tau, nggak jarang aku <em>overthinking</em> tengah malam mikirin gimana caranya aku bisa bikin kamu yakin sama aku. Aku sering juga kepikiran, apa semua ini terlalu cepat buat kamu, apa harusnya aku nggak secepat itu ngajak kamu pacaran.”</p>

<p>Hyunjae menghentikan bicaranya bersamaan dengan melambatnya laju mobilnya karena bangunan apartemen Luna sudah mulai terlihat. Setelah memasuki area apartemen, Hyunjae yang biasanya langsung menuju parkiran di <em>basement</em>, kini melewatinya dan menghentikan mobilnya di lobi apartemen.</p>

<p>“Kita lanjut besok ya, Na?”</p>

<p>Luna menatap Hyunjae dengan sedih. “Kamu nggak mau turun dulu? Kita beresin malam ini, biar besok udah nggak ada pikiran lagi. Ya?”</p>

<p>Gelengan kepala Hyunjae membuat Luna semakin sedih. “Aku capek. Besok lagi aja, oke?”</p>

<p>“Aku maunya selesai malam ini. Aku nggak akan bisa tidur sebelum yakin kita baik-baik aja.”</p>

<p>Hyunjae menghela nafas beratnya. Sebetulnya ia sungguh ingin menyudahi obrolan malam ini karena dirinya sudah terlalu lelah. Ia butuh segera istirahat dan menenangkan diri di apartemennya sendiri. Tapi mungkin Luna ada benarnya, semakin cepat diselesaikan, semakin baik.</p>

<p>Akhirnya Hyunjae memajukan mobilnya, beruntung ada satu <em>space</em> kosong untuk memarkir mobilnya di halaman lobi apartemen.</p>

<p>“Di lobi aja ngobrolnya ya,” sahut Hyunjae sambil melepas sabuk pengamannya setelah selesai memarkir mobil.</p>

<p>Karena sudah agak malam, lobi apartemen Luna saat itu kosong. Hanya ada dua <em>security</em> yang berjaga di depan pintu masuk. Luna dan Hyunjae memilih duduk di sofa tidak jauh dari pintu masuk. Mereka duduk berhadapan.</p>

<p>Hyunjae menautkan kesepuluh jari tangannya sambil menatap Luna. “Ngerti kan sekarang, alasan kenapa aku marah?”</p>

<p>“Iya, aku ngerti dan wajar kamu marah karena hal itu. Maafin aku ya, Jae? Aku menyepelekan trauma ini karena aku merasa udah bahagia sama kamu, aku cuma nggak ingin trauma ini ngerusak semua yang udah kita bangun. Aku minta maaf sekali lagi, aku salah, nggak seharusnya aku sembunyiin hal ini dari kamu.”</p>

<p>Hyunjae bangkit dari duduknya, tangannya terulur ke arah Luna, mengajaknya berdiri juga. “Yuk, aku anter kamu sampai depan unit.”</p>

<p>Luna menyambut uluran tangan Hyunjae dan mengikutinya berjalan mendekati <em>lift</em>.</p>

<p>“Jadi, aku dimaafin nggak?” tanya Luna lagi ketika mereka sudah berada di dalam <em>lift</em>. Hanya mereka berdua, tidak ada siapa-siapa lagi.</p>

<p>Hyunjae tidak menjawab.</p>

<p>Luna menatap pantulan dirinya dan Hyunjae yang sedang berpegangan tangan, dari pintu <em>lift</em> di depannya. Dari pantulan itu ia bisa melihat raut wajah Hyunjae yang kelelahan. Dialihkannya pandangan dari pintu <em>lift</em>, ke arah Hyunjae yang berdiri di samping kanannya.</p>

<p>“Hyunjae, <em>I love you</em>,” Luna berbisik. Tinggi badannya yang “hanya” 168 cm—lebih pendek 13 cm dari tinggi badan Hyunjae—membuat kepala Luna hanya sejajar dengan bahu Hyunjae dan ia tidak bisa menjangkau pipi Hyunjae yang tadinya ingin ia kecup. Akhirnya Luna hanya bisa mendaratkan kecupannya di tepi bahu Hyunjae.</p>

<p>Pintu <em>lift</em> terbuka. Mereka berdua berjalan menuju unit apartemen Luna masih dengan bergandengan tangan, namun Hyunjae masih belum juga berkata apa-apa.</p>

<p>Sesampainya di depan unit, Hyunjae melepaskan genggaman tangannya. Ia menyandarkan tubuh Luna hingga menempel pada pintu unit.</p>

<p>Tangan kirinya menangkup pipi kiri Luna, tangan kanannya mendekap pinggang Luna.</p>

<p>“Jangan diulangi lagi, ya? Jangan nggak cerita ke aku untuk hal sepenting itu. Aku menghargai privasi, nggak semua tentang hidup kamu harus diceritain ke aku. Tapi untuk segala sesuatu yang menyangkut hubungan kita, aku harap kamu terbuka untuk cerita ke aku. <em>I’ll do the same</em>.”</p>

<p>“Makasih udah maafin aku. Janji, aku nggak akan gitu lagi. <em>I’ll share everything with you</em>.”</p>

<p>“<em>Now, say it again.</em>”</p>

<p>“<em>Say… what?”</em></p>

<p>“<em>What you said to me in the elevator earlier.</em>”</p>

<p>Luna tersipu, wajahnya memerah tapi ia tidak begitu pedulikan. “Hyunjae, <em>I love you.</em>”</p>

<p>Hyunjae mengeratkan dekapan tangannya di pinggang Luna. “<em>I love you too.”</em></p>

<p>Mata Luna terpejam ketika Hyunjae mencium kening, hidung, dan kemudian bibirnya. Seperti biasanya, ciuman bibir Hyunjae selalu lembut dan penuh sayang. Bukan ciuman terburu-buru dan bernafsu.</p>

<p>“Tumben nggak ijin,” kata Luna setelah Hyunjae melepaskan bibirnya.</p>

<p>“Kan kata kamu waktu itu nggak usah ijin lagi. Ya udah aku nggak ijin.”</p>

<p>“Iya sayang iya…”</p>

<p>“Aku pamit ya?”</p>

<p>“Nggak mau nginep aja? Udah malam.”</p>

<p>“Nanti aja hari Sabtu aku nginep, ya. Setelah nganterin Mama sama Ayah ke bandara.”</p>

<p>“Kamu harus sering nginep, pasti bentar lagi kamu bakal sibuk sering ke Busan ngurusin proyek baru. Sebelum kamu sibuk dan susah diajak ketemu, sering-sering bareng aku ya?”</p>

<p>“Iya, kan nanti Sabtu nginep. Kita jalan-jalan habis dari bandara, ya? Mau kemana?”</p>

<p>“Main yuk, Lotte World. <em>How</em>? Kemarin-kemarin Nara sempet ngajakin kita main bareng, <em>triple date</em> gitu ceritanya. Kita, Nara sama Hoon, Sarah sama Juyeon. Kamu mau?”</p>

<p>“Boleh, yuk. Kabarin aja mereka bisa atau nggak.”</p>

<p>“Oke sayang. Kamu hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabarin aku kalau udah di rumah.”</p>

<p>“Kamu masuk dulu. Jangan main HP, langsung mandi, tidur. Nggak usah nungguin aku kalau kamu keburu ngantuk. Aku pulang ya?”</p>

<p>Setelah mengecup pucuk kepala Luna dan membiarkan Luna masuk, Hyunjae berjalan meninggalkan unit apartemen Luna.</p>

<hr/>

<p><em>Tok tok!</em></p>

<p>Luna mendongak ke arah pintu ruang kerjanya yang setengah dibiarkan terbuka. Jari-jarinya yang sedang mengetik di atas <em>wireless keyboard</em> terhenti sejenak. Senyum mengembang di wajahnya menyambut Yeonjun yang melangkah masuk ke ruangannya.</p>

<p>“Ya, Yeon?” tanya Luna.</p>

<p>“Tinggal kita berdua sekarang. Jake dan Eric barusan banget pulang. Lo mau sampe jam berapa?”</p>

<p>Luna menghela nafasnya saat melihat angka 18.30 tertera di bagian pojok kanan bawah layar komputernya.</p>

<p>“Lo udah beres? Kalau mau duluan pulang nggak papa. Gue juga sebetulnya udah beres tapi biarin deh sambilan nyiapin <em>draft</em> laporan buat lusa.”</p>

<p>“Ya udah sih besok lagi aja kalau nggak <em>urgent</em>. Pulang yuk? Kayak yang berani aja lo sendirian di kantor.”</p>

<p>“Jaehyun baru bisa jemput jam delapanan soalnya. Ada <em>late meeting</em> dadakan dia, penting nggak bisa ditinggal. Nggak papa gue sendiri, nyalain lagu aja paling.”</p>

<p>“Minta izin aja ke Jaehyun lo pulang bareng gue. Jam delapan masih lama lho, Na. Belum lagi di jalan dari kantor dia kesini. Inget ini Jumat malem, jalanan macet.”</p>

<p>Luna meraih ponselnya sambil memikirkan usulan Yeonjun. Sebetulnya takut juga dia kalau harus sendirian di kantornya terlalu larut.</p>

<p>Hari ini memang sudah direncanakan Luna akan dijemput Hyunjae sepulang kantor karena Hyunjae akan menginap di tempat Luna. Besok pagi mereka sudah harus berangkat ke hotel menjemput orangtua Luna untuk diantarkan ke bandara.</p>

<p>Memang manusia hanya bisa berencana, tiba-tiba menjelang jam 5 sore tadi mendadak banyak hal <em>urgent</em> di kantor Hyunjae sehubungan dengan proyek barunya di Busan. Hal ini membuat Hyunjae dan timnya harus lembur demi mengurusi proyeknya itu. Bahkan sampai CEO kantornya Hyunjae pun ikut lembur.</p>

<blockquote><blockquote><p>Sayang, aku udah beres.</p>

<p>Boleh kalau aku pulang duluan dianter Yeonjun?</p>

<p>Aku takut sendirian di kantor kalau terlalu malam.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Di ujung sana, Hyunjae yang sedang berdiskusi dengan atasannya merasakan ponselnya yang disimpan di saku celananya bergetar, tapi ia tidak mungkin mengecek ponselnya dalam posisi itu. Akhirnya Hyunjae memilih untuk mengabaikan dulu ponselnya.</p>

<p>Hampir sepuluh menit tidak ada balasan, Luna memutuskan untuk mematikan komputernya dan merapikan mejanya. Ia tidak enak membuat Yeonjun menunggu lebih lama lagi. Ia juga jelas-jelas tidak ingin di kantor sendirian selarut ini. Luna pernah pulang kantor jauh lebih malam dari ini tapi ia tidak sendirian kala itu. Luna tidak pernah lembur terlalu malam sendirian.</p>

<p>“Jaehyunnya nggak balas-balas.”</p>

<p>“Jadi gimana? Nggak papa lo bareng gue?”</p>

<p>“Justru gue yang nggak enak sama lo jadi mesti nganterin gue dulu. Beneran nggak papa, Yeon? Maaf ya ngerepotin.”</p>

<p>“Dih, repot apanya. Nggak apa-apa lah. Eh, mampir makan dulu yuk. Lagi pengen makan burger nih gue. Zorka, <em>how</em>?”</p>

<p>“Yuuuk! Laper gue juga.”</p>

<p>Sambil menunggu pintu <em>lift</em> terbuka, Luna mengecek ponselnya sekali lagi dan memasukkannya kembali ke dalam tas ketika dilihatnya masih belum ada balasan dari Hyunjae.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Setelah menghabiskan empat puluh lima menit menerjang kemacetan Ibu Kota di hari Jumat malam, akhirnya Luna dan Yeonjun tiba di Zorka—<em>burger diner</em> bergaya <em>food truck</em> dengan meja dan kursi minimalis berjajaran di lahan terbuka—yang menyediakan <em>hand-crafted burger</em> dengan beragam isian. Awalnya Eric yang merekomendasikan <em>burger diner</em> ini setelah sebelumnya ia diajak kesini oleh sepupunya yang memang doyan berburu makanan enak.</p>

<p>Jadilah Zorka ini salah satu tempat makan andalan anak-anak kantor Luna kalau sedang lapar tapi malas makan makanan berat.</p>

<p>“Lo mau apa?” tanya Yeonjun ketika antrian di depan mereka semakin menipis, hanya menyisakan tiga orang lagi.</p>

<p>“Hmm apa ya.. Pengen burger tapi gue pengen ngemil ayam juga. Berdua yuk ayamnya, mau nggak?”</p>

<p>“<em>Buttermilk chicken drumsticks</em>?”</p>

<p>“Iya… berdua yuk? Burgernya gue mau <em>lamb kofta burger</em>.”</p>

<p>“Oke, yukberdua. Buat Jaehyun nggak sekalian dibungkusin?”</p>

<p>“Nanti aja, takutnya dia udah makan. Biasanya kalau lembur sampe malam gini dia suka pesen <em>delivery</em> ke kantornya.”</p>

<p>Akhirnya, tiba giliran Luna dan Yeonjun.</p>

<p>“<em>Lamb kofta burger, buttermilk chicken drumsticks medium</em>, sama <em>sloppy burger</em>. Minumnya <em>coke</em> dua kaleng.” Yeonjun menyebutkan pesanan mereka sambil mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar semuanya, Yeonjun dan Luna meninggalkan konter dan berkeliling mencari tempat duduk yang masih kosong.</p>

<p>Akhirnya mereka menemukan satu meja dan dua kursi kosong dengan posisi saling berhadapan—agak di sudut.</p>

<p>“Yang gue berapa jadinya?” Luna bertanya sambil merogoh tasnya, mencari dompet.</p>

<p>“Apaan sih, Na. Udah nggak usah, <em>dinner’s on me tonight</em>.”</p>

<p>“Jangan gitu dong, Yeon, nggak enak nih gue.”</p>

<p>“Ih gue marah nih ya. Lo kayak ke siapa aja.”</p>

<p>“Hehe, ya udah iya, makasih ya traktirannya. Nanti lagi gantian gue yang traktir. Harus mau.”</p>

<p>“Iya, gampang.”</p>

<p>Angin malam yang berhembus malam itu tidak kencang, tapi cukup untuk membuat helaian rambut Yeonjun tersibak, mengekspos keningnya sesaat. Tangan Yeonjun menyisiri rambutnya ke belakang dengan asal, membuat helaian rambut miliknya menjadi sedikit teracak—namun terlihat natural, tidak berantakan.</p>

<p>Tanpa sadar Luna tersenyum sendiri melihat Yeonjun. Mati-matian ia berusaha menghentikan eksplorasinya terhadap wajah Yeonjun yang duduk berhadapan dengannya.</p>

<p>“Kenapa ngeliatin?” Ternyata Yeonjun sadar sedang diperhatikan Luna.</p>

<p>“Nggak, nggak papa,” Luna menyahuti dan langsung membuka ponselnya demi menyembunyikan raut wajahnya yang memerah karena malu ketahuan sedang memperhatikan Yeonjun.</p>

<p>Kebetulan, ternyata ada pesan masuk dari Hyunjae beberapa menit lalu.</p>

<p>“Aku sebentar lagi pulang, kalau nggak jadi nginep nggak papa? Capek banget.”</p>

<p>Begitu isi pesan Hyunjae yang diterima Luna.</p>

<p>Luna mencelos, ia sungguh ingin Hyunjae jadi menginap di apartemennya tapi ia juga tidak mau memaksa jika Hyunjae tidak mau. Diketikkannya balasan untuk Hyunjae.</p>

<blockquote><blockquote><p>Ya udah nggak papa.</p>

<p>Hati-hati di jalan pulang, kabarin kalau udah di rumah.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Ketika Luna akan melanjutkan obrolan dengan Yeonjun, ponselnya berdering. Menampilkan foto Jaehyun di layarnya.</p>

<p>“Ya sayang?” jawab Luna setelah menekan tombol hijau ponselnya.</p>

<p>“Beneran nggak papa? Maaf ya, Na,” sahut Hyunjae disana. Luna bisa mendengar suara debam pintu mobil yang ditutup yang disusul suara starter mesin mobil.</p>

<p>“Nggak papa. Besok aja ketemunya ya, sekalian di hotel? Atau kamu mau jemput aku dulu?”</p>

<p>“Jemput kamu dulu lah, baru ke hotel bareng.”</p>

<p>“Oke, Yang.”</p>

<p>“Kamu lagi apa? Udah mandi?”</p>

<p>“Mandi? Nyampe apartemen juga belum. Lagi mau makan, di Zorka.”</p>

<p>“Zorka?”</p>

<p>“Iya, dijajanin Yeonjun disini.”</p>

<p>Lalu hening.</p>

<p>Hyunjae disana, tanpa sadar meremas setir mobilnya kuat-kuat. Geram dengan jawaban yang meluncur ringan dari mulut kekasihnya. Seingat Hyunjae, Luna hanya meminta izin untuk diantar pulang oleh Yeonjun. Kenapa sekarang jadi acara makan berdua?</p>

<p>“Dikirain kamu udah di apartemen dari tadi, taunya masih di luar. Tadi izinnya apa? Dianter pulang kan? Kenapa jadi di Zorka sekarang?”</p>

<p>“Aku laper, Yang. Dan kenapa masih disini soalnya tadi macet, jadinya telat nyampe sininya juga. Aku makan dulu sebentar ya, habis itu langsung pulang.”</p>

<p>“Ya udah, cepetan jangan lama-lama.”</p>

<p>“Iyaaa. Udah dulu, ya? Mau makan, biar cepet pulang.”</p>

<p>“Oke. Selamat makan.”</p>

<p>“<em>Bye</em>!”</p>

<p>“Eh—Yang. Aku jadi deh.”</p>

<p>“Ha? Jadi apa?”</p>

<p>“Nginep. Aku jadi nginep.”</p>

<p>“Loh katanya capek?”</p>

<p>“Ih, kok kamu kayak yang nggak suka aku jadi nginep?”</p>

<p>“Bukan gitu, Sayang. Boleh banget ayo kalau jadi mau nginep. Mau aku bungkusin burger?”</p>

<p>“Nggak usah, aku udah makan.”</p>

<p>“Ya udah, hati-hati nyetirnya. Tungguin aku kalau kamu nyampe duluan.”</p>

<p>“Oke.”</p>

<p>Pesanan dua porsi burger dan satu porsi ayam <em>buttermilk</em> ukuran medium sudah tersaji di meja mereka sekarang. Yeonjun mulai membuka kertas pembungkus burgernya pelan-pelan. Aroma daging sapi burger segar dan <em>juicy</em> seketika memanjakan hidung Yeonjun dan Luna.</p>

<p>“Jaehyun marah lo makan sama gue?” Setelah gigitan pertamanya pada burger, Yeonjun bertanya pada Luna.</p>

<p>“Nggak sih, cuma protes aja dia karena dikiranya gue udah di apartemen padahal masih makan disini.”</p>

<p>“Tumben protes dia, dulu waktu kita makan berdua di Gwangju nyantei aja perasaan.”</p>

<p>“Iya, nggak tau tuh lagi sensitif kayaknya.” Tangan Luna mencomot ayam <em>drumstick</em> yang diidamkannya dari tadi. “Lucu deh pacaran sama Jaehyun tuh. Baru kali ini gue pacaran sama cowok <em>tsundere</em>. Rasanya kayak pacaran tapi nggak pacaran.”</p>

<p>“<em>And you okay with that</em>? Pacar-pacar lo sebelumnya pasti kebanyakan tipe-tipe romantis gitu ya?”</p>

<p>“<em>I’m perfectly okay with that</em>. Dari awal Jaehyun udah bilang dia nggak bisa romantis sama sekali. Awal-awal gue juga agak kaget sih, bener kata lo, pacar-pacar gue sebelumnya pada romantis banget. Jadi pas jadian sama Jaehyun gue kaget gitu. Tapi lama-lama gue sadar, Jae itu tipe penyayang banget sebetulnya, cuma caranya beda. Dia sayangin gue dengan caranya sendiri.”</p>

<p>“Gimana sih emangnya, tipe pacarannya orang <em>tsundere</em>?”</p>

<p>“Pacaran sama <em>tsundere</em>, lo jangan harap dihujani kata-kata manis. Cara Jaehyun ngomong ke temennya, sama ngomong ke gue itu sama. Cuma yaa <em>occasionally</em> suka manggil ‘sayang’ ke gue. <em>They don’t talk much, their action speaks louder</em>.”</p>

<p>“Misalnya?”</p>

<p>“Hmm.. Dia bukan tipe yang selalu ngecek gue udah makan apa belum, tapi kalau kita lagi nggak bisa ketemu, suka tiba-tiba dia pesenin <em>food delivery</em> buat gue, sering banget. Pernah juga tuh gue malem-malem lagi kesakitan banget karena haid hari pertama, gue <em>chat</em> dia cuma bilang nggak bisa tidur karena terlalu sakit perutnya. <em>Chat</em> gue nggak dia bales, tapi tiba-tiba dia nongol di apartemen gue, bawain obat dan bantal listrik buat kompresin perut gue. Lucu banget dia sampe sibuk cek Naver sama YouTube nyari cara-cara buat hilangin sakit haid. Terus yang waktu kita pulang dari Gwangju, dia belain izin pulang setengah hari dari kantornya cuma buat jemput gue di stasiun.”</p>

<p>“Wow, salut sih gue sama Jaehyun. Kebanyakan cowok kalau tau ceweknya lagi haid yang ada malah pada kabur takut kena omel. Dan belain izin setengah hari dari kantor buat jemput lo, <em>that sounds romantic</em>.”</p>

<p>“Iya, romantisnya Jaehyun itu beda dari cowok lain. Lo sendiri tipe yang gimana? Dari tadi bahas Jae mulu perasaan.”</p>

<p>“Gue penasaran abisnya, lo bisa singkat banget gitu proses kenal sampai akhirnya jadian. Jadi pengen tau, emangnya Jaehyun gimana ke lo sampai lo-nya bucin banget gini hahaha.”</p>

<p>“Dianya duluan yang bucin ke gue, <em>please note</em>. Sekarang gue yang pengen tau, lo tipe gimana? Dari tadi nanya nggak dijawab ih.”</p>

<p>“Hehehe <em>sorry</em>. Agak canggung gue bahas diri gue sendiri ke orang lain.”</p>

<p>“Jadi gue orang lain buat lo?”</p>

<p>“Nggak gitu, Na. Maksudnya, yaa lo kan jauh lebih deket sama Hoon, Juyeon, Eric ketimbang sama gue.”</p>

<p>“Ya makanya sekarang kita ngobrol biar bisa lebih deket juga. Gue seneng punya banyak temen deket. Ayo dong, cerita soal lo juga. Sambil makan nih gue dengerin.”</p>

<p>“Umm.. yang jelas gue bukan tipe <em>tsundere</em> sih, tapi romantis banget juga nggak. Biasa aja sih gue rasa. Yang pasti, gue tipe pengalah, males ribut sama pasangan. Jadi hampir selalu gue yang maju duluan buat minta maaf kalau lagi ada masalah sama cewek gue dulu. Nggak peduli siapa yang sebetulnya salah, gue pasti minta maaf duluan.”</p>

<p>“Lo nggak capek selalu yang minta maaf duluan? <em>It doesn’t sound fair to me</em>. Positifnya, lo sama cewek lo akan jarang ribut. Minusnya, cewek lo keenakan nantinya, nggak terlatih untuk tanggung jawab sama kesalahan karena tau pasti lo yang bakal minta maaf duluan. Jangan kayak gitu kalau kata gue sih.”</p>

<p>“Abisnya gue males berantem, Na. Buang waktu.”</p>

<p>“Namanya juga dua insan, dua perasaan, dua logika, dua pemikiran. Nggak mungkin kalian sejalan terus, pasti ada beda pendapat, ada berantemnya. Nikmatin aja proses itu, dengan begitu lo jadi bisa paham sifat asli pasangan lo kayak gimana. Kalau terus-terusan lo yang ngalah, capek sendiri nggak sih? Nggak sehat buat hubungan lo.”</p>

<p>“Ya sih, lo ada benernya. Akibatnya gue jadi gampang hilang <em>spark</em> sama cewek gue, cepet banget hambarnya tiap pacaran. Makanya gue nggak pernah pacaran lama.”</p>

<p>“Berapa lama paling tahan?”</p>

<p>“Delapan bulan, mantan yang kemarin.”</p>

<p>“Putus karena?”</p>

<p>“Ya itu, hilang <em>spark</em> guenya ke dia. Bosen. Dianya ninggalin gue deh.”</p>

<p>“Tuh kan, makanya jangan selalu ngalah gitu, nggak baik. Lo tuh kayanya tipe yang males berantem, tapi sekalinya berantem langsung putus.”</p>

<p>“<em>Kind of</em>, hahaha. Abisnya malesin gue ngadepin cewek <em>moody</em> kalau lagi berantem. Nggak paham harus digimanain.”</p>

<p>“Dasar. Nanti lagi jangan gitu ya, yang namanya berantem selama tanpa kekerasan verbal dan fisik itu masih wajar kok. Lo belajar gih sama Hoon atau Juyeon, jagonya urusan cewek tuh mereka. Cewek itu unik. Kadang gue juga suka heran sama diri gue sendiri, bisa-bisanya <em>mood</em> berubah secepet itu. Untung aja Jaehyun sabar banget ngadepin gue.”</p>

<p>“Hehehe iya. <em>Thank you</em> ya, Na, udah mau dengerin cerita gue. Hebat lo, bisa bikin gue mau cerita, jarang-jarang gue bisa gini ke orang bahkan ke temen sendiri.”</p>

<p>“Salah satu kelebihan gue kayaknya. Gue itu ekstrovert sejati, tapi hidup gue selalu dikelilingi orang-orang introvert. Ayah gue introvert, sepupu deket gue Freiya namanya, introvert juga. Juyeon, Sarah, Nara, Younghoon, semua introvert. Jadi gue udah semacam terbiasa ngatasin orang-orang introvert, sekarang ditambahin lo juga.”</p>

<p>“Gue tuh suka takut deket sama orang ekstrovert. Kayak si Eric tuh, ekstrovert super berisik dia kan. Gue suka kehabisan energi kalau lagi deket-deket Eric. Tapi gue anehnya nggak gitu ke lo, Na. Lo ekstrovert yang bisa bikin introvert nyaman di dekat lo.”</p>

<p>“<em>As I said, it’s my specialty</em>.”</p>

<p>“<em>Agree.</em>”</p>

<p>“Oh ya, Na. Bahas Jaehyun lagi boleh, ya? Pengen tau aja sih, lo sayang banget sama dia ya?”</p>

<p>“Lo suka sama cowok gue apa gimana sih? Nanya-nanya Jae mulu.”</p>

<p>“Hahaha sialan, gue normal ya doyan cewek. Dibilangin cuma pengen tau aja.”</p>

<p>“Iya, Yeon, jelaslah gue sayang banget sama Jae. Doain gue langgeng sama dia ya. Lo juga, gue doain banget biar cepet dapet gebetan baru, pacar baru. Buat dibawa ke nikahan Sarah-Juyeon nanti. Lo tuh ya, kalau suka sama cewek mesti ditunjukkin dong. Kalau lo ga nunjukkin gimana bisa sadar itu ceweknya kalau lo suka. Lo tuh nggak jelek lagi, Yeon. Lo oke kok. Cuma perlu lebih pede lagi aja urusan deketin cewek. Jangan sampe kecolongan lagi kayak gebetan lo kemarin ini.”</p>

<p>“Gue nggak jelek, tapi tetep bukan kategori ganteng sih ya? Nggak kayak Jaehyun yang gue aja cowok tapi mengakui dia ganteng.”</p>

<p>“Hahaha apa sih, Yeon. Ganteng kok lo tuh, seriusan deh nggak bohong. Lo tuh ganteng. Lo harus percaya diri, kalau lo aja nggak percaya diri, gimana caranya orang lain bisa percaya sama lo?”</p>

<p>“Na, nanya nih ya gue ke lo sebagai cewek. Misalnya lo belum sama Jaehyun, kira-kira lo bakal mau nggak sama gue?”</p>

<p>“Eh—gimana?”</p>

<p>Obrolan panjang mereka terinterupsi oleh notifikasi KakaoTalk ponsel Luna.</p>

<blockquote><blockquote><p>Aku udah di apt kamu.</p>

<p>Pulang, cepet.</p>

<p>Nggak pulang dalam setengah jam, aku pergi lagi nggak jadi nginep.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Duh, Jaehyun udah di tempat gue. Kok cepet banget ya dia? Yeon, makannya cepetan, yuk. Eh atau gue pulang duluan deh ya pake taksi, kalau lo masih mau nyantai disini.”</p>

<p>“Yaah, lagi asyik ngobrol padahal nih. Nggak, nggak—pake taksi apaan. Ya udah habisin dulu itu ayamnya, baru kita cabut ke apartemen lo. Oke? Makannya jangan buru-buru banget, nanti malah keselek.”</p>

<p>“Hehe, oke. Maaf ya jadi ngeburu-buru. Lain kali kita ceritaan lagi.”</p>

<p>Tidak sampai sepuluh menit kemudian, makanan di meja mereka berdua sudah habis, hanya menyisakan tulang belulang ayam yang sudah tak berdaging. Setelah menghabiskan <em>coke</em>-nya, Luna dan Yeonjun membersihkan meja, membuang sisa sampah ke tempat pembuangan sampah yang tersedia di sudut seberang meja mereka.</p>

<p>Dengan perasaan senang karena perut sudah kenyang dan puas bertukar cerita, Luna dan Yeonjun melangkahkan kaki menjauhi area <em>food truck</em>.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Sesampainya di apartemen, Luna tersenyum melihat sepasang sepatu formal hitam mengkilat milik Hyunjae tersimpan rapi di deretan paling atas rak sepatunya. Luna melepas sepasang <em>heels</em> lima senti-nya, dan menyimpannya di sebelah sepatu Hyunjae.</p>

<p>Dilihatnya ruang TV dan dapurnya sepi. Berarti Hyunjae ada di kamar Luna.</p>

<p>Setelah cuci tangan dan meminum secangkir teh <em>chamomile</em> hangat favoritnya, Luna berjalan mendekati pintu kamarnya yang tertutup.</p>

<p>Benar saja, Luna mendapati Hyunjae sedang menonton tayangan dari Netflix di sofa <em>dusty</em> <em>pink</em> miliknya—masih lengkap dengan setelan kerjanya.</p>

<p>“Hai, Cintaku.”</p>

<p>Luna menyapa sambil berjalan mendekati Jaehyun. Setelah Hyunjae berada dalam jangkauannya, Luna melungsurkan tas laptop yang tersampir di bahunya, begitu saja ke lantai yang beralaskan karpet bulu halus berwarna senada dengan sofanya.</p>

<p>Yang disapa masih diam, matanya menatap lurus ke arah layar TV.</p>

<p>Luna mendudukkan diri di samping Jaehyun, menciumi pucuk kepala dan pipinya. “Disapa kok diem aja? Gimana kerjaan hari ini? Capek ya?”</p>

<p>“Seneng kamu, ditraktir makan sama Yeonjun?” Hyunjae membalas sapaan lembut Luna dengan dingin.</p>

<p>Luna tahu pacarnya ini lagi ngambek. Alih-alih menghiburnya, Luna memutuskan untuk menggoda Jaehyun sedikit.</p>

<p>“Yang, kamu nyium bau sesuatu nggak, sih?”</p>

<p>“Bau apa? Nggak.”</p>

<p>“Bau api. Kentara banget.”</p>

<p>“Api? Apa sih, Na, ngaco banget. Nggak kecium apa-apa.”</p>

<p>“Kentara banget nih bau apinya.”</p>

<p>“Na—”</p>

<p>“Api cemburu.”</p>

<p>Hyunjae terdiam, bibirnya semakin mencebik. Luna tertawa terbahak-bahak melihat raut kesal Hyunjae.</p>

<p>“Sayang <em>tsundere</em>-ku bisa cemburu juga ternyata.”</p>

<p>“<em>I’m not jealous. Why would I</em>?”</p>

<p>Luna akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan Hyunjae. Ia paham, kekasihnya ini selain sedang cemburu, <em>mood</em>-nya juga sepertinya sedang tidak bagus. Mungkin karena terlalu lelah dengan ritme kerjanya hari ini.</p>

<p>Luna mengusap rambut halus Hyunjae. Ia lalu memindahkan tubuhnya, menaiki Hyunjae dan duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan. Kedua kaki Luna terlipat di sisi kanan dan kirinya, membuat rok span-nya menjadi sedikit terangkat.</p>

<p>Ditatapnya wajah Hyunjae lekat-lekat, tangannya mengusapi helaian rambut yang menutupi kening Hyunjae. Disibakkannya helaian rambut yang menutupi keningnya, dan Luna memberikan ciuman-ciuman kecil di kening Hyunjae.</p>

<p>“Maaf ya, aku nggak izin dulu mau makan sama Yeonjun. Kukira kamu bakal santai aja kayak biasa.”</p>

<p>“Nggak bisa santai kalau sama Yeonjun. Beda ya, kalau kamu sama Hoon atau Juyeon atau Eric, aku santai.”</p>

<p>“Yeonjun sama aja kayak mereka, nggak beda.”</p>

<p>Hyunjae menggeleng. “Nggak, Na. Yeonjun beda, <em>I can feel it</em>. Insting sesama cowok.”</p>

<p>“Waktu aku makan berdua Yeonjun di Gwangju, kamu nggak papa tuh.”</p>

<p>“Instingku belum jalan waktu itu. Lama-lama, kerasa.”</p>

<p>“Ngaku dulu coba, aku pengen denger.”</p>

<p>“Ngaku apa?”</p>

<p>“Kamu cemburu sama Yeonjun?”</p>

<p>“Iya, aku cemburu sama Yeonjun.”</p>

<p><em>Wow.</em></p>

<p>Luna terkejut dalam hati. Nggak disangka Hyunjae melisankan pengakuannya dengan gamblang.</p>

<p>“Kenapa kok diem? Kaget aku bilang cemburu?”</p>

<p>“Iya, aku nggak sangka. Aku pikir kamu akan selalu santai mau aku jalan sama siapa pun juga. Karena yang udah-udah, kamu santai, nggak pernah protes. Aku yang sering ngeluh cemburuin kamu.”</p>

<p>“Dibilangin, kalau sama Hoon, Juyeon, Eric, aku nggak akan pernah cemburu. Kukira ke Yeonjun juga bakal sama, tapi pas aku lihat dia nyuapin kamu roti di stasiun waktu itu, aku sadar, Yeonjun beda dari Hoon, Juyeon dan Eric. Aku nggak bisa lengah dan santai ke Yeonjun. Maaf.”</p>

<p>Perasaan bersalah menjalari tiap sel dalam tubuh Luna. Sungguh ia tidak sadar Hyunjae ada perasaan seperti itu pada Yeonjun.</p>

<p>“Maaf ya sayang. Nggak maksud bikin kamu cemburu dengan sengaja.”</p>

<p>“<em>I know, it’s OK</em>. <em>Now that you know, would you please stay a bit away from him</em>? Bukan menjauhi gimana, dia teman kamu, aku nggak mau bikin kamu nggak berteman lagi sama dia. Cuma.. hindari berduaan sama dia di luar urusan kantor dan formal ya, Yang? Bisa?”</p>

<p>Luna mengangguk. “Nggak ada alasan untuk nggak bisa. Maaf sekali lagi, Sayang.”</p>

<p>“Nggak apa-apa, aku tau kamu nggak sengaja.”</p>

<p>Luna tidak menjawab lagi. Dia memajukan duduknya, merapatkan tubuhnya pada tubuh Hyunjae. Dengan kedua tangan melingkari leher Hyunjae, Luna memagutkan bibirnya pada bibir Hyunjae. Duluan. Baru kali ini Luna yang memulai ciumannya.</p>

<p>Detik yang berjalan Luna habiskan untuk memandangi wajah Hyunjae, ketika ia melepaskan bibirnya sesaat. Lalu, dipagutnya kembali bibir Hyunjae, kali ini lebih dalam dari yang sebelumnya. Luna memutuskan untuk melakukan hal yang belum pernah dicobanya dengan Hyunjae; memainkan lidahnya di langit-langit mulut Hyunjae.</p>

<p>Terasa seperti ada yang menggelitiki perut Luna ketika Hyunjae membalas permainan lidahnya. Luna menyukai perasaan ini.</p>

<p>Kali ini Hyunjae yang menghentikan ciumannya.</p>

<p>Tangannya menyibak rambut panjang Luna ke belakang bahu Luna, sambil menyisipkan sejumput helai di belakang telinga. Lalu Hyunjae menangkup tubuh Luna, diangkatnya perlahan dari pangkuannya dan ia menidurkan kepala Luna di tangan sofa.</p>

<p>Posisi Luna kini berada di bawah kungkungan tubuh Hyunjae yang atletis, dan jelas berukuran lebih besar dari tubuh Luna. Dengan lengan kiri dipakai untuk menumpu tubuhnya, tangan kanan Hyunjae mengelusi wajah Luna.</p>

<p>“Nggh, Yang..”</p>

<p>Luna mengeluarkan erangan kecil ketika bibir Hyunjae kembali menyentuhi bibirnya. Entah Luna sadar atau tidak, yang pasti erangan kedua yang kini terlontar dari mulutnya terdengar agak lebih keras dari yang pertama, karena Hyunjae sedang melanjutkan permainan lidahnya setelah tadi sempat terhenti karena Hyunjae ingin berganti posisi.</p>

<p>Hyunjae tahu ia menginginkan lebih dari yang sedang mereka lakukan sekarang—mereka berdua menginginkan lebih—tapi tidak ada yang berani untuk memulai lebih jauh dari yang sudah terjadi kini. Sudah menuju sepuluh menit, keduanya masih dalam posisi seperti tadi. Lengan kiri Hyunjae sudah terlalu pegal dan nyaris mati rasa karena terlalu lama menopang beban tubuhnya pada posisi konstan seperti itu untuk waktu yang cukup lama.</p>

<p>Akhirnya Hyunjae melepaskan ciumannya lagi, perlahan, dan berganti menciumi kening dan hidung Luna. Setelahnya, Hyunjae bangkit dari posisinya sambil mengibaskan lengan kirinya yang ternyata benar-benar mati rasa. Engselnya serasa kaku.</p>

<p>Melihat kekasihnya berjalan mondar mandir sambil mengibaskan tangan, kini Luna yang bangkit dari posisi tidurannya.</p>

<p>“Pegel ya?” tanya Luna iba. Wajah Hyunjae merautkan ekspresi tidak nyaman sambil memijiti lengan kirinya.</p>

<p>Luna berdiri, ia menciumi sepanjang lengan kiri Hyunjae. “Mandi ya, rendeman aja biar berkurang pegelnya. Aku siapin air hangatnya dulu sambil aku mandi duluan ya. Sebentar kok, aku nggak akan rendeman.”</p>

<p>“Luna,” panggil Hyunjae, sebelum Luna menghilang di balik pintu kamar mandi. “<em>How was it</em>—<em>the kiss</em>?”</p>

<p>Luna terlalu malu rasanya untuk menjawab.</p>

<p>Tapi dari kerlingan mata Luna yang berbinar dan semburat rona merah di pipinya, Hyunjae tahu Luna menyukainya.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Hyunjae dan Luna baru saja selesai <em>video call</em> dengan Mama dan Ayah, membicarakan soal besok pagi dimana mereka berencana menjemput Mama dan Ayah di hotel jam tujuh untuk mengejar jadwal keberangkatan pesawat jam sepuluh pagi. Tidak terasa, delapan harinya Mama dan Ayah di Seoul sudah selesai dan kini harus kembali ke Singapore.</p>

<p>“Yah, jauhan lagi deh sama Mama Ayah. Delapan hari bener-bener nggak kerasa,” keluh Luna sambil menutup layar laptopnya. Ia dan Hyunjae sedang di ruang TV, duduk selonjoran di karpet dengan laptop terletak di atas <em>coffee table</em>, dan TV menyala—seperti biasa, menayangkan tontonan Netflix yang berujung diabaikan karena Luna dan Hyunjae memilih untuk saling mengobrol ketimbang menonton TV.</p>

<p>“Nanti kita ke Singapore, gantian kita yang kesana ya,” hibur Hyunjae. Dia masih tetap ingin mewujudkan keinginannya menemui orang tua Luna di Singapore.</p>

<p>“Yang, kamu pulang Senin aja, ya? Kan Senin libur, tanggal merah. Temenin aku disini sampai Senin mau ya?”</p>

<p>Hyunjae baru akan menjawab ketika notifikasi KakaoTalk Luna mendadak berbunyi terus-terusan, menandakan banyak pesan yang masuk sekaligus.</p>

<p>Luna melihat ponselnya dan ternyata <em>group chat</em> dengan gengnya di kantor yang menimbulkan rentetan notifikasi itu.</p>

<blockquote><blockquote><p>Younghoon: Pasti kalian nggak ada yang cek web Lotte World besok, kan? <em>Temporarily closed</em> ternyata, tiga hari. <em>Under regular maintenance.</em></p>

<p>Juyeon: Hah? Nggak jadi dong kita besok kesana?</p>

<p>Eric: Sukurin. Itulah akibatnya nggak ngajak-ngajak kaum jomblo alias gue dan Kak Yeonjun. Pake acara <em>triple date</em> segala.</p>

<p>Younghoon: Yee, Ric. Kan udah dibilang, kalau lo berdua mau ikut ya ikut aja, ajakin Hyuna juga nggak papa. Lo-nya nggak mau.</p>

<p>Eric: Serba salah gue, ajakin Hyuna, gimana ya kita belum resmi pacaran nggak kayak lo pada. Nggak ajak Hyuna, masa gue sama Kak Yeon pasangannya disana?”</p>

<p>Yeonjun: Ogah gue juga sama lo, Ric. Dikira gue demen laki ntar.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Kini giliran Luna yang mengetikkan pesan.</p>

<blockquote><blockquote><p><em>Lah jadi gimana? Besok kita kemana? Ini Nara Sarah kemana sih oy.</em></p>

<p>Sarah: Hadir.</p>

<p>Nara: Abis <em>video call</em> gue sama Sarah. Kita ada ide, tapi agak gila sih. Tapi seru kayaknya. Yang dadakan emang suka seru, ya nggak?</p>

<p><em>Ngapain lo? Jangan aneh-aneh please.</em></p>

<p>Sarah: Kita ke Jepang, yuk? Main ke Disneyland aja gimana?</p>

<p><em>SARAH JANGAN GILA.</em></p>

<p>Juyeon: Nggak mau, Yang. Disneyland buat bocah, aku tidur nanti disana.</p>

<p>Younghoon: Nggak mau gue juga.</p>

<p>Nara: Ya udah, Disneysea?</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Luna mengerutkan keningnya melihat pembicaraan di <em>group chat</em>-nya. Sudah semakin ngawur akibat ide gila Sarah dan Nara. Mentang-mentang Senin libur, mereka dadakan mau liburan singkat ke Jepang.</p>

<p>“Kenapa, Yang?” Hyunjae yang menyadari perubahan ekspresi wajah Luna, bertanya.</p>

<p>“Lotte World tutup kata Hoon, lagi <em>maintenance</em> tiga hari.”</p>

<p>“Besok nggak jadi dong? Atau diganti pergi ke tempat lain?”</p>

<p>“Sarah sama Nara masa kasih ide ke Jepang, coba? Ke Disneyland katanya. Tapi nggak tau sih, ini Hoon sama Juyeon pada nggak mau.”</p>

<p>“Hah ke Jepang? Ngapain jauh-jauh amat astaga. Lagian dadakan cari tiket pesawat emangnya dapet?”</p>

<p>Luna melirik <em>group chat</em>-nya lagi.</p>

<blockquote><blockquote><p>Younghoon: Ya udah oke kalau jadinya Universal Studios sih.</p>

<p>Juyeon: Iya, ayo. Pergi besok pagi, pulang Senin sore?</p>

<p>Eric: Ikuuut. Kalau jadinya ke Osaka gue ikut, <em>please</em>. Kak Yeon, ayo ikut ajalah yuk ke Osaka. Biarin aja mereka pada bawa pacar.</p>

<p>Yeonjun: <em>Let’s go</em>!</p>

<p>Nara: Eh, beneran lo berdua ikut? Ya udah, gue coba cek tiket pesawat ya, Sarah lo cek hotel coba. Atau apartemen deh biar nggak misah-misah. Luna, lo sama Jae tetep ikut kan?</p>

<p><em>Bentar, gue tanya Jae. Tapi kalau pagi-pagi banget gue nggak bisa ya, mau nganter Mama Ayah ke Incheon.</em></p>

<p>Nara: Kebeneran dong lo sekalian ke Incheon. Kita berangkat dari Incheon kok.</p>

<p><em>Oh, bukan dari Gimpo</em>?</p>

<p>Nara: <em>Nope,</em> Incheon.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Yang, mereka jadinya ke Osaka, mau ke Universal Studios katanya. Nara lagi coba cek tiket pesawat. Mau berangkat dari Incheon jadi bisa sekalian sih nganter Mama Ayah. Kita jadi mau ikut?”</p>

<p>“Terserah kamu, Yang. Kalau kamu mau ikut, aku temenin. Tapi kalau kamu nggak mau ya nggak usah berangkat.”</p>

<p>“Aku bingung. Pengen sih.”</p>

<p>“Tapi?”</p>

<p>“Takut kamunya nggak pengen. Takut kamu kecapekan soalnya mereka berencana mau pulang Senin sore.”</p>

<p>“Ya udah ayo berangkat kalau kamu mau. Deket ini ke Osaka, nggak nyampe dua jam terbangnya juga.”</p>

<p>“Beneran nggak papa?”</p>

<p>“Iya, lumayan juga kita liburan singkat.”</p>

<p><em>Cup.</em> Luna mengecup pipi Hyunjae, senang. “Makasih sayang.”</p>

<p>Luna beralih pada layar ponselnya lagi yang ternyata sudah ramai karena menurut Nara, mereka masih bisa dapat tiket pesawat dari Incheon ke Kansai, Osaka besok jam 11 siang. Tinggal menunggu konfirmasi dari masing-masing yang mau ikut, Nara akan membeli tiketnya.</p>

<blockquote><blockquote><p><em>Gue sama Jae oke ya, jadi ikut.</em></p>

<p>Sarah: YES! Nggak asik kalau pasangan fenomenal ini nggak ikutan. Akhirnyaaa.</p>

<p><em>Fenomenal apaan coba. Berlebihan lo, Sar</em>.</p>

<p>Nara: Emailin ke gue sekarang ya data-data lengkap lo semua termasuk nomor paspor. Gue talangin dulu ini tiket pesawat, tiket masuk USJ sama apartemennya. Nanti kalau udah beres semua kalian transfer aja ke m-banking gue.</p>

<p>Younghoon: Apartemen nih jadinya? Nggak hotel aja sekamar berdua-berdua gitu?</p>

<p>Eric: Kak, tega lo gue sekamar sama Kak Yeon. Lo semua nanti sibuk pada enak-enakan di kamar sama pacar. Udah, apartemen aja paling bener.</p>

<p>Nara: <em>Penthouse</em> sih lebih tepatnya bukan apartemen, kita sewa satu <em>penthouse</em> buat kita sendiri, kok. Gue nemu nih ada 3 kamar, dapur, ruang TV, kamar mandi di masing-masing kamar.</p>

<p>Nara: Pembagian kamarnya, kita cewek-cewek bertiga sekamar. Kamar satu lagi Younghoon Juyeon, kamar terakhir Yeonjun, Eric, Jaehyun. Gimana?</p>

<p>Eric: Boleh, yang penting gue pengen sama Kak Jae.</p>

<p>Yeonjun: Duh, gue sekamar sama orang-orang ekstrovert. Keong nanti gue. Boleh bareng sama Younghoon Juyeon aja nggak?</p>

<p>Juyeon: Wkwk dasar. Yaudah lo bareng gue sama Younghoon aja. Biar si Eric sama abang kesayangannya tuh.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Setelah masing-masing mengumpulkan data diri untuk kepentingan <em>book</em> tiket pesawat dan apartemen, Nara menyembutkan nominal yang harus dibayarkan per orangnya sambil memberikan nomor rekeningnya.</p>

<p>“Bayar dari m-banking aku aja, Na,” kata Hyunjae setelah Luna menyebutkan angka yang harus ditransfer ke Nara. “Bacain nomor rekeningnya Nara.”</p>

<p>“Iya, yang kamu bayar dari m-banking kamu aja. Aku bayar punyaku sendiri,” kata Luna. Layar ponselnya sudah menampilkan aplikasi m-banking miliknya.</p>

<p>“Ih apaan. Udah, sekalian aja punya kamu juga bayar dari aku. Ngapain dipisah-pisah gitu bayarnya,” protes Hyunjae. Diambilnya ponsel Luna dari tangannya dan buru-buru diselipkan di bawah bantal sofa.</p>

<p>“Hei, HP-ku siniin. Nomor rekeningnya Nara kan ada di HP-ku, gimana sih kamu.”</p>

<p>Hyunjae terkekeh. <em>Iya juga</em>, batinnya.</p>

<p>Diambilnya lagi ponsel Luna dari bawah bantal sofa, dibukanya, dan Hyunjae mencari nomor rekening Nara yang disebutkan di <em>group chat room</em> barusan.</p>

<p>Setelah transfernya berhasil, Hyunjae mengirimkan bukti transfernya ke ponsel Luna supaya diteruskan ke Nara.</p>

<p>“Udah aku transfer ya, sekalian sama yang punya kamu juga,” kata Hyunjae lagi sambil mengembalikan ponsel Luna pada yang punya.</p>

<p>“Jae, kok gitu sih? Aku jadi nggak enak nih, kenapa kamu bayarin yang aku juga? Aku transfer balik ya ke kamu.”</p>

<p>“Kalau kamu transfer balik, aku marah nih. Udah sih, nggak apa-apa. Sekali-kalinya aku bayarin kita liburan, nggak pernah kan?”</p>

<p>“Ya tapi kan itu nominalnya gede, Sayang.”</p>

<p>“<em>I know, but I can afford it. Don’t worry</em>.”</p>

<p>“Nyebelin ya kamu tuh.”</p>

<p>“Na, <em>it’s the least I can do</em>. Pengen aja sih aku bayarin pacarku liburan, kenapa nggak boleh? Nominal segitu nggak sebanding sama apa yang udah kamu kasih ke aku selama ini, paham?”</p>

<p>“Aku nggak pernah kasih kamu apa-apa deh perasaan.”</p>

<p>“Waktu, tenaga, dan cinta kamu buat aku. Kamu pikir itu bukan apa-apa?”</p>

<p>“Ya tapi kan aku nggak pamrih, aku tulus dan ikhlas ngasih itu semua buat kamu. Aku nggak ngarepin balasan apa-apa dari kamu.”</p>

<p>“Duh kesel deh. Ngeyel banget sih ini pacar satu. Iya aku tau kamu tulus dan nggak pamrih, aku bayarin kamu liburan memang aku yang pengen aja. Udah ya, jangan dibahas lagi? <em>I love you</em>, Sayang.”</p>

<p>“Geli dengernya.”</p>

<p>“Biarin, emang aku cinta kok sama kamu.”</p>

<p>“<em>I love you too,</em> Cintaku.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-10</guid>
      <pubDate>Sun, 26 Sep 2021 11:01:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chapter 9.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-9?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Chapter 9.&#xA;&#xA;Tetesan hujan yang semula hanya berupa rintik-rintik ringan kini berangsur semakin deras diiringi sambaran kilat dan petir bergantian. Langit jam 8 malam yang sudah gelap terasa semakin gelap karena hujan besar. Bunyi tetesan air hujan yang beradu dengan kaca jendela kamarnya menemani Luna malam ini yang sedang beristirahat di atas kasur di apartemennya.&#xA;&#xA;    Hujan besar banget disini.&#xA;&#xA;    Kamu baik-baik kan? Hari ini belum ada kabar.&#xA;&#xA;Selesai mengetik pesan untuk Hyunjae, Luna memfokuskan lagi pandangannya ke layar laptop yang sedang menayangkan serial detektif favoritnya di Netflix.&#xA;&#xA;Ponselnya bergetar.&#xA;&#xA;“Na, lagi apa? Hujannya gede banget ya.”&#xA;&#xA;“Berani sendiri kan disana? Kalau butuh ditemenin kasih tau, gue kesana.”&#xA;&#xA;Luna memandangi ponselnya dengan dahi mengernyit. Bukan balasan dari Hyunjae ternyata yang barusan masuk, tapi pesan baru dari Yeonjun.&#xA;&#xA;    Iya, gede banget hujannya, serem.&#xA;&#xA;    Thanks, Yeon. Gue berani dong sendirian hehe.&#xA;&#xA;    Lagi nonton Netflix.&#xA;&#xA;“Untungnya nggak jadi lembur ya tadi.”&#xA;&#xA;“Kalau lembur, kita kejebak di kantor nggak bisa pulang.”&#xA;&#xA;    Iya, feeling so good banget tadi tiba-tiba batalin lembur.&#xA;&#xA;    Lo lagi apa, Yeon?&#xA;&#xA;“Sama gue juga lagi nge-Netflix.”&#xA;&#xA;“Jangan lupa makan.”&#xA;&#xA;    Oke deh, lo juga jangan lupa makan.&#xA;&#xA;    Gue lanjut nonton ya.&#xA;&#xA;“Oke, see you!”&#xA;&#xA;    See you!&#xA;&#xA;Setelah obrolannya dengan Yeonjun selesai, Luna kembali membuka chatroom-nya dengan Hyunjae. Masih belum ada balasan. Sekarang hari Senin, sudah hari ketiga sejak Hyunjae tiba di Jeju. Dari cerita-cerita Hyunjae lewat telepon dan video call, dan dari foto-foto yang Hyunjae kirim ke Luna, sepertinya memang Hyunjae yang tadinya malas-malasan berangkat ke Jeju ternyata jadi menikmatinya.&#xA;&#xA;Iseng, Luna membuka akun Instagramnya dan langsung menelusuri akun Hyunjae. Seperti yang sudah Luna duga, tidak ada postingan apa-apa di akun pacarnya itu. Foto terakhir yang di\-post\ Hyunjae di IG feeds-nya adalah foto mereka berdua yang diambil di hari ulang tahun Hyunjae, sesaat setelah mereka jadian.&#xA;&#xA;Akhirnya Luna meninggalkan laman akun Hyunjae dan beralih ke akun milik Sunwoo. Karena hari ini belum ada kabar sama sekali dari Hyunjae, Luna memutuskan untuk mengecek situasi disana dari akun IG Sunwoo yang hampir selalu update semenjak hari pertama mereka tiba di Jeju.&#xA;&#xA;Benar saja, IG story Sunwoo hari ini sudah penuh. Luna melihatnya satu-satu. Dari unggahan Sunwoo, terlihat mereka siang tadi saat hari masih cerah, berada di dalam bus entah menuju kemana. Luna bisa tahu Sunwoo di dalam bus duduk sederet dengan Sangyeon, Jacob dengan Kevin. Dia tidak bisa menemukan Hyunjae di dalam foto-foto itu. Sampai akhirnya di foto kelima, dia bisa melihat Hyunjae rupanya duduk di bagian depan, satu baris di belakang sopir dan hati Luna mencelos ketika sadar yang duduk di sebelah Hyunjae adalah Jisoo.&#xA;&#xA;Foto berikutnya, mereka sedang makan siang di restoran. Grup mereka dibagi menjadi tiga meja besar dan lagi, Jisoo berada di meja yang sama dengan Hyunjae. Duduk berhadapan.&#xA;&#xA;Begitu terus yang Luna lihat dari semua yang diunggah Sunwoo, dimana ada Hyunjae pasti ada Jisoo. Luna tidak nyaman melihatnya. Dan ketika akhirnya sampai di video terakhir yang rupanya baru diunggah Sunwoo 20 menit lalu, perasaan Luna semakin tidak nyaman. Mereka seperti sedang makan malam di area terbuka, dengan latar belakang city light kota Jeju. Dalam video itu tertangkap Hyunjae yang sedang berdiri memunggungi Sunwoo, menghadap ke arah city light dengan lagi-lagi, Jisoo di sebelahnya. Mereka seperti sedang berbicara intens.&#xA;&#xA;Luna yang geram baru saja mau menutup ponsel flip-nya ketika getaran ponselnya menandakan pesan masuk. Dari Hyunjae.&#xA;&#xA;\[photo received\]&#xA;&#xA;\[photo received\]&#xA;&#xA;\[video received\]&#xA;&#xA;“Disini nggak hujan, langit lagi bagus banget.”&#xA;&#xA;“Aku lagi dinner, tapi sebentar lagi selesai mau langsung pulang ke vila.”&#xA;&#xA;“Kamu udah makan?”&#xA;&#xA;    Udah makan kok, lagi nonton Netflix.&#xA;&#xA;    Ya udah kamu have fun ya.&#xA;&#xA;Sebetulnya Luna sungguh ingin mencecar Hyunjae untuk menjelaskan apa yang tadi ia lihat dari unggahan Sunwoo, tapi Luna memutuskan untuk menahannya dan menanyakannya langsung saja ketika Hyunjae sudah pulang. Ia penasaran tapi takut memancing pertengkaran jika ia tanyakan sekarang pada Hyunjae.&#xA;&#xA;Akhirnya untuk mengikis rasa penasarannya, Luna mencoba menghubungi Sunwoo lewat direct message Instagram.&#xA;&#xA;    Sunwoo, boleh tanya nggak?&#xA;&#xA;    Jangan bilang Jae ya aku chat kamu.&#xA;&#xA;“Hai, Nuna! Ada apa, tumben?”&#xA;&#xA;Luna kaget sendiri melihat balasan Sunwoo secepat itu. Anak ini 24 jam online terus apa ya…&#xA;&#xA;    Aku abis lihat postingan kamu di story.&#xA;&#xA;    Aku perhatiin kok kayanya Jisoo nempelin Jae terus ya? Bener begitu? Atau kebetulan pas di foto aja keliatannya begitu?”&#xA;&#xA;“Apa nggak sebaiknya tanya langsung ke Kak Jae aja, Kak?”&#xA;&#xA;“Takut salah ngomong, hehe.”&#xA;&#xA;    Mau sih, tapi nanti aja kalau udah pulang.&#xA;&#xA;    Kalau tanya di chat takut malah jadi berantem sama Jae.&#xA;&#xA;“Jisoo nggak selalu bareng Kak Jae, kok. Dia kan ada temen sesama anak magang juga, jadi mereka bareng-bareng.”&#xA;&#xA;“Kebeneran aja pas di foto, pas lagi deketan posisinya sama Kak Jae.”&#xA;&#xA;“Nuna tenang aja, ya. Kak Jae aman kok.”&#xA;&#xA;    Oh gitu ya..&#xA;&#xA;    Oke deh, makasih ya, Sunwoo.&#xA;&#xA;    Sorry aku ganggu. Have fun disana.&#xA;&#xA;“No probs. Glad to help, Kak.”&#xA;&#xA;Selesai berbicara dengan Sunwoo, seharusnya Luna merasa lega tapi ternyata belum. Luna tahu saat ini dirinya tidak bisa berbuat banyak selain mengandalkan kepercayaannya pada Hyunjae. Luna mematikan laptopnya—sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan tontonannya—lalu beranjak dari tempat tidur untuk mematikan lampu kamarnya.&#xA;&#xA;Luna memutuskan untuk tidur cepat malam ini.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“…And I said yes!!!”&#xA;&#xA;Hari itu saat istirahat makan siang, Luna, Nara dan Sarah memutuskan untuk makan siang bersama di luar kantor. Mereka memilih restauran sushi kali ini, dan makan siang hari ini ditraktir penuh oleh Sarah.&#xA;&#xA;Luna dan Nara berseru tertahan ketika Sarah mengakhiri ceritanya sambil memamerkan jari manis di tangan kanannya. Tersemat sebuah cincin emas putih bermatakan berlian kecil yang simpel, tapi sungguh indah dan sarat makna. Sarah sendiri sambil berkaca-kaca matanya ketika memamerkan cincin itu kepada dua sahabatnya.&#xA;&#xA;“Sarah… gue ikut bahagia banget denger kabar ini. Ga nyangka gue, Juyeon seberani itu. Kalian hebat, gue salut banget!” Luna berkata sambil memeluk Sarah erat-erat.&#xA;&#xA;“Gue juga nggak nyangka, Na. Gue kira Juyeon mau ngajak jadian taunya malah langsung ngelamar. Gue nggak pernah sebahagia ini rasanya,” kata Sarah.&#xA;&#xA;“Terus, udah kebayang kapan mau nikahnya?” Kali ini pertanyaan terlontar dari Nara. Jarinya mengelus cincin yang tersemat di jari manis Sarah.&#xA;&#xA;“Belum lah, nanti mau diomongin dulu lebih lanjut sama keluarga kita masing-masing juga. Yang jelas cincin ini sebagai tanda aja sih, bahwa gue udah sepenuhnya milik Juyeon dan Juyeon milik gue.”&#xA;&#xA;“Lo beruntung banget sih. Gue udah tahunan pacaran sama Younghoon belum dilamar-lamar. Lo sama Jae gimana, Na? Udah ada omongan kesana?”&#xA;&#xA;“Eh? Ng—udah sih. Jaehyun udah declare memang tujuan dia macarin gue ya untuk nikah. Tapi guenya belum mau bahas lebih lanjut,” Luna berkata gugup sambil meneguk teh ocha hangatnya. “Lo juga sabar aja ya, Ra. Pasti banyak yang jadi pertimbangan Younghoon sebelum akhirnya dia ngelamar lo suatu saat.”&#xA;&#xA;“Ih, kok lo aneh sih, Na? Kenapa nggak mau bahas nikah lebih lanjut sama Jae? Kurang apalagi dia, Na?” tanya Nara gemas.&#xA;&#xA;“Nikah bukan perkara gampang, Ra. Gue belum siap aja. Iya gue tau harusnya inget umur dan memang nggak ada yang kurang lagi dari Jaehyun, tapi gue belum mantep aja ngomongin nikah. Makanya tadi gue bilang salut sama Sarah dan Juyeon, udah bisa semantep itu untuk nikah.”&#xA;&#xA;“Nggak papa, Sayang. Take it slow, no need to rush it. Semua yang dipaksakan dan terburu-buru itu nggak pernah berakhir baik. Jadi, kalau lo belum sreg urusan nikah ya nggak papa. Cuma… jangan kelamaan, ya? Takutnya malah jadi nggak baik buat hubungan lo sama Jaehyun,” ujar Sarah. “Lo juga, Nara. Sabar yaa, gue yakin Younghoon sooner or later akan ngelamar lo. Kalian udah kurang langgeng apa coba, ya kan?”&#xA;&#xA;“Iya, gue sama Younghoon udah setahu itu satu sama lain. Gue udah menyerahkan diri gue seutuhnya buat Younghoon,” kata Nara.&#xA;&#xA;“Same here,” Sarah mengangguk setuju.&#xA;&#xA;“Lo sama Jaehyun… udah?” Nara bertanya lagi pada Luna.&#xA;&#xA;“Udah apa maksudnya?” Luna balik bertanya, nggak paham.&#xA;&#xA;“Yelah, lo nggak ngerti? Gemes ih anak ini.”&#xA;&#xA;“Apa sih, Sar? Udah apa maksudnya?”&#xA;&#xA;Nara memelankan suaranya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Luna dan berbisik, “Had sex.”&#xA;&#xA;Luna terbatuk saking kaget dengan apa yang ia dengar dari Nara. “YA NGGAKLAH, GILA AP—”&#xA;&#xA;“Sssh! Kenceng amat sih? Pelanin suaranya woy.”&#xA;&#xA;“Nggak! Gue nggak ngapa-ngapain sama Jaehyun, ciuman pertama aja baru  kok. Kalian emangnya udah..? OMG.”&#xA;&#xA;“Udah, nggak tau berapa kali udah nggak kehitung, gue pacaran sama Hoon aja udah lama banget.”&#xA;&#xA;“Gue sama Juyeon juga rutin sih, at least once a week. Na, lo beneran never had sex with Jaehyun? Tapi dia kan suka nginep di tempat lo, Na? Lah itu kalian ngapain semaleman?”&#xA;&#xA;“Ya tidur lah, gila! Tidur as in literal meaning. Gue di kasur gue, dia di sofa ruang TV. Selama Jaehyun nginep gue nggak pernah tidur seranjang sama dia. Dari pertama kali nginep, dia yang minta tidur di sofa dan sama sekali dia belum pernah nyentuh bagian private gue, kalau kalian mau tau.”&#xA;&#xA;“And you’re okay with that?” tanya Nara hati-hati.&#xA;&#xA;“I agree with that,” sahut Luna. “Lo tau nggak, bahkan sebelum cium bibir untuk pertama kalinya aja dia izin dulu ke gue. Nggak langsung nyosor.”&#xA;&#xA;“Ya ampun, Luna… Dimana hari gini nemuin cowok kaya Jaehyun? Dia seganteng itu mau dapetin cewek manapun dia bisa, diajak one night stand juga kayanya cewek-cewek pada antri kalau sama Jaehyun sih. Tapi dia sesopan itu ke lo. Ini gila sih, nggak nyangka gue.”&#xA;&#xA;“Na, beneran deh kalian mesti langgeng, ya? Jaga banget hubungan kalian berdua ya.”&#xA;&#xA;“Ih ini kenapa jadi bahas gue sama Jaehyun deh? Kita disini kan buat rayain tunangannya lo sama Juyeon, Sar.”&#xA;&#xA;“Iya sih tapi gue gemes sama cerita lo dan Jaehyun, Na. Lucu banget kalian tuh.”&#xA;&#xA;“Doain aja gue langgeng ya. Gue… sayang banget sama Jaehyun. Orangtuanya dia juga udah nerima gue dengan baik banget. Jadi yaa mestinya nggak ada halangan yang berarti sih untuk gue dan Jaehyun.”&#xA;&#xA;“Kita aminin paling kenceng pokoknya buat lo dan Jaehyun yaa.”&#xA;&#xA;Obrolan mereka terhenti oleh beberapa piring sushi yang kini disajikan oleh pelayan restauran. Belum semua pesanan keluar, tapi masing-masing dari mereka yang sudah lapar langsung mulai menyantap sushi yang sudah tersaji.&#xA;&#xA;Baru menghabiskan suapan keduanya, ponsel Luna berdering dan ternyata mamanya yang menelepon.&#xA;&#xA;“Lagi makan, Ma. Makan sushi, ini sama Sarah, Nara.”&#xA;&#xA;“Hai, Tanteee…” Sarah dan Nara berseru berbarengan ke arah ponsel Luna supaya sapaannya terdengar oleh mamanya Luna.&#xA;&#xA;“Salam buat Sarah, Nara,” kata Mama di ujung sana, yang langsung disampaikan oleh Luna ke kedua sahabatnya itu.&#xA;&#xA;“Na,” kata Mama lagi. “Mama sama ayah mau kesana ya. Udah beli tiket, rencananya Jumat malam berangkat dari Changi, Sabtu pagi sampai Incheon. Nanti jemput ya?”&#xA;&#xA;“Ehh beneran, Ma? Nggak hoax, kan?” tanya Luna antusias.&#xA;&#xA;“Nggak dong, tiketnya juga udah dibeli. Emangnya kamu, hoax terus katanya mau kesini tapi nggak jadi terus.”&#xA;&#xA;“Hehe maafin ya, Ma. Sibuk aku disini. Maaf ya?”&#xA;&#xA;“Iya nggak papa, Sayang. Tapi nanti Sabtu beneran jemput, ya? Kamu libur kan? Ayah udah sengaja tuh ambil cuti demi ketemu anak tunggalnya.”&#xA;&#xA;“Siap, aku pasti jemput. Boleh sekalian ajak Jaehyun nggak, Ma?”&#xA;&#xA;“Eh iya dong, ajakin Jaehyunnya, ya. Ayah juga mau ketemu, mau ngobrol katanya sama Jaehyun.”&#xA;&#xA;“Ma, tapi bilang Ayah ya. Jangan ngobrolin nikah. Ayahnya mana coba, aku pengen ngomong.”&#xA;&#xA;“Ayah kan di kantor, ini Mama di rumah. Ya nggak tau nanti Ayah mau ngobrol apa, terserah Ayah. Mungkin cuma mau tau aja hubungan kalian mau dibawa kemana.”&#xA;&#xA;“Jaehyun sih udah ngomong. Dia serius sama aku, Ma.”&#xA;&#xA;“Oh, ya udah bagus. Tinggal kamunya nih jangan plin plan. Giliran dapet yang baik begini kamunya ragu, gimana sih? Padahal orangtua Jaehyun udah sebaik itu ke kamu.”&#xA;&#xA;“Iya, ini Nara sama Sarah juga barusan persis ngomong gitu ke aku.”&#xA;&#xA;“Tuh kan. Tapi ya Mama sih nggak maksa, ya. Toh kalian yang ngejalanin. Mama, Ayah, dan orangtuanya Jaehyun juga Mama yakin, cuma bisa mendukung aja apapun itu keputusan kalian. Dan mendoakan yang terbaik untuk kalian.”&#xA;&#xA;“Iya, Ma. Makasih ya. Ma, nanti ngobrol lagi, ya? Aku mau lanjut makan dulu boleh ya, Ma? Laper banget.”&#xA;&#xA;“Oke, Sayang. Nanti telepon Ayah jangan lupa, kangen dia sama kamu.”&#xA;&#xA;“Iya, Ma. Nanti Luna telepon Ayah. Daaah, Ma. Love you.”&#xA;&#xA;“Kyaaa orangtua gue mau kesini nanti weekend. Duh, tegang banget. Doain lancar ya, Ayah mau ngobrol-ngobrol katanya sama Jae,” Luna berkata setelah menyudahi obrolannya dengan Mama.&#xA;&#xA;“Ya bagus dong, jadi sama-sama enak, lo udah pernah ketemu orangtua Jae dan Jae bakalan ketemu orangtua lo secepetnya,” Nara menanggapi yang diikuti anggukan setuju dari Sarah.&#xA;&#xA;Sebelum melanjutkan makan, Luna menyempatkan untuk mengabari Hyunjae dulu tentang rencana kedatangan mama dan ayah.&#xA;&#xA;    Yang, mama barusan telpon. Mau kesini sama ayah, sabtu nanti.&#xA;&#xA;    Ikut jemput ya, Yang? Ayah mau ngobrol juga katanya sama kamu.&#xA;&#xA;    Ayah yang mau ngobrol, aku yang mules.&#xA;&#xA;Karena Luna tahu Hyunjae tidak akan memberikannya balasan yang cepat, Luna memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan makan siangnya yang tertunda.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Akhirnya hari Rabu yang ditunggu tiba, Hyunjae hari ini kembali ke Seoul setelah menghabiskan lima harinya di Jeju. Luna sudah menunggu di bandara sejak jam 6 sore, masih lengkap dengan setelan kerjanya—rok span di atas lutut warna baby pink dan atasan blouse lengan pendek warna putih dengan ornamen manik-manik kecil bertabur disekeliling bagian leher blouse-nya. Karena cuaca musim gugur yang mulai dingin, nggak lupa Luna membalut tubuhnya dengan outer coat yang tidak terlalu tebal, berwarna baby pink senada dengan rok spannya.&#xA;&#xA;Sekitar dua puluh menit setelah pengumuman mendaratnya pesawat yang ditumpangi kantor Hyunjae, pintu gerbang kedatangan terbuka dan satu-satu penumpang mulai berhamburan keluar.&#xA;&#xA;Luna memicingkan matanya mencari sosok yang sangat dirindukannya itu dan senyumnya mengembang ketika matanya beradu dengan mata kekasihnya. Senyuman Luna dibalas oleh Hyunjae yang terlihat berjalan tergesa menghampiri Luna. Ketika jarak diantara keduanya akhirnya terkikis, Hyunjae memeluk Luna erat. Dia lupa, adegannya ini menjadi tontonan segar bagi rekan-rekan kerjanya.&#xA;&#xA;&#34;Yang, kenalan dulu ya sama temen kantorku yang lain? Mumpung ketemu. Sekalian ada atasanku.”&#xA;&#xA;Luna mengangguk. Tangannya digenggam oleh Hyunjae ketika berjalan mendekati rombongan anak-anak kantor Hyunjae.&#xA;&#xA;Setelah Luna dikenalkan pada atasan-atasannya, Hyunjae juga mengenalkannya pada teman-teman di luar divisinya—selain Sangyeon, Jacob, Kevin dan Sunwoo—termasuk pada Jisoo dan teman magangnya.&#xA;&#xA;Ini aslinya yang namanya Jisoo, kata Luna dalam hati. Setelah berkenalan, Luna dan Hyunjae pun pamit untuk berpisah dari rombongan.&#xA;&#xA;“Makasih udah jemput aku. Gantian aku yang nyetir, ya? Capek kamu pasti pulang kerja,” kata Hyunjae sesampainya mereka di parkiran. “Sini kunci mobilnya.”&#xA;&#xA;Mobil yang dipakai Luna untuk menjemput di bandara adalah mobil Hyunjae, yang memang disimpan di basement apartemen Luna selama Hyunjae tidak ada.&#xA;&#xA;“Beneran kamu mau nyetir? Aku nggak capek, kok. Malah lebih capek kamu kayanya.”&#xA;&#xA;“Nggak papa sayang, aku tadi di pesawat tidur.”&#xA;&#xA;“Jadi, Sabtu nanti kita ketemu Mama sama Ayah, ya? Aku nggak sabar,” lanjut Hyunjae lagi ketika mobilnya sudah meninggalkan lahan parkir bandara. Bersiap menembus jalanan besar kota.&#xA;&#xA;“Iya, aku juga nggak sabar. Kangen mereka.”&#xA;&#xA;“Kamu sih, aku ajakin ke Singapore tapi nunda-nunda terus. Nggak enak jadinya Mama-Ayah deh yang nyamperin kesini.”&#xA;&#xA;“Hehe iya, Mama juga tadi protes gitu. Mmh, Yang, aku boleh tanya sesuatu nggak?”&#xA;&#xA;“Boleh, tanya apa?”&#xA;&#xA;Lalu Luna pun yang sudah nggak kuat kepalang penasaran langsung menanyakan perihal Jisoo yang dilihatnya nyaris selalu berdekatan dengan Hyunjae di postingan Sunwoo beberapa waktu lalu.&#xA;&#xA;“Jisoo memang belum terlalu dekat banget sama anak-anak kantor selain divisiku. Dia cuma punya satu temennya yang sesama anak magang. Jadi selama gathering kemarin memang dia mau nggak mau ngintilin tim aku terus. Temennya juga sesekali sih ikutan gabung di tim aku. Tapi kayanya temennya dia lebih supel, jadi temennya itu udah bisa gabung kemana-mana sebenernya. Jisoo-nya nih pemalu banget.”&#xA;&#xA;“Oh gitu. Yaa, nggak papa sih, aku nggak gimana-gimana cuma agak kaget aja jujur, pas lihat tiap ada kamu pasti ada Jisoo di foto-fotonya Sunwoo.”&#xA;&#xA;“Maklumin ya, Yang? Namanya juga satu tim.”&#xA;&#xA;“Kamu ngerasa ada gelagat aneh nggak dari Jisoo? Ngerasa dia genit nggak ke kamu?”&#xA;&#xA;“Nggak, genit gimana dia pemalu banget gitu.”&#xA;&#xA;“Soalnya dia cantik banget—”&#xA;&#xA;“Terus kenapa, cemburu lagi kamunya? Yang, kurang-kurangin deh cemburu nggak berdasar kaya gitu. Kesannya kamu jadi nggak yakin sama aku kalau kamu masih aja ada curiga atau ketakutan.”&#xA;&#xA;“Maaf sayang. Nggak bermaksud curigaan ke kamu. Makasih ya, udah jelasin soal Jisoo. Maafin aku salah paham.”&#xA;&#xA;“Jangan tanya yang aneh lagi kaya gitu ya? Janji?”&#xA;&#xA;“Iya, janji.”&#xA;&#xA;Mobil Hyunjae berhenti ketika lampu merah menyala. Hyunjae yang belum menyalurkan rasa rindunya pada Luna, menoleh ke samping kanannya. Dia menikmati menatap wajah mungil dan cantik milik Luna, yang sedang menatap lurus jalanan di depannya. Luna yang merasa sedang diperhatikan, menoleh ke arah Hyunjae.&#xA;&#xA;Luna mencondongkan tubuhnya mendekati Hyunjae saat sebelah pipinya dielus halus oleh jari-jari Hyunjae. Ketika ibu jari Hyunjae menyentuh bibirnya, Hyunjae bertanya pelan padanya, “Cium, ya? Boleh?”&#xA;&#xA;Luna mengangguk. “Lain kali, nggak usah nanya lagi. Kamu selalu boleh.”&#xA;&#xA;Hyunjae mendaratkan ciumannya di bibir perempuan terkasihnya itu dengan hati-hati. Ketika akhirnya bibir mereka bersentuhan, Hyunjae merasa seperti ingin meluruhkan rasa rindunya yang terpendam dan belum sepenuhnya tercurah. Hyunjae sangat ingin Luna merasakan betapa ia menyayanginya dengan sepenuh hati. Dan pesannya itu tersampaikan. Luna tahu Hyunjae bersungguh-sungguh dengan perasaannya, dan Luna juga sadar bahwa dirinya pun sungguh amat menyayangi Hyunjae.&#xA;&#xA;Tepat ketika lampu merah berganti menjadi kuning, Hyunjae melepaskan ciumannya perlahan, mengecup kening Luna dan kembali memusatkan konsentrasinya untuk menyetir.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Hari Jumat pagi, tubuh Hyunjae yang masih terbalut selimut perlahan bergerak ketika ia terbangun dari tidurnya. Rasanya semalam Hyunjae sudah tidur cepat, bahkan tidak kuat menuruti permintaan Luna yang minta ditemani mengerjakan laporan sambil video call, tapi rasanya pagi ini Hyunjae terbangun dengan badan yang luar biasa lelah. Bukannya segar, bangun tidur pagi ini Hyunjae merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia merasakan pegal menjalar hampir di tiap sendinya, kepalanya berat dan pening, matanya terasa panas dan saat ia mencoba berdeham, tenggorokannya terasa luar biasa kering, perih.&#xA;&#xA;Sepulang dari gathering kantor di Jeju hari Rabu malam, Hyunjae memang mulai merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Tapi ia hanya mengira dirinya kelelahan dan kurang istirahat. Nyatanya hari Kamis pagi—beruntung kantornya diliburkan pasca acara \gathering—\Hyunjae terbangun dengan tubuh meriang, tapi setelah mengkonsumsi paracetamol dan istirahat seharian, Hyunjae merasa baikan. Ia juga tidak bercerita apa-apa pada Luna soal kondisinya karena dirasa sudah baikan.&#xA;&#xA;Kamis malam, mendadak tubuhnya kembali meriang kali ini ditambah dengan kepalanya yang terasa begitu berat, pening. Hyunjae memutuskan untuk tidur cepat, dengan masih tidak memberitahukan Luna kondisinya. Selain tidak ingin membuat Luna khawatir, Hyunjae masih berharap ini hanya efek kelelahan dan kurang tidur karena acara gathering. Tapi ternyata sampai Jumat pagi ini tubuhnya malah semakin drop dan Hyunjae sadar, dia sepertinya bukan hanya kelelahan. Hyunjae sakit.&#xA;&#xA;Susah payah Hyunjae berusaha meraih laci meja di samping kasurnya, ingin mengambil thermogun untuk mengecek suhu tubuhnya. Setelah berhasil, Hyunjae tertegun melihat angka digital di layar thermogun-nya. Tiga puluh sembilan koma lima derajat celcius. Pantas matanya terasa begitu panas. Hyunjae merapatkan lagi selimut di tubuhnya dan memejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa pening di kepalanya. Ia harus bisa bangun untuk sekedar membuat sarapan agar dirinya bisa makan dan minum obat.&#xA;&#xA;Akhirnya setelah memaksakan diri untuk bangun, Hyunjae berjalan keluar kamarnya menuju dapur. Ia hanya mampu mengambil selembar roti tawar dan sekotak biskuit, dan kembali ke kamarnya dengan tertatih. Selesai sarapan seadanya, Hyunjae minum obatnya lagi dan merebahkan dirinya di kasur. Kali ini ia menyerah, ia butuh Luna.&#xA;&#xA;    Yang, aku sakit.&#xA;&#xA;    Kalau kamu nggak capek, pulang kerja ke tempatku ya? I need you.&#xA;&#xA;Tidak lama setelah mengetikkan pesannya untuk Luna, Hyunjae tertidur.&#xA;&#xA;*\\\*&#xA;&#xA;“Sayang, hei ini aku. Bangun dulu yuk, makan dulu. Kamu tidur dari jam berapa?”&#xA;&#xA;Hyunjae mengerjapkan matanya saat ia merasakan sapuan lembut menjalar di keningnya. “Na? Kapan nyampe?”&#xA;&#xA;“Setengah jam lalu deh kayanya. Badan kamu panas banget, Yang. Aku udah dua kali ganti kompres tapi kamu masih belum bangun. Maaf ya, aku bangunin. Kamu pasti belum makan yang bener, ya?”&#xA;&#xA;“Na, ini masih jam 4 sore kok kamu udah disini?”&#xA;&#xA;“Aku izin pulang cepet. Maaf ya, Jae, chat kamu baru aku baca pas mau makan siang tapi aku nggak bisa langsung kesini, aku ada meeting dulu tadi. Baru selesai jam 3 dan aku langsung izin pulang. Terus kesini.”&#xA;&#xA;Mata Hyunjae menyendu, ia merasa tidak enak sudah membuat Luna meninggalkan kantor sebelum waktunya. “Maafin aku, kamu jadi repot begini. Maaf kamu jadi harus pulang cep—”&#xA;&#xA;“Ssssh,” Luna memotong kalimat Hyunjae sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Hyunjae yang kini terasa hangat di jarinya. “No need to be sorry, Sayang. Yuk, bangun sebentar ya? Senderan aja di kasur, aku udah bikinin chicken soup sama teh ginseng merah.”&#xA;&#xA;Hyunjae menurut. Dengan dibantu Luna, ia mengerahkan semua sisa tenaganya untuk menegakkan tubuhnya dan bersandar di sandaran kasur.&#xA;&#xA;Luna duduk di tepi kasur Hyunjae dengan semangkuk chicken soup buatannya di tangan. Ia menyendokkan supnya, setelah sebelumnya meniupinya pelan agar supnya tidak terlalu panas di mulut Hyunjae.&#xA;&#xA;“Ih malu banget, masa disuapin gini. Kaya anak kecil.”&#xA;&#xA;“Hilangin dulu coba gengsinya, kamu lagi lemes gitu. Bisa emang makan sendiri?”&#xA;&#xA;“Galak banget sih, pacar lagi sakit juga.”&#xA;&#xA;“Kamunya gemesin sih, lagi sakit masih aja tetep tsundere-nya nggak ilang.”&#xA;&#xA;Satu suap, tiga suap, lima suap.&#xA;&#xA;Nggak butuh waktu lama, mangkuk di tangan Luna kini kosong. Isinya habis tidak bersisa.&#xA;&#xA;“Supnya enak banget.”&#xA;&#xA;“Masa? Enak atau kamu terpaksa makan karena kelaperan?”&#xA;&#xA;“Yang, ih!”&#xA;&#xA;Luna tertawa. Dalam hati ia senang juga sup buatannya dihabiskan oleh Hyunjae dalam sekejap.&#xA;&#xA;“Sekarang tehnya diminum ya.”&#xA;&#xA;Hyunjae meraih cangkir dari tangan Luna dan menyesap tehnya sedikit-sedikit. Ia memejamkan matanya sejenak dengan kepala bersandar di sandaran kasur. Teh ginseng merah ini memang enak sekali dikonsumsi apalagi ketika tubuh dalam keadaan meriang seperti ini.&#xA;&#xA;Hyunjae membuka matanya lagi dan melihat Luna beranjak dari duduknya, berjalan ke arah lorong walk-in closet sebelum akhirnya berhenti di depan lemari baju Hyunjae, membukanya dan mengambil handuk kecil dan satu set baju tidur dari dalam lemari.&#xA;&#xA;“Seka ya badannya? Biar segeran kamunya. Aku siapin air hangatnya dulu,” kata Luna setelah melihat Hyunjae menghabiskan tehnya.&#xA;&#xA;“Aku lemes, nggak kuat di kamar mandi lama-lama.”&#xA;&#xA;“Nggak usah di kamar mandi, kamu di kasur aja. Aku sekain.”&#xA;&#xA;Hyunjae baru akan melanjutkan argumennya ketika Luna keburu menghilang ke dalam kamar mandi, dan muncul kembali dengan baskom berisi air hangat di tangannya.&#xA;&#xA;Dengan telaten, Luna melepaskan kaos Hyunjae yang sudah basah dan lembab terkena keringat dingin. Dengan tangan kanan terbalut washcloth yang sudah dibasahi dengan air hangat, disekanya mulai dari wajah Hyunjae hingga seluruh tubuh bagian atas, termasuk kedua lengan Hyunjae. Selesai seka, Luna mengeringkan dengan handuk kecil yang tadi sudah disiapkan, membalurkan eucalyptus oil di bagian dada, perut dan punggung Hyunjae, lalu memakaikan kaos ganti yang diambilnya di lemari baju tadi.&#xA;&#xA;Selesai bagian atas, kini Luna menyingkap selimut yang menutupi area pinggang Hyunjae ke bawah, dan menyeka bagian lutut hingga ujung jari-jari kaki Hyunjae. Setelah dikeringkan dengan handuk, Luna menyerahkan celana pendek ganti berikut dengan underwear-nya pada Hyunjae.&#xA;&#xA;“Ganti sendiri ya celananya, bisa kan? Aku beresin air bekas seka sama cuci piring dulu. Panggil aku kalau ada apa-apa, ya.” Selesai berkata begitu, Luna mencium pucuk kepala Hyunjae sekilas, dan dengan gesit segera mengangkat baskom berisi air bekas seka di tangan kanan dan mangkuk serta cangkir bekas di tangan kiri.&#xA;&#xA;Setelah Luna meninggalkan kamarnya, Hyunjae mengganti underwear dan celana pendeknya dengan setelan baru yang tadi disiapkan Luna. Walaupun masih lemas, tapi Hyunjae bisa merasakan tubuhnya agak enakan dan sedikit segar setelah seka dan ganti baju. Sebelum merebahkan tubuhnya lagi di kasur, Hyunjae meminum obat yang juga sudah disiapkan Luna di meja samping kasurnya.&#xA;&#xA;Luna yang sudah kembali ke kamar, memunguti baju kotor Hyunjae di lantai dekat kasur dan membawanya ke keranjang cucian. Kebiasaan Luna dan Hyunjae yang tinggal sendirian adalah mencuci baju satu minggu sekali, di hari Sabtu. Tapi ketika dilihatnya keranjang cucian Hyunjae sudah penuh karena banyak baju kotor dari acara gathering kemarin, Luna memutuskan untuk mencucikannya malam ini karena tahu Hyunjae pasti masih terlalu lemas untuk sekedar mengurus cucian baju.&#xA;&#xA;Setelah mesin cuci mulai bekerja, Luna kembali menghampiri Hyunjae di kamar. Tangannya menyentuh dahi dan leher Hyunjae, masih agak panas. Luna mengarahkan thermogun ke dahi Hyunjae, kali ini angka tiga puluh delapan tertera di layar. Masih agak panas. Luna memutuskan untuk mengompres dahi Hyunjae lagi.&#xA;&#xA;“Kalau besok masih belum baikan, kita ke dokter, ya?” Luna berkata lembut. Buku jarinya mengusapi kepala Hyunjae.&#xA;&#xA;Masih dengan mata terpejam, Hyunjae mengangguk. Tangannya lalu bergerak meraba kasur, mencari tangan Luna untuk digenggam. “Maafin aku besok batal jemput mama dan ayah kamu di bandara. Aku nggak enak banget, Na.”&#xA;&#xA;“Udah, jangan dipikirin. Mama ayah bakal agak lama kok di sini, kamu masih bisa ketemu kalau udah sehat. Yang penting sekarang kamu sehat dulu, ya?”&#xA;&#xA;“Na…”&#xA;&#xA;“Ya sayang?”&#xA;&#xA;“Tidur sini ya malam ini? Temenin aku, ya?”&#xA;&#xA;“Iya, aku nginep malam ini. Besok pagi aku tinggal dulu tapinya ya? Mama jam 1 malam ini take off, besok jam 8 pagi mendarat. Aku jemput dulu ke bandara. Aku udah minta tolong temen-temen kamu besok kesini, yang bisa pagi Kevin sama Jacob. Mereka jam 9 kesininya. Nanti siangan gantian antara Sangyeon atau Sunwoo yang nemenin. Katanya sih Eric juga mau ikut, panik dia kakak kesayangannya tiba-tiba sakit.”&#xA;&#xA;Hyunjae kaget mendengar penuturan Luna. Dia nggak menyangka Luna sampai menghubungi teman-temannya. “Na, kamu segitunya sampe hubungin mereka buat nemenin aku?”&#xA;&#xA;“Iya, aku bingung soalnya. Nggak tega ninggalin kamu sendiri, tapi aku harus pergi jemput mama ayah. Akhirnya tadi aku coba tanya deh barangkali temen-temen kamu pada bisa nemenin, untungnya bisa.”&#xA;&#xA;“Makasih, Sayang. Nggak ada yang sebaik kamu memang.”&#xA;&#xA;“Aku pengen sayangku cepet sembuh. Sedih lihat kamu yang biasanya bawel sekarang lemes gini.”&#xA;&#xA;Hyunjae terkekeh pelan, menampilkan jajaran gigi-gigi putihnya yang berderet rapi. Luna berdecak dalam hati, bahkan dalam kondisi sakit dan tidak mandi seharian pun Hyunjae masih tetap terlihat tampan.&#xA;&#xA;“Aku mau mandi dulu ya. Kamu masih laper nggak? Kalau mau makan lagi habis mandi aku bikinin bubur ikan.”&#xA;&#xA;“Nggak, Yang, makasih ya. Aku mau tidur aja. Selesai mandi kamu jangan lupa makan malam. Nanti tidur di samping aku, ya? Jangan di sofa. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, lemes gini akunya juga.”&#xA;&#xA;“Hahaha iya iya. Kamu sehat aja nggak pernah ngapa-ngapain aku, apalagi kamu lagi lemes.”&#xA;&#xA;Setelah membantu Hyunjae menyamankan posisi tidurnya, Luna membenahi selimut supaya menutupi tubuh Hyunjae dengan sempurna. Selesai dengan Hyunjae, Luna mengambil emergency handbag-nya—beruntung di mobilnya Luna selalu sedia tas darurat yang berisi satu set dalaman, baju tidur, dan baju pergi bersih sekaligus toiletries travel-size—dan membawanya ke kamar mandi. Luna ingin segera membersihkan dirinya dan beristirahat di kasur. Menyadari betapa lelahnya ia hari ini, Luna berencana ingin mengandalkan food delivery* saja untuk makan malamnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Chapter 9.</strong></p>

<p>Tetesan hujan yang semula hanya berupa rintik-rintik ringan kini berangsur semakin deras diiringi sambaran kilat dan petir bergantian. Langit jam 8 malam yang sudah gelap terasa semakin gelap karena hujan besar. Bunyi tetesan air hujan yang beradu dengan kaca jendela kamarnya menemani Luna malam ini yang sedang beristirahat di atas kasur di apartemennya.</p>

<blockquote><blockquote><p>Hujan besar banget disini.</p>

<p>Kamu baik-baik kan? Hari ini belum ada kabar.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Selesai mengetik pesan untuk Hyunjae, Luna memfokuskan lagi pandangannya ke layar laptop yang sedang menayangkan serial detektif favoritnya di Netflix.</p>

<p>Ponselnya bergetar.</p>

<p>“Na, lagi apa? Hujannya gede banget ya.”</p>

<p>“Berani sendiri kan disana? Kalau butuh ditemenin kasih tau, gue kesana.”</p>

<p>Luna memandangi ponselnya dengan dahi mengernyit. Bukan balasan dari Hyunjae ternyata yang barusan masuk, tapi pesan baru dari Yeonjun.</p>

<blockquote><blockquote><p>Iya, gede banget hujannya, serem.</p>

<p><em>Thanks</em>, Yeon. Gue berani dong sendirian hehe.</p>

<p>Lagi nonton Netflix.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Untungnya nggak jadi lembur ya tadi.”</p>

<p>“Kalau lembur, kita kejebak di kantor nggak bisa pulang.”</p>

<blockquote><blockquote><p>Iya, <em>feeling so good</em> banget tadi tiba-tiba batalin lembur.</p>

<p>Lo lagi apa, Yeon?</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Sama gue juga lagi nge-Netflix.”</p>

<p>“Jangan lupa makan.”</p>

<blockquote><blockquote><p>Oke deh, lo juga jangan lupa makan.</p>

<p>Gue lanjut nonton ya.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Oke, <em>see you!</em>”</p>

<blockquote><blockquote><p><em>See you!</em></p></blockquote>
</blockquote>

<p>Setelah obrolannya dengan Yeonjun selesai, Luna kembali membuka <em>chatroom</em>-nya dengan Hyunjae. Masih belum ada balasan. Sekarang hari Senin, sudah hari ketiga sejak Hyunjae tiba di Jeju. Dari cerita-cerita Hyunjae lewat telepon dan <em>video</em> call, dan dari foto-foto yang Hyunjae kirim ke Luna, sepertinya memang Hyunjae yang tadinya malas-malasan berangkat ke Jeju ternyata jadi menikmatinya.</p>

<p>Iseng, Luna membuka akun Instagramnya dan langsung menelusuri akun Hyunjae. Seperti yang sudah Luna duga, tidak ada postingan apa-apa di akun pacarnya itu. Foto terakhir yang di*-post* Hyunjae di IG <em>feeds</em>-nya adalah foto mereka berdua yang diambil di hari ulang tahun Hyunjae, sesaat setelah mereka jadian.</p>

<p>Akhirnya Luna meninggalkan laman akun Hyunjae dan beralih ke akun milik Sunwoo. Karena hari ini belum ada kabar sama sekali dari Hyunjae, Luna memutuskan untuk mengecek situasi disana dari akun IG Sunwoo yang hampir selalu <em>update</em> semenjak hari pertama mereka tiba di Jeju.</p>

<p>Benar saja, IG <em>story</em> Sunwoo hari ini sudah penuh. Luna melihatnya satu-satu. Dari unggahan Sunwoo, terlihat mereka siang tadi saat hari masih cerah, berada di dalam bus entah menuju kemana. Luna bisa tahu Sunwoo di dalam bus duduk sederet dengan Sangyeon, Jacob dengan Kevin. Dia tidak bisa menemukan Hyunjae di dalam foto-foto itu. Sampai akhirnya di foto kelima, dia bisa melihat Hyunjae rupanya duduk di bagian depan, satu baris di belakang sopir dan hati Luna mencelos ketika sadar yang duduk di sebelah Hyunjae adalah Jisoo.</p>

<p>Foto berikutnya, mereka sedang makan siang di restoran. Grup mereka dibagi menjadi tiga meja besar dan lagi, Jisoo berada di meja yang sama dengan Hyunjae. Duduk berhadapan.</p>

<p>Begitu terus yang Luna lihat dari semua yang diunggah Sunwoo, dimana ada Hyunjae pasti ada Jisoo. Luna tidak nyaman melihatnya. Dan ketika akhirnya sampai di video terakhir yang rupanya baru diunggah Sunwoo 20 menit lalu, perasaan Luna semakin tidak nyaman. Mereka seperti sedang makan malam di area terbuka, dengan latar belakang <em>city light</em> kota Jeju. Dalam video itu tertangkap Hyunjae yang sedang berdiri memunggungi Sunwoo, menghadap ke arah <em>city light</em> dengan lagi-lagi, Jisoo di sebelahnya. Mereka seperti sedang berbicara intens.</p>

<p>Luna yang geram baru saja mau menutup ponsel <em>flip</em>-nya ketika getaran ponselnya menandakan pesan masuk. Dari Hyunjae.</p>

<p>[photo received]</p>

<p>[photo received]</p>

<p>[video received]</p>

<p>“Disini nggak hujan, langit lagi bagus banget.”</p>

<p>“Aku lagi <em>dinner</em>, tapi sebentar lagi selesai mau langsung pulang ke vila.”</p>

<p>“Kamu udah makan?”</p>

<blockquote><blockquote><p>Udah makan kok, lagi nonton Netflix.</p>

<p>Ya udah kamu <em>have fun</em> ya.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Sebetulnya Luna sungguh ingin mencecar Hyunjae untuk menjelaskan apa yang tadi ia lihat dari unggahan Sunwoo, tapi Luna memutuskan untuk menahannya dan menanyakannya langsung saja ketika Hyunjae sudah pulang. Ia penasaran tapi takut memancing pertengkaran jika ia tanyakan sekarang pada Hyunjae.</p>

<p>Akhirnya untuk mengikis rasa penasarannya, Luna mencoba menghubungi Sunwoo lewat <em>direct message</em> Instagram.</p>

<blockquote><blockquote><p>Sunwoo, boleh tanya nggak?</p>

<p>Jangan bilang Jae ya aku <em>chat</em> kamu.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Hai, <em>Nuna!</em> Ada apa, tumben?”</p>

<p>Luna kaget sendiri melihat balasan Sunwoo secepat itu. <em>Anak ini 24 jam online terus apa ya…</em></p>

<blockquote><blockquote><p>Aku abis lihat postingan kamu di <em>story</em>.</p>

<p>Aku perhatiin kok kayanya Jisoo nempelin Jae terus ya? Bener begitu? Atau kebetulan pas di foto aja keliatannya begitu?”</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Apa nggak sebaiknya tanya langsung ke Kak Jae aja, Kak?”</p>

<p>“Takut salah ngomong, hehe.”</p>

<blockquote><blockquote><p>Mau sih, tapi nanti aja kalau udah pulang.</p>

<p>Kalau tanya di <em>chat</em> takut malah jadi berantem sama Jae.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Jisoo nggak selalu bareng Kak Jae, kok. Dia kan ada temen sesama anak magang juga, jadi mereka bareng-bareng.”</p>

<p>“Kebeneran aja pas di foto, pas lagi deketan posisinya sama Kak Jae.”</p>

<p>“<em>Nuna</em> tenang aja, ya. Kak Jae aman kok.”</p>

<blockquote><blockquote><p>Oh gitu ya..</p>

<p>Oke deh, makasih ya, Sunwoo.</p>

<p>Sorry aku ganggu. <em>Have fun</em> disana.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“<em>No probs.</em> <em>Glad to help</em>, Kak.”</p>

<p>Selesai berbicara dengan Sunwoo, seharusnya Luna merasa lega tapi ternyata belum. Luna tahu saat ini dirinya tidak bisa berbuat banyak selain mengandalkan kepercayaannya pada Hyunjae. Luna mematikan laptopnya—sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan tontonannya—lalu beranjak dari tempat tidur untuk mematikan lampu kamarnya.</p>

<p>Luna memutuskan untuk tidur cepat malam ini.</p>

<hr/>

<p>“…<em>And I said yes!!!”</em></p>

<p>Hari itu saat istirahat makan siang, Luna, Nara dan Sarah memutuskan untuk makan siang bersama di luar kantor. Mereka memilih restauran sushi kali ini, dan makan siang hari ini ditraktir penuh oleh Sarah.</p>

<p>Luna dan Nara berseru tertahan ketika Sarah mengakhiri ceritanya sambil memamerkan jari manis di tangan kanannya. Tersemat sebuah cincin emas putih bermatakan berlian kecil yang simpel, tapi sungguh indah dan sarat makna. Sarah sendiri sambil berkaca-kaca matanya ketika memamerkan cincin itu kepada dua sahabatnya.</p>

<p>“Sarah… gue ikut bahagia banget denger kabar ini. Ga nyangka gue, Juyeon seberani itu. Kalian hebat, gue salut banget!” Luna berkata sambil memeluk Sarah erat-erat.</p>

<p>“Gue juga nggak nyangka, Na. Gue kira Juyeon mau ngajak jadian taunya malah langsung ngelamar. Gue nggak pernah sebahagia ini rasanya,” kata Sarah.</p>

<p>“Terus, udah kebayang kapan mau nikahnya?” Kali ini pertanyaan terlontar dari Nara. Jarinya mengelus cincin yang tersemat di jari manis Sarah.</p>

<p>“Belum lah, nanti mau diomongin dulu lebih lanjut sama keluarga kita masing-masing juga. Yang jelas cincin ini sebagai tanda aja sih, bahwa gue udah sepenuhnya milik Juyeon dan Juyeon milik gue.”</p>

<p>“Lo beruntung banget sih. Gue udah tahunan pacaran sama Younghoon belum dilamar-lamar. Lo sama Jae gimana, Na? Udah ada omongan kesana?”</p>

<p>“Eh? Ng—udah sih. Jaehyun udah <em>declare</em> memang tujuan dia macarin gue ya untuk nikah. Tapi guenya belum mau bahas lebih lanjut,” Luna berkata gugup sambil meneguk teh ocha hangatnya. “Lo juga sabar aja ya, Ra. Pasti banyak yang jadi pertimbangan Younghoon sebelum akhirnya dia ngelamar lo suatu saat.”</p>

<p>“Ih, kok lo aneh sih, Na? Kenapa nggak mau bahas nikah lebih lanjut sama Jae? Kurang apalagi dia, Na?” tanya Nara gemas.</p>

<p>“Nikah bukan perkara gampang, Ra. Gue belum siap aja. Iya gue tau harusnya inget umur dan memang nggak ada yang kurang lagi dari Jaehyun, tapi gue belum mantep aja ngomongin nikah. Makanya tadi gue bilang salut sama Sarah dan Juyeon, udah bisa semantep itu untuk nikah.”</p>

<p>“Nggak papa, Sayang. <em>Take it slow, no need to rush it</em>. Semua yang dipaksakan dan terburu-buru itu nggak pernah berakhir baik. Jadi, kalau lo belum sreg urusan nikah ya nggak papa. Cuma… jangan kelamaan, ya? Takutnya malah jadi nggak baik buat hubungan lo sama Jaehyun,” ujar Sarah. “Lo juga, Nara. Sabar yaa, gue yakin Younghoon <em>sooner or later</em> akan ngelamar lo. Kalian udah kurang langgeng apa coba, ya kan?”</p>

<p>“Iya, gue sama Younghoon udah setahu itu satu sama lain. Gue udah menyerahkan diri gue seutuhnya buat Younghoon,” kata Nara.</p>

<p>“<em>Same here</em>,” Sarah mengangguk setuju.</p>

<p>“Lo sama Jaehyun… udah?” Nara bertanya lagi pada Luna.</p>

<p>“Udah apa maksudnya?” Luna balik bertanya, nggak paham.</p>

<p>“Yelah, lo nggak ngerti? Gemes ih anak ini.”</p>

<p>“Apa sih, Sar? Udah apa maksudnya?”</p>

<p>Nara memelankan suaranya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Luna dan berbisik, “<em>Had sex.”</em></p>

<p>Luna terbatuk saking kaget dengan apa yang ia dengar dari Nara. “YA NGGAKLAH, GILA AP—”</p>

<p>“Sssh! Kenceng amat sih? Pelanin suaranya woy.”</p>

<p>“Nggak! Gue nggak ngapa-ngapain sama Jaehyun, ciuman pertama aja baru  kok. Kalian emangnya udah..? OMG.”</p>

<p>“Udah, nggak tau berapa kali udah nggak kehitung, gue pacaran sama Hoon aja udah lama banget.”</p>

<p>“Gue sama Juyeon juga rutin sih, <em>at least</em> <em>once a week</em>. Na, lo beneran <em>never had sex with</em> Jaehyun? Tapi dia kan suka nginep di tempat lo, Na? Lah itu kalian ngapain semaleman?”</p>

<p>“Ya tidur lah, gila! Tidur <em>as in literal meaning</em>. Gue di kasur gue, dia di sofa ruang TV. Selama Jaehyun nginep gue nggak pernah tidur seranjang sama dia. Dari pertama kali nginep, dia yang minta tidur di sofa dan sama sekali dia belum pernah nyentuh bagian <em>private</em> gue, kalau kalian mau tau.”</p>

<p>“<em>And you’re okay with that</em>?” tanya Nara hati-hati.</p>

<p>“<em>I agree with that,</em>” sahut Luna. “Lo tau nggak, bahkan sebelum cium bibir untuk pertama kalinya aja dia izin dulu ke gue. Nggak langsung nyosor.”</p>

<p>“Ya ampun, Luna… Dimana hari gini nemuin cowok kaya Jaehyun? Dia seganteng itu mau dapetin cewek manapun dia bisa, diajak <em>one night stand</em> juga kayanya cewek-cewek pada antri kalau sama Jaehyun sih. Tapi dia sesopan itu ke lo. Ini gila sih, nggak nyangka gue.”</p>

<p>“Na, beneran deh kalian mesti langgeng, ya? Jaga banget hubungan kalian berdua ya.”</p>

<p>“Ih ini kenapa jadi bahas gue sama Jaehyun deh? Kita disini kan buat rayain tunangannya lo sama Juyeon, Sar.”</p>

<p>“Iya sih tapi gue gemes sama cerita lo dan Jaehyun, Na. Lucu banget kalian tuh.”</p>

<p>“Doain aja gue langgeng ya. Gue… sayang banget sama Jaehyun. Orangtuanya dia juga udah nerima gue dengan baik banget. Jadi yaa mestinya nggak ada halangan yang berarti sih untuk gue dan Jaehyun.”</p>

<p>“Kita aminin paling kenceng pokoknya buat lo dan Jaehyun yaa.”</p>

<p>Obrolan mereka terhenti oleh beberapa piring sushi yang kini disajikan oleh pelayan restauran. Belum semua pesanan keluar, tapi masing-masing dari mereka yang sudah lapar langsung mulai menyantap sushi yang sudah tersaji.</p>

<p>Baru menghabiskan suapan keduanya, ponsel Luna berdering dan ternyata mamanya yang menelepon.</p>

<p>“Lagi makan, Ma. Makan sushi, ini sama Sarah, Nara.”</p>

<p>“Hai, Tanteee…” Sarah dan Nara berseru berbarengan ke arah ponsel Luna supaya sapaannya terdengar oleh mamanya Luna.</p>

<p>“Salam buat Sarah, Nara,” kata Mama di ujung sana, yang langsung disampaikan oleh Luna ke kedua sahabatnya itu.</p>

<p>“Na,” kata Mama lagi. “Mama sama ayah mau kesana ya. Udah beli tiket, rencananya Jumat malam berangkat dari Changi, Sabtu pagi sampai Incheon. Nanti jemput ya?”</p>

<p>“Ehh beneran, Ma? Nggak <em>hoax,</em> kan?” tanya Luna antusias.</p>

<p>“Nggak dong, tiketnya juga udah dibeli. Emangnya kamu, <em>hoax</em> terus katanya mau kesini tapi nggak jadi terus.”</p>

<p>“Hehe maafin ya, Ma. Sibuk aku disini. Maaf ya?”</p>

<p>“Iya nggak papa, Sayang. Tapi nanti Sabtu beneran jemput, ya? Kamu libur kan? Ayah udah sengaja tuh ambil cuti demi ketemu anak tunggalnya.”</p>

<p>“Siap, aku pasti jemput. Boleh sekalian ajak Jaehyun nggak, Ma?”</p>

<p>“Eh iya dong, ajakin Jaehyunnya, ya. Ayah juga mau ketemu, mau ngobrol katanya sama Jaehyun.”</p>

<p>“Ma, tapi bilang Ayah ya. Jangan ngobrolin nikah. Ayahnya mana coba, aku pengen ngomong.”</p>

<p>“Ayah kan di kantor, ini Mama di rumah. Ya nggak tau nanti Ayah mau ngobrol apa, terserah Ayah. Mungkin cuma mau tau aja hubungan kalian mau dibawa kemana.”</p>

<p>“Jaehyun sih udah ngomong. Dia serius sama aku, Ma.”</p>

<p>“Oh, ya udah bagus. Tinggal kamunya nih jangan plin plan. Giliran dapet yang baik begini kamunya ragu, gimana sih? Padahal orangtua Jaehyun udah sebaik itu ke kamu.”</p>

<p>“Iya, ini Nara sama Sarah juga barusan persis ngomong gitu ke aku.”</p>

<p>“Tuh kan. Tapi ya Mama sih nggak maksa, ya. Toh kalian yang ngejalanin. Mama, Ayah, dan orangtuanya Jaehyun juga Mama yakin, cuma bisa mendukung aja apapun itu keputusan kalian. Dan mendoakan yang terbaik untuk kalian.”</p>

<p>“Iya, Ma. Makasih ya. Ma, nanti ngobrol lagi, ya? Aku mau lanjut makan dulu boleh ya, Ma? Laper banget.”</p>

<p>“Oke, Sayang. Nanti telepon Ayah jangan lupa, kangen dia sama kamu.”</p>

<p>“Iya, Ma. Nanti Luna telepon Ayah. Daaah, Ma. <em>Love you.</em>”</p>

<p>“Kyaaa orangtua gue mau kesini nanti <em>weekend</em>. Duh, tegang banget. Doain lancar ya, Ayah mau ngobrol-ngobrol katanya sama Jae,” Luna berkata setelah menyudahi obrolannya dengan Mama.</p>

<p>“Ya bagus dong, jadi sama-sama enak, lo udah pernah ketemu orangtua Jae dan Jae bakalan ketemu orangtua lo secepetnya,” Nara menanggapi yang diikuti anggukan setuju dari Sarah.</p>

<p>Sebelum melanjutkan makan, Luna menyempatkan untuk mengabari Hyunjae dulu tentang rencana kedatangan mama dan ayah.</p>

<blockquote><blockquote><p>Yang, mama barusan telpon. Mau kesini sama ayah, sabtu nanti.</p>

<p>Ikut jemput ya, Yang? Ayah mau ngobrol juga katanya sama kamu.</p>

<p>Ayah yang mau ngobrol, aku yang mules.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Karena Luna tahu Hyunjae tidak akan memberikannya balasan yang cepat, Luna memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan makan siangnya yang tertunda.</p>

<hr/>

<p>Akhirnya hari Rabu yang ditunggu tiba, Hyunjae hari ini kembali ke Seoul setelah menghabiskan lima harinya di Jeju. Luna sudah menunggu di bandara sejak jam 6 sore, masih lengkap dengan setelan kerjanya—rok span di atas lutut warna <em>baby pink</em> dan atasan <em>blouse</em> lengan pendek warna putih dengan ornamen manik-manik kecil bertabur disekeliling bagian leher <em>blouse</em>-nya. Karena cuaca musim gugur yang mulai dingin, nggak lupa Luna membalut tubuhnya dengan <em>outer coat</em> yang tidak terlalu tebal, berwarna <em>baby pink</em> senada dengan rok spannya.</p>

<p>Sekitar dua puluh menit setelah pengumuman mendaratnya pesawat yang ditumpangi kantor Hyunjae, pintu gerbang kedatangan terbuka dan satu-satu penumpang mulai berhamburan keluar.</p>

<p>Luna memicingkan matanya mencari sosok yang sangat dirindukannya itu dan senyumnya mengembang ketika matanya beradu dengan mata kekasihnya. Senyuman Luna dibalas oleh Hyunjae yang terlihat berjalan tergesa menghampiri Luna. Ketika jarak diantara keduanya akhirnya terkikis, Hyunjae memeluk Luna erat. Dia lupa, adegannya ini menjadi tontonan segar bagi rekan-rekan kerjanya.</p>

<p>“Yang, kenalan dulu ya sama temen kantorku yang lain? Mumpung ketemu. Sekalian ada atasanku.”</p>

<p>Luna mengangguk. Tangannya digenggam oleh Hyunjae ketika berjalan mendekati rombongan anak-anak kantor Hyunjae.</p>

<p>Setelah Luna dikenalkan pada atasan-atasannya, Hyunjae juga mengenalkannya pada teman-teman di luar divisinya—selain Sangyeon, Jacob, Kevin dan Sunwoo—termasuk pada Jisoo dan teman magangnya.</p>

<p><em>Ini aslinya yang namanya Jisoo</em>, kata Luna dalam hati. Setelah berkenalan, Luna dan Hyunjae pun pamit untuk berpisah dari rombongan.</p>

<p>“Makasih udah jemput aku. Gantian aku yang nyetir, ya? Capek kamu pasti pulang kerja,” kata Hyunjae sesampainya mereka di parkiran. “Sini kunci mobilnya.”</p>

<p>Mobil yang dipakai Luna untuk menjemput di bandara adalah mobil Hyunjae, yang memang disimpan di <em>basement</em> apartemen Luna selama Hyunjae tidak ada.</p>

<p>“Beneran kamu mau nyetir? Aku nggak capek, kok. Malah lebih capek kamu kayanya.”</p>

<p>“Nggak papa sayang, aku tadi di pesawat tidur.”</p>

<p>“Jadi, Sabtu nanti kita ketemu Mama sama Ayah, ya? Aku nggak sabar,” lanjut Hyunjae lagi ketika mobilnya sudah meninggalkan lahan parkir bandara. Bersiap menembus jalanan besar kota.</p>

<p>“Iya, aku juga nggak sabar. Kangen mereka.”</p>

<p>“Kamu sih, aku ajakin ke Singapore tapi nunda-nunda terus. Nggak enak jadinya Mama-Ayah deh yang nyamperin kesini.”</p>

<p>“Hehe iya, Mama juga tadi protes gitu. Mmh, Yang, aku boleh tanya sesuatu nggak?”</p>

<p>“Boleh, tanya apa?”</p>

<p>Lalu Luna pun yang sudah nggak kuat kepalang penasaran langsung menanyakan perihal Jisoo yang dilihatnya nyaris selalu berdekatan dengan Hyunjae di postingan Sunwoo beberapa waktu lalu.</p>

<p>“Jisoo memang belum terlalu dekat banget sama anak-anak kantor selain divisiku. Dia cuma punya satu temennya yang sesama anak magang. Jadi selama <em>gathering</em> kemarin memang dia mau nggak mau ngintilin tim aku terus. Temennya juga sesekali sih ikutan gabung di tim aku. Tapi kayanya temennya dia lebih supel, jadi temennya itu udah bisa gabung kemana-mana sebenernya. Jisoo-nya nih pemalu banget.”</p>

<p>“Oh gitu. Yaa, nggak papa sih, aku nggak gimana-gimana cuma agak kaget aja jujur, pas lihat tiap ada kamu pasti ada Jisoo di foto-fotonya Sunwoo.”</p>

<p>“Maklumin ya, Yang? Namanya juga satu tim.”</p>

<p>“Kamu ngerasa ada gelagat aneh nggak dari Jisoo? Ngerasa dia genit nggak ke kamu?”</p>

<p>“Nggak, genit gimana dia pemalu banget gitu.”</p>

<p>“Soalnya dia cantik banget—”</p>

<p>“Terus kenapa, cemburu lagi kamunya? Yang, kurang-kurangin deh cemburu nggak berdasar kaya gitu. Kesannya kamu jadi nggak yakin sama aku kalau kamu masih aja ada curiga atau ketakutan.”</p>

<p>“Maaf sayang. Nggak bermaksud curigaan ke kamu. Makasih ya, udah jelasin soal Jisoo. Maafin aku salah paham.”</p>

<p>“Jangan tanya yang aneh lagi kaya gitu ya? Janji?”</p>

<p>“Iya, janji.”</p>

<p>Mobil Hyunjae berhenti ketika lampu merah menyala. Hyunjae yang belum menyalurkan rasa rindunya pada Luna, menoleh ke samping kanannya. Dia menikmati menatap wajah mungil dan cantik milik Luna, yang sedang menatap lurus jalanan di depannya. Luna yang merasa sedang diperhatikan, menoleh ke arah Hyunjae.</p>

<p>Luna mencondongkan tubuhnya mendekati Hyunjae saat sebelah pipinya dielus halus oleh jari-jari Hyunjae. Ketika ibu jari Hyunjae menyentuh bibirnya, Hyunjae bertanya pelan padanya, “Cium, ya? Boleh?”</p>

<p>Luna mengangguk. “Lain kali, nggak usah nanya lagi. Kamu selalu boleh.”</p>

<p>Hyunjae mendaratkan ciumannya di bibir perempuan terkasihnya itu dengan hati-hati. Ketika akhirnya bibir mereka bersentuhan, Hyunjae merasa seperti ingin meluruhkan rasa rindunya yang terpendam dan belum sepenuhnya tercurah. Hyunjae sangat ingin Luna merasakan betapa ia menyayanginya dengan sepenuh hati. Dan pesannya itu tersampaikan. Luna tahu Hyunjae bersungguh-sungguh dengan perasaannya, dan Luna juga sadar bahwa dirinya pun sungguh amat menyayangi Hyunjae.</p>

<p>Tepat ketika lampu merah berganti menjadi kuning, Hyunjae melepaskan ciumannya perlahan, mengecup kening Luna dan kembali memusatkan konsentrasinya untuk menyetir.</p>

<hr/>

<p>Hari Jumat pagi, tubuh Hyunjae yang masih terbalut selimut perlahan bergerak ketika ia terbangun dari tidurnya. Rasanya semalam Hyunjae sudah tidur cepat, bahkan tidak kuat menuruti permintaan Luna yang minta ditemani mengerjakan laporan sambil <em>video call</em>, tapi rasanya pagi ini Hyunjae terbangun dengan badan yang luar biasa lelah. Bukannya segar, bangun tidur pagi ini Hyunjae merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia merasakan pegal menjalar hampir di tiap sendinya, kepalanya berat dan pening, matanya terasa panas dan saat ia mencoba berdeham, tenggorokannya terasa luar biasa kering, perih.</p>

<p>Sepulang dari <em>gathering</em> kantor di Jeju hari Rabu malam, Hyunjae memang mulai merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Tapi ia hanya mengira dirinya kelelahan dan kurang istirahat. Nyatanya hari Kamis pagi—beruntung kantornya diliburkan pasca acara *gathering—*Hyunjae terbangun dengan tubuh meriang, tapi setelah mengkonsumsi <em>paracetamol</em> dan istirahat seharian, Hyunjae merasa baikan. Ia juga tidak bercerita apa-apa pada Luna soal kondisinya karena dirasa sudah baikan.</p>

<p>Kamis malam, mendadak tubuhnya kembali meriang kali ini ditambah dengan kepalanya yang terasa begitu berat, pening. Hyunjae memutuskan untuk tidur cepat, dengan masih tidak memberitahukan Luna kondisinya. Selain tidak ingin membuat Luna khawatir, Hyunjae masih berharap ini hanya efek kelelahan dan kurang tidur karena acara <em>gathering</em>. Tapi ternyata sampai Jumat pagi ini tubuhnya malah semakin <em>drop</em> dan Hyunjae sadar, dia sepertinya bukan hanya kelelahan. Hyunjae sakit.</p>

<p>Susah payah Hyunjae berusaha meraih laci meja di samping kasurnya, ingin mengambil <em>thermogun</em> untuk mengecek suhu tubuhnya. Setelah berhasil, Hyunjae tertegun melihat angka digital di layar <em>thermogun</em>-nya. Tiga puluh sembilan koma lima derajat celcius. Pantas matanya terasa begitu panas. Hyunjae merapatkan lagi selimut di tubuhnya dan memejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa pening di kepalanya. Ia harus bisa bangun untuk sekedar membuat sarapan agar dirinya bisa makan dan minum obat.</p>

<p>Akhirnya setelah memaksakan diri untuk bangun, Hyunjae berjalan keluar kamarnya menuju dapur. Ia hanya mampu mengambil selembar roti tawar dan sekotak biskuit, dan kembali ke kamarnya dengan tertatih. Selesai sarapan seadanya, Hyunjae minum obatnya lagi dan merebahkan dirinya di kasur. Kali ini ia menyerah, ia butuh Luna.</p>

<blockquote><blockquote><p>Yang, aku sakit.</p>

<p>Kalau kamu nggak capek, pulang kerja ke tempatku ya? <em>I need you</em>.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Tidak lama setelah mengetikkan pesannya untuk Luna, Hyunjae tertidur.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>“Sayang, hei ini aku. Bangun dulu yuk, makan dulu. Kamu tidur dari jam berapa?”</p>

<p>Hyunjae mengerjapkan matanya saat ia merasakan sapuan lembut menjalar di keningnya. “Na? Kapan nyampe?”</p>

<p>“Setengah jam lalu deh kayanya. Badan kamu panas banget, Yang. Aku udah dua kali ganti kompres tapi kamu masih belum bangun. Maaf ya, aku bangunin. Kamu pasti belum makan yang bener, ya?”</p>

<p>“Na, ini masih jam 4 sore kok kamu udah disini?”</p>

<p>“Aku izin pulang cepet. Maaf ya, Jae, <em>chat</em> kamu baru aku baca pas mau makan siang tapi aku nggak bisa langsung kesini, aku ada <em>meeting</em> dulu tadi. Baru selesai jam 3 dan aku langsung izin pulang. Terus kesini.”</p>

<p>Mata Hyunjae menyendu, ia merasa tidak enak sudah membuat Luna meninggalkan kantor sebelum waktunya. “Maafin aku, kamu jadi repot begini. Maaf kamu jadi harus pulang cep—”</p>

<p>“Ssssh,” Luna memotong kalimat Hyunjae sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Hyunjae yang kini terasa hangat di jarinya. “<em>No need to be sorry</em>, Sayang. Yuk, bangun sebentar ya? Senderan aja di kasur, aku udah bikinin <em>chicken</em> <em>soup</em> sama teh ginseng merah.”</p>

<p>Hyunjae menurut. Dengan dibantu Luna, ia mengerahkan semua sisa tenaganya untuk menegakkan tubuhnya dan bersandar di sandaran kasur.</p>

<p>Luna duduk di tepi kasur Hyunjae dengan semangkuk <em>chicken soup</em> buatannya di tangan. Ia menyendokkan supnya, setelah sebelumnya meniupinya pelan agar supnya tidak terlalu panas di mulut Hyunjae.</p>

<p>“Ih malu banget, masa disuapin gini. Kaya anak kecil.”</p>

<p>“Hilangin dulu coba gengsinya, kamu lagi lemes gitu. Bisa emang makan sendiri?”</p>

<p>“Galak banget sih, pacar lagi sakit juga.”</p>

<p>“Kamunya gemesin sih, lagi sakit masih aja tetep <em>tsundere</em>-nya nggak ilang.”</p>

<p>Satu suap, tiga suap, lima suap.</p>

<p>Nggak butuh waktu lama, mangkuk di tangan Luna kini kosong. Isinya habis tidak bersisa.</p>

<p>“Supnya enak banget.”</p>

<p>“Masa? Enak atau kamu terpaksa makan karena kelaperan?”</p>

<p>“Yang, ih!”</p>

<p>Luna tertawa. Dalam hati ia senang juga sup buatannya dihabiskan oleh Hyunjae dalam sekejap.</p>

<p>“Sekarang tehnya diminum ya.”</p>

<p>Hyunjae meraih cangkir dari tangan Luna dan menyesap tehnya sedikit-sedikit. Ia memejamkan matanya sejenak dengan kepala bersandar di sandaran kasur. Teh ginseng merah ini memang enak sekali dikonsumsi apalagi ketika tubuh dalam keadaan meriang seperti ini.</p>

<p>Hyunjae membuka matanya lagi dan melihat Luna beranjak dari duduknya, berjalan ke arah lorong <em>walk-in</em> <em>closet</em> sebelum akhirnya berhenti di depan lemari baju Hyunjae, membukanya dan mengambil handuk kecil dan satu set baju tidur dari dalam lemari.</p>

<p>“Seka ya badannya? Biar segeran kamunya. Aku siapin air hangatnya dulu,” kata Luna setelah melihat Hyunjae menghabiskan tehnya.</p>

<p>“Aku lemes, nggak kuat di kamar mandi lama-lama.”</p>

<p>“Nggak usah di kamar mandi, kamu di kasur aja. Aku sekain.”</p>

<p>Hyunjae baru akan melanjutkan argumennya ketika Luna keburu menghilang ke dalam kamar mandi, dan muncul kembali dengan baskom berisi air hangat di tangannya.</p>

<p>Dengan telaten, Luna melepaskan kaos Hyunjae yang sudah basah dan lembab terkena keringat dingin. Dengan tangan kanan terbalut <em>washcloth</em> yang sudah dibasahi dengan air hangat, disekanya mulai dari wajah Hyunjae hingga seluruh tubuh bagian atas, termasuk kedua lengan Hyunjae. Selesai seka, Luna mengeringkan dengan handuk kecil yang tadi sudah disiapkan, membalurkan <em>eucalyptus oil</em> di bagian dada, perut dan punggung Hyunjae, lalu memakaikan kaos ganti yang diambilnya di lemari baju tadi.</p>

<p>Selesai bagian atas, kini Luna menyingkap selimut yang menutupi area pinggang Hyunjae ke bawah, dan menyeka bagian lutut hingga ujung jari-jari kaki Hyunjae. Setelah dikeringkan dengan handuk, Luna menyerahkan celana pendek ganti berikut dengan <em>underwear</em>-nya pada Hyunjae.</p>

<p>“Ganti sendiri ya celananya, bisa kan? Aku beresin air bekas seka sama cuci piring dulu. Panggil aku kalau ada apa-apa, ya.” Selesai berkata begitu, Luna mencium pucuk kepala Hyunjae sekilas, dan dengan gesit segera mengangkat baskom berisi air bekas seka di tangan kanan dan mangkuk serta cangkir bekas di tangan kiri.</p>

<p>Setelah Luna meninggalkan kamarnya, Hyunjae mengganti <em>underwear</em> dan celana pendeknya dengan setelan baru yang tadi disiapkan Luna. Walaupun masih lemas, tapi Hyunjae bisa merasakan tubuhnya agak enakan dan sedikit segar setelah seka dan ganti baju. Sebelum merebahkan tubuhnya lagi di kasur, Hyunjae meminum obat yang juga sudah disiapkan Luna di meja samping kasurnya.</p>

<p>Luna yang sudah kembali ke kamar, memunguti baju kotor Hyunjae di lantai dekat kasur dan membawanya ke keranjang cucian. Kebiasaan Luna dan Hyunjae yang tinggal sendirian adalah mencuci baju satu minggu sekali, di hari Sabtu. Tapi ketika dilihatnya keranjang cucian Hyunjae sudah penuh karena banyak baju kotor dari acara <em>gathering</em> kemarin, Luna memutuskan untuk mencucikannya malam ini karena tahu Hyunjae pasti masih terlalu lemas untuk sekedar mengurus cucian baju.</p>

<p>Setelah mesin cuci mulai bekerja, Luna kembali menghampiri Hyunjae di kamar. Tangannya menyentuh dahi dan leher Hyunjae, masih agak panas. Luna mengarahkan <em>thermogun</em> ke dahi Hyunjae, kali ini angka tiga puluh delapan tertera di layar. Masih agak panas. Luna memutuskan untuk mengompres dahi Hyunjae lagi.</p>

<p>“Kalau besok masih belum baikan, kita ke dokter, ya?” Luna berkata lembut. Buku jarinya mengusapi kepala Hyunjae.</p>

<p>Masih dengan mata terpejam, Hyunjae mengangguk. Tangannya lalu bergerak meraba kasur, mencari tangan Luna untuk digenggam. “Maafin aku besok batal jemput mama dan ayah kamu di bandara. Aku nggak enak banget, Na.”</p>

<p>“Udah, jangan dipikirin. Mama ayah bakal agak lama kok di sini, kamu masih bisa ketemu kalau udah sehat. Yang penting sekarang kamu sehat dulu, ya?”</p>

<p>“Na…”</p>

<p>“Ya sayang?”</p>

<p>“Tidur sini ya malam ini? Temenin aku, ya?”</p>

<p>“Iya, aku nginep malam ini. Besok pagi aku tinggal dulu tapinya ya? Mama jam 1 malam ini <em>take off</em>, besok jam 8 pagi mendarat. Aku jemput dulu ke bandara. Aku udah minta tolong temen-temen kamu besok kesini, yang bisa pagi Kevin sama Jacob. Mereka jam 9 kesininya. Nanti siangan gantian antara Sangyeon atau Sunwoo yang nemenin. Katanya sih Eric juga mau ikut, panik dia kakak kesayangannya tiba-tiba sakit.”</p>

<p>Hyunjae kaget mendengar penuturan Luna. Dia nggak menyangka Luna sampai menghubungi teman-temannya. “Na, kamu segitunya sampe hubungin mereka buat nemenin aku?”</p>

<p>“Iya, aku bingung soalnya. Nggak tega ninggalin kamu sendiri, tapi aku harus pergi jemput mama ayah. Akhirnya tadi aku coba tanya deh barangkali temen-temen kamu pada bisa nemenin, untungnya bisa.”</p>

<p>“Makasih, Sayang. Nggak ada yang sebaik kamu memang.”</p>

<p>“Aku pengen sayangku cepet sembuh. Sedih lihat kamu yang biasanya bawel sekarang lemes gini.”</p>

<p>Hyunjae terkekeh pelan, menampilkan jajaran gigi-gigi putihnya yang berderet rapi. Luna berdecak dalam hati, bahkan dalam kondisi sakit dan tidak mandi seharian pun Hyunjae masih tetap terlihat tampan.</p>

<p>“Aku mau mandi dulu ya. Kamu masih laper nggak? Kalau mau makan lagi habis mandi aku bikinin bubur ikan.”</p>

<p>“Nggak, Yang, makasih ya. Aku mau tidur aja. Selesai mandi kamu jangan lupa makan malam. Nanti tidur di samping aku, ya? Jangan di sofa. Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, lemes gini akunya juga.”</p>

<p>“Hahaha iya iya. Kamu sehat aja nggak pernah ngapa-ngapain aku, apalagi kamu lagi lemes.”</p>

<p>Setelah membantu Hyunjae menyamankan posisi tidurnya, Luna membenahi selimut supaya menutupi tubuh Hyunjae dengan sempurna. Selesai dengan Hyunjae, Luna mengambil <em>emergency handbag</em>-nya—beruntung di mobilnya Luna selalu sedia tas darurat yang berisi satu set dalaman, baju tidur, dan baju pergi bersih sekaligus <em>toiletries</em> travel-size<em>—</em>dan membawanya ke kamar mandi. Luna ingin segera membersihkan dirinya dan beristirahat di kasur. Menyadari betapa lelahnya ia hari ini, Luna berencana ingin mengandalkan <em>food delivery</em> saja untuk makan malamnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-9</guid>
      <pubDate>Sun, 19 Sep 2021 08:42:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Chapter 8.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-8?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Chapter 8.&#xA;&#xA;“Cie, foto siapa tuh?”&#xA;&#xA;“Ih, Nuna! Bukan siapa-siapa.”&#xA;&#xA;“Hahaha nggak usah kaget gitu, Ric. Nyantai kali ah. Foto siapa sih emangnya? Kelihatan sepintas sih cantik itu cewek.”&#xA;&#xA;Eric dan Luna sedang duduk berdua di kafe hotel yang sedang mereka inapi sampai 2 hari ke depan. Sejak dua hari lalu, Luna, Eric, dan Yeonjun berada di provinsi Gwangju untuk perjalanan dinas. Mereka bertiga ini mewakili timnya masing-masing—Luna yang satu tim dengan Nara dan Sarah, Eric dengan Younghoon dan Juyeon, Yeonjun dengan Jake dan Hongseok—pergi mengurusi klien di Gwangju. Tadinya yang akan berangkat hanya timnya Eric lengkap dengan Younghoon dan Juyeon tapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan yang dikirim ke Gwangju adalah perwakilan dari tiga tim berbeda.&#xA;&#xA;“Siapa sih, Ric? Cerita dong,” Yeonjun yang baru bergabung dengan Luna dan Eric, menyahuti. Mereka bertiga baru pulang dari kantor klien dan sedang makan malam di kafe hotel.&#xA;&#xA;“Anak magang di kantornya Sunwoo. Cantik banget katanya sih, si Sunwoo langsung gatel pengen ngegebet,” cerita Eric sambil menyeruput minuman ice chocolate-nya. Sama seperti Luna, Eric bukan tipe penyuka kopi seperti kebanyakan anak-anak muda seusianya. “Nuna emang nggak tau? Kak Jae pasti cerita, kan?”&#xA;&#xA;“Iya, cerita dia katanya ada anak magang baru semingguan ya? Tapi nggak detail sih ceritanya, lo taulah Jae simpel banget. Mana pernah dia cerita detail yang gituan,” jawab Luna. “Ternyata itu ya anak magangnya. Cantik. Siapa namanya?”&#xA;&#xA;“Jisoo. Kim Jisoo,” kata Eric. “Kak, lo nggak ngeri Kak Jae dikecengin si anak magang? Udah terkenal tuh kata Sunwoo, anak-anak magang atau anak baru cewek di kantornya udah pasti langsung oleng kalau nggak ke Kak Jae, ya ke Kak Sangyeon.”&#xA;&#xA;“Nggak, ngapain ngeri. Jarang cewek kuat lama ngecengin Jae saking dinginnya dia hahaha,” kata Luna santai.&#xA;&#xA;“Nah, lo kok tahan, Kak?”&#xA;&#xA;“Orang dia duluan yang ngeceng gue, jadinya nggak dingin-dingin amat dia ke gue. Tapi ya emang sih dia bukan tipe romantis lembek gitu. Manggil gue sayang aja jarang, seringnya manggil nama.”&#xA;&#xA;“Iya juga sih, Kak Jae itu dingin banget ke cewek. Tapi ke lo dia nggak sedingin itu ya, Kak. Beda banget dia ke Kak Sarah dulu sama ke lo, Kak.”&#xA;&#xA;“Ya orang Jaehyunnya suka sama Luna, Ric. Nggak mungkin dia dingin ke cewek yang disuka. Gimana sih lo,” Yeonjun menyela sambil memotong daging steak wagyu-nya.&#xA;&#xA;“Kalian berdua gimana nih, masih betah sendirian? Nggak masalah sih, daripada pacaran tapi nggak bener. Lo gimana sama Hyuna, Ric?”&#xA;&#xA;“Nyanteilah gue sama Hyuna sih. Udah keenakan sahabatan, takutnya malah jadi rusak kalau dijadiin.”&#xA;&#xA;“Tapi mendingan dijadiin aja nggak sih? Biar jelas gitu statusnya?”&#xA;&#xA;“Belum siap gue hehehe. Nanti deh, nyantai.”&#xA;&#xA;“Lo gimana, Yeon? Diem aja dari tadi nih.”&#xA;&#xA;Yeonjun yang lagi asyik mengunyah steak-nya hanya tersenyum menanggapi Luna. “Kecolongan gue. Cewek yang gue suka keburu taken.”&#xA;&#xA;“Hah, siapa? Sumpah lo selama ini punya kecengan? Gue kira lo adem aja sendirian, Yeon. Sumpah lo nggak kelihatan lagi deketin cewek soalnya. Siapa? Anak kantor bukan?”&#xA;&#xA;“Ada lah, pokoknya. Salah gue juga sih, nggak nunjukkin kalau gue suka. Udah ah, nggak usah dibahas ya.”&#xA;&#xA;“Ihh liat dong, mereka lagi di bar ternyata,” Eric tiba-tiba berseru sambil memperlihatkan ponselnya ke Luna dan Yeonjun. Tampilan Instagram Story dari akun Younghoon terpampang di layar ponsel Eric, memperlihatkan video pendek berisi selfie Younghoon dan Nara yang sedang toast dengan tangan masing-masing memegang sloki berisi alkohol—entah minuman jenis apa.&#xA;&#xA;Eric menekan layar dengan jarinya, mempercepat tampilan IG Story yang di\-post\ Younghoon—ternyata mereka sedang berada di bar bersama dengan Juyeon, Sarah dan anak-anak lainnya. Sampai pada akhirnya terpampang satu foto yang membuat Luna membulatkan matanya kaget.&#xA;&#xA;“Loh, ada anak-anak kantor Sunwoo juga? Kak, ini ada Kak Jae—eh, Kak Jae bukan sih? Fotonya gelap. Loh ada si Jisoo juga. Buset ini anak, baru magang semingguan udah ngikut maen ke bar aja,” Eric berkomentar sambil memperbesar tampilan foto di layar ponselnya.&#xA;&#xA;Luna tidak menanggapi. Tangannya meletakkan pisau dan garpu di piring dan merogoh ponsel dari dalam tasnya, mengecek kalau-kalau ada pesan masuk dari Hyunjae.&#xA;&#xA;Nihil. Tidak ada pesan apa-apa.&#xA;&#xA;Luna mencoba menelepon Hyunjae. Hingga dering ke delapan dan tidak ada jawaban dari Hyunjae, akhirnya Luna membuka aplikasi KTalk dan mengetikkan pesan untuk Hyunjae.&#xA;&#xA;    Jae, kamu lagi di bar sama anak-anak? Kok nggak bilang?&#xA;&#xA;    Aku lihat dari IG-nya Hoon.&#xA;&#xA;    Jangan kemalaman pulangnya ya. Kabarin aku.&#xA;&#xA;    Aku lagi dinner di kafe hotel. Nanti malam telpon ya.&#xA;&#xA;Luna menyimpan ponselnya lagi di atas meja makan. Dirinya mendadak kenyang. Dia tidak suka Hyunjae berada di bar tanpa mengabarinya. Terakhir dia teleponan dengan Hyunjae siang tadi dan Hyunjae tidak menyebut apa-apa soal pergi ke bar.&#xA;&#xA;Yeonjun yang makanannya sudah habis, menyadari perubahan raut wajah Luna. “Udah, jangan dipikirin. Mungkin acara dadakan.” Seolah bisa membaca pikiran Luna, Yeonjun berkata seperti itu.&#xA;&#xA;“Nggak biasanya sih dia keluyuran pulang kantor nggak bilang gue.”&#xA;&#xA;“Yang penting sama anak-anak kantor kan? Sama orang-orang yang lo kenal juga. Jadi, nggak usah khawatir ya, Na.”&#xA;&#xA;Luna hanya mengedikkan bahunya. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi Yeonjun.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Esok harinya, Luna sedang berada di dalan lift menuju lobi hotel tempatnya janjian dengan Yeonjun dan Eric. Luna terlambat lima menit dari waktu janjian mereka yang seharusnya. Syukurlah ini hari terakhir kunjungan ke kantor klien karena Luna sedang tidak berada dalam mood yang bagus. Dia begitu ingin segera menyelesaikan urusannya di kantor klien.&#xA;&#xA;“You good?” tanya Yeonjun ketika mereka memasuki mobil yang disewa kantor untuk akomodasi selama di Gwangju. Yeonjun menyetir, Luna duduk di depan dan Eric di belakang. Eric tidak terlibat dalam pembicaraan karena masih asyik mendengarkan lagu dari Airpods-nya.&#xA;&#xA;“Dia nggak nelepon gue. Chat gue dari kemarin sore juga nggak dibalas.”&#xA;&#xA;“Sabar ya, kecapekan mungkin.”&#xA;&#xA;“Secapek-capeknya sih, apa susahnya cek HP dan ngabarin gue?”&#xA;&#xA;“Cewek kan gitu. Cowok lain lagi, kalau lagicapek ya capek, nyampe rumah bisa tuh nggak peduli sama HP dan langsung tidur. Udah ya, jangan negative thinking.”&#xA;&#xA;Luna tidak menjawab. Yeonjun mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran dan kemacetan kota Gwangju langsung menyapa ketika mereka sudah berada di jalanan utama.&#xA;&#xA;Sesekali Yeonjun memperhatikan Luna yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah \bad mood-\nya. Bibirnya mengerucut, keningnya berkerut hampir membuat alis hitamnya bertautan.&#xA;&#xA;Seandainya gue dulu lebih gesit…, ucap Yeonjun dalam hati.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;“Na, maaf.”&#xA;&#xA;“Semalam HP-ku mati habis baterai. Sambil charge HP aku ketiduran.”&#xA;&#xA;“Pagi tadi telat bangun jadi rusuh ke kantor. Maaf baru ngabarin ya.”&#xA;&#xA;Luna membaca serentetan pesan masuk dari Hyunjae yang baru diterimanya. Walaupun akhirnya lega karena Hyunjae sudah membalas \chat-\nya, tapi Luna masih belum puas dengan jawaban Hyunjae.&#xA;&#xA;“Jaehyun?” tanya Yeonjun.&#xA;&#xA;“Iya,”&#xA;&#xA;“Tuh kan, ngabarin juga akhirnya.”&#xA;&#xA;“Iya ngabarin, setelah 24 jam lebih.”&#xA;&#xA;“Udahan dong ngambeknya, kan udah dikabarin. Nih, eomuk-nya.”&#xA;&#xA;Sepulang dari kantor klien sore tadi, sebetulnya Luna, Yeonjun dan Eric langsung kembali ke hotel dengan niatan mau makan malam dari room service saja supaya mereka bisa segera istirahat dan membereskan barang untuk pulang besok.&#xA;&#xA;Tapi pada akhirnya hanya Eric yang berdiam di kamar dan memesan makan malam dari room service, sementara Luna dan Yeonjun yang bosan dengan makanan hotel memutuskan untuk keluar hotel dan berjalan kaki menyusuri kedai-kedai makanan yang berhimpitan ramai nggak jauh dari lokasi hotel.&#xA;&#xA;Suhu udara di pertengahan bulan Oktober yang sudah mulai menurun, membuat Luna menginginkan makan makanan hangat yang mengeyangkan. Beruntung tidak jauh dari hotel, mereka menemukan kedai makanan bersih dan sedang tidak terlalu ramai pengunjung yang menyediakan menu makanan yang dicari Luna.&#xA;&#xA;Jadilah Luna dan Yeonjun menyantap tteokpokki, eomuk dan samgyetang sebagai makan malam di malam terakhir mereka di Gwangju ini.&#xA;&#xA;“Damn, this is so good. Eomuk-nya enak banget astaga,” Luna berseru setelah menyuapkan sepotong eomuk atau fish cake ke dalam mulutnya. “Thanks udah mau nemenin gue makan di luar, Yeon.”&#xA;&#xA;“No probs, gue juga bosen banget makan di hotel terus.”&#xA;&#xA;Di saat Luna lagi menikmati makan malamnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Luna melihat ponselnya dan melihat nama Hyunjae tertera di layar.&#xA;&#xA;“Ya?” Akhirnya Luna memutuskan untuk menjawab telepon Hyunjae.&#xA;&#xA;“Hei, lagi apa? \Chat-\ku nggak dibalas?”&#xA;&#xA;“Aku belum balas chat setengah jam doang kamu protes. Aku kemarin sore chat kamu dianggurin seharian.”&#xA;&#xA;“Maaf, kan aku udah jelasin kenapa telat balasnya. Kamu lagi apa? Udah makan?”&#xA;&#xA;“Ini lagi makan.”&#xA;&#xA;“Makan dimana? Di hotel lagi?”&#xA;&#xA;“Nggak, makan di luar. Eric yang makan di hotel, aku sama Yeonjun bosen sama makanan hotel.”&#xA;&#xA;“Oh, ya udah. Kamu makan dulu gih, salam buat Yeonjun ya. Kabarin aku kalau udah di hotel, nanti aku telepon lagi. Bye, Na.”&#xA;&#xA;“Iya, oke.”&#xA;&#xA;Dan panggilan teleponnya dengan Hyunjae pun terputus.&#xA;&#xA;“Salam dari Hyunjae.”&#xA;&#xA;“Eh, buat aku?”&#xA;&#xA;“Iya. Nyantai banget dia malah titip salam buat kamu. Mantanku dulu kalau tau aku makan berdua doang sama temen cowok pasti udah galak banget ngomongnya. Boro-boro titip salam.”&#xA;&#xA;“Haha, bagus dong pacar kamu nggak cemburuan berarti.”&#xA;&#xA;“Dia tuh aneh, padahal alesan kenapa dia buru-buru ngajak jadian karena takut guenya keburu diambil orang katanya. Tapi selama gue pacaran sama dia kayanya ga pernah sekalipun gue dicemburuin. Yang ada malah gue yang sering cemburu karena ada aja yang godain dia tiap kita lagi jalan bareng.”&#xA;&#xA;“Buat gue ya, Na, nggak dicemburuin sama pacar itu adalah sebuah privilege tau nggak. Gue pernah ngalamin pacaran sama cewek yang cemburuannya ampun banget, pusing gue, Na. Cemburuan dan nggak percayaan ke gue.”&#xA;&#xA;“Lo kapan sih terakhir pacaran, Yeon? Udah lama?”&#xA;&#xA;“Lumayan, mau setaunan rasanya sih.”&#xA;&#xA;“Gue juga sama, hampir setaunan putus dari mantan gue sebelum ketemu Jaehyun.”&#xA;&#xA;Dan obrolan Luna dan Yeonjun pun terus berjalan sambil mereka menghabiskan makan malamnya. Baru kali ini Luna mengobrol banyak dengan Yeonjun, karena sebelumnya dia jarang ada kesempatan berdua dengan Yeonjun. Biasanya, antara Younghoon atau Juyeon yang memang sudah lama dekat dengannya yang menemani Luna mengobrol. Kali ini aneh rasanya Luna bertukar cerita dengan Yeonjun yang notabene tidak terlalu dekat dengannya sebenarnya.&#xA;&#xA;Baru malam ini juga Luna menyadari, dia merasa klop dan nyaman bercerita banyak hal dengan Yeonjun. Luna itu tipe yang ingin didengar dan diberi feedback jika sedang bercerita, dan dia mendapatkan itu dari Yeonjun. Hal itu membuat Luna tidak perlu berlama-lama menyadari bahwa dirinya bisa berteman dekat dengan Yeonjun berkat perjalanan dinas kali ini.&#xA;&#xA;Setelah mereka kembali ke hotel, Yeonjun mengantar Luna sampai ke depan kamarnya karena kebetulan kamar Luna berbeda satu lantai dengan kamar Yeonjun dan Eric. Yeonjun hanya ingin memastikan Luna aman sampai kamar, karena sudah larut malam saat mereka sampai di hotel. Sehabis dari kedai tadi, mereka tidak langsung pulang tapi melanjutkan jalan-jalan sebentar sekalian mampir ke toko grocery untuk membeli cemilan buat di jalan pulang menuju Seoul besok.&#xA;&#xA;    Aku udah di kamar ya.&#xA;&#xA;Luna mengetikkan pesan untuk Hyunjae. Dalam hitungan detik, ponselnya langsung menderingkan telepon dari Hyunjae.&#xA;&#xA;“Kok malam banget baru di kamar?” tanya Hyunjae begitu Luna menjawab teleponnya.&#xA;&#xA;“Aku mandi dulu tadi baru ngabarin kamu.”&#xA;&#xA;“Oh, oke. Kukira kamu baru banget nyampe kamar.”&#xA;&#xA;“Jae.”&#xA;&#xA;“Ya?”&#xA;&#xA;“Kamu sayang nggak sih sama aku sebenernya?”&#xA;&#xA;“Hah? Kok pertanyaannya ajaib gitu sih, Yang?”&#xA;&#xA;“Jawab aja, cepet.”&#xA;&#xA;“Aku nggak suka kamu nanya aneh begini. Kamu tau aku sayang sama kamu.”&#xA;&#xA;“Tapi kamu kok nyantai aja reaksinya pas aku bilang malam ini aku jalan berdua doang sama Yeonjun? Rasanya kamu juga nggak pernah cemburu tiap-tiap aku cerita lagi jalan sama Juyeon atau Younghoon. Aku terus yang seringnya cemburuin kamu. Aku jadi insecure, apa yang bisa yakinin aku kalau kamu sayang sama aku.”&#xA;&#xA;Hyunjae menghela nafas berat di ujung sana. Tidak menyangka dia akan mendapat serangan tiba-tiba begini dari Luna.&#xA;&#xA;“Mereka teman-teman kamu jauh sebelum kamu kenal aku. Nggak ada alasan aku untuk cemburu. Sebelum kita jadian, iya aku insecure lihat kamu deket sama mereka dan teman cowok kamu yang lain. Tapi setelah kita jadian, aku nggak lihat alasan kenapa harus cemburu. Aku percaya kamu.”&#xA;&#xA;“Hmm.. Gitu, ya?”&#xA;&#xA;“Kamu lagi kenapa sih?”&#xA;&#xA;“Nggak papa.”&#xA;&#xA;Hening.&#xA;&#xA;Luna dan Hyunjae hanya saling menempelkan ponsel di telinga masing-masing tanpa bersuara. Baru kali ini mereka seperti kehabisan topik, padahal sebetulnya masing-masing banyak yang ingin diceritakan mengingat mereka sudah satu minggu belum bertemu karena terhalang urusan pekerjaan. Keduanya yang lagi sibuk sudah beberapa hari lembur dan pulang kantor di atas jam 8 malam. Lalu dilanjut dengan Hyunjae yang sempat ada urusan menemui kontraktor di luar kota selama dua hari, dan ketika Hyunjae sedang dalam perjalanan pulang ke Seoul giliran Luna yang harus berangkat ke Gwangju.&#xA;&#xA;Besok, hari Jumat, satu-satunya hari mereka bisa bertemu karena hari Sabtu paginya Hyunjae ada jadwal terbang ke Pulau Jeju untuk acara gathering kantor tahunan. Berbeda dengan kantor Luna yang rutin mengadakan acara gathering setiap akhir tahun, kantor Hyunjae selalu mengadakannya di bulan Oktober sekalian acara ulang tahun kantor.&#xA;&#xA;“Jae,” akhirnya Luna angkat bicara. “Kamu belum cerita ngapain kemarin ke bar sama anak-anak? Padahal siangnya kita teleponan tapi kamu nggak bilang mau ke bar.”&#xA;&#xA;“Aku tadinya nggak mau ikut, tapi dipaksa Sangyeon.”&#xA;&#xA;“Dalam rangka apa? Kenapa mesti ke bar di hari kerja, sih?”&#xA;&#xA;“Ada salah satu proyek kita yang akhirnya seratus persen kelar. Sangyeon pengen ngerayain itu.”&#xA;&#xA;“Proyek kamu ada yang selesai aja kamu nggak cerita.”&#xA;&#xA;“Bukan nggak mau cerita, belum sempat aja. Maafin aku juga ya karena nggak bilang ke kamu soal ke bar. Aku nggak banyak minum kok, kan aku nyetir. Mana harus nganterin Jisoo pulang—”&#xA;&#xA;“Kamu nganter Jisoo? Pantesan malam banget kamu baru pulang sampe besoknya telat bangun segala, sampe chat aku dianggurin berjam-jam nggak dibalas.”&#xA;&#xA;“Yang lain semuanya pada mabuk, Na. Mereka pada pulang naik taksi. Cuma aku satu-satunya yang sepenuhnya sadar, dan Jisoo anak magang di divisiku otomatis dia jadi tanggung jawab aku juga.”&#xA;&#xA;“Lagian anak magang ngapain diajak—”&#xA;&#xA;“Sekali lagi aku bilang, bukan aku yang ngajak. Semuanya Sangyeon yang ngajak dan ngatur acara dadakan itu di bar.”&#xA;&#xA;Luna terdiam. Kepalanya mendadak terasa pening dan pusing. Bukan percakapan seperti ini yang ia harapkan setelah beberapa hari ini lelah dengan urusan klien. Biasanya mendengar suara Hyunjae saja sudah cukup mengembalikan energinya, tapi kali ini justru dia menyesal berbicara di telepon dengan Hyunjae. Energinya yang sudah nyaris habis malah dibuat tambah habis dengan perdebatan ini.&#xA;&#xA;“Kamu kayanya udah capek banget malam ini, istirahat aja ya? Besok jadi naik kereta jam 10 pagi?” kata Hyunjae akhirnya, ketika Luna tidak melanjutkan bicaranya.&#xA;&#xA;“Iya jam 10 pagi,” Luna menjawab pelan, benar-benar sudah kehilangan seluruh energinya.&#xA;&#xA;“Aku jemput ya di stasiun, sekalian makan siang bareng. Aku udah diizinin manajerku pulang setengah hari.”&#xA;&#xA;“Kamu lagi sibuk, nggak usah maksain jemput apalagi sampe izin setengah hari segala. Aku bisa pulang sendiri dari stasiun. Malam aja ketemunya.”&#xA;&#xA;“Besok aku jemput kamu, end of discussion. Kabarin kalau udah berangkat ya.”&#xA;&#xA;“Iya, oke.”&#xA;&#xA;“Habis tutup telepon langsung tidur ya, nggak main HP.”&#xA;&#xA;“Iyaaa sayangku yang bawel.”&#xA;&#xA;“Sweet dreams.”&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Hyunjae menatapi jam di laptopnya dengan gelisah, sudah pukul 11.35 siang. Dia seharusnya sudah berada di perjalanan saat ini juga kalau tidak mau terlambat menjemput Luna. Sebetulnya Hyunjae sudah bersiap untuk pulang dari dua puluh menit yang lalu tapi telepon dari salah satu vendor proyeknya membuyarkan rencananya.&#xA;&#xA;Hyunjae diminta mengirimkan segera revisi konstruksi bangunan via e-mail, dimana sebetulnya Hyunjae sudah meminta Jisoo untuk melakukan hal ini dari jam 11 siang. Tetapi menjelang jam 11.30 orang vendornya melaporkan bahwa data yang dikirim Jisoo salah, bukan data revisi melainkan data original yang sebelumnya pernah dikirimkan. Akhirnya Hyunjae terpaksa membuka laptopnya lagi dan memutuskan untuk mengirimkannya langsung dari e-mailnya.&#xA;&#xA;“Maaf ya, Kak. Data yang aku kirim salah,” Jisoo yang merasa tidak enak menghampiri meja Hyunjae sambil menunduk.&#xA;&#xA;“Iya nggak papa, lain kali lebih teliti ya.”&#xA;&#xA;Jisoo mengangguk. “Kak Jaehyun ada meeting di luar?”&#xA;&#xA;“Nggak, saya ada urusan pribadi jadi siang ini izin pulang cepet. Saya nggak balik lagi ke kantor jadi kamu kalau ada apa-apa minta tolong Kevin atau Jacob dulu ya.”&#xA;&#xA;“Jae! Kok masih disini? bukannya udah beres-beres tadi?” Jacob yang baru selesai meeting kaget melihat Hyunjae yang masih ada di mejanya. “Ini udah mau jam 12 lo gimana sih? Kasian Luna lama nunggunya loh.”&#xA;&#xA;Jisoo yang masih ada disitu terdiam mendengar nama perempuan yang disebut Jacob. Dia tahu ini bukan kapasitasnya untuk tahu siapa orang yang Jacob maksud, tapi Jisoo sungguh penasaran.&#xA;&#xA;“Gue udah bilang kok bakal agak telat. Gapapa dia ngerti.”&#xA;&#xA;“Lo ngapain sih? Urgent banget emang? Udah sini sama gue.”&#xA;&#xA;“Kirim file, tapi karena large size jadi lama upload-nya. Nah, baru beres nih akhirnya. Jac, cabut ya gue. Titip Jisoo tolong dibantu dulu.”&#xA;&#xA;“Iya siap. Hati-hati, salam buat Luna.”&#xA;&#xA;“Thanks. Jisoo, saya tinggal dulu ya.”&#xA;&#xA;Jisoo mengangguk menanggapi seniornya. Hatinya berdesir, jantungnya berdegup lebih kencang ketika Hyunjae berjalan melewatinya sambil menyampirkan tas laptop di bahu kanan dengan terburu-buru. Ternyata apa yang Jisoo dengar dari temannya yang sudah lebih dulu magang disini beberapa bulan sebelum dirinya, bahwa ada satu senior yang terkenal sangat tampan di divisi ini benar adanya.&#xA;&#xA;*\\\*&#xA;&#xA;Di stasiun, sudah hampir setengah jam Luna menunggu Hyunjae yang nggak kunjung sampai. Perutnya sudah berbunyi minta diisi, Luna lapar.&#xA;&#xA;Yeonjun yang bersikeras mau menemani Luna sampai Hyunjae datang, berdiri di sampingnya sambil memegang sebungkus roti yang ia sempat beli di bakery hotel sebelum pulang tadi.&#xA;&#xA;“Nih, ganjel roti dulu. Rame amat itu perut bunyinya,” kata Yeonjun sambil memegang roti dengan kedua tangan dan mendekatkannya ke wajah Luna.&#xA;&#xA;Sebelah tangan Luna memegangi tangan Yeonjun. Luna mendekatkan wajahnya dan menggigit roti yang masih dipegangi Yeonjun. Masih dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Luna melihat Hyunjae yang berlari kecil mendekat ke arahnya.&#xA;&#xA;Luna melepaskan tangannya dari tangan Yeonjun tepat ketika Hyunjae sudah benar-benar berada di dekatnya. “Kenapa mesti lari-lari gitu?”&#xA;&#xA;“Maaf ya, aku telat. Mendadak ada urusan sebentar tadi,” setelah berhasil mengatur nafasnya, Hyunjae mengalihkan pandangan ke Yeonjun. “Yeon, makasih udah nemenin Luna. Sorry ya, jadi repotin.”&#xA;&#xA;“Nggak papa. Yaudah, gue pulang duluan ya,” kata Yeonjun.&#xA;&#xA;“Thank you, Yeonjun. Hati-hati di jalan,” balas Luna.&#xA;&#xA;Setelah Yeonjun berjalan meninggalkan mereka berdua, Hyunjae langsung menggamit lengan Luna dan menautkan jari-jari mereka. Tangan satunya meraih koper Luna. “Maafin aku ya, kamu jadi nunggu lama.”&#xA;&#xA;“Nggak papa. Aku jadi nggak enak ngerepotin kamu.”&#xA;&#xA;“Nggak repot. Aku yang mau jemput kamu.”&#xA;&#xA;Setibanya di parkiran, Hyunjae membuka bagasi mobilnya dan menyimpan koper Luna.&#xA;&#xA;Tangan Hyunjae menyalakan mesin mobil, tapi dia tidak langsung menjalankan mobilnya. Hyunjae menoleh ke arah kirinya, menatapi Luna yang ternyata sedang menatapnya dengan bingung. Dalam satu gerakan cepat, Hyunjae menyentuh punggung Luna dan menariknya ke dalam pelukan. Diusapinya punggung Luna sambil mengeratkan pelukannya.&#xA;&#xA;“Aku kangen banget,” kata Hyunjae. “Seminggu lebih nggak ketemu kamu, nggak enak.” Hyunjae melepaskan pelukannya perlahan. Tangannya ganti menangkup wajah Luna, mengusapi pipi Luna lembut dengan buku-buku jarinya.&#xA;&#xA;“Aku kangen banget juga, Yang. Nginep di aku ya malam ini? Besok aku anterin kamu ke bandara. Ya?”&#xA;&#xA;“Tapi aku belum beres-beres baju buat besok.”&#xA;&#xA;“Yaudah, sekarang ke apartemen kamu dulu aja, gimana? Sekalian aku ikut mandi dulu, masih ada sisa baju bersih kok di koperku. Nanti aku bantu siapin bawaan kamu buat besok.”&#xA;&#xA;“Oke. Terus, sekarang kamu mau makan apa?”&#xA;&#xA;“Nggak usah makan di luar, kita order delivery aja pas udah di apartemen kamu, ya?”&#xA;&#xA;“Boleh, gimana kamu aja.”&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Luna mematikan hairdryer setelah memastikan rambutnya telah benar-benar kering. Setelah mengoleskan vitamin rambut, Luna menyisiri rambut yang panjangnya sudah melebihi bahunya itu, lalu menguncirnya tinggi. Luna berdiri dan melihat sekali lagi pantulan dirinya di cermin—dia mengenakan celana pendek di atas lutut berwarna cokelat muda dan oversize tshirt putih dengan embroidery motif unicorn kecil di ujung bawah kiri. Ini adalah setelan terakhirnya yang masih bersih yang ia bawa di dalam kopernya.&#xA;&#xA;Setelah selesai merapikan dirinya, Luna meninggalkan koridor kecil yang disulap dijadikan walk-in closet oleh Hyunjae, yang menghubungkan antara kamar mandi dengan kamar tidur Hyunjae.&#xA;&#xA;“Nonton apa sayang?” Luna bertanya pada Hyunjae yang sedang selonjoran di sofa di ruang TV. Matanya menatap lurus ke arah TV. Melihat Luna yang sudah selesai mandi, Hyunjae menggeser duduknya mendekati kursi sofa dan meminta Luna duduk di sampingnya.&#xA;&#xA;“Nggak ada yang rame sih, itu-itu aja filmnya. Mau nonton Netflix tapi bingung film apa.” Hyunjae merentangkan tangannya ketika Luna merebahkan dirinya di sisi Hyunjae, dan menjatuhkan kepalanya di dada Hyunjae. Wangi strawberry dari sampo Luna langsung memanjakan hidung Hyunjae. Diciumnya dalam-dalam pucuk kepala Luna.&#xA;&#xA;“Yang, kangen. Baru ketemu hari ini, besok kamu udah pergi lagi. Lama pula lima hari.”&#xA;&#xA;“Apa aku batal ikut gathering aja ya? Gitu-gitu juga sih acaranya dari tahun ke tahun. Aku belum pernah absen juga lagian.”&#xA;&#xA;Luna mencubit perut Hyunjae sambil mengangkat kepalanya dan menatap pacarnya itu dengan judes, “Ya jangan gitu juga dong. Nggak enak lah sama orang kantor kalau tiba-tiba kamu batalin ikut. Suka aneh-aneh aja kamu tuh.”&#xA;&#xA;“Sayang.”&#xA;&#xA;“Apa? Tumben manggil sayang.”&#xA;&#xA;“Duh, galak banget sih kamu.”&#xA;&#xA;“Hehe, iya maaf. Apa sayang?”&#xA;&#xA;“Kamu kelihatan akrab banget sama Yeonjun, sejak kapan? Perasaan dari dulu kamu nempelnya cuma sama Hoon dan Juy aja.”&#xA;&#xA;“Baru mulai akrab sih lebih tepatnya, ya semenjak business trip kemarin ini.”&#xA;&#xA;“Yeonjun ganteng. Nggak naksir dia kan kamu?”&#xA;&#xA;“Sekarang nggak naksir, tapi kalau kamu nyebelin dan macem-macem, aku mau naksir Yeonjun aja.”&#xA;&#xA;Tubuh Hyunjae menegang mendengarnya. “Hey! Don’t you ever—”&#xA;&#xA;“Bercanda sayang, bercanda.” Luna menegakkan tubuhnya, mengalungkan sebelah tangannya di leher Hyunjae dan menarik wajah Hyunjae supaya mendekati wajahnya. Terlalu dekat, hingga Luna bisa merasakan deru nafas Hyunjae di wajahnya.&#xA;&#xA;Mereka tetap dalam posisi itu selama beberapa detik. Saling mengagumi keindahan wajah yang dihadapinya. “Na, may I…?” Hyunjae bertanya ragu-ragu. Luna yang paham konteks subjek pertanyaan Hyunjae, memberi isyarat iya dengan anggukan kepala.&#xA;&#xA;Karena sama-sama mancung, hidung Luna dan hidung Hyunjae saling bersentuhan ketika Hyunjae—atas seizin Luna—sedikit memiringkan wajahnya sebelum akhirnya bibirnya bertemu dengan bibir Luna dalam satu pagutan lembut. Ciuman pertama mereka.&#xA;&#xA;Hyunjae lebih dulu melepaskan pagutannya. Matanya yang tadinya terpejam perlahan terbuka kembali dan langsung disuguhi tatapan mengerling dari mata Luna yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Luna mendekatkan wajahnya, kali ini ia memberanikan diri untuk memagut bibir Hyunjae lebih dulu. Luna menyukai sensasi menggelitik yang ia rasakan di perutnya ketika Hyunjae menggerakkan bibirnya, memagutnya lebih dalam.&#xA;&#xA;“Nggh, Yang,” Luna berusaha berbicara di tengah ciumannya.&#xA;&#xA;Hyunjae melepaskan bibirnya pelan, “Kenapa?”&#xA;&#xA;“Bentar, mau nafas dulu.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa. “Kenapa juga kamu nahan nafas? Ada-ada aja.”&#xA;&#xA;“Ih, aku nggak nahan nafas. Tapi nafasnya susah karena hidungku kehalang hidung kamu. Tinggi banget sih hidungnya.”&#xA;&#xA;Hyunjae tertawa sekali lagi. Diciumnya bibir Luna untuk yang terakhir kalinya dan diakhiri dengan ciuman lama di kening.&#xA;&#xA;“Udahan?” tanya Luna polos.&#xA;&#xA;“Masih mau emangnya?” Hyunjae bertanya balik. Wajah Luna memerah, malu.&#xA;&#xA;“Nggak deh, nanti lagi,” jawab Luna sambil beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar Hyunjae. “Aku mau siapin baju kamu dulu buat besok. Mau bawa apa aja?”&#xA;&#xA;“Tolong pilihin aja deh sama kamu bajunya ya? Buat 5 hari 4 malam. Baju pergi, baju santai sama baju tidur.”&#xA;&#xA;“Ayo temenin dong, Sayang. Nanti aku salah pilihin baju kamunya protes lagi. Mending kamu yang pilih bajunya, nanti aku yang rapiin.”&#xA;&#xA;“Nggak, aku percaya pilihan kamu.”&#xA;&#xA;Luna yang tadinya sudah berada di kamar Hyunjae, beranjak keluar lagi saat menyadari Hyunjae tidak mengikuti langkahnya ke kamar. Pacarnya itu malah melanjutkan selonjoran di sofa sambil memilih-milih tontonan dari Netflix.&#xA;&#xA;“Ayo ih, beresin baju. Udah sore ini.”&#xA;&#xA;“Nggak mau.”&#xA;&#xA;“Kenapa sih, nggak semangat gitu?”&#xA;&#xA;Mata Hyunjae terpejam nyaman saat dia merasakan jari-jari Luna menyisiri rambutnya dengan lembut. “Aku nggak mau pergi.”&#xA;&#xA;“Nggak boleh gitu, ya? Nggak enak sama orang kantor apalagi atasan-atasan kamu. Yuk, beresin baju.” Luna berdiri dan menarik tangan Hyunjae supaya bangun dari selonjorannya. Yang ditarik tidak bergeming.&#xA;&#xA;“Aku iri sama Yeonjun,” keluh Hyunjae tiba-tiba.&#xA;&#xA;“Hah? Apaan tiba-tiba jadi Yeonjun?” tanya Luna kebingungan.&#xA;&#xA;“Dia kenyang dari kemarin business trip bareng kamu, ketemu kamu tiap hari.”&#xA;&#xA;“Ya namanya juga sekantor. Kamu pindah ke kantorku kalau mau ketemu aku tiap hari,” kata Luna sambil tertawa.&#xA;&#xA;“Bukan itu solusinya.”&#xA;&#xA;“Terus apa?”&#xA;&#xA;“Kita harus cepet nikah biar tinggal serumah, ketemu tiap hari. Bareng-bareng terus.”&#xA;&#xA;Glek.&#xA;&#xA;Luna menelan ludah susah payah. Apa-apaan ini kenapa jadi bahas nikah?&#xA;&#xA;“Yang udah ah, jangan bercanda terus. Ayo bangun, beresin baju biar cepet selesai. Udah mau sore banget ini.”&#xA;&#xA;“Kan, ngehindar terus kan tiap bahas nikah.”&#xA;&#xA;“Bukan gitu, harus banget bahas nikah sekarang? Nanti lagi kan bisa, Yang. Ayo ah, aku ngambek nih kalau kamu nggak mau beresin baju.”&#xA;&#xA;Hyunjae akhirnya mengalah. Dia akhirnya mengangkat tubuhnya dari sofa dengan malas dan berat hati. Sungguh dia jadi tidak berselera ikut acara gathering* kantor selama 5 hari ke depan.&#xA;&#xA;“Nah, gitu dong gantengku. Kamu pilih baju apa aja yang mau dibawa, ya? Nanti aku rapiin.”&#xA;&#xA;Hyunjae hanya tersimpul simpul dan mengangguk. Mengikuti langkah kecil Luna memasuki kamar tidurnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Chapter 8.</strong></p>

<p>“Cie, foto siapa tuh?”</p>

<p>“Ih, <em>Nuna!</em> Bukan siapa-siapa.”</p>

<p>“Hahaha nggak usah kaget gitu, Ric. Nyantai kali ah. Foto siapa sih emangnya? Kelihatan sepintas sih cantik itu cewek.”</p>

<p>Eric dan Luna sedang duduk berdua di kafe hotel yang sedang mereka inapi sampai 2 hari ke depan. Sejak dua hari lalu, Luna, Eric, dan Yeonjun berada di provinsi Gwangju untuk perjalanan dinas. Mereka bertiga ini mewakili timnya masing-masing—Luna yang satu tim dengan Nara dan Sarah, Eric dengan Younghoon dan Juyeon, Yeonjun dengan Jake dan Hongseok—pergi mengurusi klien di Gwangju. Tadinya yang akan berangkat hanya timnya Eric lengkap dengan Younghoon dan Juyeon tapi karena satu dan lain hal akhirnya diputuskan yang dikirim ke Gwangju adalah perwakilan dari tiga tim berbeda.</p>

<p>“Siapa sih, Ric? Cerita dong,” Yeonjun yang baru bergabung dengan Luna dan Eric, menyahuti. Mereka bertiga baru pulang dari kantor klien dan sedang makan malam di kafe hotel.</p>

<p>“Anak magang di kantornya Sunwoo. Cantik banget katanya sih, si Sunwoo langsung gatel pengen ngegebet,” cerita Eric sambil menyeruput minuman <em>ice chocolate</em>-nya. Sama seperti Luna, Eric bukan tipe penyuka kopi seperti kebanyakan anak-anak muda seusianya. “<em>Nuna</em> emang nggak tau? Kak Jae pasti cerita, kan?”</p>

<p>“Iya, cerita dia katanya ada anak magang baru semingguan ya? Tapi nggak detail sih ceritanya, lo taulah Jae simpel banget. Mana pernah dia cerita detail yang gituan,” jawab Luna. “Ternyata itu ya anak magangnya. Cantik. Siapa namanya?”</p>

<p>“Jisoo. Kim Jisoo,” kata Eric. “Kak, lo nggak ngeri Kak Jae dikecengin si anak magang? Udah terkenal tuh kata Sunwoo, anak-anak magang atau anak baru cewek di kantornya udah pasti langsung oleng kalau nggak ke Kak Jae, ya ke Kak Sangyeon.”</p>

<p>“Nggak, ngapain ngeri. Jarang cewek kuat lama ngecengin Jae saking dinginnya dia hahaha,” kata Luna santai.</p>

<p>“Nah, lo kok tahan, Kak?”</p>

<p>“Orang dia duluan yang ngeceng gue, jadinya nggak dingin-dingin amat dia ke gue. Tapi ya emang sih dia bukan tipe romantis lembek gitu. Manggil gue sayang aja jarang, seringnya manggil nama.”</p>

<p>“Iya juga sih, Kak Jae itu dingin banget ke cewek. Tapi ke lo dia nggak sedingin itu ya, Kak. Beda banget dia ke Kak Sarah dulu sama ke lo, Kak.”</p>

<p>“Ya orang Jaehyunnya suka sama Luna, Ric. Nggak mungkin dia dingin ke cewek yang disuka. Gimana sih lo,” Yeonjun menyela sambil memotong daging <em>steak</em> wagyu-nya.</p>

<p>“Kalian berdua gimana nih, masih betah sendirian? Nggak masalah sih, daripada pacaran tapi nggak bener. Lo gimana sama Hyuna, Ric?”</p>

<p>“Nyanteilah gue sama Hyuna sih. Udah keenakan sahabatan, takutnya malah jadi rusak kalau dijadiin.”</p>

<p>“Tapi mendingan dijadiin aja nggak sih? Biar jelas gitu statusnya?”</p>

<p>“Belum siap gue hehehe. Nanti deh, nyantai.”</p>

<p>“Lo gimana, Yeon? Diem aja dari tadi nih.”</p>

<p>Yeonjun yang lagi asyik mengunyah <em>steak</em>-nya hanya tersenyum menanggapi Luna. “Kecolongan gue. Cewek yang gue suka keburu <em>taken</em>.”</p>

<p>“Hah, siapa? Sumpah lo selama ini punya kecengan? Gue kira lo adem aja sendirian, Yeon. Sumpah lo nggak kelihatan lagi deketin cewek soalnya. Siapa? Anak kantor bukan?”</p>

<p>“Ada lah, pokoknya. Salah gue juga sih, nggak nunjukkin kalau gue suka. Udah ah, nggak usah dibahas ya.”</p>

<p>“Ihh liat dong, mereka lagi di bar ternyata,” Eric tiba-tiba berseru sambil memperlihatkan ponselnya ke Luna dan Yeonjun. Tampilan Instagram Story dari akun Younghoon terpampang di layar ponsel Eric, memperlihatkan video pendek berisi <em>selfie</em> Younghoon dan Nara yang sedang <em>toast</em> dengan tangan masing-masing memegang sloki berisi alkohol—entah minuman jenis apa.</p>

<p>Eric menekan layar dengan jarinya, mempercepat tampilan IG Story yang di*-post* Younghoon—ternyata mereka sedang berada di bar bersama dengan Juyeon, Sarah dan anak-anak lainnya. Sampai pada akhirnya terpampang satu foto yang membuat Luna membulatkan matanya kaget.</p>

<p>“Loh, ada anak-anak kantor Sunwoo juga? Kak, ini ada Kak Jae—eh, Kak Jae bukan sih? Fotonya gelap. Loh ada si Jisoo juga. Buset ini anak, baru magang semingguan udah ngikut maen ke bar aja,” Eric berkomentar sambil memperbesar tampilan foto di layar ponselnya.</p>

<p>Luna tidak menanggapi. Tangannya meletakkan pisau dan garpu di piring dan merogoh ponsel dari dalam tasnya, mengecek kalau-kalau ada pesan masuk dari Hyunjae.</p>

<p>Nihil. Tidak ada pesan apa-apa.</p>

<p>Luna mencoba menelepon Hyunjae. Hingga dering ke delapan dan tidak ada jawaban dari Hyunjae, akhirnya Luna membuka aplikasi KTalk dan mengetikkan pesan untuk Hyunjae.</p>

<blockquote><blockquote><p>Jae, kamu lagi di bar sama anak-anak? Kok nggak bilang?</p>

<p>Aku lihat dari IG-nya Hoon.</p>

<p>Jangan kemalaman pulangnya ya. Kabarin aku.</p>

<p>Aku lagi <em>dinner</em> di kafe hotel. Nanti malam telpon ya.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Luna menyimpan ponselnya lagi di atas meja makan. Dirinya mendadak kenyang. Dia tidak suka Hyunjae berada di bar tanpa mengabarinya. Terakhir dia teleponan dengan Hyunjae siang tadi dan Hyunjae tidak menyebut apa-apa soal pergi ke bar.</p>

<p>Yeonjun yang makanannya sudah habis, menyadari perubahan raut wajah Luna. “Udah, jangan dipikirin. Mungkin acara dadakan.” Seolah bisa membaca pikiran Luna, Yeonjun berkata seperti itu.</p>

<p>“Nggak biasanya sih dia keluyuran pulang kantor nggak bilang gue.”</p>

<p>“Yang penting sama anak-anak kantor kan? Sama orang-orang yang lo kenal juga. Jadi, nggak usah khawatir ya, Na.”</p>

<p>Luna hanya mengedikkan bahunya. Tidak tahu harus bagaimana menanggapi Yeonjun.</p>

<hr/>

<p>Esok harinya, Luna sedang berada di dalan <em>lift</em> menuju lobi hotel tempatnya janjian dengan Yeonjun dan Eric. Luna terlambat lima menit dari waktu janjian mereka yang seharusnya. Syukurlah ini hari terakhir kunjungan ke kantor klien karena Luna sedang tidak berada dalam <em>mood</em> yang bagus. Dia begitu ingin segera menyelesaikan urusannya di kantor klien.</p>

<p>“<em>You good</em>?” tanya Yeonjun ketika mereka memasuki mobil yang disewa kantor untuk akomodasi selama di Gwangju. Yeonjun menyetir, Luna duduk di depan dan Eric di belakang. Eric tidak terlibat dalam pembicaraan karena masih asyik mendengarkan lagu dari Airpods-nya.</p>

<p>“Dia nggak nelepon gue. <em>Chat</em> gue dari kemarin sore juga nggak dibalas.”</p>

<p>“Sabar ya, kecapekan mungkin.”</p>

<p>“Secapek-capeknya sih, apa susahnya cek HP dan ngabarin gue?”</p>

<p>“Cewek kan gitu. Cowok lain lagi, kalau lagicapek ya capek, nyampe rumah bisa tuh nggak peduli sama HP dan langsung tidur. Udah ya, jangan <em>negative thinking</em>.”</p>

<p>Luna tidak menjawab. Yeonjun mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran dan kemacetan kota Gwangju langsung menyapa ketika mereka sudah berada di jalanan utama.</p>

<p>Sesekali Yeonjun memperhatikan Luna yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah *bad mood-*nya. Bibirnya mengerucut, keningnya berkerut hampir membuat alis hitamnya bertautan.</p>

<p><em>Seandainya gue dulu lebih gesit…,</em> ucap Yeonjun dalam hati.</p>

<hr/>

<p>“Na, maaf.”</p>

<p>“Semalam HP-ku mati habis baterai. Sambil <em>charge</em> HP aku ketiduran.”</p>

<p>“Pagi tadi telat bangun jadi rusuh ke kantor. Maaf baru ngabarin ya.”</p>

<p>Luna membaca serentetan pesan masuk dari Hyunjae yang baru diterimanya. Walaupun akhirnya lega karena Hyunjae sudah membalas *chat-*nya, tapi Luna masih belum puas dengan jawaban Hyunjae.</p>

<p>“Jaehyun?” tanya Yeonjun.</p>

<p>“Iya,”</p>

<p>“Tuh kan, ngabarin juga akhirnya.”</p>

<p>“Iya ngabarin, setelah 24 jam lebih.”</p>

<p>“Udahan dong ngambeknya, kan udah dikabarin. Nih, <em>eomuk</em>-nya.”</p>

<p>Sepulang dari kantor klien sore tadi, sebetulnya Luna, Yeonjun dan Eric langsung kembali ke hotel dengan niatan mau makan malam dari <em>room service</em> saja supaya mereka bisa segera istirahat dan membereskan barang untuk pulang besok.</p>

<p>Tapi pada akhirnya hanya Eric yang berdiam di kamar dan memesan makan malam dari <em>room service</em>, sementara Luna dan Yeonjun yang bosan dengan makanan hotel memutuskan untuk keluar hotel dan berjalan kaki menyusuri kedai-kedai makanan yang berhimpitan ramai nggak jauh dari lokasi hotel.</p>

<p>Suhu udara di pertengahan bulan Oktober yang sudah mulai menurun, membuat Luna menginginkan makan makanan hangat yang mengeyangkan. Beruntung tidak jauh dari hotel, mereka menemukan kedai makanan bersih dan sedang tidak terlalu ramai pengunjung yang menyediakan menu makanan yang dicari Luna.</p>

<p>Jadilah Luna dan Yeonjun menyantap <em>tteokpokki, eomuk</em> dan <em>samgyetang</em> sebagai makan malam di malam terakhir mereka di Gwangju ini.</p>

<p>“<em>Damn, this is so good. Eomuk</em>-nya enak banget astaga,” Luna berseru setelah menyuapkan sepotong <em>eomuk</em> atau <em>fish</em> <em>cake</em> ke dalam mulutnya. “<em>Thanks</em> udah mau nemenin gue makan di luar, Yeon.”</p>

<p>“<em>No probs</em>, gue juga bosen banget makan di hotel terus.”</p>

<p>Di saat Luna lagi menikmati makan malamnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Luna melihat ponselnya dan melihat nama Hyunjae tertera di layar.</p>

<p>“Ya?” Akhirnya Luna memutuskan untuk menjawab telepon Hyunjae.</p>

<p>“Hei, lagi apa? *Chat-*ku nggak dibalas?”</p>

<p>“Aku belum balas <em>chat</em> setengah jam doang kamu protes. Aku kemarin sore <em>chat</em> kamu dianggurin seharian.”</p>

<p>“Maaf, kan aku udah jelasin kenapa telat balasnya. Kamu lagi apa? Udah makan?”</p>

<p>“Ini lagi makan.”</p>

<p>“Makan dimana? Di hotel lagi?”</p>

<p>“Nggak, makan di luar. Eric yang makan di hotel, aku sama Yeonjun bosen sama makanan hotel.”</p>

<p>“Oh, ya udah. Kamu makan dulu gih, salam buat Yeonjun ya. Kabarin aku kalau udah di hotel, nanti aku telepon lagi. <em>Bye,</em> Na.”</p>

<p>“Iya, oke.”</p>

<p>Dan panggilan teleponnya dengan Hyunjae pun terputus.</p>

<p>“Salam dari Hyunjae.”</p>

<p>“Eh, buat aku?”</p>

<p>“Iya. Nyantai banget dia malah titip salam buat kamu. Mantanku dulu kalau tau aku makan berdua doang sama temen cowok pasti udah galak banget ngomongnya. Boro-boro titip salam.”</p>

<p>“Haha, bagus dong pacar kamu nggak cemburuan berarti.”</p>

<p>“Dia tuh aneh, padahal alesan kenapa dia buru-buru ngajak jadian karena takut guenya keburu diambil orang katanya. Tapi selama gue pacaran sama dia kayanya ga pernah sekalipun gue dicemburuin. Yang ada malah gue yang sering cemburu karena ada aja yang godain dia tiap kita lagi jalan bareng.”</p>

<p>“Buat gue ya, Na, nggak dicemburuin sama pacar itu adalah sebuah <em>privilege</em> tau nggak. Gue pernah ngalamin pacaran sama cewek yang cemburuannya ampun banget, pusing gue, Na. Cemburuan dan nggak percayaan ke gue.”</p>

<p>“Lo kapan sih terakhir pacaran, Yeon? Udah lama?”</p>

<p>“Lumayan, mau setaunan rasanya sih.”</p>

<p>“Gue juga sama, hampir setaunan putus dari mantan gue sebelum ketemu Jaehyun.”</p>

<p>Dan obrolan Luna dan Yeonjun pun terus berjalan sambil mereka menghabiskan makan malamnya. Baru kali ini Luna mengobrol banyak dengan Yeonjun, karena sebelumnya dia jarang ada kesempatan berdua dengan Yeonjun. Biasanya, antara Younghoon atau Juyeon yang memang sudah lama dekat dengannya yang menemani Luna mengobrol. Kali ini aneh rasanya Luna bertukar cerita dengan Yeonjun yang notabene tidak terlalu dekat dengannya sebenarnya.</p>

<p>Baru malam ini juga Luna menyadari, dia merasa klop dan nyaman bercerita banyak hal dengan Yeonjun. Luna itu tipe yang ingin didengar dan diberi <em>feedback</em> jika sedang bercerita, dan dia mendapatkan itu dari Yeonjun. Hal itu membuat Luna tidak perlu berlama-lama menyadari bahwa dirinya bisa berteman dekat dengan Yeonjun berkat perjalanan dinas kali ini.</p>

<p>Setelah mereka kembali ke hotel, Yeonjun mengantar Luna sampai ke depan kamarnya karena kebetulan kamar Luna berbeda satu lantai dengan kamar Yeonjun dan Eric. Yeonjun hanya ingin memastikan Luna aman sampai kamar, karena sudah larut malam saat mereka sampai di hotel. Sehabis dari kedai tadi, mereka tidak langsung pulang tapi melanjutkan jalan-jalan sebentar sekalian mampir ke toko <em>grocery</em> untuk membeli cemilan buat di jalan pulang menuju Seoul besok.</p>

<blockquote><blockquote><p>Aku udah di kamar ya.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>Luna mengetikkan pesan untuk Hyunjae. Dalam hitungan detik, ponselnya langsung menderingkan telepon dari Hyunjae.</p>

<p>“Kok malam banget baru di kamar?” tanya Hyunjae begitu Luna menjawab teleponnya.</p>

<p>“Aku mandi dulu tadi baru ngabarin kamu.”</p>

<p>“Oh, oke. Kukira kamu baru banget nyampe kamar.”</p>

<p>“Jae.”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Kamu sayang nggak sih sama aku sebenernya?”</p>

<p>“Hah? Kok pertanyaannya ajaib gitu sih, Yang?”</p>

<p>“Jawab aja, cepet.”</p>

<p>“Aku nggak suka kamu nanya aneh begini. Kamu tau aku sayang sama kamu.”</p>

<p>“Tapi kamu kok nyantai aja reaksinya pas aku bilang malam ini aku jalan berdua doang sama Yeonjun? Rasanya kamu juga nggak pernah cemburu tiap-tiap aku cerita lagi jalan sama Juyeon atau Younghoon. Aku terus yang seringnya cemburuin kamu. Aku jadi <em>insecure</em>, apa yang bisa yakinin aku kalau kamu sayang sama aku.”</p>

<p>Hyunjae menghela nafas berat di ujung sana. Tidak menyangka dia akan mendapat serangan tiba-tiba begini dari Luna.</p>

<p>“Mereka teman-teman kamu jauh sebelum kamu kenal aku. Nggak ada alasan aku untuk cemburu. Sebelum kita jadian, iya aku <em>insecure</em> lihat kamu deket sama mereka dan teman cowok kamu yang lain. Tapi setelah kita jadian, aku nggak lihat alasan kenapa harus cemburu. Aku percaya kamu.”</p>

<p>“Hmm.. Gitu, ya?”</p>

<p>“Kamu lagi kenapa sih?”</p>

<p>“Nggak papa.”</p>

<p>Hening.</p>

<p>Luna dan Hyunjae hanya saling menempelkan ponsel di telinga masing-masing tanpa bersuara. Baru kali ini mereka seperti kehabisan topik, padahal sebetulnya masing-masing banyak yang ingin diceritakan mengingat mereka sudah satu minggu belum bertemu karena terhalang urusan pekerjaan. Keduanya yang lagi sibuk sudah beberapa hari lembur dan pulang kantor di atas jam 8 malam. Lalu dilanjut dengan Hyunjae yang sempat ada urusan menemui kontraktor di luar kota selama dua hari, dan ketika Hyunjae sedang dalam perjalanan pulang ke Seoul giliran Luna yang harus berangkat ke Gwangju.</p>

<p>Besok, hari Jumat, satu-satunya hari mereka bisa bertemu karena hari Sabtu paginya Hyunjae ada jadwal terbang ke Pulau Jeju untuk acara <em>gathering</em> kantor tahunan. Berbeda dengan kantor Luna yang rutin mengadakan acara <em>gathering</em> setiap akhir tahun, kantor Hyunjae selalu mengadakannya di bulan Oktober sekalian acara ulang tahun kantor.</p>

<p>“Jae,” akhirnya Luna angkat bicara. “Kamu belum cerita ngapain kemarin ke bar sama anak-anak? Padahal siangnya kita teleponan tapi kamu nggak bilang mau ke bar.”</p>

<p>“Aku tadinya nggak mau ikut, tapi dipaksa Sangyeon.”</p>

<p>“Dalam rangka apa? Kenapa mesti ke bar di hari kerja, sih?”</p>

<p>“Ada salah satu proyek kita yang akhirnya seratus persen kelar. Sangyeon pengen ngerayain itu.”</p>

<p>“Proyek kamu ada yang selesai aja kamu nggak cerita.”</p>

<p>“Bukan nggak mau cerita, belum sempat aja. Maafin aku juga ya karena nggak bilang ke kamu soal ke bar. Aku nggak banyak minum kok, kan aku nyetir. Mana harus nganterin Jisoo pulang—”</p>

<p>“Kamu nganter Jisoo? Pantesan malam banget kamu baru pulang sampe besoknya telat bangun segala, sampe <em>chat</em> aku dianggurin berjam-jam nggak dibalas.”</p>

<p>“Yang lain semuanya pada mabuk, Na. Mereka pada pulang naik taksi. Cuma aku satu-satunya yang sepenuhnya sadar, dan Jisoo anak magang di divisiku otomatis dia jadi tanggung jawab aku juga.”</p>

<p>“Lagian anak magang ngapain diajak—”</p>

<p>“Sekali lagi aku bilang, bukan aku yang ngajak. Semuanya Sangyeon yang ngajak dan ngatur acara dadakan itu di bar.”</p>

<p>Luna terdiam. Kepalanya mendadak terasa pening dan pusing. Bukan percakapan seperti ini yang ia harapkan setelah beberapa hari ini lelah dengan urusan klien. Biasanya mendengar suara Hyunjae saja sudah cukup mengembalikan energinya, tapi kali ini justru dia menyesal berbicara di telepon dengan Hyunjae. Energinya yang sudah nyaris habis malah dibuat tambah habis dengan perdebatan ini.</p>

<p>“Kamu kayanya udah capek banget malam ini, istirahat aja ya? Besok jadi naik kereta jam 10 pagi?” kata Hyunjae akhirnya, ketika Luna tidak melanjutkan bicaranya.</p>

<p>“Iya jam 10 pagi,” Luna menjawab pelan, benar-benar sudah kehilangan seluruh energinya.</p>

<p>“Aku jemput ya di stasiun, sekalian makan siang bareng. Aku udah diizinin manajerku pulang setengah hari.”</p>

<p>“Kamu lagi sibuk, nggak usah maksain jemput apalagi sampe izin setengah hari segala. Aku bisa pulang sendiri dari stasiun. Malam aja ketemunya.”</p>

<p>“Besok aku jemput kamu, <em>end of discussion</em>. Kabarin kalau udah berangkat ya.”</p>

<p>“Iya, oke.”</p>

<p>“Habis tutup telepon langsung tidur ya, nggak main HP.”</p>

<p>“Iyaaa sayangku yang bawel.”</p>

<p>“<em>Sweet dreams</em>.”</p>

<hr/>

<p>Hyunjae menatapi jam di laptopnya dengan gelisah, sudah pukul 11.35 siang. Dia seharusnya sudah berada di perjalanan saat ini juga kalau tidak mau terlambat menjemput Luna. Sebetulnya Hyunjae sudah bersiap untuk pulang dari dua puluh menit yang lalu tapi telepon dari salah satu vendor proyeknya membuyarkan rencananya.</p>

<p>Hyunjae diminta mengirimkan segera revisi konstruksi bangunan via <em>e-mail</em>, dimana sebetulnya Hyunjae sudah meminta Jisoo untuk melakukan hal ini dari jam 11 siang. Tetapi menjelang jam 11.30 orang vendornya melaporkan bahwa data yang dikirim Jisoo salah, bukan data revisi melainkan data original yang sebelumnya pernah dikirimkan. Akhirnya Hyunjae terpaksa membuka laptopnya lagi dan memutuskan untuk mengirimkannya langsung dari <em>e-mail</em>nya.</p>

<p>“Maaf ya, Kak. Data yang aku kirim salah,” Jisoo yang merasa tidak enak menghampiri meja Hyunjae sambil menunduk.</p>

<p>“Iya nggak papa, lain kali lebih teliti ya.”</p>

<p>Jisoo mengangguk. “Kak Jaehyun ada <em>meeting</em> di luar?”</p>

<p>“Nggak, saya ada urusan pribadi jadi siang ini izin pulang cepet. Saya nggak balik lagi ke kantor jadi kamu kalau ada apa-apa minta tolong Kevin atau Jacob dulu ya.”</p>

<p>“Jae! Kok masih disini? bukannya udah beres-beres tadi?” Jacob yang baru selesai <em>meeting</em> kaget melihat Hyunjae yang masih ada di mejanya. “Ini udah mau jam 12 lo gimana sih? Kasian Luna lama nunggunya loh.”</p>

<p>Jisoo yang masih ada disitu terdiam mendengar nama perempuan yang disebut Jacob. Dia tahu ini bukan kapasitasnya untuk tahu siapa orang yang Jacob maksud, tapi Jisoo sungguh penasaran.</p>

<p>“Gue udah bilang kok bakal agak telat. Gapapa dia ngerti.”</p>

<p>“Lo ngapain sih? <em>Urgent</em> banget emang? Udah sini sama gue.”</p>

<p>“Kirim file, tapi karena <em>large size</em> jadi lama <em>upload</em>-nya. Nah, baru beres nih akhirnya. Jac, cabut ya gue. Titip Jisoo tolong dibantu dulu.”</p>

<p>“Iya siap. Hati-hati, salam buat Luna.”</p>

<p>“<em>Thanks</em>. Jisoo, saya tinggal dulu ya.”</p>

<p>Jisoo mengangguk menanggapi seniornya. Hatinya berdesir, jantungnya berdegup lebih kencang ketika Hyunjae berjalan melewatinya sambil menyampirkan tas laptop di bahu kanan dengan terburu-buru. Ternyata apa yang Jisoo dengar dari temannya yang sudah lebih dulu magang disini beberapa bulan sebelum dirinya, bahwa ada satu senior yang terkenal sangat tampan di divisi ini benar adanya.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Di stasiun, sudah hampir setengah jam Luna menunggu Hyunjae yang nggak kunjung sampai. Perutnya sudah berbunyi minta diisi, Luna lapar.</p>

<p>Yeonjun yang bersikeras mau menemani Luna sampai Hyunjae datang, berdiri di sampingnya sambil memegang sebungkus roti yang ia sempat beli di <em>bakery</em> hotel sebelum pulang tadi.</p>

<p>“Nih, ganjel roti dulu. Rame amat itu perut bunyinya,” kata Yeonjun sambil memegang roti dengan kedua tangan dan mendekatkannya ke wajah Luna.</p>

<p>Sebelah tangan Luna memegangi tangan Yeonjun. Luna mendekatkan wajahnya dan menggigit roti yang masih dipegangi Yeonjun. Masih dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Luna melihat Hyunjae yang berlari kecil mendekat ke arahnya.</p>

<p>Luna melepaskan tangannya dari tangan Yeonjun tepat ketika Hyunjae sudah benar-benar berada di dekatnya. “Kenapa mesti lari-lari gitu?”</p>

<p>“Maaf ya, aku telat. Mendadak ada urusan sebentar tadi,” setelah berhasil mengatur nafasnya, Hyunjae mengalihkan pandangan ke Yeonjun. “Yeon, makasih udah nemenin Luna. <em>Sorry</em> ya, jadi repotin.”</p>

<p>“Nggak papa. Yaudah, gue pulang duluan ya,” kata Yeonjun.</p>

<p>“<em>Thank you</em>, Yeonjun. Hati-hati di jalan,” balas Luna.</p>

<p>Setelah Yeonjun berjalan meninggalkan mereka berdua, Hyunjae langsung menggamit lengan Luna dan menautkan jari-jari mereka. Tangan satunya meraih koper Luna. “Maafin aku ya, kamu jadi nunggu lama.”</p>

<p>“Nggak papa. Aku jadi nggak enak ngerepotin kamu.”</p>

<p>“Nggak repot. Aku yang mau jemput kamu.”</p>

<p>Setibanya di parkiran, Hyunjae membuka bagasi mobilnya dan menyimpan koper Luna.</p>

<p>Tangan Hyunjae menyalakan mesin mobil, tapi dia tidak langsung menjalankan mobilnya. Hyunjae menoleh ke arah kirinya, menatapi Luna yang ternyata sedang menatapnya dengan bingung. Dalam satu gerakan cepat, Hyunjae menyentuh punggung Luna dan menariknya ke dalam pelukan. Diusapinya punggung Luna sambil mengeratkan pelukannya.</p>

<p>“Aku kangen banget,” kata Hyunjae. “Seminggu lebih nggak ketemu kamu, nggak enak.” Hyunjae melepaskan pelukannya perlahan. Tangannya ganti menangkup wajah Luna, mengusapi pipi Luna lembut dengan buku-buku jarinya.</p>

<p>“Aku kangen banget juga, Yang. Nginep di aku ya malam ini? Besok aku anterin kamu ke bandara. Ya?”</p>

<p>“Tapi aku belum beres-beres baju buat besok.”</p>

<p>“Yaudah, sekarang ke apartemen kamu dulu aja, gimana? Sekalian aku ikut mandi dulu, masih ada sisa baju bersih kok di koperku. Nanti aku bantu siapin bawaan kamu buat besok.”</p>

<p>“Oke. Terus, sekarang kamu mau makan apa?”</p>

<p>“Nggak usah makan di luar, kita order <em>delivery</em> aja pas udah di apartemen kamu, ya?”</p>

<p>“Boleh, gimana kamu aja.”</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Luna mematikan <em>hairdryer</em> setelah memastikan rambutnya telah benar-benar kering. Setelah mengoleskan vitamin rambut, Luna menyisiri rambut yang panjangnya sudah melebihi bahunya itu, lalu menguncirnya tinggi. Luna berdiri dan melihat sekali lagi pantulan dirinya di cermin—dia mengenakan celana pendek di atas lutut berwarna cokelat muda dan <em>oversize tshirt</em> putih dengan <em>embroidery</em> motif unicorn kecil di ujung bawah kiri. Ini adalah setelan terakhirnya yang masih bersih yang ia bawa di dalam kopernya.</p>

<p>Setelah selesai merapikan dirinya, Luna meninggalkan koridor kecil yang disulap dijadikan <em>walk-in closet</em> oleh Hyunjae, yang menghubungkan antara kamar mandi dengan kamar tidur Hyunjae.</p>

<p>“Nonton apa sayang?” Luna bertanya pada Hyunjae yang sedang selonjoran di sofa di ruang TV. Matanya menatap lurus ke arah TV. Melihat Luna yang sudah selesai mandi, Hyunjae menggeser duduknya mendekati kursi sofa dan meminta Luna duduk di sampingnya.</p>

<p>“Nggak ada yang rame sih, itu-itu aja filmnya. Mau nonton Netflix tapi bingung film apa.” Hyunjae merentangkan tangannya ketika Luna merebahkan dirinya di sisi Hyunjae, dan menjatuhkan kepalanya di dada Hyunjae. Wangi <em>strawberry</em> dari sampo Luna langsung memanjakan hidung Hyunjae. Diciumnya dalam-dalam pucuk kepala Luna.</p>

<p>“Yang, kangen. Baru ketemu hari ini, besok kamu udah pergi lagi. Lama pula lima hari.”</p>

<p>“Apa aku batal ikut <em>gathering</em> aja ya? Gitu-gitu juga sih acaranya dari tahun ke tahun. Aku belum pernah absen juga lagian.”</p>

<p>Luna mencubit perut Hyunjae sambil mengangkat kepalanya dan menatap pacarnya itu dengan judes, “Ya jangan gitu juga dong. Nggak enak lah sama orang kantor kalau tiba-tiba kamu batalin ikut. Suka aneh-aneh aja kamu tuh.”</p>

<p>“Sayang.”</p>

<p>“Apa? Tumben manggil sayang.”</p>

<p>“Duh, galak banget sih kamu.”</p>

<p>“Hehe, iya maaf. Apa sayang?”</p>

<p>“Kamu kelihatan akrab banget sama Yeonjun, sejak kapan? Perasaan dari dulu kamu nempelnya cuma sama Hoon dan Juy aja.”</p>

<p>“Baru mulai akrab sih lebih tepatnya, ya semenjak <em>business trip</em> kemarin ini.”</p>

<p>“Yeonjun ganteng. Nggak naksir dia kan kamu?”</p>

<p>“Sekarang nggak naksir, tapi kalau kamu nyebelin dan macem-macem, aku mau naksir Yeonjun aja.”</p>

<p>Tubuh Hyunjae menegang mendengarnya. “<em>Hey! Don’t you ever</em>—”</p>

<p>“Bercanda sayang, bercanda.” Luna menegakkan tubuhnya, mengalungkan sebelah tangannya di leher Hyunjae dan menarik wajah Hyunjae supaya mendekati wajahnya. Terlalu dekat, hingga Luna bisa merasakan deru nafas Hyunjae di wajahnya.</p>

<p>Mereka tetap dalam posisi itu selama beberapa detik. Saling mengagumi keindahan wajah yang dihadapinya. “Na, <em>may I</em>…?” Hyunjae bertanya ragu-ragu. Luna yang paham konteks subjek pertanyaan Hyunjae, memberi isyarat iya dengan anggukan kepala.</p>

<p>Karena sama-sama mancung, hidung Luna dan hidung Hyunjae saling bersentuhan ketika Hyunjae—atas seizin Luna—sedikit memiringkan wajahnya sebelum akhirnya bibirnya bertemu dengan bibir Luna dalam satu pagutan lembut. Ciuman pertama mereka.</p>

<p>Hyunjae lebih dulu melepaskan pagutannya. Matanya yang tadinya terpejam perlahan terbuka kembali dan langsung disuguhi tatapan mengerling dari mata Luna yang berjarak begitu dekat dengan wajahnya. Luna mendekatkan wajahnya, kali ini ia memberanikan diri untuk memagut bibir Hyunjae lebih dulu. Luna menyukai sensasi menggelitik yang ia rasakan di perutnya ketika Hyunjae menggerakkan bibirnya, memagutnya lebih dalam.</p>

<p>“Nggh, Yang,” Luna berusaha berbicara di tengah ciumannya.</p>

<p>Hyunjae melepaskan bibirnya pelan, “Kenapa?”</p>

<p>“Bentar, mau nafas dulu.”</p>

<p>Hyunjae tertawa. “Kenapa juga kamu nahan nafas? Ada-ada aja.”</p>

<p>“Ih, aku nggak nahan nafas. Tapi nafasnya susah karena hidungku kehalang hidung kamu. Tinggi banget sih hidungnya.”</p>

<p>Hyunjae tertawa sekali lagi. Diciumnya bibir Luna untuk yang terakhir kalinya dan diakhiri dengan ciuman lama di kening.</p>

<p>“Udahan?” tanya Luna polos.</p>

<p>“Masih mau emangnya?” Hyunjae bertanya balik. Wajah Luna memerah, malu.</p>

<p>“Nggak deh, nanti lagi,” jawab Luna sambil beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar Hyunjae. “Aku mau siapin baju kamu dulu buat besok. Mau bawa apa aja?”</p>

<p>“Tolong pilihin aja deh sama kamu bajunya ya? Buat 5 hari 4 malam. Baju pergi, baju santai sama baju tidur.”</p>

<p>“Ayo temenin dong, Sayang. Nanti aku salah pilihin baju kamunya protes lagi. Mending kamu yang pilih bajunya, nanti aku yang rapiin.”</p>

<p>“Nggak, aku percaya pilihan kamu.”</p>

<p>Luna yang tadinya sudah berada di kamar Hyunjae, beranjak keluar lagi saat menyadari Hyunjae tidak mengikuti langkahnya ke kamar. Pacarnya itu malah melanjutkan selonjoran di sofa sambil memilih-milih tontonan dari Netflix.</p>

<p>“Ayo ih, beresin baju. Udah sore ini.”</p>

<p>“Nggak mau.”</p>

<p>“Kenapa sih, nggak semangat gitu?”</p>

<p>Mata Hyunjae terpejam nyaman saat dia merasakan jari-jari Luna menyisiri rambutnya dengan lembut. “Aku nggak mau pergi.”</p>

<p>“Nggak boleh gitu, ya? Nggak enak sama orang kantor apalagi atasan-atasan kamu. Yuk, beresin baju.” Luna berdiri dan menarik tangan Hyunjae supaya bangun dari selonjorannya. Yang ditarik tidak bergeming.</p>

<p>“Aku iri sama Yeonjun,” keluh Hyunjae tiba-tiba.</p>

<p>“Hah? Apaan tiba-tiba jadi Yeonjun?” tanya Luna kebingungan.</p>

<p>“Dia kenyang dari kemarin <em>business trip</em> bareng kamu, ketemu kamu tiap hari.”</p>

<p>“Ya namanya juga sekantor. Kamu pindah ke kantorku kalau mau ketemu aku tiap hari,” kata Luna sambil tertawa.</p>

<p>“Bukan itu solusinya.”</p>

<p>“Terus apa?”</p>

<p>“Kita harus cepet nikah biar tinggal serumah, ketemu tiap hari. Bareng-bareng terus.”</p>

<p><em>Glek.</em></p>

<p>Luna menelan ludah susah payah. Apa-apaan ini kenapa jadi bahas nikah?</p>

<p>“Yang udah ah, jangan bercanda terus. Ayo bangun, beresin baju biar cepet selesai. Udah mau sore banget ini.”</p>

<p>“Kan, ngehindar terus kan tiap bahas nikah.”</p>

<p>“Bukan gitu, harus banget bahas nikah sekarang? Nanti lagi kan bisa, Yang. Ayo ah, aku ngambek nih kalau kamu nggak mau beresin baju.”</p>

<p>Hyunjae akhirnya mengalah. Dia akhirnya mengangkat tubuhnya dari sofa dengan malas dan berat hati. Sungguh dia jadi tidak berselera ikut acara <em>gathering</em> kantor selama 5 hari ke depan.</p>

<p>“Nah, gitu dong gantengku. Kamu pilih baju apa aja yang mau dibawa, ya? Nanti aku rapiin.”</p>

<p>Hyunjae hanya tersimpul simpul dan mengangguk. Mengikuti langkah kecil Luna memasuki kamar tidurnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-8</guid>
      <pubDate>Sat, 18 Sep 2021 12:28:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>CHAPTER 7.</title>
      <link>https://seoul-story.writeas.com/chapter-7?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[CHAPTER 7.&#xA;&#xA;Berita pacarannya Luna dan Hyunjae baru diketahui teman-teman mereka setelah hubungan resmi mereka berjalan hampir 3 minggu. Sebetulnya baik Luna dan Hyunjae nggak bermaksud menyembunyikan hal ini sama sekali, hanya saja mereka masih ingin menikmati kebahagiaan ini berdua, tanpa diusik orang banyak.&#xA;&#xA;Benar saja kan, Luna dan Hyunjae langsung ditodong banyak pertanyaan dari anak-anak ketika kabar pacarannya mereka mulai tersebar.&#xA;&#xA;Ini semua berawal dari acara makan siang bareng antara geng anak-anak kantor Luna dan kantor Hyunjae. Sebetulnya saat makan siang berlangsung, tidak ada satupun yang mencurigai Luna dan Hyunjae karena memang mereka berdua bersikap normal seperti biasanya. Kecurigaan dimulai karena saat Luna sedang menyetir mobil kembali ke kantor ponselnya dihubungi oleh Hyunjae, dan Nara yang saat itu duduk di samping Luna langsung mengambil ponsel Luna dan menjawab telepon Hyunjae dengan pengeras suara. Hyunjae yang tidak tahu situasi ini di ujung sana, langsung berkata, “Sayang, aku nggak balik ke kantor. Barusan klien ngehubungin perlu ketemu aku di tempatnya.”&#xA;&#xA;Tubuh Luna membeku. Nara menutup mulutnya kaget. Untungnya kala itu di mobil hanya ada mereka berdua jadi setidaknya Luna selamat dari ledekan anak-anak.&#xA;&#xA;“Yang, ada Nara di sini,” jawab Luna lirih. “Aku lagi nyetir, telponnya diangkat pake loudspeaker sama Nara, bukan aku.”&#xA;&#xA;Hyunjae terdiam, kaget juga dia di sana.&#xA;&#xA;“SEJAK KAPAN WOY KALIAN BERDUA SAYANG-SAYANGAN GITU?!” Nara akhirnya menjerit tidak tahan. “GELI GUE SUMPAH!”&#xA;&#xA;“Nara apa sih?! Kaget gue woy!” Luna balas teriak dengan sewot.&#xA;&#xA;Hyunjae yang mendengar keributan disana hanya bisa terkekeh salah tingkah. “Gue tutup teleponnya. Nara, sabar ya jangan marah-marah. Itu Luna mau jelasin.”&#xA;&#xA;“Heh! Kamu main kabur, jelasin juga kek.”&#xA;&#xA;“Kamu aja, Sayang. Bye!”&#xA;&#xA;Dan Hyunjae memutus telepon begitu saja.&#xA;&#xA;“Na, sejak kapan? Tega banget lo nggak cerita ke gue anjir.”&#xA;&#xA;“Sorry yaa, nggak bermaksud nyembunyiin. Cuma emang gue dan Hyunjae pengen nikmatin ini berdua dulu. Udah mau 3 minggu, Ra.”&#xA;&#xA;“Tiga minggu? Bener-bener lo, Na. Kesel gue sama lo, kaya nggak anggap gue temen. Besok-besok lo berantem sama Jaehyun nggak usah curhat ke gue.”&#xA;&#xA;“Kok gitu sih ngomongnya. Maafin gue dong.”&#xA;&#xA;“Bahkan tadi kita makan siang bareng aja sama sekali nggak ngeh kalian ternyata udah resmi pacaran. Gengnya Jaehyun tau?”&#xA;&#xA;Luna menggeleng, “Belum.”&#xA;&#xA;“Parah ih kalian.”&#xA;&#xA;“Sebetulnya dari pas lo tiba-tiba aneh bikin panggilan nama sendiri buat dia juga gue udah curiga sih. Niat amat lo sampe pengen beda sendiri gitu manggilnya.”&#xA;&#xA;“Yee, itu sih udah lama banget kali. Gara-gara udah ada dua Jaehyun di kontak gue. Bukan gue sengaja pengen beda manggilnya.”&#xA;&#xA;“Sekarang sih udah jelas beda ya, manggilnya jadi “Sayang”.”&#xA;&#xA;“Udah dong, Ra. Udah ya…please? Maafin gue.”&#xA;&#xA;“Lo galau-galau karena Seokjin larinya ke gue, giliran lo lagi bahagia nggak ada ceritanya ke gue. Sakit hati banget gue, Na.”&#xA;&#xA;“Terus gue mesti gimana biar lo mau maafin?”&#xA;&#xA;“Ya udah, nggak papa. Gue maafin. Jangan gitu lagi ya, janji?”&#xA;&#xA;“Iya, janji. Makasih udah maafin gue.”&#xA;&#xA;“I’m happy for you, Na. Beneran gue seneng banget sih sebetulnya denger kabar ini. Semoga lo dan Jaehyun bahagia terus ya, gue nggak pengen liat lo sakit lagi.”&#xA;&#xA;“Makasih, Sayaaang. Lo juga mesti bahagia terus sama Younghoon ya. Kalau kalian kenapa-kenapa gue bakal ikut sakit.”&#xA;&#xA;Detik itu juga Nara langsung membuat pengumuman ini di group chat yang sudah jelas ada Eric disitu, yang selain kaget Eric juga langsung sibuk ngomel-ngomel di grup sebelah yang berisikan geng Hyunjae. Atas berita ini, Nara dan Eric adalah yang paling merasa terkhianati karena tidak diberi tahu.&#xA;&#xA;*\\\*&#xA;&#xA;Malamnya, Luna sedang mengistirahatkan tubuh di atas kasur setelah selesai mandi. Lega sekali walaupun hari Jumat, dirinya bisa pulang tepat waktu karena tidak ada laporan penting yang harus diserahkan hari Senin. Jadilah ia jam 7 malam sudah bisa bersantai di apartemennya.&#xA;&#xA;Sayangnya tidak begitu dengan Hyunjae. Kliennya yang tadi siang mendadak menelepon ingin bertemu, ternyata alasannya karena ada beberapa perubahan desain konstruksi yang diinginkan kliennya padahal denah yang dibuat Hyunjae sudah hampir 80% rampung. Akhirnya demi memenuhi permintaan klien, Hyunjae rela merombak habis dari mulai desain awal, termasuk harus bolak balik menemui para vendor material bangunan dan juga menghubungi pihak kontraktor terkait perubahan konstruksi ini.&#xA;&#xA;Meeting terakhir dengan pihak kontraktor akhirnya selesai jam setengah delapan malam. Hyunjae yang terlanjur bete dan kepalang kesal memutuskan untuk tidak ingin sendirian di apartemennya. Dia butuh bertemu Luna untuk sekedar menenangkan suasana hatinya.&#xA;&#xA;Jam setengah sembilan, Hyunjae akhirnya tiba di apartemen Luna dengan muka kusut dan cemberut.&#xA;&#xA;“Udah capek banget, pake segala macet nggak karuan di jalan,” omel Hyunjae sambil duduk di sofa depan TV. Matanya terpejam, kepalanya mengadah ke atas saking lelah.&#xA;&#xA;Luna menghampiri sambil mengocek secangkir teh chamomile hangat di tangannya. “Sabar sayang, namanya juga Jumat malam pasti macet. Yang penting kamu udah disini sekarang, dan besok kan libur. Ini tehnya diminum dulu biar nggak emosi terus.”&#xA;&#xA;“Aku nggak habis pikir sama klienku, bisa-bisanya dia minta ganti setelah rancangan sebelumnya dia confirm oke. Bosku nggak mau nolak, dia bilang masih bisa diusahakan perubahannya. Iya sih bisa diusahakan, tapi kita bawahan nih yang babak belur.”&#xA;&#xA;Luna mengelusi punggung Hyunjae dengan sayang, “Tau nggak, Yang, kenapa bos kamu nggak mau nolak? Karena dia percaya sama kamu dan tim, dia yakin kalian mampu. Jalani aja mau diapain lagi, ya kan? Yang penting ikhlas kamunya ya. Nggak akan terasa berat kalau kamu ikhlas jalaninnya.”&#xA;&#xA;Hyunjae manggut-manggut. Berusaha mencerna yang Luna ucapkan padanya. “Makasih, Yang. Doain aku kuat.”&#xA;&#xA;“Doa buat kamu nggak pernah putus,” sahut Luna. “Ayo diminum dulu tehnya, nanti keburu dingin. Kamu mau nyemil apa? Aku bikinin.”&#xA;&#xA;“Pengen ayam. Chicken wing pedes enak kayanya.”&#xA;&#xA;“Yah maaf, belum beli lagi stok chicken wing.”&#xA;&#xA;“Tadi nawarin bikinin, kamu gimana sih, Yang.”&#xA;&#xA;“Ya kan ayamnya nggak ada, bapaaak. Bukannya nggak mau bikinin. Beli aja ya, mau?”&#xA;&#xA;“Nggak, pengennya bikinan kamu.”&#xA;&#xA;“Hadeh, nyesel nawarin.”&#xA;&#xA;“Hahaha jangan gitu dong ih. Yaudah bikinin apa aja yang ada di kulkas kamu ya? Suprise me. Apapun itu pasti enak.”&#xA;&#xA;“Ya udah, yang sabar tapi ya. Aku mikir dulu mau bikin apa. Kamu mandi dulu gih sambil nunggu.”&#xA;&#xA;“Iya, ini juga mau mandi. Airnya?”&#xA;&#xA;“Kenapa airnya? Itu air banyak di kamar mandi, tinggal pilih mau rendeman bathtub apa di shower. Kenapa sih kaya belum pernah mandi disini aja.”&#xA;&#xA;“Mau rendeman. Biasanya kamu siapin airnya, sekarang kok nggak?”&#xA;&#xA;“Jaehyun astaga! Tangan gue cuma dua woy, disuruh masak disuruh siapin air gimanaaa?”&#xA;&#xA;“Haha galak amat sih. Pacar lagi kecapekan gini diambekin. Sini, peluk dulu.”&#xA;&#xA;“Nggak! Kamu masih kotor. Aku udah bersih udah mandi, nanti aja peluknya kalau kamu udah bersih. Gih sana mandiiii,” Luna menjerit frustasi. Pacar tsundere-nya ini kalau lagi kumat manjanya memang suka bikin pusing. Tapi sebetulnya Luna menikmati juga masa-masa kalau Hyunjae sedang manja, saking langkanya momen ini.&#xA;&#xA;Hampir setengah jam berlalu, akhirnya cemilan buatan Luna selesai berbarengan dengan Hyunjae yang sudah selesai mandi. Semangkuk casserole cauliflower yang baru keluar dari oven dan secangkir teh hangat sudah tersaji rapi di atas meja makan untuk Hyunjae.&#xA;&#xA;Hyunjae yang keluar dari kamar Luna dengan rambut basah habis keramas, mengenakan setelan rumah kebangsaannya, t-shirt dan celana pendek merah. “Wangi banget, aku dibikinin apa jadinya?”&#xA;&#xA;“Itu, casserole. Udah di meja makan.”&#xA;&#xA;“Kok cuma satu? Ayo makan berdua, Yang. Temenin aku.”&#xA;&#xA;“Aku kenyang, udah makan tadi. Kamu aja, habisin ya.”&#xA;&#xA;Luna sedang duduk di sofa sambil memindah-mindah channel TV saat Hyunjae mendekatinya dari belakang. Menghadiahi ciuman dua kecup di kepala Luna. “Makasih udah dimasakin,” bisik Hyunjae.&#xA;&#xA;“Sama-sama, selamat makan.”&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Keesokan harinya, Luna terbangun oleh dering suara ponselnya. Ada panggilan masuk tapi Luna masih terlalu mengantuk untuk menjawabnya. Dengan mata terpejam dan menarik selimut sampai dagu, Luna berusaha mengabaikan dering ponselnya yang mengganggu.&#xA;&#xA;Sang penelepon sepertinya tidak menyerah untuk menghubungi Luna sampai akhirnya Luna geram sendiri dan mengambil ponselnya geram. Dia tidak kenal nomor siapa yang meneleponnya.”&#xA;&#xA;“Halo?” sapa Luna.&#xA;&#xA;“Luna? Haiii, maaf ganggu pagi-pagi. Masih tidur ya?” sahut suara di seberang sana.&#xA;&#xA;“Wait… ini Frei? Freiya bukan?”&#xA;&#xA;“Iyaaa! Nomer baru gue ini, save ya.”&#xA;&#xA;“Astaga gue kira siapa pagi-pagi gini, udah mau ngomel aja tadinya hahaha. Kemana aja lo sombong banget. Curiga gue, tiba-tiba nelepon gini biasanya ada maunya.”&#xA;&#xA;Ternyata penelepon adalah Freiya, sepupunya Luna. Anak kakaknya ayah Luna yang seumuran persis dengan Luna. Bedanya, Freiya sudah menikah dari usia 24 tahun dan sekarang sudah dikaruniai dua anak. Dulu sebelum Freiya menikah, dia dan Luna dekat sekali karena Freiya kuliah di Tokyo dan sering nebeng liburan di Seoul sambil menemani Luna.&#xA;&#xA;Setelah menikah, keduanya sudah jarang sekali berkomunikasi apalagi bertemu karena kesibukan masing-masing. Freiya masih tinggal di Tokyo karena ia menikahi orang Jepang.&#xA;&#xA;“Gue mau ke Jeju, Na. Ikut yuk!” aja Freiya tiba-tiba. “Sekalian temu kangen.”&#xA;&#xA;“Lah kapan? Lo dimana sekarang?”&#xA;&#xA;“Masih di Tokyo, nanti siangan jam 2 gue flight ke Seoul bareng suami sama anak-anak. Ketemuan dong ya.. please?”&#xA;&#xA;“Lama nggak di Seoul?”&#xA;&#xA;“Nggak lama, dua hari doang. Senin gue berangkat ke Jeju. Ayolah ikut yuk.”&#xA;&#xA;“Yah nggak bisa lah gue, kan kerja. Nggak bisa cuti dadakan. Lo sih enak ngurus anak di rumah nggak mesti mikirin cuti, mau liburan tinggal cus.”&#xA;&#xA;“Hehehe iya nih, laki gue masih tetep nggak bolehin gue kerja. Sia-sia deh ijazah gue. Bener lo nggak mau ikut? Sebenernya ini dalam rangka gathering kantornya suami, tapi gue agak-agak males mesti basa-basi sama Japanese.”&#xA;&#xA;“Lo gimana sih, kawin sama Japanese ya resiko lah mesti ngadepin relasi laki lo.”&#xA;&#xA;“Kawin beda kultur ribet juga ternyata loh, Na. Lo kalau bisa dapetin orang Indo lagi aja deh biar nggak pusing adaptasi.”&#xA;&#xA;Deg.&#xA;&#xA;Dada Luna serasa dihantam palu godam.&#xA;&#xA;“Na? Kok diem?”&#xA;&#xA;“Nggak papa hahaha. Kaget gue lo tiba-tiba ngomong gitu. Cowok gue Korean tulen soalnya.”&#xA;&#xA;“Kyaaa sejak kapan? Eh ini bukan Seokjin kan?”&#xA;&#xA;“Bukanlah. Seokjin udah kemana kali. Cowok baru, masih anget belum lama ini jadinya hehe. Ya udah ketemuan yuk, besok aja kalau hari ini lo capek.”&#xA;&#xA;“Syukurlah, gue lega lo akhirnya mau membuka hati untuk yang baru. Yuk, nanti ketemuan ya. Eh Na, apa lo jemput gue gitu di Gimpo bisa nggak? Dari bandara kita langsung makan malam bareng aja. Nanti gue bilang ke Kei.”&#xA;&#xA;“Boleh-boleh, gue juga bilang dulu ke cowok gue. Biar sekalian dikenalin ke lo ya haha. Kangen juga gue sama ponakan gue, apalagi sama si kecil belum pernah ketemu.”&#xA;&#xA;“Lagi lucu-lucunya, Na. Sabar yaa, nanti sorean kita ketemu. Berkabar ya, Na. Gue jam 5an nyampe Gimpo, semoga nggak ada acara \delay flight-\nya.”&#xA;&#xA;“Oke, can’t wait! See you, Sis.”&#xA;&#xA;Rasa kantuk Luna mendadak hilang. Sekarang masih jam 8 pagi, masih banyak waktu sebelum menjemput Freiya. Ah, kebetulan sekali Hyunjae menginap di apartemen hari ini. Dia bisa meminta Hyunjae menemaninya ke airport sekaligus mengenalkan pada Freiya. Dan lagi, Luna nggak sabar ingin ketemu Freiya dan anak-anaknya. Kangen sekali.&#xA;&#xA;Setelah membereskan ranjangnya, Luna beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Tadinya mau sekalian mandi tapi akhirnya diurungkan niatnya. Luna memilih untuk mengecek keadaan Hyunjae dulu yang tidur di sofa ruang TV.&#xA;&#xA;Luna keluar kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. Dihampirinya Hyunjae yang masih terlelap di sofanya, dengan tubuh terbalut selimut. Setelah menaikkan suhu AC ruang TV karena dirasa terlalu dingin baginya, Luna menghampiri Hyunjae lalu duduk bersila di karpet dengan menghadap Hyunjae.&#xA;&#xA;Jarinya bergerak menyisiri helai rambut Hyunjae dengan lembut, tidak ingin membangunkannya. Dielusnya kening Hyunjae sebentar, sebelum jarinya turun dan menyentuh ujung hidung Hyunjae.&#xA;&#xA;Gemes, hidungnya dia sempurna banget sih.&#xA;&#xA;Hyunjae tiba-tiba mengerang, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan.&#xA;&#xA;“Eh maaf, jadi bangun deh kamunya,” kata Luna sembari mengeluskan jarinya lagi di rambut Hyunjae. “Masih ngantuk, Yang? Tidur lagi kalau masih ngantuk.”&#xA;&#xA;Hyunjae tidak menjawab. Matanya yang sayu karena baru bangun tidur menatap mata Luna lekat-lekat. Dengan sekali gerakan, tangannya meraih dagu Luna dan menariknya supaya mendekati wajahnya.&#xA;&#xA;“Morning kiss dulu,” sahutnya kalem.&#xA;&#xA;Tubuh Luna menegang. Dia nggak siap.&#xA;&#xA;Masih sambil satu tangan memegang dagu Luna, Hyunjae setengah bangun dari posisi tidurnya dan berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Luna.&#xA;&#xA;Bibirnya mengecup pipi kanan Luna, lama.&#xA;&#xA;Mata Luna otomatis terpejam. Tubuhnya tegang bukan main,.&#xA;&#xA;“Good morning,” kata Hyunjae lagi. Setelah melepaskan bibirnya dari pipi Luna, Hyunjae kembali merebahkan dirinya di sofa.&#xA;&#xA;“Morning,” jawab Luna masih sambil mengatur jantungnya yang berdegup kelewat kencang akibat perlakuan Hyunjae barusan. “Mau sarapan apa? Aku siapin buah dulu mau? Minumnya teh apa susu anget?”&#xA;&#xA;“Yang, kamu lagi latihan jadi istri ya?”&#xA;&#xA;Wajah Luna memerah. “Nggak. Ada tamu ya ditawarin makan minum dong masa dicuekin.”&#xA;&#xA;“Oh, jadi aku cuma tamu.”&#xA;&#xA;“Hehe, bercanda,” kata Luna. Tangannya mencubit ujung hidung Hyunjae dan menariknya gemas. Yang punya hidung langsung memekik kesakitan.&#xA;&#xA;“Yang, tadi Freiya sepupuku telpon. Dia kan tinggal di Tokyo, nanti siang mau ke Seoul flight jam dua. Mau nemenin jemput ke bandara nggak? Habis dari bandara, mau dinner sekalian ngobrol-ngobrol, aku udah lama nggak ketemu dia. Sekalian mau ngenalin kamu ke dia.”&#xA;&#xA;“Nanti kalian ngobrol, aku ngapain?”&#xA;&#xA;“Dia sama suami dan anak-anaknya kok. Suaminya orang Jepang, kamu bisa ngobrol sama dia. Kamu kan bisa bahasa Jepang dikit-dikit.”&#xA;&#xA;“Ya udah aku temenin. Mau jam berapa kita jalan ke bandara?”&#xA;&#xA;“Setengah empat dari sini cukup kali ya?”&#xA;&#xA;“Boleh.”&#xA;&#xA;Senyum mengembang di wajah Luna, senang karena Hyunjae mau menemaninya bertemu Freiya. “Makasih ya.”&#xA;&#xA;Setelah mengelus sebelah pipi Hyunjae sekilas, Luna bangkit dari duduknya di karpet dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dalam hati Luna memikirkan juga kata-kata Hyunjae tadi soal latihan jadi istri. Tapi kemudian buru-buru dihilangkannya soal itu dari pikirannya. Dirinya belum ada kesiapan sama sekali.&#xA;&#xA;Selagi Luna sibuk menyiapkan sarapan, Hyunjae akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya bangun dari rebahannya karena aroma wangi masakan Luna mulai merasuk hidungnya. Setelah selesai merapikan selimut dan bantal-bantal sofa, Hyunjae mendekati Luna yang lagi membolak-balik daging bacon di atas pan.&#xA;&#xA;“Masih lama nggak, Yang?” tanya Hyunjae sambil mengintip ke arah kompor dari balik bahu Luna. “Hmm wangi banget baconnya. Laper.”&#xA;&#xA;“Masih, kentangnya juga masih dikukus tuh,” jawab Luna sambil mengangkat tutup panci tempat mengukus kentang. “Makan buah dulu gih, udah dipotongin ada di kulkas. Tupperware biru rak tengah.”&#xA;&#xA;Hyunjae mendekati kulkas, membuka pintunya dan celingukan mencari wadah buah yang Luna maksud. Setelah ketemu, ditariknya keluar wadah itu dan dibawanya ke meja makan. Nggak perlu waktu lama bagi Hyunjae untuk menyantap potongan anggur black autumn tanpa biji, stroberi, kiwi dan jeruk yang sudah tersusun rapi di dalam wadah.&#xA;&#xA;Daging bacon Luna sudah matang, kini tinggal menyiapkan sayuran mentah yang sudah dicuci bersih semalam. Sambil menunggu kentangnya matang untuk dibuat cheesy mashed potato, Luna menghampiri Hyunjae yang masih asyik mengunyah cemilan buahnya dan duduk di kursi samping Hyunjae.&#xA;&#xA;“Tadi malam nggak lama sebelum kamu dateng, aku sama mama video call,” Luna mulai bercerita sembari mencomot sepotong anggur. “Sama ayah juga.”&#xA;&#xA;“Oh ya? Sehat-sehat kan mama ayah?”&#xA;&#xA;“Sehat. Pengen ketemu kamu katanya. Aneh, sama aku aja udah lama nggak ketemu tapi yang ditanyain malah kamu.”&#xA;&#xA;“Kita samperin ke Singapore yuk? Aku juga pengen ketemu mama ayah, nggak enak anak cantiknya udah hampir sebulan dipacarin padahal aku belum izin.”&#xA;&#xA;Bibir Luna yang kini lagi mengunyah potongan stroberi, mengulum senyum. “Tenang, kamu udah dapet restu kok. Mama kaya yang seneng dan sreg banget begitu aku lihatin foto kamu dan aku ceritain tentang kamu. Ayah juga.”&#xA;&#xA;Gantian Hyunjae yang mengulum senyum sambil memandangi wajah cantik pacarnya. “Aku nggak bercanda ngomong-ngomong, ayo kita rencanain ke Singapore berdua. Soon.”&#xA;&#xA;“Yang, aku belum cerita ke kamu lagian ini masih belum fix jadi juga sih. Tapi kemarin si Juyo nyebar gosip katanya timnya Yeonjun lagi ngajuin gathering kantor ke Singapore akhir tahun nanti. Kan tahun kemarin ke Bangkok, yang sekarang pengen Singapore katanya. Sekalian aja kali ya?”&#xA;&#xA;Hyunjae terlihat tidak begitu senang mendengarnya, “Masih lama dong. Lagian bukan berdua namanya kalau bareng kantor kamu. Kita duluan aja yuk kesana, aku pengennya berdua dan quality time sama keluarga kamu di sana. Kalau dibarengin sama gathering kantor, nanti konsen kamu kepecah antara harus ngikut jadwal gathering atau family time sama mama ayah.”&#xA;&#xA;“Iya deh nanti aku pikirin lagi.”&#xA;&#xA;“Jangan kelamaan mikirnya, cepet tentuin mau kapan kesana. Kita kan harus urus cuti nggak bisa dadakan.”&#xA;&#xA;“Iyaaa oke. Ngomong-ngomong kamu juga udah lama tuh nggak nemuin orangtua. Kamu lebih parah, tinggal sekota juga, wleee. Aku sih jelas tinggal beda negara, wajar jarang ketemu.”&#xA;&#xA;“Mama papa lagi sibuk juga ngurusin rencana nikahnya nuna. Kalau kesana aku dianggurin, fokusnya ke nuna terus. Tapi besok aku ada rencana mau kesana sih mampir bentar. Ikut yuk? Kalau aku bawa kamu, aku nggak akan dianggurin sama mama papa. Eh atau malam ini aja ya? Kita nginep di rumah mama, besok sore pulang.”&#xA;&#xA;Tubuh Luna menegang mendengar ajakan Hyunjae. Tenggorokannya mendadak kering. Luna sejujurnya masih trauma dengan pengalaman tidak mengenakkan yang dialaminya saat pertama kali bertemu dengan ibunya Seokjin dulu. Raut wajah dingin dan perlakuan tidak ramah yang selalu diterima Luna setiap bertemu ibunya Seokjin membuat Luna kini takut akan bertemu dengan orang tua Hyunjae.&#xA;&#xA;“Yang…,” panggil Luna pelan. “Kalau aku bilang aku belum siap, kamu marah nggak?”&#xA;&#xA;“Nggak siapnya kenapa?”&#xA;&#xA;“Takut…”&#xA;&#xA;“Takut apa? Takut nggak diterima karena kamu non Korean?”&#xA;&#xA;Luna skakmat. Bagaimana Hyunjae bisa tahu, dia nggak pernah cerita apapun pada Hyunjae soal masa lalunya dengan Seokjin.&#xA;&#xA;“Mereka udah tau kamu non Korean, nggak ada darah Korea sama sekali dan mereka nggak mempersalahkan itu. Kamu nggak usah takut.”&#xA;&#xA;Luna mengangguk ragu-ragu, “Yakin kamu? Aku takut…”&#xA;&#xA;“Aku udah bicara ke orangtuaku tentang kamu dari semenjak kita ketemu pertama kali di rooftop beli eskrim bareng. Percaya sama aku, Yang, kamu akan baik-baik aja setelah ketemu orangtuaku. Mau ya?”&#xA;&#xA;Luna sungguh nggak tega menolak permintaan mendadak ini dari Hyunjae. Diam-diam dirinya agak menyesal telah membuka pembicaraan soal orangtua ini—Antusiasme Hyunjae sungguh di luar dugaan Luna. Pada akhirnya Luna berpikir, saling bertemu dengan orangtua masing-masing secepatnya mungkin bukan sesuatu yang salah. Umur hubungannya dengan Hyunjae masih cukup dini dan mungkin tidak akan mengakibatkan rasa sakit mendalam seperti saat dengan Seokjin dulu, jika saja rencana bertemu orangtua ini tidak berhasil baik.&#xA;&#xA;Luna akhirnya mengiyakan ajakan Hyunjae dengan senyuman lebar di wajahnya. “Ayo, aku mau ketemu orangtua kamu, Yang. Nanti beres ketemuan Freiya, malamnya kita ke Songdo ya. Jangan lupa dikabarin dulu mamanya kalau kita mau kesana malam ini.”&#xA;&#xA;Senyuman di wajah Hyunjae nggak kalah lebar, dia lega sekali Luna setuju untuk menemaninya pulang ke rumah orangtuanya malam ini. “Makasih ya, aku seneng.”&#xA;&#xA;Luna berdiri lalu mendekati Hyunjae yang masih terduduk di sampingnya dan mendekap kepala Hyunjae sambil mengusapinya lembut. Hyunjae membalas dekapan Luna dengan melingkarkan tangan di pinggang ramping Luna, dia membenamkan wajahnya dalam-dalam ke perut Luna.&#xA;&#xA;“Perut kamu rata banget,” Hyunjae berkomentar setelah Luna melepaskan dekapannya.&#xA;&#xA;“Ya rata dong, kan nggak ada isinya baru buah doang.”&#xA;&#xA;“Nanti ada saatnya perut kamu ada isi adek bayi,” kata Hyunjae sambil menutup wadah buah yang isinya sudah kosong. “Buatan aku.”&#xA;&#xA;Luna yang sedang meneguk air putih dari gelas langsung tersedak dan terbatuk, sementara Hyunjae dengan lempengnya berjalan ke arah dapur menuju bak cuci piring dan mulai mencuci wadah buah serta gelas kotor bekasnya. Luna yang kesal menghampiri Hyunjae di dapur dan mencubit keras pinggangnya.&#xA;&#xA;“Aduh! Sakit astaga, kenapa sih?” Hyunjae mengaduh sambil refleks berbalik menghadap Luna.&#xA;&#xA;“Kamu sadar nggak barusan ngomong apa?” tanya Luna kesal.&#xA;&#xA;“Soal adek bayi? Emang apanya yang salah? Lah bener kan suatu saat kamu bakal hamil, emangnya nggak pengen hamil?”&#xA;&#xA;Luna memandangi Hyunjae sambil menggelengkan kepalanya. Tidak percaya pacarnya bisa sedatar itu seolah tidak ada apa-apa setelah membuat Luna tersedak karena omongannya. Hyunjae yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Luna akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dapur menuju kamar Luna.&#xA;&#xA;“Aku mau main game dulu ya, panggil aku kalau sarapannya udah jadi, Yang.”&#xA;&#xA;Hyunjae ih bener-bener… udah bikin gue malu sendiri gara-gara omongan dia soal hamil, tapi dianya lempeng aja gitu malah mau main game. Luna mengomel ke dirinya sendiri sambil memeriksa kentangnya yang ternyata sudah matang. Sambil masih merasakan wajahnya yang panas karena malu, Luna memutuskan melupakan omongan Hyunjae tadi dan melanjutkan masaknya.&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Sore hari akhirnya tiba.&#xA;&#xA;Luna sudah lebih dulu siap. Dia mengenakan dress warna putih motif bunga-bunga kecil sedikit di atas lutut, dengan bagian bahu terbuka yang memperlihatkan tulang selangkanya. Rambutnya panjangnya yang tak berponi dibiarkan tergerai cantik, dengan dihiasi jepitan rambut hitam simpel di sisi kanan, menyisakan beberapa helai rambut terjuntai menutupi telinganya. Tak lupa dia menyiapkan cardigan berwarna senada dengan dress-nya, untuk dipakai ketika bertemu orangtua Hyunjae nanti.&#xA;&#xA;Handbag berukuran sedang berisi baju dan segala perlengkapan menginapnya pun sudah disiapkan di atas sofa, bersebelahan dengan ransel hitam milik Hyunjae.&#xA;&#xA;Luna sedang mengetikkan pesan di KakaoTalk-nya untuk Freiya, mengabarinya kalau dia dan Hyunjae sebentar lagi akan menuju bandara, ketika Hyunjae yang baru selesai bersiap keluar dari kamar Luna dan menutup pintunya. Luna menutup ponsel flip-nya dan menghampiri Hyunjae.&#xA;&#xA;“Itu kasian banget kancing baju kamu jobless. Ada tapi nggak dipergunakan dengan semestinya,”&#xA;&#xA;Hyunjae balik menatap Luna, bingung. “Ngomong apa sih, Yang?”&#xA;&#xA;“Kamu nggak ada baju lain?”&#xA;&#xA;“Emang kenapa bajuku yang ini? Jelek?”&#xA;&#xA;Luna mendengus. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hyunjae, tangannya menggapai kerah baju Hyunjae dengan dua kancing terbuka di bawahnya.&#xA;&#xA;Sore itu Hyunjae memang terlihat ganteng—kelewat ganteng kalau menurut Luna—dengan atasan model kemeja informal dan bagian lengan digulung sampai siku, warna putih pula senada dengan dress Luna walaupun mereka nggak janjian pakai baju putih-putih. Bawahannya, Hyunjae mengenakan celana jeans biru gelap dengan belt hitam melingkar di pinggangnya. Baik kemeja dan celana jeans Hyunjae terlihat begitu pas—tidak kebesaran dan tidak kesempitan—sehingga badan atletis Hyunjae tercetak dengan jelas.&#xA;&#xA;“Kancing satu ya? Jangan dua-duanya gini nggak dikancing,” tanya Luna. tangannya bergerak hendak mengancingkan kemeja Hyunjae.&#xA;&#xA;“No, jangan. Emang harus gini makenya, kalau dikancing jadi nggak bagus.” Tangan Hyunjae menghentikan gerakan tangan Luna tiba-tiba.&#xA;&#xA;“Kamu ganti baju deh. Pake sweater kek apa kek gitu hoodie,” kata Luna sambil berbalik memunggungi Hyunjae, mengambil handbag dan kardigannya dan berjalan menuju rak sepatu. “Kamu terlalu ganteng pakai baju itu. Nanti digenitin cewek-cewek.”&#xA;&#xA;Luna berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Dia sudah dua kali merasa terganggu saat sedang jalan dengan Hyunjae dan berpapasan dengan segerombol cewek-cewek kuliahan yang menatapi Hyunjae dengan ganas. Bahkan sekali waktu pernah ada yang berani berkata “Oppa ganteng sekali!” ke arah Hyunjae tanpa peduli ada Luna di sampingnya yang sedang menggandeng tangan Hyunjae.&#xA;&#xA;Hyunjae berdecak mendengar penuturan Luna, “Biarin aja mereka yang genit, yang penting bukan aku yang genit.” Setelah mengambil ransel hitam dan menyampirkan di bahu kirinya, Hyunjae menyusul Luna mendekati rak sepatu dan mengambil sepasang sepatu kets Nike miliknya. “Nggak usah cemburu gitu.”&#xA;&#xA;Luna akhirnya mengalah. Jam sudah menunjukkan hampir setengah 4 sore dan dia tidak ingin terlambat sampai di bandara. “Iya iya. Aku tau ini resiko punya pacar ganteng.”&#xA;&#xA;Hyunjae terkekeh sambil mengacak pelan pucuk rambut Luna. “Ganteng apa sih, biasa aja kok. Yuk, pergi sekarang.”&#xA;&#xA;Setelah memastikan pintu apartemen terkunci dengan benar, Luna dan Hyunjae berjalan berdampingan di lorong menuju lift. Jari-jari mereka saling bertautan erat.&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;“Frei, Freiyaaa!” Luna berseru menyebut nama sepupunya saat melihatnya dari kejauhan. Freiya dengan satu tangan mendorong stroller bayi, satu tangannya lagi menggandeng anak pertamanya yang masih toddler, berjalan berdampingan dengan suaminya yang juga sibuk mendorong troli berisi dua koper besar dan satu handbag milik mereka.&#xA;&#xA;Luna melambaikan tangannya dan berjalan mendekati pintu kedatangan ketika sadar bahwa Freiya tidak mendengar seruannya tadi. Setelah jaraknya dengan Freiya semakin dekat, barulah Freiya menyadari kehadiran Luna.&#xA;&#xA;“Naaa, astaga! Soriii nunggu lama ya?”&#xA;&#xA;“Ih, gue panggil-panggil dari tadi, lo nggak denger juga? Apa kabar sayang? Kangeeen,” Luna langsung memeluk Freiya erat. “Hai, Kei. Sehat? Udah lama nggak ketemu.” Dari Freiya, Luna beralih menyapa Tanaka Kei, suami Freiya. Kei memeluk Luna sambil mengatakan kabarnya baik-baik saja.&#xA;&#xA;“Anakkuuu, udah gede banget. Inget auntie nggak, Sayang? Lupa ya kayanya.” Luna berjongkok hingga tingginya sejajar dengan anak pertama Freiya yang bernama Kannika, yang kini berusia tiga tahun. Kannika tersenyum sambil menggeleng dan melepas pegangan tangan Freiya. Lalu tiba-tiba Kannika menyandarkan tubuhnya di tangan Luna—otomatis, Luna langsung menggendongnya.&#xA;&#xA;“Frei, kenalin ini Jaehyun—Lee Jaehyun lengkapnya—pacar gue.” Dengan Kannika dalam gendongan, Luna mengenalkan Hyunjae pada Freiya. “Yang, ini Freiya sepupuku, sama ini Kei suaminya.”&#xA;&#xA;Setelah Hyunjae saling berjabat tangan dan kenalan dengan Freiya dan Kei, mereka berempat berjalan menuju parkiran tempat Hyunjae memarkir mobilnya. Dengan Hyunjae membantu membawakan troli berisi koper, Kei bisa mengambil alih stroller dari tangan Freiya.&#xA;&#xA;“Anak lo udah dua aja, Frei. Gimana rasanya?” tanya Luna sambil memandangi Kanaya, anak kedua Freiya yang masih berusia satu tahun tertidur di stroller.&#xA;&#xA;“Repooot. Ini si Kana kan nggak sengaja dapetnya. Kebobolan. Padahal gue berencana anak kedua kalau Kannika udah di atas 5 tahun. Lo gimana, kapan nikah? Jae, kapan mau nikahin Luna?”&#xA;&#xA;Luna kaget mendengar ocehan Freiya. Bisa-bisa sepupu slengeannya ini bertanya hal sensitif seperti itu dengan santai. “Heh apaan sih lo, pacaran aja baru—”&#xA;&#xA;“Doain aja bisa secepetnya ya, Frei.” Omelan Luna disela kalem oleh Hyunjae. Luna yang masih menggendong Kannika, blushing.&#xA;&#xA;“Jangan lama-lama, Jae. Kalian seumuran, kan? Lo-nya sih nggak masalah Jae, tapi Luna kasian kalau ketuaan pas lahiran nanti.”&#xA;&#xA;“Iya, siap. Semoga Luna-nya mau gue nikahin.”&#xA;&#xA;Luna tidak ingin terlibat pembicaraan ini lebih jauh lagi. Dia buru-buru mengajak Kannika bercanda dengan menggelitiki perutnya, yang disambut dengan gelak tawa Kannika yang kegelian. Percobaan pengalihan pembicaraan ini berhasil karena kini semuanya fokus memperhatikan Kannika sambil tertawa gemas.&#xA;&#xA;Di mobil, Hyunjae menyetir dengan Kei duduk di sebelahnya. Mereka berdua terlihat sudah mulai nyaman saling berbicara satu sama lain. Sesekali dalam bahasa Jepang yang juga diselingi dengan bahasa Inggris. Di kursi tengah, Luna masih memangku Kannika dan Freiya menimang Kanaya yang masih juga tertidur lelap. Untung saja mobil SUV Hyunjae cukup besar dan lega untuk menampung semua barang bawaan Freiya dan Kei.&#xA;&#xA;Rencana mereka untuk makan malam di salah satu restauran di mall mendadak buyar karena Kana tiba-tiba terbangun dan menangis rewel. Diubah dalam posisi apapun tangisnya nggak mereda malah semakin kencang. Akhirnya mereka memutuskan untuk langsung menuju hotel tempat Freiya dan Kei menginap, dan makan malam di restauran hotel saja.&#xA;&#xA;Begitu tiba di hotel, Kei langsung menuju resepsionis untuk check in diikuti Freiya dan Kana. Ternyata Kana menangis karena setelah dicek, popoknya sudah penuh dengan poop dan dia merasa tidak nyaman. Jadi Freiya harus segera ke kamar dan membersihkan Kana dulu. Sementara itu, Hyunjae dan Luna menunggu di restauran dengan Kannika yang masih anteng dalam gendongan Luna.&#xA;&#xA;“Hasil gen Jepang-Indonesia ternyata bagus juga ya. Kannika Kanaya lucu-lucu banget.” Hyunjae berkomentar sambil memperhatikan Kannika yang sedang tertawa. “Aku penasaran hasil gen Korea-Indonesia dengan sedikit turunan Italia jadinya bakal gimana ya?”&#xA;&#xA;“Heh!”&#xA;&#xA;“Kok heh sih? Ya kan aku lagi ngebayangin—”&#xA;&#xA;“Nggak usah dibayangin dari sekarang.”&#xA;&#xA;“Hahaha lucu kamu tuh.”&#xA;&#xA;“Nggak ada yang lucu, Yang.”&#xA;&#xA;“Kamu lucu, jadi galak banget kalau salting.”&#xA;&#xA;Sebelum Luna sempat membalas ledekan Hyunjae, tiba-tiba Kannika mencondongkan tubuhnya ke arah Hyunjae dan mengangkat tangannya minta digendong. Luna cukup kaget ketika Hyunjae mendekatinya dan mengambil Kannika pelan-pelan dari gendongannya. Setelah Kannika berpindah dalam gendongannya, Hyunjae langsung sibuk berceloteh riang ke Kannika dalam bahasa Jepang yang Luna nggak mengerti.&#xA;&#xA;Diam-diam Luna memperhatikan Hyunjae yang sedang bermain-main bersama Kannika. Ada perasaan hangat yang mendadak menyentuh hatinya melihat pemandangan di hadapannya itu. Hyunjae telaten sekali dengan anak kecil, ketika Kannika haus dan menunjuk botol susunya, Hyunjae langsung memegangi botolnya sementara Kannika meminum susunya. Nggak lupa sebelumnya Hyunjae merogoh ransel kecil Kannika, mencari sesuatu yang ternyata slabber dan memasangkan di dada Kannika supaya tetesan susu dari botol tidak mengotori bajunya.&#xA;&#xA;Selesai minum susu, Kannika meminta diturunkan dari gendongan dan mulai berlarian kesana kemari. Hyunjae dengan sabar mengikuti langkah kaki Kannika, memastikan anak kecil itu aman tidak terjatuh karena larinya yang kencang. Luna juga menyadari Hyunjae yang selalu merunduk atau berjongkok setiap Kannika berbicara, demi mensejajarkan kepalanya dengan kepala Kannika. Setelah puas dan lelah berlarian ke tiap sudut restauran, Kannika akhirnya minta digendong lagi ke Hyunjae.&#xA;&#xA;Dari jauh, Luna bisa melihat bulir keringat di pelipis Hyunjae karena mengikuti Kannika yang berlarian. Ketika akhirnya Hyunjae sudah berada di sisinya lagi, Luna langsung merogoh tasnya dan mengambil tisu dari pouch kecil andalannya. Dilapnya bulir keringat di pelipis Hyunjae.&#xA;&#xA;“Capek ya? Baru berapa menit doang padahal loh ini,” kata Luna.&#xA;&#xA;Hyunjae mengiyakan, “Capek tapi aku seneng sih. Anak ini aktif banget, walaupun lari-larian tapi dia nurut kalau aku bilang nggak boleh ngoprek ini itu.”&#xA;&#xA;Luna dan Hyunjae duduk berhadapan dengan posisi Kannika masih di pangkuan Hyunjae dan bersandar di dadanya. Luna mengambil tisu lagi dan melap keringat di dahi Kannika juga. “Haus nggak, Nak? Mau susu lagi?”&#xA;&#xA;Kannika menggeleng, dia memutar tubuhnya menatap Hyunjae. Lalu tangannya menunjuk ke arah balkon restauran. Minta diajak kesana.&#xA;&#xA;Luna yang nggak tega kalau Hyunjae harus berdiri lagi membawa Kannika ke balkon, mencoba membujuk Kannika, “Disini aja ya, Sayang? Di luar dingin, nanti masuk angin.”&#xA;&#xA;Kannika merengut.&#xA;&#xA;Hyunjae langsung bangkit lagi dari duduknya sambil mengeratkan tangannya yang menggendong Kannika. “Nggak papa, Yang. Aku kesana bentar ya? Kamu tunggu sini.”&#xA;&#xA;Lima menit setelah Hyunjae membawa Kannika ke balkon, Freiya dan Kei menghampiri Luna di meja dengan Kanaya yang sudah terlelap lagi di stroller.&#xA;&#xA;“Maaf lama ya, Na. Tadi abis bersihin Kana dia minta nyusu. Baru sebentar nyusu eh dimuntahin nggak tau kenapa, udahnya minta nyusu lagi. Beres nyusu gue tinggal di stroller tau-tau tidur lagi. Eh ya ampun, anak gue satu laginya kemana ya?”&#xA;&#xA;“Hehe gapapa, Frei. Kasian Kana kecapean kayanya habis perjalanan jauh. Itu Kannika lagi digendong Hyunjae di balkon.”&#xA;&#xA;Kei memanggil pelayan minta dibawakan menu restauran. Setelah semua pesanan tercatat, obrolan dilanjutkan.&#xA;&#xA;“Na, gue sreg sama Hyunjae. Gue saranin lo jaga baik-baik ya hubungan lo sama Hyunjae, paket komplit sih gue liat. Kalau dia ngajak nikah, lo jangan sok jual mahal, langsung iyain aja.”&#xA;&#xA;“Yelah, pacaran juga baru mau sebulanan, Frei. Belum ada kepikiran nikah gue. Masih takut.”&#xA;&#xA;“Ya tujuan akhir lo pacaran apa sih kalau bukan untuk nikah, ya nggak? Inget umur heh. Lagian takut apa?”&#xA;&#xA;“Takut nggak jadi lagi. Makanya sekarang gue nggak mau dulu bahas-bahas nikah deh, nanti aja sambil jalan. Ini gue mikirin mau ketemu orangtua Hyunjae aja mules banget rasanya, takut ditolak lagi.”&#xA;&#xA;“Gue kasih tau ya, Kannika itu anaknya sensitif kaya gue. Nggak bisa sembarangan deket sama orang asing. Ini gue kaget banget liat anak gue nempel banget sama Hyunja—eh, Jaehyun? Siapa sih namanya?”&#xA;&#xA;Luna terkekeh, “Jaehyun. Gue aja iseng manggil dia Hyunjae.”&#xA;&#xA;“Ya, Jaehyun. Ini langka banget dia mau senempel itu sama orang baru. Berarti Kannika nyaman sama Jaehyun, Na. Udah nilai plus banget itu cowok lo bisa ditempelin sama anak kecil. Jadi, lo mesti kuat ya apapun itu cobaan dalam hubungan kalian, harus sama-sama mau berjuang. Jaehyun cowok baik, Na. Jangan disia-siain.”&#xA;&#xA;“Frei, selama lo tau kisah cinta gue, kapan gue pernah sia-siain mantan-mantan gue? Yang ada juga gue selalu jadi pihak yang dicampakkan, ya kan?”&#xA;&#xA;“Tapi lihat sekarang, Tuhan ngegantinya dengan cowok baik kaya Jaehyun. Lo jangan jadiin masa lalu lo trauma ya. Jangan banyak takutnya, lo nggak sendirian di hubungan ini. Lo berdua Jaehyun yang menjalani. Kasian Jaehyun kalau lo banyak takut dan ragu, takutnya dia bingung gimana mau melangkah maju kalau lo-nya meragu terus.”&#xA;&#xA;Obrolan mereka berlanjut sampai akhirnya Hyunjae masuk kembali dari balkon dengan Kannika yang sudah terlelap tidur di pangkuannya. Dengan hati-hati Hyunjae menyerahkan Kannika kembali ke Freiya, yang masih tetap takjub melihat anaknya yang terkenal susah dekat ke orang baru bisa senempel ini dengan Hyunjae. Dari mulai lari-larian sampai ketiduran.&#xA;&#xA;Nggak berapa lama dari situ, makanan mulai tersaji dan mereka berempat yang sudah kelaparan langsung menikmati makanannya. Masih sambil diselingi obrolan dan candaan, kali ini lebih leluasa karena kedua anak Freiya sudah tertidur pulas.&#xA;&#xA;Ketika akhirnya makan malam selesai, Freiya dan Kei pamit untuk beristirahat di kamar. Perjalanan udara selama hampir 3 jam dari Tokyo ke Seoul terasa dua kali lipat lebih melelahkan ketika bepergian dengan satu bayi dan satu balita.&#xA;&#xA;Sudah hampir jam setengah sembilan malam ketika mobil Hyunjae berhenti di perempatan lampu merah, sekitar tujuh kilometer lagi mereka akan sampai di rumah orangtua Hyunjae.&#xA;&#xA;“Capek sayang?” tanya Luna saat Hyunjae meregangkan otot tangan dengan menariknya ke atas. “Pegel ya berjam-jam gendongin Kannika?”&#xA;&#xA;Hyunjae mengangguk pelan, kepalanya bersandar pada headrest kursi dengan mata terpejam. &#xA;&#xA;“Sayang, hei jangan merem. Sepuluh detik lagi hijau lampunya,” kata Luna sambil menepuk pelan pipi Hyunjae. Hyunjae refleks membuka matanya lagi tepat saat lampu berganti dari kuning ke hijau. Mobilnya melaju lagi meninggalkan perempatan.&#xA;&#xA;Lima belas menit kemudian, mobil Hyunjae memasuki kawasan kompleks perumahan pribadi di daerah Songdo, rumah orangtuanya. Dalam hati Luna mendecak kagum, tadinya dia pikir orangtua Hyunjae tinggal di apartemen juga mengingat ini hal yang lumrah sekali di sini, tapi ternyata dugaan Luna salah. Kompleks perumahan ini tidak begitu besar tapi Luna tahu hunian ini termasuk hunian cukup elit dan terpandang melihat dari jajaran rumah-rumah besar di pinggir-pinggir jalan utamanya.&#xA;&#xA;Satu belokan terakhir, dan mobil Hyunjae berhenti di depan sebuah rumah dua lantai berpagar cokelat.&#xA;&#xA;“Sampai akhirnya. Yuk, turun.”&#xA;&#xA;Luna mengatur napasnya yang sedari tadi menderu nggak karuan karena tegang. Setelah dirasa siap, Luna turun dari mobil sambil menyambut gandengan tangan Hyunjae. Berdampingan, mereka berjalan memasuki halaman depan.&#xA;&#xA;\\\*&#xA;&#xA;Alarm ponsel Luna berbunyi.&#xA;&#xA;Sambil membuka matanya perlahan, Luna meraih ponselnya, mematikan alarm dan melihat jam. Masih jam setengah enam pagi. Kalau ini di rumahnya sendiri, sudah pasti Luna akan melanjutkan tidurnya dan bangun agak siangan mengingat ini hari Minggu. Tapi karena dia sedang berada di rumah orang tua Hyunjae, tidak mungkin Luna kembali tidur dan bangun siang. Tidak sopan rasanya.&#xA;&#xA;Luna mengerjapkan matanya sambil menatapi langit-langit kamar yang masih terasa asing baginya tapi sudah mulai familiar karena kamar ini sudah ia tempati selama beberapa jam. Senyum kecil terbentuk di bibirnya mengingat kejadian semalam ketika orang tua Hyunjae menyambutnya dengan sangat ramah—terlebih mamanya Hyunjae yang terlihat begitu antusias dan senang dengan kedatangan Luna. Kakak perempuan Hyunjae dan calon suaminya pun memperlakukan Luna dengan ramah, bahkan Luna masih tidak percaya dengan perkataan kakaknya Hyunjae semalam, “Akhirnya aku punya saudara perempuan beneran. Langgeng ya sama Jaehyun.”&#xA;&#xA;Ketegangan Luna langsung sirna seketika. Respon yang ia terima dari mamanya Hyunjae sungguh berbeda 180 derajat dari respon yang ia terima dari mamanya Seokjin dulu ketika pertama kali bertemu. Ironisnya, seingat Luna ia rasanya tidak pernah menerima senyuman hangat dari mamanya Seokjin selama ia berhubungan dengan Seokjin. Berbeda dengan mamanya Hyunjae yang memperlakukan Luna dengan sayang, membuat Luna jadi teringat akan mamanya sendiri.&#xA;&#xA;Drrrt drrrt.&#xA;&#xA;Luna membuka ponselnya yang bergetar. Keningnya berkerut melihat pesan masuk dari Hyunjae.&#xA;&#xA;“Udah bangun?”&#xA;&#xA;    Udah sayang.&#xA;&#xA;    Ngapain chat? Tinggal jalan kesini.&#xA;&#xA;“Takut kamu belum bangun.”&#xA;&#xA;“Aku kesana ya.”&#xA;&#xA;Tidak sampai semenit, pintu kamar diketuk dari luar dan Hyunjae menghambur masuk ke dalam. Dibiarkannya pintu kamar agak terbuka.&#xA;&#xA;“Ih kok cepet banget? Aku belum rapiin rambut,” kata Luna yang masih terduduk di kasur. Panik karena sadar dirinya belum enak dilihat karena baru banget bangun tidur.&#xA;&#xA;Hyunjae duduk di tepi kasur. Tangannya meraih tangan Luna yang masih sibuk merapikan rambutnya, lalu dikecupnya punggung tangan Luna sekilas. “Morning. Gimana rasanya tidur di kamarku? Aku nempatin kamar ini dari jaman masih bocil sampai lulus kuliah, cuma kamu satu-satunya perempuan selain keluargaku yang pernah tidur di kasur ini. Tidurnya nyenyak?”&#xA;&#xA;Luna mengangguk. Dia menyingkap selimut dan menggeser tubuhnya agar menjadi bersebelahan dengan tubuh Hyunjae di tepi kasur. “Nyenyak banget tidurnya, ditemenin robot-robot dan pajangan Iron Man kamu.” Luna menyandarkan kepalanya di bahu Hyunjae, membuat Hyunjae terdorong untuk mengecup pucuk kepala Luna yang wangi.&#xA;&#xA;“Udah nggak tegang lagi kan? Sekarang percaya kan sama aku, kalau papa dan mama menerima kamu dengan baik.”&#xA;&#xA;“Iya, aku bersyukur sekali rasanya. Nggak nyangka diterima dengan sebaik ini sama keluargamu, Jae. Makasih ya?” Mata Luna menyendu ketika bertemu dengan mata Hyunjae. Lama, mereka berkomunikasi tanpa bicara, saling mengungkapkan perasaan sayangnya satu sama lain melalui tatapan.&#xA;&#xA;Luna selalu menyukai wajah tampan Hyunjae dalam kondisi apapun, tapi kini ia menyadari favoritnya adalah wajah baru bangun tidur Hyunjae dengan rambut tebal hitamnya yang sedikit teracak. Luna menyadari keberuntungan dirinya bisa mendapatkan Hyunjae sebagai kekasihnya. Benar kata Freiya semalam, Tuhan begitu baik memberikan Hyunjae sebagai pengganti Seokjin.&#xA;&#xA;“Na,”&#xA;&#xA;“Ya?”&#xA;&#xA;“Cintai aku selamanya seperti ini ya? Will you?”&#xA;&#xA;Mata Luna membulat mendengar permintaan Hyunjae yang tiba-tiba. Ini masih pagi dan Hyunjae sudah membuatnya terkejut dengan permintaannya ini.&#xA;&#xA;“Aku tau segalanya yang terjadi di antara kita terhitung cepat, dari mulai kita pertama kali ketemu dan kenalan, sampai sekarang ini. Maaf ya, aku terbiasa ungkapin segala hal straight to the point. Walaupun kita baru resmi jalan sebulan, tapi aku ingin kamu tau bahwa tujuan akhirku adalah hidup bersama kamu. Dari awal kita ketemu pas dinner bareng anak-anak, aku sadar aku suka sama kamu.”&#xA;&#xA;Luna bisa merasakan matanya tiba-tiba memanas, seperti ada yang ingin menyeruak berhamburan keluar dari matanya. Ditahannya mati-matian. Tidak, dia tidak ingin menangis di depan Hyunjae.&#xA;&#xA;“Aku tadinya punya target untuk deketin kamu minimal tiga minggu sebelum akhirnya ajak jadian. Tapi aku sadar, kamu dikelilingi banyak laki-laki baik di sekitarmu dan ya, mereka semua mostly good looking. Aku ajak kamu jadian pas aku ulang tahun, itu sama sekali di luar rencana. Nggak tau kenapa tiba-tiba aja aku ngerasa malam itu tepat untuk ajak kamu jadian. Aku cuma takut terlambat kalau ditunda lagi.”&#xA;&#xA;Dada Luna sudah terlalu sesak untuk menahan tangisnya. Dengan tergesa Luna menundukkan kepalanya tepat ketika bulir pertama airmatanya jatuh tidak tertahan, menetes menuruni pipinya, melewati dagu dan akhirnya membasahi selimut Hyunjae.&#xA;&#xA;“Yah, kok nangis? Aku nggak niat bikin kamu nangis padahal. Yang, jangan nangis dong nanti aku dimarahin mama,” Hyunjae berkata lucu sambil mengangkat wajah Luna yang kini sudah memerah.&#xA;&#xA;“Abisnya kamu gitu omongannya. Ini masih pagi, tapi omongan kamu manis banget begitu, gimana aku nggak terharu. Ternyata cowok tsundere bisa juga bikin terharu ya,” jawab Luna dengan tawa tertahan. “Aku malu nangis depan kamu. Pertama kalinya nih.”&#xA;&#xA;“Maaf ya, aku tiba-tiba ngomong gini. Sebenernya udah dari kemarin-kemarin pengen ngomong ini ke kamu tapi waktunya nggak pas terus. Aku takut kamu bingung dengan hubungan kita yang prosesnya serba cepat. Sekalian pengen mastiin aja, perasaanku ini berbalas kan?”&#xA;&#xA;“Aku nggak akan ada di sini kalau nggak suka sama kamu. Nggak akan juga aku iyain waktu kamu ajak jadian. Ya, Lee Jaehyun, aku akan mencintai kamu selamanya seperti ini. Kita berjuang sama-sama ya?”&#xA;&#xA;Hyunjae mengangguk dan menghela nafas lega. Selama ini seperti ada yang mengganjal hatinya karena hal ini belum ia ungkapkan ke Luna. Keinginan hatinya untuk menjalani hidup bersama Luna. Dan kini setelah tahu Luna menginginkan hal yang sama, Hyunjae merasakan kelegaan dan ketenangan dalam hati. Demi Tuhan ia bersumpah untuk menjaga baik-baik hubungannya dengan Luna, satu-satunya perempuan yang ia sayangi selain mama dan kakaknya.&#xA;&#xA;Selagi Luna dan Hyunjae melanjutkan mengobrol ringan, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan wajah mamanya Hyunjae menyembul dari balik pintu. “Selamat pagi, anak-anak. Udah pada bangun rupanya. Tumben banget kamu, Jae, bangun pagi.”&#xA;&#xA;“Selamat pagi, Tante,” Luna buru-buru berdiri dan menyapa mamanya Hyunjae sambil membungkukkan badannya.&#xA;&#xA;“Pagi, Ma,” kata Hyunjae, mengikuti Luna berdiri. Menghampiri mamanya dan mencium pipi kiri mamanya. “Sarapan apa kita?”&#xA;&#xA;“Luna mau sarapan apa? Mau dibikinin apa?” mamanya Hyunjae bertanya sambil menatapi Luna.&#xA;&#xA;“Kok Luna doang yang ditanyain? Anaknya sendiri nggak ditanya mau apa?” Hyunjae protes.&#xA;&#xA;“Jadi, anak cantik ini mau makan apa? Bilang aja, tante bikinin,” tanpa menghiraukan protes anaknya, mamanya Hyunjae berjalan mendekati Luna dan mengusapi punggungnya.&#xA;&#xA;“Apa aja, Tante. Aku pemakan segala kok hehe,” jawab Luna sambil tertunduk malu. “Luna boleh bantu masaknya ya?”&#xA;&#xA;“Eh beneran mau bantu masaknya? Tante sih seneng-seneng aja dibantuin. Luna terbiasa dengan alat dapur kan?”&#xA;&#xA;“Ma, Luna pinter masak. Sering masakin buat aku, enak-enak lagi masakannya,” Hyunjae menyela sebelum Luna sempat menjawab.&#xA;&#xA;“Halah kamu tuh, ngerepotin aja bisanya.”&#xA;&#xA;“Ih, Mama. Kenapa aku jadi dianaktirikan gini sih?”&#xA;&#xA;“Abisnya kamu sombong, jarang banget pulang. Marahin nih, Na, anak ini padahal tinggal sekota tapi nggak ada inget-ingetnya ke orang tua.”&#xA;&#xA;Luna tertawa melihat Hyunjae yang cemberut dimarahin mamanya karena jarang pulang. Baru kali ini dia melihat aura tsundere* Hyunjae luntur lenyap tak berbekas.&#xA;&#xA;“Jangan khawatir, Tante. Luna bakal ingetin Jaehyun biar sering pulang ya.”&#xA;&#xA;Mamanya Hyunjae mengangguk sambil tersenyum senang. “Yuk, kita ke dapur? Makasih mau bantu tante masak ya, Nak.”&#xA;&#xA;“Yuk, Tante. Sama-sama.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>CHAPTER 7.</strong></p>

<p>Berita pacarannya Luna dan Hyunjae baru diketahui teman-teman mereka setelah hubungan resmi mereka berjalan hampir 3 minggu. Sebetulnya baik Luna dan Hyunjae nggak bermaksud menyembunyikan hal ini sama sekali, hanya saja mereka masih ingin menikmati kebahagiaan ini berdua, tanpa diusik orang banyak.</p>

<p>Benar saja kan, Luna dan Hyunjae langsung ditodong banyak pertanyaan dari anak-anak ketika kabar pacarannya mereka mulai tersebar.</p>

<p>Ini semua berawal dari acara makan siang bareng antara geng anak-anak kantor Luna dan kantor Hyunjae. Sebetulnya saat makan siang berlangsung, tidak ada satupun yang mencurigai Luna dan Hyunjae karena memang mereka berdua bersikap normal seperti biasanya. Kecurigaan dimulai karena saat Luna sedang menyetir mobil kembali ke kantor ponselnya dihubungi oleh Hyunjae, dan Nara yang saat itu duduk di samping Luna langsung mengambil ponsel Luna dan menjawab telepon Hyunjae dengan pengeras suara. Hyunjae yang tidak tahu situasi ini di ujung sana, langsung berkata, “Sayang, aku nggak balik ke kantor. Barusan klien ngehubungin perlu ketemu aku di tempatnya.”</p>

<p>Tubuh Luna membeku. Nara menutup mulutnya kaget. Untungnya kala itu di mobil hanya ada mereka berdua jadi setidaknya Luna selamat dari ledekan anak-anak.</p>

<p>“Yang, ada Nara di sini,” jawab Luna lirih. “Aku lagi nyetir, telponnya diangkat pake <em>loudspeaker</em> sama Nara, bukan aku.”</p>

<p>Hyunjae terdiam, kaget juga dia di sana.</p>

<p>“SEJAK KAPAN WOY KALIAN BERDUA SAYANG-SAYANGAN GITU?!” Nara akhirnya menjerit tidak tahan. “GELI GUE SUMPAH!”</p>

<p>“Nara apa sih?! Kaget gue woy!” Luna balas teriak dengan sewot.</p>

<p>Hyunjae yang mendengar keributan disana hanya bisa terkekeh salah tingkah. “Gue tutup teleponnya. Nara, sabar ya jangan marah-marah. Itu Luna mau jelasin.”</p>

<p>“Heh! Kamu main kabur, jelasin juga kek.”</p>

<p>“Kamu aja, Sayang. <em>Bye</em>!”</p>

<p>Dan Hyunjae memutus telepon begitu saja.</p>

<p>“Na, sejak kapan? Tega banget lo nggak cerita ke gue anjir.”</p>

<p>“<em>Sorry</em> yaa, nggak bermaksud nyembunyiin. Cuma emang gue dan Hyunjae pengen nikmatin ini berdua dulu. Udah mau 3 minggu, Ra.”</p>

<p>“Tiga minggu? Bener-bener lo, Na. Kesel gue sama lo, kaya nggak anggap gue temen. Besok-besok lo berantem sama Jaehyun nggak usah curhat ke gue.”</p>

<p>“Kok gitu sih ngomongnya. Maafin gue dong.”</p>

<p>“Bahkan tadi kita makan siang bareng aja sama sekali nggak ngeh kalian ternyata udah resmi pacaran. Gengnya Jaehyun tau?”</p>

<p>Luna menggeleng, “Belum.”</p>

<p>“Parah ih kalian.”</p>

<p>“Sebetulnya dari pas lo tiba-tiba aneh bikin panggilan nama sendiri buat dia juga gue udah curiga sih. Niat amat lo sampe pengen beda sendiri gitu manggilnya.”</p>

<p>“Yee, itu sih udah lama banget kali. Gara-gara udah ada dua Jaehyun di kontak gue. Bukan gue sengaja pengen beda manggilnya.”</p>

<p>“Sekarang sih udah jelas beda ya, manggilnya jadi “Sayang”.”</p>

<p>“Udah dong, Ra. Udah ya…<em>please</em>? Maafin gue.”</p>

<p>“Lo galau-galau karena Seokjin larinya ke gue, giliran lo lagi bahagia nggak ada ceritanya ke gue. Sakit hati banget gue, Na.”</p>

<p>“Terus gue mesti gimana biar lo mau maafin?”</p>

<p>“Ya udah, nggak papa. Gue maafin. Jangan gitu lagi ya, janji?”</p>

<p>“Iya, janji. Makasih udah maafin gue.”</p>

<p>“<em>I’m happy for you</em>, Na. Beneran gue seneng banget sih sebetulnya denger kabar ini. Semoga lo dan Jaehyun bahagia terus ya, gue nggak pengen liat lo sakit lagi.”</p>

<p>“Makasih, Sayaaang. Lo juga mesti bahagia terus sama Younghoon ya. Kalau kalian kenapa-kenapa gue bakal ikut sakit.”</p>

<p>Detik itu juga Nara langsung membuat pengumuman ini di <em>group chat</em> yang sudah jelas ada Eric disitu, yang selain kaget Eric juga langsung sibuk ngomel-ngomel di grup sebelah yang berisikan geng Hyunjae. Atas berita ini, Nara dan Eric adalah yang paling merasa terkhianati karena tidak diberi tahu.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Malamnya, Luna sedang mengistirahatkan tubuh di atas kasur setelah selesai mandi. Lega sekali walaupun hari Jumat, dirinya bisa pulang tepat waktu karena tidak ada laporan penting yang harus diserahkan hari Senin. Jadilah ia jam 7 malam sudah bisa bersantai di apartemennya.</p>

<p>Sayangnya tidak begitu dengan Hyunjae. Kliennya yang tadi siang mendadak menelepon ingin bertemu, ternyata alasannya karena ada beberapa perubahan desain konstruksi yang diinginkan kliennya padahal denah yang dibuat Hyunjae sudah hampir 80% rampung. Akhirnya demi memenuhi permintaan klien, Hyunjae rela merombak habis dari mulai desain awal, termasuk harus bolak balik menemui para vendor material bangunan dan juga menghubungi pihak kontraktor terkait perubahan konstruksi ini.</p>

<p><em>Meeting</em> terakhir dengan pihak kontraktor akhirnya selesai jam setengah delapan malam. Hyunjae yang terlanjur bete dan kepalang kesal memutuskan untuk tidak ingin sendirian di apartemennya. Dia butuh bertemu Luna untuk sekedar menenangkan suasana hatinya.</p>

<p>Jam setengah sembilan, Hyunjae akhirnya tiba di apartemen Luna dengan muka kusut dan cemberut.</p>

<p>“Udah capek banget, pake segala macet nggak karuan di jalan,” omel Hyunjae sambil duduk di sofa depan TV. Matanya terpejam, kepalanya mengadah ke atas saking lelah.</p>

<p>Luna menghampiri sambil mengocek secangkir teh <em>chamomile</em> hangat di tangannya. “Sabar sayang, namanya juga Jumat malam pasti macet. Yang penting kamu udah disini sekarang, dan besok kan libur. Ini tehnya diminum dulu biar nggak emosi terus.”</p>

<p>“Aku nggak habis pikir sama klienku, bisa-bisanya dia minta ganti setelah rancangan sebelumnya dia <em>confirm</em> oke. Bosku nggak mau nolak, dia bilang masih bisa diusahakan perubahannya. Iya sih bisa diusahakan, tapi kita bawahan nih yang babak belur.”</p>

<p>Luna mengelusi punggung Hyunjae dengan sayang, “Tau nggak, Yang, kenapa bos kamu nggak mau nolak? Karena dia percaya sama kamu dan tim, dia yakin kalian mampu. Jalani aja mau diapain lagi, ya kan? Yang penting ikhlas kamunya ya. Nggak akan terasa berat kalau kamu ikhlas jalaninnya.”</p>

<p>Hyunjae manggut-manggut. Berusaha mencerna yang Luna ucapkan padanya. “Makasih, Yang. Doain aku kuat.”</p>

<p>“Doa buat kamu nggak pernah putus,” sahut Luna. “Ayo diminum dulu tehnya, nanti keburu dingin. Kamu mau nyemil apa? Aku bikinin.”</p>

<p>“Pengen ayam. <em>Chicken wing</em> pedes enak kayanya.”</p>

<p>“Yah maaf, belum beli lagi stok <em>chicken wing</em>.”</p>

<p>“Tadi nawarin bikinin, kamu gimana sih, Yang.”</p>

<p>“Ya kan ayamnya nggak ada, bapaaak. Bukannya nggak mau bikinin. Beli aja ya, mau?”</p>

<p>“Nggak, pengennya bikinan kamu.”</p>

<p>“Hadeh, nyesel nawarin.”</p>

<p>“Hahaha jangan gitu dong ih. Yaudah bikinin apa aja yang ada di kulkas kamu ya? <em>Suprise me</em>. Apapun itu pasti enak.”</p>

<p>“Ya udah, yang sabar tapi ya. Aku mikir dulu mau bikin apa. Kamu mandi dulu gih sambil nunggu.”</p>

<p>“Iya, ini juga mau mandi. Airnya?”</p>

<p>“Kenapa airnya? Itu air banyak di kamar mandi, tinggal pilih mau rendeman <em>bathtub</em> apa di <em>shower</em>. Kenapa sih kaya belum pernah mandi disini aja.”</p>

<p>“Mau rendeman. Biasanya kamu siapin airnya, sekarang kok nggak?”</p>

<p>“Jaehyun astaga! Tangan gue cuma dua woy, disuruh masak disuruh siapin air gimanaaa?”</p>

<p>“Haha galak amat sih. Pacar lagi kecapekan gini diambekin. Sini, peluk dulu.”</p>

<p>“Nggak! Kamu masih kotor. Aku udah bersih udah mandi, nanti aja peluknya kalau kamu udah bersih. Gih sana mandiiii,” Luna menjerit frustasi. Pacar <em>tsundere</em>-nya ini kalau lagi kumat manjanya memang suka bikin pusing. Tapi sebetulnya Luna menikmati juga masa-masa kalau Hyunjae sedang manja, saking langkanya momen ini.</p>

<p>Hampir setengah jam berlalu, akhirnya cemilan buatan Luna selesai berbarengan dengan Hyunjae yang sudah selesai mandi. Semangkuk <em>casserole cauliflower</em> yang baru keluar dari <em>oven</em> dan secangkir teh hangat sudah tersaji rapi di atas meja makan untuk Hyunjae.</p>

<p>Hyunjae yang keluar dari kamar Luna dengan rambut basah habis keramas, mengenakan setelan rumah kebangsaannya, <em>t-shirt</em> dan celana pendek merah. “Wangi banget, aku dibikinin apa jadinya?”</p>

<p>“Itu, <em>casserole</em>. Udah di meja makan.”</p>

<p>“Kok cuma satu? Ayo makan berdua, Yang. Temenin aku.”</p>

<p>“Aku kenyang, udah makan tadi. Kamu aja, habisin ya.”</p>

<p>Luna sedang duduk di sofa sambil memindah-mindah <em>channel</em> TV saat Hyunjae mendekatinya dari belakang. Menghadiahi ciuman dua kecup di kepala Luna. “Makasih udah dimasakin,” bisik Hyunjae.</p>

<p>“Sama-sama, selamat makan.”</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Keesokan harinya, Luna terbangun oleh dering suara ponselnya. Ada panggilan masuk tapi Luna masih terlalu mengantuk untuk menjawabnya. Dengan mata terpejam dan menarik selimut sampai dagu, Luna berusaha mengabaikan dering ponselnya yang mengganggu.</p>

<p>Sang penelepon sepertinya tidak menyerah untuk menghubungi Luna sampai akhirnya Luna geram sendiri dan mengambil ponselnya geram. Dia tidak kenal nomor siapa yang meneleponnya.”</p>

<p>“Halo?” sapa Luna.</p>

<p>“Luna? Haiii, maaf ganggu pagi-pagi. Masih tidur ya?” sahut suara di seberang sana.</p>

<p>“<em>Wait…</em> ini Frei? Freiya bukan?”</p>

<p>“Iyaaa! Nomer baru gue ini, <em>save</em> ya.”</p>

<p>“Astaga gue kira siapa pagi-pagi gini, udah mau ngomel aja tadinya hahaha. Kemana aja lo sombong banget. Curiga gue, tiba-tiba nelepon gini biasanya ada maunya.”</p>

<p>Ternyata penelepon adalah Freiya, sepupunya Luna. Anak kakaknya ayah Luna yang seumuran persis dengan Luna. Bedanya, Freiya sudah menikah dari usia 24 tahun dan sekarang sudah dikaruniai dua anak. Dulu sebelum Freiya menikah, dia dan Luna dekat sekali karena Freiya kuliah di Tokyo dan sering nebeng liburan di Seoul sambil menemani Luna.</p>

<p>Setelah menikah, keduanya sudah jarang sekali berkomunikasi apalagi bertemu karena kesibukan masing-masing. Freiya masih tinggal di Tokyo karena ia menikahi orang Jepang.</p>

<p>“Gue mau ke Jeju, Na. Ikut yuk!” aja Freiya tiba-tiba. “Sekalian temu kangen.”</p>

<p>“Lah kapan? Lo dimana sekarang?”</p>

<p>“Masih di Tokyo, nanti siangan jam 2 gue <em>flight</em> ke Seoul bareng suami sama anak-anak. Ketemuan dong ya.. <em>please</em>?”</p>

<p>“Lama nggak di Seoul?”</p>

<p>“Nggak lama, dua hari doang. Senin gue berangkat ke Jeju. Ayolah ikut yuk.”</p>

<p>“Yah nggak bisa lah gue, kan kerja. Nggak bisa cuti dadakan. Lo sih enak ngurus anak di rumah nggak mesti mikirin cuti, mau liburan tinggal cus.”</p>

<p>“Hehehe iya nih, laki gue masih tetep nggak bolehin gue kerja. Sia-sia deh ijazah gue. Bener lo nggak mau ikut? Sebenernya ini dalam rangka <em>gathering</em> kantornya suami, tapi gue agak-agak males mesti basa-basi sama Japanese.”</p>

<p>“Lo gimana sih, kawin sama Japanese ya resiko lah mesti ngadepin relasi laki lo.”</p>

<p>“Kawin beda kultur ribet juga ternyata loh, Na. Lo kalau bisa dapetin orang Indo lagi aja deh biar nggak pusing adaptasi.”</p>

<p>Deg.</p>

<p>Dada Luna serasa dihantam palu godam.</p>

<p>“Na? Kok diem?”</p>

<p>“Nggak papa hahaha. Kaget gue lo tiba-tiba ngomong gitu. Cowok gue Korean tulen soalnya.”</p>

<p>“Kyaaa sejak kapan? Eh ini bukan Seokjin kan?”</p>

<p>“Bukanlah. Seokjin udah kemana kali. Cowok baru, masih anget belum lama ini jadinya hehe. Ya udah ketemuan yuk, besok aja kalau hari ini lo capek.”</p>

<p>“Syukurlah, gue lega lo akhirnya mau membuka hati untuk yang baru. Yuk, nanti ketemuan ya. Eh Na, apa lo jemput gue gitu di Gimpo bisa nggak? Dari bandara kita langsung makan malam bareng aja. Nanti gue bilang ke Kei.”</p>

<p>“Boleh-boleh, gue juga bilang dulu ke cowok gue. Biar sekalian dikenalin ke lo ya haha. Kangen juga gue sama ponakan gue, apalagi sama si kecil belum pernah ketemu.”</p>

<p>“Lagi lucu-lucunya, Na. Sabar yaa, nanti sorean kita ketemu. Berkabar ya, Na. Gue jam 5an nyampe Gimpo, semoga nggak ada acara *delay flight-*nya.”</p>

<p>“Oke, <em>can’t wait!</em> <em>See you, Sis.</em>”</p>

<p>Rasa kantuk Luna mendadak hilang. Sekarang masih jam 8 pagi, masih banyak waktu sebelum menjemput Freiya. Ah, kebetulan sekali Hyunjae menginap di apartemen hari ini. Dia bisa meminta Hyunjae menemaninya ke <em>airport</em> sekaligus mengenalkan pada Freiya. Dan lagi, Luna nggak sabar ingin ketemu Freiya dan anak-anaknya. Kangen sekali.</p>

<p>Setelah membereskan ranjangnya, Luna beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Tadinya mau sekalian mandi tapi akhirnya diurungkan niatnya. Luna memilih untuk mengecek keadaan Hyunjae dulu yang tidur di sofa ruang TV.</p>

<p>Luna keluar kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. Dihampirinya Hyunjae yang masih terlelap di sofanya, dengan tubuh terbalut selimut. Setelah menaikkan suhu AC ruang TV karena dirasa terlalu dingin baginya, Luna menghampiri Hyunjae lalu duduk bersila di karpet dengan menghadap Hyunjae.</p>

<p>Jarinya bergerak menyisiri helai rambut Hyunjae dengan lembut, tidak ingin membangunkannya. Dielusnya kening Hyunjae sebentar, sebelum jarinya turun dan menyentuh ujung hidung Hyunjae.</p>

<p><em>Gemes, hidungnya dia sempurna banget sih.</em></p>

<p>Hyunjae tiba-tiba mengerang, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan.</p>

<p>“Eh maaf, jadi bangun deh kamunya,” kata Luna sembari mengeluskan jarinya lagi di rambut Hyunjae. “Masih ngantuk, Yang? Tidur lagi kalau masih ngantuk.”</p>

<p>Hyunjae tidak menjawab. Matanya yang sayu karena baru bangun tidur menatap mata Luna lekat-lekat. Dengan sekali gerakan, tangannya meraih dagu Luna dan menariknya supaya mendekati wajahnya.</p>

<p>“<em>Morning kiss</em> dulu,” sahutnya kalem.</p>

<p>Tubuh Luna menegang. Dia nggak siap.</p>

<p>Masih sambil satu tangan memegang dagu Luna, Hyunjae setengah bangun dari posisi tidurnya dan berusaha mendekatkan wajahnya ke wajah Luna.</p>

<p>Bibirnya mengecup pipi kanan Luna, lama.</p>

<p>Mata Luna otomatis terpejam. Tubuhnya tegang bukan main,.</p>

<p><em>“Good morning</em>,” kata Hyunjae lagi. Setelah melepaskan bibirnya dari pipi Luna, Hyunjae kembali merebahkan dirinya di sofa.</p>

<p>“<em>Morning</em>,” jawab Luna masih sambil mengatur jantungnya yang berdegup kelewat kencang akibat perlakuan Hyunjae barusan. “Mau sarapan apa? Aku siapin buah dulu mau? Minumnya teh apa susu anget?”</p>

<p>“Yang, kamu lagi latihan jadi istri ya?”</p>

<p>Wajah Luna memerah. “Nggak. Ada tamu ya ditawarin makan minum dong masa dicuekin.”</p>

<p>“Oh, jadi aku cuma tamu.”</p>

<p>“Hehe, bercanda,” kata Luna. Tangannya mencubit ujung hidung Hyunjae dan menariknya gemas. Yang punya hidung langsung memekik kesakitan.</p>

<p>“Yang, tadi Freiya sepupuku telpon. Dia kan tinggal di Tokyo, nanti siang mau ke Seoul <em>flight</em> jam dua. Mau nemenin jemput ke bandara nggak? Habis dari bandara, mau <em>dinner</em> sekalian ngobrol-ngobrol, aku udah lama nggak ketemu dia. Sekalian mau ngenalin kamu ke dia.”</p>

<p>“Nanti kalian ngobrol, aku ngapain?”</p>

<p>“Dia sama suami dan anak-anaknya kok. Suaminya orang Jepang, kamu bisa ngobrol sama dia. Kamu kan bisa bahasa Jepang dikit-dikit.”</p>

<p>“Ya udah aku temenin. Mau jam berapa kita jalan ke bandara?”</p>

<p>“Setengah empat dari sini cukup kali ya?”</p>

<p>“Boleh.”</p>

<p>Senyum mengembang di wajah Luna, senang karena Hyunjae mau menemaninya bertemu Freiya. “Makasih ya.”</p>

<p>Setelah mengelus sebelah pipi Hyunjae sekilas, Luna bangkit dari duduknya di karpet dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dalam hati Luna memikirkan juga kata-kata Hyunjae tadi soal latihan jadi istri. Tapi kemudian buru-buru dihilangkannya soal itu dari pikirannya. Dirinya belum ada kesiapan sama sekali.</p>

<p>Selagi Luna sibuk menyiapkan sarapan, Hyunjae akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya bangun dari rebahannya karena aroma wangi masakan Luna mulai merasuk hidungnya. Setelah selesai merapikan selimut dan bantal-bantal sofa, Hyunjae mendekati Luna yang lagi membolak-balik daging <em>bacon</em> di atas <em>pan</em>.</p>

<p>“Masih lama nggak, Yang?” tanya Hyunjae sambil mengintip ke arah kompor dari balik bahu Luna. “Hmm wangi banget <em>baconnya</em>. Laper.”</p>

<p>“Masih, kentangnya juga masih dikukus tuh,” jawab Luna sambil mengangkat tutup panci tempat mengukus kentang. “Makan buah dulu gih, udah dipotongin ada di kulkas. <em>Tupperware</em> biru rak tengah.”</p>

<p>Hyunjae mendekati kulkas, membuka pintunya dan celingukan mencari wadah buah yang Luna maksud. Setelah ketemu, ditariknya keluar wadah itu dan dibawanya ke meja makan. Nggak perlu waktu lama bagi Hyunjae untuk menyantap potongan anggur <em>black autumn</em> tanpa biji, stroberi, kiwi dan jeruk yang sudah tersusun rapi di dalam wadah.</p>

<p>Daging <em>bacon</em> Luna sudah matang, kini tinggal menyiapkan sayuran mentah yang sudah dicuci bersih semalam. Sambil menunggu kentangnya matang untuk dibuat <em>cheesy mashed potato</em>, Luna menghampiri Hyunjae yang masih asyik mengunyah cemilan buahnya dan duduk di kursi samping Hyunjae.</p>

<p>“Tadi malam nggak lama sebelum kamu dateng, aku sama mama <em>video call</em>,” Luna mulai bercerita sembari mencomot sepotong anggur. “Sama ayah juga.”</p>

<p>“Oh ya? Sehat-sehat kan mama ayah?”</p>

<p>“Sehat. Pengen ketemu kamu katanya. Aneh, sama aku aja udah lama nggak ketemu tapi yang ditanyain malah kamu.”</p>

<p>“Kita samperin ke Singapore yuk? Aku juga pengen ketemu mama ayah, nggak enak anak cantiknya udah hampir sebulan dipacarin padahal aku belum izin.”</p>

<p>Bibir Luna yang kini lagi mengunyah potongan stroberi, mengulum senyum. “Tenang, kamu udah dapet restu kok. Mama kaya yang seneng dan sreg banget begitu aku lihatin foto kamu dan aku ceritain tentang kamu. Ayah juga.”</p>

<p>Gantian Hyunjae yang mengulum senyum sambil memandangi wajah cantik pacarnya. “Aku nggak bercanda ngomong-ngomong, ayo kita rencanain ke Singapore berdua. <em>Soon</em>.”</p>

<p>“Yang, aku belum cerita ke kamu lagian ini masih belum <em>fix</em> jadi juga sih. Tapi kemarin si Juyo nyebar gosip katanya timnya Yeonjun lagi ngajuin <em>gathering</em> kantor ke Singapore akhir tahun nanti. Kan tahun kemarin ke Bangkok, yang sekarang pengen Singapore katanya. Sekalian aja kali ya?”</p>

<p>Hyunjae terlihat tidak begitu senang mendengarnya, “Masih lama dong. Lagian bukan berdua namanya kalau bareng kantor kamu. Kita duluan aja yuk kesana, aku pengennya berdua dan <em>quality time</em> sama keluarga kamu di sana. Kalau dibarengin sama <em>gathering</em> kantor, nanti konsen kamu kepecah antara harus ngikut jadwal <em>gathering</em> atau <em>family time</em> sama mama ayah.”</p>

<p>“Iya deh nanti aku pikirin lagi.”</p>

<p>“Jangan kelamaan mikirnya, cepet tentuin mau kapan kesana. Kita kan harus urus cuti nggak bisa dadakan.”</p>

<p>“Iyaaa oke. Ngomong-ngomong kamu juga udah lama tuh nggak nemuin orangtua. Kamu lebih parah, tinggal sekota juga, wleee. Aku sih jelas tinggal beda negara, wajar jarang ketemu.”</p>

<p>“Mama papa lagi sibuk juga ngurusin rencana nikahnya <em>nuna</em>. Kalau kesana aku dianggurin, fokusnya ke <em>nuna</em> terus. Tapi besok aku ada rencana mau kesana sih mampir bentar. Ikut yuk? Kalau aku bawa kamu, aku nggak akan dianggurin sama mama papa. Eh atau malam ini aja ya? Kita nginep di rumah mama, besok sore pulang.”</p>

<p>Tubuh Luna menegang mendengar ajakan Hyunjae. Tenggorokannya mendadak kering. Luna sejujurnya masih trauma dengan pengalaman tidak mengenakkan yang dialaminya saat pertama kali bertemu dengan ibunya Seokjin dulu. Raut wajah dingin dan perlakuan tidak ramah yang selalu diterima Luna setiap bertemu ibunya Seokjin membuat Luna kini takut akan bertemu dengan orang tua Hyunjae.</p>

<p>“Yang…,” panggil Luna pelan. “Kalau aku bilang aku belum siap, kamu marah nggak?”</p>

<p>“Nggak siapnya kenapa?”</p>

<p>“Takut…”</p>

<p>“Takut apa? Takut nggak diterima karena kamu non Korean?”</p>

<p>Luna skakmat. Bagaimana Hyunjae bisa tahu, dia nggak pernah cerita apapun pada Hyunjae soal masa lalunya dengan Seokjin.</p>

<p>“Mereka udah tau kamu non Korean, nggak ada darah Korea sama sekali dan mereka nggak mempersalahkan itu. Kamu nggak usah takut.”</p>

<p>Luna mengangguk ragu-ragu, “Yakin kamu? Aku takut…”</p>

<p>“Aku udah bicara ke orangtuaku tentang kamu dari semenjak kita ketemu pertama kali di <em>rooftop</em> beli eskrim bareng. Percaya sama aku, Yang, kamu akan baik-baik aja setelah ketemu orangtuaku. Mau ya?”</p>

<p>Luna sungguh nggak tega menolak permintaan mendadak ini dari Hyunjae. Diam-diam dirinya agak menyesal telah membuka pembicaraan soal orangtua ini—Antusiasme Hyunjae sungguh di luar dugaan Luna. Pada akhirnya Luna berpikir, saling bertemu dengan orangtua masing-masing secepatnya mungkin bukan sesuatu yang salah. Umur hubungannya dengan Hyunjae masih cukup dini dan mungkin tidak akan mengakibatkan rasa sakit mendalam seperti saat dengan Seokjin dulu, jika saja rencana bertemu orangtua ini tidak berhasil baik.</p>

<p>Luna akhirnya mengiyakan ajakan Hyunjae dengan senyuman lebar di wajahnya. “Ayo, aku mau ketemu orangtua kamu, Yang. Nanti beres ketemuan Freiya, malamnya kita ke Songdo ya. Jangan lupa dikabarin dulu mamanya kalau kita mau kesana malam ini.”</p>

<p>Senyuman di wajah Hyunjae nggak kalah lebar, dia lega sekali Luna setuju untuk menemaninya pulang ke rumah orangtuanya malam ini. “Makasih ya, aku seneng.”</p>

<p>Luna berdiri lalu mendekati Hyunjae yang masih terduduk di sampingnya dan mendekap kepala Hyunjae sambil mengusapinya lembut. Hyunjae membalas dekapan Luna dengan melingkarkan tangan di pinggang ramping Luna, dia membenamkan wajahnya dalam-dalam ke perut Luna.</p>

<p>“Perut kamu rata banget,” Hyunjae berkomentar setelah Luna melepaskan dekapannya.</p>

<p>“Ya rata dong, kan nggak ada isinya baru buah doang.”</p>

<p>“Nanti ada saatnya perut kamu ada isi adek bayi,” kata Hyunjae sambil menutup wadah buah yang isinya sudah kosong. “Buatan aku.”</p>

<p>Luna yang sedang meneguk air putih dari gelas langsung tersedak dan terbatuk, sementara Hyunjae dengan lempengnya berjalan ke arah dapur menuju bak cuci piring dan mulai mencuci wadah buah serta gelas kotor bekasnya. Luna yang kesal menghampiri Hyunjae di dapur dan mencubit keras pinggangnya.</p>

<p>“Aduh! Sakit astaga, kenapa sih?” Hyunjae mengaduh sambil refleks berbalik menghadap Luna.</p>

<p>“Kamu sadar nggak barusan ngomong apa?” tanya Luna kesal.</p>

<p>“Soal adek bayi? Emang apanya yang salah? Lah bener kan suatu saat kamu bakal hamil, emangnya nggak pengen hamil?”</p>

<p>Luna memandangi Hyunjae sambil menggelengkan kepalanya. Tidak percaya pacarnya bisa sedatar itu seolah tidak ada apa-apa setelah membuat Luna tersedak karena omongannya. Hyunjae yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Luna akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dapur menuju kamar Luna.</p>

<p>“Aku mau main <em>game</em> dulu ya, panggil aku kalau sarapannya udah jadi, Yang.”</p>

<p><em>Hyunjae ih bener-bener… udah bikin gue malu sendiri gara-gara omongan dia soal hamil, tapi dianya lempeng aja gitu malah mau main game.</em> Luna mengomel ke dirinya sendiri sambil memeriksa kentangnya yang ternyata sudah matang. Sambil masih merasakan wajahnya yang panas karena malu, Luna memutuskan melupakan omongan Hyunjae tadi dan melanjutkan masaknya.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Sore hari akhirnya tiba.</p>

<p>Luna sudah lebih dulu siap. Dia mengenakan <em>dress</em> warna putih motif bunga-bunga kecil sedikit di atas lutut, dengan bagian bahu terbuka yang memperlihatkan tulang selangkanya. Rambutnya panjangnya yang tak berponi dibiarkan tergerai cantik, dengan dihiasi jepitan rambut hitam simpel di sisi kanan, menyisakan beberapa helai rambut terjuntai menutupi telinganya. Tak lupa dia menyiapkan cardigan berwarna senada dengan <em>dress</em>-nya, untuk dipakai ketika bertemu orangtua Hyunjae nanti.</p>

<p><em>Handbag</em> berukuran sedang berisi baju dan segala perlengkapan menginapnya pun sudah disiapkan di atas sofa, bersebelahan dengan ransel hitam milik Hyunjae.</p>

<p>Luna sedang mengetikkan pesan di KakaoTalk-nya untuk Freiya, mengabarinya kalau dia dan Hyunjae sebentar lagi akan menuju bandara, ketika Hyunjae yang baru selesai bersiap keluar dari kamar Luna dan menutup pintunya. Luna menutup ponsel <em>flip</em>-nya dan menghampiri Hyunjae.</p>

<p>“Itu kasian banget kancing baju kamu <em>jobless</em>. Ada tapi nggak dipergunakan dengan semestinya,”</p>

<p>Hyunjae balik menatap Luna, bingung. “Ngomong apa sih, Yang?”</p>

<p>“Kamu nggak ada baju lain?”</p>

<p>“Emang kenapa bajuku yang ini? Jelek?”</p>

<p>Luna mendengus. Dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hyunjae, tangannya menggapai kerah baju Hyunjae dengan dua kancing terbuka di bawahnya.</p>

<p>Sore itu Hyunjae memang terlihat ganteng—kelewat ganteng kalau menurut Luna—dengan atasan model kemeja informal dan bagian lengan digulung sampai siku, warna putih pula senada dengan <em>dress</em> Luna walaupun mereka nggak janjian pakai baju putih-putih. Bawahannya, Hyunjae mengenakan celana <em>jeans</em> biru gelap dengan <em>belt</em> hitam melingkar di pinggangnya. Baik kemeja dan celana <em>jeans</em> Hyunjae terlihat begitu pas—tidak kebesaran dan tidak kesempitan—sehingga badan atletis Hyunjae tercetak dengan jelas.</p>

<p>“Kancing satu ya? Jangan dua-duanya gini nggak dikancing,” tanya Luna. tangannya bergerak hendak mengancingkan kemeja Hyunjae.</p>

<p>“<em>No,</em> jangan. Emang harus gini makenya, kalau dikancing jadi nggak bagus.” Tangan Hyunjae menghentikan gerakan tangan Luna tiba-tiba.</p>

<p>“Kamu ganti baju deh. Pake <em>sweater</em> kek apa kek gitu <em>hoodie</em>,” kata Luna sambil berbalik memunggungi Hyunjae, mengambil <em>handbag</em> dan kardigannya dan berjalan menuju rak sepatu. “Kamu terlalu ganteng pakai baju itu. Nanti digenitin cewek-cewek.”</p>

<p>Luna berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Dia sudah dua kali merasa terganggu saat sedang jalan dengan Hyunjae dan berpapasan dengan segerombol cewek-cewek kuliahan yang menatapi Hyunjae dengan ganas. Bahkan sekali waktu pernah ada yang berani berkata “<em>Oppa</em> ganteng sekali!” ke arah Hyunjae tanpa peduli ada Luna di sampingnya yang sedang menggandeng tangan Hyunjae.</p>

<p>Hyunjae berdecak mendengar penuturan Luna, “Biarin aja mereka yang genit, yang penting bukan aku yang genit.” Setelah mengambil ransel hitam dan menyampirkan di bahu kirinya, Hyunjae menyusul Luna mendekati rak sepatu dan mengambil sepasang sepatu kets Nike miliknya. “Nggak usah cemburu gitu.”</p>

<p>Luna akhirnya mengalah. Jam sudah menunjukkan hampir setengah 4 sore dan dia tidak ingin terlambat sampai di bandara. “Iya iya. Aku tau ini resiko punya pacar ganteng.”</p>

<p>Hyunjae terkekeh sambil mengacak pelan pucuk rambut Luna. “Ganteng apa sih, biasa aja kok. Yuk, pergi sekarang.”</p>

<p>Setelah memastikan pintu apartemen terkunci dengan benar, Luna dan Hyunjae berjalan berdampingan di lorong menuju <em>lift</em>. Jari-jari mereka saling bertautan erat.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>“Frei, Freiyaaa!” Luna berseru menyebut nama sepupunya saat melihatnya dari kejauhan. Freiya dengan satu tangan mendorong <em>stroller</em> bayi, satu tangannya lagi menggandeng anak pertamanya yang masih <em>toddler</em>, berjalan berdampingan dengan suaminya yang juga sibuk mendorong troli berisi dua koper besar dan satu <em>handbag</em> milik mereka.</p>

<p>Luna melambaikan tangannya dan berjalan mendekati pintu kedatangan ketika sadar bahwa Freiya tidak mendengar seruannya tadi. Setelah jaraknya dengan Freiya semakin dekat, barulah Freiya menyadari kehadiran Luna.</p>

<p>“Naaa, astaga! Soriii nunggu lama ya?”</p>

<p>“Ih, gue panggil-panggil dari tadi, lo nggak denger juga? Apa kabar sayang? Kangeeen,” Luna langsung memeluk Freiya erat. “Hai, Kei. Sehat? Udah lama nggak ketemu.” Dari Freiya, Luna beralih menyapa Tanaka Kei, suami Freiya. Kei memeluk Luna sambil mengatakan kabarnya baik-baik saja.</p>

<p>“Anakkuuu, udah gede banget. Inget <em>auntie</em> nggak, Sayang? Lupa ya kayanya.” Luna berjongkok hingga tingginya sejajar dengan anak pertama Freiya yang bernama Kannika, yang kini berusia tiga tahun. Kannika tersenyum sambil menggeleng dan melepas pegangan tangan Freiya. Lalu tiba-tiba Kannika menyandarkan tubuhnya di tangan Luna—otomatis, Luna langsung menggendongnya.</p>

<p>“Frei, kenalin ini Jaehyun—Lee Jaehyun lengkapnya—pacar gue.” Dengan Kannika dalam gendongan, Luna mengenalkan Hyunjae pada Freiya. “Yang, ini Freiya sepupuku, sama ini Kei suaminya.”</p>

<p>Setelah Hyunjae saling berjabat tangan dan kenalan dengan Freiya dan Kei, mereka berempat berjalan menuju parkiran tempat Hyunjae memarkir mobilnya. Dengan Hyunjae membantu membawakan troli berisi koper, Kei bisa mengambil alih <em>stroller</em> dari tangan Freiya.</p>

<p>“Anak lo udah dua aja, Frei. Gimana rasanya?” tanya Luna sambil memandangi Kanaya, anak kedua Freiya yang masih berusia satu tahun tertidur di <em>stroller</em>.</p>

<p>“Repooot. Ini si Kana kan nggak sengaja dapetnya. Kebobolan. Padahal gue berencana anak kedua kalau Kannika udah di atas 5 tahun. Lo gimana, kapan nikah? Jae, kapan mau nikahin Luna?”</p>

<p>Luna kaget mendengar ocehan Freiya. Bisa-bisa sepupu slengeannya ini bertanya hal sensitif seperti itu dengan santai. “Heh apaan sih lo, pacaran aja baru—”</p>

<p>“Doain aja bisa secepetnya ya, Frei.” Omelan Luna disela kalem oleh Hyunjae. Luna yang masih menggendong Kannika, <em>blushing</em>.</p>

<p>“Jangan lama-lama, Jae. Kalian seumuran, kan? Lo-nya sih nggak masalah Jae, tapi Luna kasian kalau ketuaan pas lahiran nanti.”</p>

<p>“Iya, siap. Semoga Luna-nya mau gue nikahin.”</p>

<p>Luna tidak ingin terlibat pembicaraan ini lebih jauh lagi. Dia buru-buru mengajak Kannika bercanda dengan menggelitiki perutnya, yang disambut dengan gelak tawa Kannika yang kegelian. Percobaan pengalihan pembicaraan ini berhasil karena kini semuanya fokus memperhatikan Kannika sambil tertawa gemas.</p>

<p>Di mobil, Hyunjae menyetir dengan Kei duduk di sebelahnya. Mereka berdua terlihat sudah mulai nyaman saling berbicara satu sama lain. Sesekali dalam bahasa Jepang yang juga diselingi dengan bahasa Inggris. Di kursi tengah, Luna masih memangku Kannika dan Freiya menimang Kanaya yang masih juga tertidur lelap. Untung saja mobil SUV Hyunjae cukup besar dan lega untuk menampung semua barang bawaan Freiya dan Kei.</p>

<p>Rencana mereka untuk makan malam di salah satu restauran di mall mendadak buyar karena Kana tiba-tiba terbangun dan menangis rewel. Diubah dalam posisi apapun tangisnya nggak mereda malah semakin kencang. Akhirnya mereka memutuskan untuk langsung menuju hotel tempat Freiya dan Kei menginap, dan makan malam di restauran hotel saja.</p>

<p>Begitu tiba di hotel, Kei langsung menuju resepsionis untuk <em>check in</em> diikuti Freiya dan Kana. Ternyata Kana menangis karena setelah dicek, popoknya sudah penuh dengan <em>poop</em> dan dia merasa tidak nyaman. Jadi Freiya harus segera ke kamar dan membersihkan Kana dulu. Sementara itu, Hyunjae dan Luna menunggu di restauran dengan Kannika yang masih anteng dalam gendongan Luna.</p>

<p>“Hasil gen Jepang-Indonesia ternyata bagus juga ya. Kannika Kanaya lucu-lucu banget.” Hyunjae berkomentar sambil memperhatikan Kannika yang sedang tertawa. “Aku penasaran hasil gen Korea-Indonesia dengan sedikit turunan Italia jadinya bakal gimana ya?”</p>

<p>“Heh!”</p>

<p>“Kok heh sih? Ya kan aku lagi ngebayangin—”</p>

<p>“Nggak usah dibayangin dari sekarang.”</p>

<p>“Hahaha lucu kamu tuh.”</p>

<p>“Nggak ada yang lucu, Yang.”</p>

<p>“Kamu lucu, jadi galak banget kalau salting.”</p>

<p>Sebelum Luna sempat membalas ledekan Hyunjae, tiba-tiba Kannika mencondongkan tubuhnya ke arah Hyunjae dan mengangkat tangannya minta digendong. Luna cukup kaget ketika Hyunjae mendekatinya dan mengambil Kannika pelan-pelan dari gendongannya. Setelah Kannika berpindah dalam gendongannya, Hyunjae langsung sibuk berceloteh riang ke Kannika dalam bahasa Jepang yang Luna nggak mengerti.</p>

<p>Diam-diam Luna memperhatikan Hyunjae yang sedang bermain-main bersama Kannika. Ada perasaan hangat yang mendadak menyentuh hatinya melihat pemandangan di hadapannya itu. Hyunjae telaten sekali dengan anak kecil, ketika Kannika haus dan menunjuk botol susunya, Hyunjae langsung memegangi botolnya sementara Kannika meminum susunya. Nggak lupa sebelumnya Hyunjae merogoh ransel kecil Kannika, mencari sesuatu yang ternyata <em>slabber</em> dan memasangkan di dada Kannika supaya tetesan susu dari botol tidak mengotori bajunya.</p>

<p>Selesai minum susu, Kannika meminta diturunkan dari gendongan dan mulai berlarian kesana kemari. Hyunjae dengan sabar mengikuti langkah kaki Kannika, memastikan anak kecil itu aman tidak terjatuh karena larinya yang kencang. Luna juga menyadari Hyunjae yang selalu merunduk atau berjongkok setiap Kannika berbicara, demi mensejajarkan kepalanya dengan kepala Kannika. Setelah puas dan lelah berlarian ke tiap sudut restauran, Kannika akhirnya minta digendong lagi ke Hyunjae.</p>

<p>Dari jauh, Luna bisa melihat bulir keringat di pelipis Hyunjae karena mengikuti Kannika yang berlarian. Ketika akhirnya Hyunjae sudah berada di sisinya lagi, Luna langsung merogoh tasnya dan mengambil tisu dari <em>pouch</em> kecil andalannya. Dilapnya bulir keringat di pelipis Hyunjae.</p>

<p>“Capek ya? Baru berapa menit doang padahal loh ini,” kata Luna.</p>

<p>Hyunjae mengiyakan, “Capek tapi aku seneng sih. Anak ini aktif banget, walaupun lari-larian tapi dia nurut kalau aku bilang nggak boleh ngoprek ini itu.”</p>

<p>Luna dan Hyunjae duduk berhadapan dengan posisi Kannika masih di pangkuan Hyunjae dan bersandar di dadanya. Luna mengambil tisu lagi dan melap keringat di dahi Kannika juga. “Haus nggak, Nak? Mau susu lagi?”</p>

<p>Kannika menggeleng, dia memutar tubuhnya menatap Hyunjae. Lalu tangannya menunjuk ke arah balkon restauran. Minta diajak kesana.</p>

<p>Luna yang nggak tega kalau Hyunjae harus berdiri lagi membawa Kannika ke balkon, mencoba membujuk Kannika, “Disini aja ya, Sayang? Di luar dingin, nanti masuk angin.”</p>

<p>Kannika merengut.</p>

<p>Hyunjae langsung bangkit lagi dari duduknya sambil mengeratkan tangannya yang menggendong Kannika. “Nggak papa, Yang. Aku kesana bentar ya? Kamu tunggu sini.”</p>

<p>Lima menit setelah Hyunjae membawa Kannika ke balkon, Freiya dan Kei menghampiri Luna di meja dengan Kanaya yang sudah terlelap lagi di <em>stroller</em>.</p>

<p>“Maaf lama ya, Na. Tadi abis bersihin Kana dia minta nyusu. Baru sebentar nyusu eh dimuntahin nggak tau kenapa, udahnya minta nyusu lagi. Beres nyusu gue tinggal di <em>stroller</em> tau-tau tidur lagi. Eh ya ampun, anak gue satu laginya kemana ya?”</p>

<p>“Hehe gapapa, Frei. Kasian Kana kecapean kayanya habis perjalanan jauh. Itu Kannika lagi digendong Hyunjae di balkon.”</p>

<p>Kei memanggil pelayan minta dibawakan menu restauran. Setelah semua pesanan tercatat, obrolan dilanjutkan.</p>

<p>“Na, gue sreg sama Hyunjae. Gue saranin lo jaga baik-baik ya hubungan lo sama Hyunjae, paket komplit sih gue liat. Kalau dia ngajak nikah, lo jangan sok jual mahal, langsung iyain aja.”</p>

<p>“Yelah, pacaran juga baru mau sebulanan, Frei. Belum ada kepikiran nikah gue. Masih takut.”</p>

<p>“Ya tujuan akhir lo pacaran apa sih kalau bukan untuk nikah, ya nggak? Inget umur heh. Lagian takut apa?”</p>

<p>“Takut nggak jadi lagi. Makanya sekarang gue nggak mau dulu bahas-bahas nikah deh, nanti aja sambil jalan. Ini gue mikirin mau ketemu orangtua Hyunjae aja mules banget rasanya, takut ditolak lagi.”</p>

<p>“Gue kasih tau ya, Kannika itu anaknya sensitif kaya gue. Nggak bisa sembarangan deket sama orang asing. Ini gue kaget banget liat anak gue nempel banget sama Hyunja—eh, Jaehyun? Siapa sih namanya?”</p>

<p>Luna terkekeh, “Jaehyun. Gue aja iseng manggil dia Hyunjae.”</p>

<p>“Ya, Jaehyun. Ini langka banget dia mau senempel itu sama orang baru. Berarti Kannika nyaman sama Jaehyun, Na. Udah nilai plus banget itu cowok lo bisa ditempelin sama anak kecil. Jadi, lo mesti kuat ya apapun itu cobaan dalam hubungan kalian, harus sama-sama mau berjuang. Jaehyun cowok baik, Na. Jangan disia-siain.”</p>

<p>“Frei, selama lo tau kisah cinta gue, kapan gue pernah sia-siain mantan-mantan gue? Yang ada juga gue selalu jadi pihak yang dicampakkan, ya kan?”</p>

<p>“Tapi lihat sekarang, Tuhan ngegantinya dengan cowok baik kaya Jaehyun. Lo jangan jadiin masa lalu lo trauma ya. Jangan banyak takutnya, lo nggak sendirian di hubungan ini. Lo berdua Jaehyun yang menjalani. Kasian Jaehyun kalau lo banyak takut dan ragu, takutnya dia bingung gimana mau melangkah maju kalau lo-nya meragu terus.”</p>

<p>Obrolan mereka berlanjut sampai akhirnya Hyunjae masuk kembali dari balkon dengan Kannika yang sudah terlelap tidur di pangkuannya. Dengan hati-hati Hyunjae menyerahkan Kannika kembali ke Freiya, yang masih tetap takjub melihat anaknya yang terkenal susah dekat ke orang baru bisa senempel ini dengan Hyunjae. Dari mulai lari-larian sampai ketiduran.</p>

<p>Nggak berapa lama dari situ, makanan mulai tersaji dan mereka berempat yang sudah kelaparan langsung menikmati makanannya. Masih sambil diselingi obrolan dan candaan, kali ini lebih leluasa karena kedua anak Freiya sudah tertidur pulas.</p>

<p>Ketika akhirnya makan malam selesai, Freiya dan Kei pamit untuk beristirahat di kamar. Perjalanan udara selama hampir 3 jam dari Tokyo ke Seoul terasa dua kali lipat lebih melelahkan ketika bepergian dengan satu bayi dan satu balita.</p>

<p>Sudah hampir jam setengah sembilan malam ketika mobil Hyunjae berhenti di perempatan lampu merah, sekitar tujuh kilometer lagi mereka akan sampai di rumah orangtua Hyunjae.</p>

<p>“Capek sayang?” tanya Luna saat Hyunjae meregangkan otot tangan dengan menariknya ke atas. “Pegel ya berjam-jam gendongin Kannika?”</p>

<p>Hyunjae mengangguk pelan, kepalanya bersandar pada <em>headrest</em> kursi dengan mata terpejam.</p>

<p>“Sayang, hei jangan merem. Sepuluh detik lagi hijau lampunya,” kata Luna sambil menepuk pelan pipi Hyunjae. Hyunjae refleks membuka matanya lagi tepat saat lampu berganti dari kuning ke hijau. Mobilnya melaju lagi meninggalkan perempatan.</p>

<p>Lima belas menit kemudian, mobil Hyunjae memasuki kawasan kompleks perumahan pribadi di daerah Songdo, rumah orangtuanya. Dalam hati Luna mendecak kagum, tadinya dia pikir orangtua Hyunjae tinggal di apartemen juga mengingat ini hal yang lumrah sekali di sini, tapi ternyata dugaan Luna salah. Kompleks perumahan ini tidak begitu besar tapi Luna tahu hunian ini termasuk hunian cukup elit dan terpandang melihat dari jajaran rumah-rumah besar di pinggir-pinggir jalan utamanya.</p>

<p>Satu belokan terakhir, dan mobil Hyunjae berhenti di depan sebuah rumah dua lantai berpagar cokelat.</p>

<p>“Sampai akhirnya. Yuk, turun.”</p>

<p>Luna mengatur napasnya yang sedari tadi menderu nggak karuan karena tegang. Setelah dirasa siap, Luna turun dari mobil sambil menyambut gandengan tangan Hyunjae. Berdampingan, mereka berjalan memasuki halaman depan.</p>

<p><strong>***</strong></p>

<p>Alarm ponsel Luna berbunyi.</p>

<p>Sambil membuka matanya perlahan, Luna meraih ponselnya, mematikan alarm dan melihat jam. Masih jam setengah enam pagi. Kalau ini di rumahnya sendiri, sudah pasti Luna akan melanjutkan tidurnya dan bangun agak siangan mengingat ini hari Minggu. Tapi karena dia sedang berada di rumah orang tua Hyunjae, tidak mungkin Luna kembali tidur dan bangun siang. Tidak sopan rasanya.</p>

<p>Luna mengerjapkan matanya sambil menatapi langit-langit kamar yang masih terasa asing baginya tapi sudah mulai familiar karena kamar ini sudah ia tempati selama beberapa jam. Senyum kecil terbentuk di bibirnya mengingat kejadian semalam ketika orang tua Hyunjae menyambutnya dengan sangat ramah—terlebih mamanya Hyunjae yang terlihat begitu antusias dan senang dengan kedatangan Luna. Kakak perempuan Hyunjae dan calon suaminya pun memperlakukan Luna dengan ramah, bahkan Luna masih tidak percaya dengan perkataan kakaknya Hyunjae semalam, “Akhirnya aku punya saudara perempuan beneran. Langgeng ya sama Jaehyun.”</p>

<p>Ketegangan Luna langsung sirna seketika. Respon yang ia terima dari mamanya Hyunjae sungguh berbeda 180 derajat dari respon yang ia terima dari mamanya Seokjin dulu ketika pertama kali bertemu. Ironisnya, seingat Luna ia rasanya tidak pernah menerima senyuman hangat dari mamanya Seokjin selama ia berhubungan dengan Seokjin. Berbeda dengan mamanya Hyunjae yang memperlakukan Luna dengan sayang, membuat Luna jadi teringat akan mamanya sendiri.</p>

<p><em>Drrrt drrrt</em>.</p>

<p>Luna membuka ponselnya yang bergetar. Keningnya berkerut melihat pesan masuk dari Hyunjae.</p>

<p>“Udah bangun?”</p>

<blockquote><blockquote><p>Udah sayang.</p>

<p>Ngapain <em>chat</em>? Tinggal jalan kesini.</p></blockquote>
</blockquote>

<p>“Takut kamu belum bangun.”</p>

<p>“Aku kesana ya.”</p>

<p>Tidak sampai semenit, pintu kamar diketuk dari luar dan Hyunjae menghambur masuk ke dalam. Dibiarkannya pintu kamar agak terbuka.</p>

<p>“Ih kok cepet banget? Aku belum rapiin rambut,” kata Luna yang masih terduduk di kasur. Panik karena sadar dirinya belum enak dilihat karena baru banget bangun tidur.</p>

<p>Hyunjae duduk di tepi kasur. Tangannya meraih tangan Luna yang masih sibuk merapikan rambutnya, lalu dikecupnya punggung tangan Luna sekilas. “<em>Morning</em>. Gimana rasanya tidur di kamarku? Aku nempatin kamar ini dari jaman masih bocil sampai lulus kuliah, cuma kamu satu-satunya perempuan selain keluargaku yang pernah tidur di kasur ini. Tidurnya nyenyak?”</p>

<p>Luna mengangguk. Dia menyingkap selimut dan menggeser tubuhnya agar menjadi bersebelahan dengan tubuh Hyunjae di tepi kasur. “Nyenyak banget tidurnya, ditemenin robot-robot dan pajangan Iron Man kamu.” Luna menyandarkan kepalanya di bahu Hyunjae, membuat Hyunjae terdorong untuk mengecup pucuk kepala Luna yang wangi.</p>

<p>“Udah nggak tegang lagi kan? Sekarang percaya kan sama aku, kalau papa dan mama menerima kamu dengan baik.”</p>

<p>“Iya, aku bersyukur sekali rasanya. Nggak nyangka diterima dengan sebaik ini sama keluargamu, Jae. Makasih ya?” Mata Luna menyendu ketika bertemu dengan mata Hyunjae. Lama, mereka berkomunikasi tanpa bicara, saling mengungkapkan perasaan sayangnya satu sama lain melalui tatapan.</p>

<p>Luna selalu menyukai wajah tampan Hyunjae dalam kondisi apapun, tapi kini ia menyadari favoritnya adalah wajah baru bangun tidur Hyunjae dengan rambut tebal hitamnya yang sedikit teracak. Luna menyadari keberuntungan dirinya bisa mendapatkan Hyunjae sebagai kekasihnya. Benar kata Freiya semalam, Tuhan begitu baik memberikan Hyunjae sebagai pengganti Seokjin.</p>

<p>“Na,”</p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Cintai aku selamanya seperti ini ya? <em>Will you</em>?”</p>

<p>Mata Luna membulat mendengar permintaan Hyunjae yang tiba-tiba. Ini masih pagi dan Hyunjae sudah membuatnya terkejut dengan permintaannya ini.</p>

<p>“Aku tau segalanya yang terjadi di antara kita terhitung cepat, dari mulai kita pertama kali ketemu dan kenalan, sampai sekarang ini. Maaf ya, aku terbiasa ungkapin segala hal <em>straight to the point</em>. Walaupun kita baru resmi jalan sebulan, tapi aku ingin kamu tau bahwa tujuan akhirku adalah hidup bersama kamu. Dari awal kita ketemu pas <em>dinner</em> bareng anak-anak, aku sadar aku suka sama kamu.”</p>

<p>Luna bisa merasakan matanya tiba-tiba memanas, seperti ada yang ingin menyeruak berhamburan keluar dari matanya. Ditahannya mati-matian. Tidak, dia tidak ingin menangis di depan Hyunjae.</p>

<p>“Aku tadinya punya target untuk deketin kamu minimal tiga minggu sebelum akhirnya ajak jadian. Tapi aku sadar, kamu dikelilingi banyak laki-laki baik di sekitarmu dan ya, mereka semua <em>mostly good looking</em>. Aku ajak kamu jadian pas aku ulang tahun, itu sama sekali di luar rencana. Nggak tau kenapa tiba-tiba aja aku ngerasa malam itu tepat untuk ajak kamu jadian. Aku cuma takut terlambat kalau ditunda lagi.”</p>

<p>Dada Luna sudah terlalu sesak untuk menahan tangisnya. Dengan tergesa Luna menundukkan kepalanya tepat ketika bulir pertama airmatanya jatuh tidak tertahan, menetes menuruni pipinya, melewati dagu dan akhirnya membasahi selimut Hyunjae.</p>

<p>“Yah, kok nangis? Aku nggak niat bikin kamu nangis padahal. Yang, jangan nangis dong nanti aku dimarahin mama,” Hyunjae berkata lucu sambil mengangkat wajah Luna yang kini sudah memerah.</p>

<p>“Abisnya kamu gitu omongannya. Ini masih pagi, tapi omongan kamu manis banget begitu, gimana aku nggak terharu. Ternyata cowok <em>tsundere</em> bisa juga bikin terharu ya,” jawab Luna dengan tawa tertahan. “Aku malu nangis depan kamu. Pertama kalinya nih.”</p>

<p>“Maaf ya, aku tiba-tiba ngomong gini. Sebenernya udah dari kemarin-kemarin pengen ngomong ini ke kamu tapi waktunya nggak pas terus. Aku takut kamu bingung dengan hubungan kita yang prosesnya serba cepat. Sekalian pengen mastiin aja, perasaanku ini berbalas kan?”</p>

<p>“Aku nggak akan ada di sini kalau nggak suka sama kamu. Nggak akan juga aku iyain waktu kamu ajak jadian. Ya, Lee Jaehyun, aku akan mencintai kamu selamanya seperti ini. Kita berjuang sama-sama ya?”</p>

<p>Hyunjae mengangguk dan menghela nafas lega. Selama ini seperti ada yang mengganjal hatinya karena hal ini belum ia ungkapkan ke Luna. Keinginan hatinya untuk menjalani hidup bersama Luna. Dan kini setelah tahu Luna menginginkan hal yang sama, Hyunjae merasakan kelegaan dan ketenangan dalam hati. Demi Tuhan ia bersumpah untuk menjaga baik-baik hubungannya dengan Luna, satu-satunya perempuan yang ia sayangi selain mama dan kakaknya.</p>

<p>Selagi Luna dan Hyunjae melanjutkan mengobrol ringan, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan wajah mamanya Hyunjae menyembul dari balik pintu. “Selamat pagi, anak-anak. Udah pada bangun rupanya. Tumben banget kamu, Jae, bangun pagi.”</p>

<p>“Selamat pagi, Tante,” Luna buru-buru berdiri dan menyapa mamanya Hyunjae sambil membungkukkan badannya.</p>

<p>“Pagi, Ma,” kata Hyunjae, mengikuti Luna berdiri. Menghampiri mamanya dan mencium pipi kiri mamanya. “Sarapan apa kita?”</p>

<p>“Luna mau sarapan apa? Mau dibikinin apa?” mamanya Hyunjae bertanya sambil menatapi Luna.</p>

<p>“Kok Luna doang yang ditanyain? Anaknya sendiri nggak ditanya mau apa?” Hyunjae protes.</p>

<p>“Jadi, anak cantik ini mau makan apa? Bilang aja, tante bikinin,” tanpa menghiraukan protes anaknya, mamanya Hyunjae berjalan mendekati Luna dan mengusapi punggungnya.</p>

<p>“Apa aja, Tante. Aku pemakan segala kok hehe,” jawab Luna sambil tertunduk malu. “Luna boleh bantu masaknya ya?”</p>

<p>“Eh beneran mau bantu masaknya? Tante sih seneng-seneng aja dibantuin. Luna terbiasa dengan alat dapur kan?”</p>

<p>“Ma, Luna pinter masak. Sering masakin buat aku, enak-enak lagi masakannya,” Hyunjae menyela sebelum Luna sempat menjawab.</p>

<p>“Halah kamu tuh, ngerepotin aja bisanya.”</p>

<p>“Ih, Mama. Kenapa aku jadi dianaktirikan gini sih?”</p>

<p>“Abisnya kamu sombong, jarang banget pulang. Marahin nih, Na, anak ini padahal tinggal sekota tapi nggak ada inget-ingetnya ke orang tua.”</p>

<p>Luna tertawa melihat Hyunjae yang cemberut dimarahin mamanya karena jarang pulang. Baru kali ini dia melihat aura <em>tsundere</em> Hyunjae luntur lenyap tak berbekas.</p>

<p>“Jangan khawatir, Tante. Luna bakal ingetin Jaehyun biar sering pulang ya.”</p>

<p>Mamanya Hyunjae mengangguk sambil tersenyum senang. “Yuk, kita ke dapur? Makasih mau bantu tante masak ya, Nak.”</p>

<p>“Yuk, Tante. Sama-sama.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://seoul-story.writeas.com/chapter-7</guid>
      <pubDate>Sun, 05 Sep 2021 15:52:09 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>